Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Tantrum
Beruntung sekali anak-anak OSIS hari ini, pertemuan yang diadakan tidak se-lama biasanya. Sebab, mereka sudah berjalan sesuai mau Naka dan menemukan ritme nyamannya meski tadi sempat tersela oleh kejadian yang tak seharusnya. Atau justru, sejak tadi Savero dan Lutfi sudah meruqyahnya terlebih dahulu?!
Awalnya mereka sudah khawatir sang ketos mendadak jadi ogoh-ogoh. Namun semuanya di luar prediksi, Mainaka justru bisa mengendalikan emosinya dan memilih diam saja setelah kejadian tadi.
Pandu berulang kali melirik langit, mendongak dari balik atap kantin. Benar...tidak mendung! Suatu keajaiban yang wajib---ngadain sukuran.
"Gue udah cemas aja takut tiba-tiba karpet ditarik Naka terus kita semua langsung keseret berhamburan jatoh." Itu Adit yang masih menuangkan sambal di atas siomay miliknya.
Frizka tertawa meski kemudian ia menyeruput teh kemasan, "kasalll. Naka juga punya pikiran kali oyyy!"
Chika yang angkat bicara, "bener kayanya sih, Naka ngga ngambek sama Airani, padahal kan salah ada di dia, Aira biang keroknya...fix!" gebrak! Ia menggebrak kecil meja tempat mereka menaruh makanan, ponsel dan minuman, "ini Naka sama Airani ada apa-apanya, yakin gue mah." Ia menjentikan jarinya di depan wajah.
Shanum meringis, "ada apa-apanya gimana? Emang pada dasarnya ketos lo baik aja mungkin..." bela Shanum justru membuat teman-temannya terkejut, speechless menatapnya, "ini kita ngomongin Mainaka Fir'aun Rajendra loh, Num. Bukan ustadz Maulana."
Jemima sampai tersedak teh kemasannya.
"Nih, kalo lagi eling ya...Pandu aja bakalan disuruh salin ulang rundown sampe muntah, dia nyuruh begini----pikirin berulang-ulang, Ndu... setiap poin susunan acaranya kira-kira udah bener belum, kenapa mesti ditaro di awal acara atau di belakang acara..." tiru Chika dengan gaya sang ketos yang dingin, alis menukik dan air muka tak ada cerah-cerahnya selalu kritis. Kembali Jemima tertawa melihat impersonate yang Chika lakukan.
"Gue aja kalo bikin lampiran keuangan mesti beberapa lembar." Tambahnya benar-benar habis-habisan membongkar aib pimpinannya di dalam organisasi.
"Kualat lo Cik. Jangan terlalu begitu lah, yang ada lo suka," tunjuk Frizka yang kemudian, belum ia melanjutkan Chika sudah menggidik, amit-amit, "tapi emang bener kan, dulu pas awal jadi siswa baru Lo sempet naksir Naka...hayoo ngaku! cowok pertama yang Lo semua incer pas datang ke sini pasti Mainaka Rajendra!" tunjuk Frizka lagi pada semua teman-teman perempuannya termasuk Shanum, Chika ogah-ogahan padahal dulu ia yang paling vokal berkata begitu.
"Yoi, mana ditunjuk-tunjuk depan hidungnya!" Adit bersuara sambil menunjuk-nunjuk hidung Jemima.
"Saravvv ih, idung gue an jir Lo colok!"
Pandu tertawa, "kayanya Shanum engga gitu ya Num, kalo ngga salah Lo bilang suka sama mang Dadang?!"
Dan tawa mereka lebih kencang lagi membahana di kantin bersamaan dengan silih berdatangannya siswa lain yang memiliki hajat sama.
Ada seruan disana, dari meja lain yang membuat mereka turut notice dan memperhatikan terlebih----
Sosok Mainaka berjalan bersama seseorang, tak ada yang istimewa atau gestur aneh, tapi....
"Kan, apa gue bilang....ini bener sih, Rea kayanya mesti ke laut aja..." bisik Cika mencondongkan wajahnya ke tengah meja.
Jemima sekali lagi mendorong kacamata bulatnya diantara poni yang menutupi sebagian alis, "cuma jalan bareng bukan berarti pacaran kali Cik..."
Shanum menatap gelagat Mainaka yang masih belum duduk dan always membawa makanan favoritnya onigiri, roti sandwich coklat dan air mineral, seperti sedang mencari tempat duduk.
Pandu kini yang menggebrak meja membuat mereka terkejut, "kaget anjirrr." Adit mendorong kepalanya.
"Kenapa mesti bisik-bisik sih, kaya yang punya dosa aja?!"
Adit tertawa sementara para gadis ini memasang tampang sebal, "Lo lama-lama pengen gue getok juga Ndu...ya kaliii ngomongin orang mesti pake toa masjid!" ujar Chika.
"Daripada menduga-duga kenapa ngga tanya aja orangnya langsung, sini gue tanyain----" Pandu sudah bersiap berteriak tapi aksi gilanya itu justru memancing reaksi para gadis, Shanum yang refleks menjambak rambutnya, Chika menutup mulutnya, Frizka menahan tangan Pandu.
"Jangan gila ya Panduuu!"
Sementara Jemima, ia bagian tertawa kencang bersama Adit. Tentu saja kehebohan geng ceriwis ini memancing atensi, "nah tuh, meja Pandu masih kosong tuh, gabung yok gabung!"
Mereka menoleh, apalagi Savero yang sudah setengah berjalan cepat melompat duduk di samping Adit, "wah, masih pada makan ya?! Ka! Sini!" ajaknya justru membuat Airani langsung ceria sebab menemukan Chika.
Wajah kebingungan ditunjukan Shanum, Frizka dan tentu saja Jemima langsung ketus jutek saat menemukan Canza, pemuda itu adalah duet berdebat dan sangat jahil.
"Apa Lo, sana! Khusus Lo haram buat duduk disini!" usir Mima.
"Elah, lagian siapa juga yang mau deket-deket elu, kremian gue...ini mah karena yang lain duduk disini aja."
Perhatian Shanum justru mencermati interaksi Naka dan Airani yang----tak ada yang aneh, atau gelagat manis layaknya pasangan kekasih baru.
"Ka, gue mewakili temen-temen gue mau nanya..." Pandu bicara kembali membuat Shanum yang baru saja menggeser duduknya mendorong garpu berisi siomay ke dalam mulutnya, begitupun Chika yang menjambak rambut Pandu, "awww anjirrr, mmmhhh!"
Savero tertawa, begitupun yang lain tapi Naka hanya menaikan alisnya sebelah, "nanya apa? Masalah proposal?"
"Lo ngomong gue robek mulut lo, ya Ndu...ember!" desis Frizka.
"Lo apa kabarnya hari ini, Ka?" nyengir Pandu.
Jemima tertawa kecil membuat Canza mencibirnya, "ketawa mah ketawa aja jangan so manis gitu mumi..."
"Mima..." tawa Lutfi, "kenapa jadi mumi, bang sat."
"Tau dasar galah item!" hardik Mima pada Canza.
"Yeee, body shaming tuh ..Ka...liat si Mumi, body shaming sama gue, bullying nih bullying, ini namanya!" serunya tak pernah akur.
"Ini gue ngga kebayang kalo kalian lagi rapat gimana nih orang berdua, Num?" Savero mengehkeh melerai Canza dan Mima yang sudah saling lempar barang di depan mereka.
"Pusing. Mesti diiket satu-satu. Juna ngga kaya Naka sih, jadi nih anak berdua kadang ngga bisa dikendalikan." Bukan Shanum, melainkan Frizka.
Naka, bisa sekali ia fokus melihat teman-teman tanpa melirik Shanum sambil khusyuk makan makanannya. Berbeda dengan Shanum yang lebih gusar sejak kedatangannya barusan.
Kini Savero membuka bungkusan snack ekstrudat berperisa gurih, membuat Shanum ingat sesuatu, "Lo tau ngga Vero? Ada yang bilang makanan micin begitu bikin orang bodoh!"
Chika justru tertawa begitupun Vero yang hanya menyeru, "ah, mitos!"
"Yang bener aja Num, ya kaliii langsung mendadak bloon. Kalo makannya langsung setruk sekali lahap sih mungkin aja..."
Mereka tertawa termasuk Naka yang sudah lepas tertawa hingga jakunnya naik turun.
"Shanum nih ngada-ngada...siapa yang bilang Num, ajaran sesat tuh! Bilangin, kata gue..." timpal Vero.
Pandu ikut-ikutan bersuara bersama Adit, "lah Naka aja makan makanan berpengawet begitu pinter-pinter aja tuh, ya ngga Ka?"
Naka hanya mengangguk sekali, sialan sekali! Shanum mendengus.
Airani terkekeh renyah, "tiap hari malah gue liat-liat, jadi makanan wajib Naka."
"Tau banget mentang-mentang sekertarisnya...."
Acieeee!
Shanum merotasi bola matanya.
Ting!
Bunda
Bunda bikin makaroni schotel sama kentang mustofa, nanti Naka suruh ke rumah ya...bawa sekalian buat tante Anyelir.
Bibir Shanum semakin dibuat melengkung cemberut, malas...ia benar-benar malas. Namun---
Shanum
Ka, bunda nyuruh kamu ke rumah. Katanya mau titip kentang mustofa sama makaroni schotel buat tante Anyelir.
Alih-alih langsung membaca, notice pun tidak, padahal Shanum melihat gelagat Naka yang tau dengan pesan di ponselnya, cowok itu malah sibuk mengobrol saja dengan yang lain.
Nyebelin!
Shanum resah, menelfon Naka dari bawah meja. Kembali, Naka hanya membiarkan saja panggilan Shanum memancing gadis itu lebih kesal lagi, si alan!
Brak! Shanum menaruh ponselnya kasar, lalu beranjak dari kursi untuk berlalu, seketika mereka yang ramai mendadak diam, "Num, kaget tau! Biasa aja, kenapa neng? Tantrum....om om di Omi selingkuh ye?" tanya Vero meniru candaan Pandu dan Adit.
"Gue mau ke kelas MIPA 2 ngajak Juna ke rumah." Dumelnya sambil beranjak dan melemparkan tatapan melototnya pada Naka.
"Omeygatttt, Shanum?!" Jemima, Frizka serta Chika ikut beranjak dan menyusul.
.
.
.
.