NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalang Yang Sebenarnya (1)

Langit semakin gelap, angin malam mulai berembus pelan, membawa hawa dingin yang menyusup hingga ke tulang. Fang Yu yang sejak sore duduk di depan pintu rumah, menunggu kepulangan kakaknya, mulai menggigil.

Ia memeluk kedua lututnya.

“Kakak masih lama, tidak ya…?” gumamnya pelan.

Beberapa kali ia menoleh ke jalan setapak yang biasa dilalui Fang Yi, berharap melihat siluet yang dikenalnya. Namun yang terlihat hanya bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin.

Rasa kantuk perlahan menyerang.

Akhirnya, Fang Yu berdiri dan masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu, lalu berjalan menuju kamar mereka. Tanpa sempat mengganti pakaian, ia merebahkan diri di atas ranjang.

Tak butuh waktu lama, ia pun terlelap.

Rumah kecil itu menjadi sunyi.

Di tempat lain, jauh dari kehangatan rumah sederhana itu, suasana yang berbeda tengah berlangsung.

Peng Lin masih berlari.

Napasnya tetap teratur meski ia telah menempuh jarak yang cukup jauh. Di belakangnya, tiga pemuda dari Sekte Pedang Bambu terus mengejar tanpa henti.

Tanah berdebu beterbangan setiap kali kaki mereka menghantam permukaan. Pepohonan di sekitar perbatasan wilayah Goryeo menjadi saksi pengejaran tersebut.

Saat Peng Lin hampir memasuki wilayah Goryeo, langkahnya terhenti.

Tiga bayangan melesat cepat dan mendarat di hadapannya, menutup jalan.

Wang Seo berdiri paling depan, pedangnya sudah terhunus. Di sisi kirinya Yao Shi menyeringai tipis, sementara Yan Qing berdiri sedikit lebih belakang, matanya mengamati sekitar dengan waspada.

“Peng Lin, inilah akhir hidupmu. Menyerahlah sekarang juga!” seru Wang Seo dengan lantang.

“Ya,” sambung Yao Shi dengan suara tegas, “sebaiknya kau menyerah. Dengan begitu, kepalamu akan tetap berada di tempatnya untuk sementara.”

Yan Qing tidak langsung berbicara. Tatapannya menyapu pepohonan di sekitar mereka. Ia khawatir ini hanyalah jebakan yang dipasang Peng Lin untuk memancing mereka terlalu jauh.

Di tengah kepungan itu, Peng Lin justru tampak tenang.

“Akhirku?” ia tersenyum tipis. “Ini semua hanya salah paham, anak muda. Mengapa kalian terus mengejarku tanpa memberiku kesempatan menjelaskan kepada kalian—dan kepada sekte kalian?”

Nada bicaranya lembut, nyaris seperti seorang guru yang menasihati muridnya.

“TUTUP MULUTMU, BIADAB!” teriak Wang Seo.

Genggaman tangannya pada pedang semakin erat.

Bayangan masa lalu kembali menghantam pikirannya—rumah-rumah yang terbakar, jeritan warga, asap tebal yang memenuhi udara. Desa tempat ia dilahirkan lenyap dalam satu malam.

“Kau membunuh semua warga desaku!” suaranya bergetar oleh amarah. “Setelah itu kau membakar tubuh mereka! Jangan bersikap seolah-olah kau orang baik, Peng Lin!”

Udara di sekitar mereka terasa semakin tegang.

Peng Lin menatap Wang Seo tanpa gentar. Namun di balik ketenangannya, kilatan tajam sempat melintas di matanya—pertanda bahwa percakapan ini tidak akan berakhir damai.

“Keluarlah. Jangan hanya menonton percakapan kami dari atas pohon.”

Yan Qing langsung menegang.

Dugaannya benar.

Dari balik pepohonan, sepuluh orang berpakaian hitam meloncat turun satu per satu. Gerakan mereka ringan namun terkoordinasi. Mereka mendarat membentuk setengah lingkaran, menutup seluruh jalur kabur.

“Kau… kau menjebak kami!?” teriak Wang Seo.

Peng Lin menggeleng pelan. “Ini bukan jebakan. Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman ini.”

Clang!

Tanpa aba-aba lebih lanjut, sepuluh orang berpakaian hitam itu bergerak serentak. Pedang beradu, percikan api kecil menyala di udara malam.

Namun ada yang aneh.

Serangan mereka tajam, tetapi tidak diarahkan pada titik-titik vital. Polanya seperti ingin melumpuhkan mereka saja, tak ada sedikitpun niatan untuk membunuh.

“Sialan!” Wang Seo mengayunkan pedangnya kuat-kuat, memukul mundur empat orang sekaligus. “Mengapa kau hanya berdiri di sana!? Datanglah padaku dan aku akan mengambil hidupmu, Peng Lin!”

Aura membunuh memancar dari tubuhnya. Tekanan itu begitu kuat hingga Yao Shi dan Yan Qing yang berada di dekatnya ikut merasakan sesak di dada mereka.

“Qing, bagaimana ini?” teriak Yao Shi sambil menahan serangan dari tiga lawan sekaligus.

“Aku tidak tahu,” jawab Yan Qing dengan napas teratur meski terus bergerak. “Tapi… ini akan menjadi pengalaman menarik dalam hidupku.”

“ITU PUN KALAU KITA MASIH HIDUP, BODOH!” balas Yao Shi kesal.

Pertarungan berlangsung cukup lama. Mereka bertiga adalah murid dari Sekte Pedang Bambu, sekte ternama dengan dasar teknik yang kuat. Sementara anak buah Peng Lin hanyalah pendekar biasa yang menguasai ilmu bela diri kelas ketiga.

Namun jumlah tetaplah jumlah.

Satu per satu, tenaga Yao Shi dan Yan Qing terkuras. Gerakan mereka mulai melambat. Kesalahan kecil tak terhindarkan.

Yao Shi jatuh lebih dulu setelah menerima pukulan telak di bahu yang membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Yan Qing menyusul tak lama kemudian.

Wang Seo masih berdiri, napasnya berat, wajahnya dipenuhi keringat dan debu.

Peng Lin akhirnya melangkah maju dengan cepat.

“Kita sudahi saja urusan kita malam ini” katanya tenang.

Dalam satu pertukaran singkat, pedang Wang Seo terpental. Sebuah serangan telak menghantam dadanya, membuatnya terjatuh dan kehilangan kesadaran.

Sunyi kembali menyelimuti perbatasan.

Ketiganya yang sudah pingsan segera diikat oleh anak buah Peng Lin.

“Tekan titik Qi mereka dan ikat mereka dengan kuat,” perintah Peng Lin dengan suara lelah. Keringat membasahi pelipisnya. “Yang lain, buat tempat singgah sementara di sini.”

Anak buahnya segera bergerak melaksanakan perintah.

Malam semakin dalam.

Di sisi lain wilayah itu, suasana jauh lebih tenang.

Fang Yi akhirnya tiba di depan rumahnya. Lampu di dalam sudah redup. Ia membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Di dalam kamar, ia melihat Fang Yu sudah tertidur.

Wajah adiknya tampak lelah.

Hati Fang Yi terasa sedikit bersalah.

Ia segera menuju dapur dan mulai memasak makan malam sederhana untuk mereka berdua. Aroma hangat perlahan memenuhi ruangan kecil itu.

Setelah selesai, ia mandi cepat untuk membersihkan debu perjalanan. Air dingin menyegarkan tubuhnya.

Usai mandi, ia kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang.

“Hei, Fang Yu. Kakak sudah pulang… ayo makan dulu,” ucapnya lembut sambil mengelus pipi adiknya.

“Kakak…? Kakak sudah pulang?” jawab Fang Yu setengah sadar.

“Iya, kakak di sini. Ayo bangun sebentar dan makan.”

Namun Fang Yu terlalu lelah. Matanya tak sanggup terbuka lagi. Napasnya kembali teratur, tanda ia sudah terlelap.

Fang Yi menghela napas pelan.

Ia memperhatikan meja kecil di sudut ruangan. Roti yang tadi pagi ia tinggalkan hanya berkurang satu.

Berarti Fang Yu hampir tidak makan seharian.

Perasaan khawatir menyelimutinya.

Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh ringan adiknya dan membawanya ke ruang makan. Ia berharap setidaknya Fang Yu akan terbangun dan mengisi perutnya sedikit sebelum tidur lagi.

Dengan sedikit paksaan lembut dari Fang Yi, akhirnya Fang Yu membuka matanya.

Ia duduk dengan wajah setengah sadar, rambutnya berantakan, pipinya masih menyisakan bekas bantal. Namun raut wajahnya menunjukkan sedikit kekesalan.

“Kakak jahat…” gumamnya pelan.

Fang Yi tersenyum kecil. “Kenapa kakak jadi jahat?”

“Pulangnya lama… Fang Yu menunggu.”

Nada suaranya lirih, namun cukup untuk membuat Fang Yi merasa bersalah. Ia mengusap kepala adiknya pelan.

“Maaf. Tadi kakak mampir sebentar.”

Fang Yu tidak menjawab. Ia hanya menatap mangkuk makanan di depannya, lalu mulai makan perlahan. Meski masih setengah mengantuk, rasa lapar akhirnya mengalahkan rasa kesalnya.

Fang Yi duduk di seberangnya, ikut makan sambil sesekali memperhatikan ekspresi adiknya.

“Kakak membeli sesuatu hari ini,” ucap Fang Yi membuka percakapan.

Fang Yu berhenti mengunyah. “Apa?”

“Buku bela diri.”

Mata Fang Yu yang tadinya sayu sedikit membesar. “Kakak mau jadi pendekar?”

Fang Yi terkekeh kecil. “Belum tentu jadi pendekar hebat. Tapi kakak ingin belajar. Setidaknya supaya bisa melindungi diri sendiri… dan melindungi kamu.”

Fang Yu terdiam sesaat. Rasa ngambeknya perlahan menghilang.

“Kakak pasti bisa,” katanya polos. “Kakak kan kuat.”

Ucapan sederhana itu membuat Fang Yi tersenyum lebih lebar.

“Nanti mungkin kakak mulai berlatih. Pelan-pelan saja. Ilmunya masih kelas dua, jadi tidak terlalu sulit,” lanjutnya.

“Kelas dua itu kuat tidak?”

“Lumayan. Cukup untuk mengalahkan preman jalanan mungkin,” jawab Fang Yi bercanda.

Fang Yu mengangguk-angguk seolah benar-benar memahami tingkatan ilmu bela diri. Setelah beberapa suapan lagi, ia mulai terlihat lebih segar meski kelopak matanya masih berat.

“Kalau kakak latihan, Fang Yu boleh lihat?”

“Tentu saja boleh. Tapi jangan meniru tanpa izin, ya.”

Fang Yu tersenyum kecil.

Setelah selesai makan, Fang Yi kembali menggendong adiknya ke kamar. Kali ini Fang Yu tidak protes. Ia bersandar di bahu kakaknya dengan tenang.

Begitu dibaringkan, Fang Yu langsung kembali tertidur.

Fang Yi menatap wajah polos itu beberapa saat.

Lalu ia berdiri, berjalan ke meja kecil, dan mengeluarkan dua buku yang dibelinya. Ia menyentuh sampul buku Pendekar Pedang Terkuat—Ming dan Jin dengan rasa penasaran.

Di dalam sakunya, artefak kuno itu bergetar pelan sekali lagi.

Di sisi lain perbatasan wilayah Goryeo, malam masih menyelimuti hutan dengan sunyi yang menekan.

Tiga pemuda dari Sekte Pedang Bambu mulai siuman hampir bersamaan. Seolah-olah ada benang tak terlihat yang mengikat kesadaran mereka, membuat mereka terbangun dalam waktu yang nyaris sama.

Wang Seo mengerjapkan mata lebih dulu. Kepalanya terasa berat. Ia mencoba bergerak—namun pergelangan tangannya terikat kuat. Aliran Qi di tubuhnya terasa tertahan, seolah ada titik-titik tertentu yang ditekan.

Di sampingnya, Yao Shi dan Yan Qing juga mulai tersadar.

“Uh… kita…” gumam Yao Shi pelan.

“Oh, kalian sudah sadar?” suara tenang terdengar dari depan mereka.

Peng Lin duduk di atas batu besar, diterangi cahaya api unggun kecil. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam.

Wang Seo langsung menegang. “Kau… apa maumu, sialan!? Mengapa kau tidak membunuh kami!?”

Nada bicaranya masih dipenuhi amarah, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Peng Lin menghela napas pelan. “Anak muda, sejak awal aku tidak pernah berniat membunuh kalian.”

Ia berdiri perlahan, mendekat beberapa langkah.

“Rumor tentang diriku hanyalah bualan yang dibesar-besarkan. Memang benar aku ketua kelompok bandit yang kecil ini. Namun bukan berarti aku bisa membantai seluruh warga di desamu.”

Nada suaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang meluruskan kesalahpahaman muridnya.

Wang Seo terdiam sejenak, tetapi rahangnya masih mengeras.

“Tapi… Aliansi Murim menyebut namamu,” balasnya. “Semua bukti mengarah padamu.”

Peng Lin tersenyum tipis. “Menurutmu Aliansi Murim sendiri yang menuduhku? Atau hanya dugaan yang beredar tanpa dasar pasti?”

Ia menatap Wang Seo dalam-dalam.

“Mungkin bagimu itu cukup menjadi alasan untuk mengejarku. Aku tidak menyalahkanmu. Namun jika kau benar-benar ingin mengetahui siapa dalang yang sebenarnya… aku bisa memberitahumu.”

Yao Shi dan Yan Qing saling bertukar pandang.

“Apa maksudmu?” tanya Yan Qing hati-hati.

Peng Lin berhenti tepat di hadapan mereka.

“Tentu saja, itu hanya jika kau bisa berpikir dengan kepala dingin dan pikiran yang jernih,” lanjutnya.

Ucapan itu seperti air yang dituangkan perlahan ke atas bara. Amarah di mata Wang Seo tidak padam sepenuhnya, namun mulai goyah.

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Katakan padaku. Aku akan mempertimbangkan tindakanku lagi.”

Peng Lin menatap api unggun beberapa saat sebelum berbicara.

“Dalang yang sebenarnya membunuh keluargamu… adalah sosok yang bahkan aku takuti, sosok yang namanya tak pernah disebut diwilayah Barat.”

Suasana mendadak terasa lebih berat.

“Bahkan pemimpin Aliansi Murim yang terkenal kuat pun tidak akan berani secara sembarangan mengacungkan pedang di hadapannya.”

Angin malam berembus pelan, membuat nyala api bergoyang.

Untuk pertama kalinya, keraguan benar-benar muncul di wajah Wang Seo.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!