Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nurani di pinggiran rel
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas di bawah terik matahari yang mulai menyengat. Di rumah mewah yang dijaga ketat, sebuah sedan hitam mengkilap sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Pukul menunjukkan 09:15, dan suasana di dalam kendaraan itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk ibu kota di luar sana.
Steven berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, sesekali melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Ia tampak tajam dalam setelan kemeja abu-abu arang,gaya khas pria berkuasa yang tidak perlu pamer.
Tak lama kemudian, Laura muncul dari pintu ruang tamu. Ia mengenakan jeans hitam dan kemeja formal dengan potongan elegan dan kacamata hitam yang menutupi sorot matanya yang dingin. Di lehernya, tersembunyi di balik kerah tinggi pakaiannya, liontin hati pemberian Steven terasa hangat menyentuh kulitnya.
"Kau tepat waktu. Kita punya waktu empat puluh lima menit sebelum kereta berangkat. Jakarta sedang tidak bersahabat dengan kemacetannya hari ini." kata Steven yang menyambutnya di depan pintu.
"Aku tidak ingin membuang waktu, Stev. Mari kita selesaikan ini.
Perjalanan menuju Stasiun Gambir diisi dengan keheningan yang sarat akan ketegangan. Steven duduk di samping Laura, sesekali jemarinya bersentuhan dengan jemari Laura di atas jok kulit—sebuah kontak fisik singkat yang memberikan kekuatan rahasia di antara rencana-rencana besar yang mereka bicarakan semalam.
Saat mobil melintasi kawasan Monas, Steven menunjuk ke arah gedung-gedung pemerintahan yang kokoh berdiri."Lihatlah mereka, Laura. Mereka merasa aman di balik tembok beton itu. Mereka tidak tahu bahwa di Bandung nanti, sejarah baru sedang diketik oleh tangan-tangan yang tidak pernah mereka lihat."
Laura menatap Monumen Nasional yang menjulang sambil berkata,
"Dan kita adalah tinta yang akan menulis sejarah itu di masa depan."
Tepat pukul 09:50, mereka tiba di pintu masuk Stasiun Gambir. Petugas stasiun yang menyambut mereka, mengarahkan langsung menuju peron setelah melewati pemeriksaan umum.
Suasana stasiun pagi itu sangat padat. Bau asap kereta memenuhi udara. Namun, di sekitar Steven dan Laura, ada jarak yang tercipta secara alami.
Seorang petugas mendekati Steven.
"Pak,sebentar lagi kereta akan segera berangkat"
Steven mengangguk singkat. Ia meraih tas ke
Mereka melangkah di atas ubin peron yang legendaris itu, menuju gerbong paling belakang yang telah di pesan khusus. Di kejauhan, peluit keberangkatan mulai terdengar, menandakan dimulainya perjalanan menuju pusat saraf kegelapan para Satanis dari berbagai tempat,di Kota Kembang.
Kereta itu melesat halus, membelah pinggiran Jakarta menuju hamparan hijau Jawa Barat. Di dalam gerbong yang kedap suara dan sejuk, kenyamanan terasa begitu nyata—kursi kulit yang empuk, aroma kopi mahal, dan pelayan yang siap sedia. Namun, pemandangan di balik jendela kaca besar itu menyajikan kenyataan yang menghantam batin Laura.
Saat kereta melintasi kawasan kumuh di pinggiran rel, laju kereta sedikit melambat. Laura terdiam, matanya terpaku pada gubuk-gubuk liar yang terbuat dari triplek dan spanduk bekas.
Di sana, di atas tanah merah yang becek, ia melihat sekelompok anak-anak gelandangan yang berpakaian lusuh tanpa alas kaki. Beberapa dari mereka tampak menggendong bayi yang terlelap di dalam dekap kain jarik yang kusam. Seorang ibu muda, yang wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya, menengadahkan tangan ke arah kereta yang lewat, berharap pada sebuah keajaiban yang tidak akan pernah jatuh dari jendela yang terkunci rapat itu.
"Dua tahun lalu... aku melarikan diri untuk mencari keselamatan. Sekarang aku duduk di sini, bergelimang fasilitas dari kegelapan, sementara mereka... mereka berjuang hanya untuk satu suapan nasi."
Rasa Iba mulai berkecamuk dalam hati Laura.
Ia merasakan dadanya sesak. Rasa kasihan yang tajam menusuk hatinya, sebuah perasaan manusiawi yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam demi posisinya sebagai "Pusaka". Ia tanpa sadar menyentuh liontin hati di balik pakaiannya, seolah mencari pegangan pada sisa-sisa nurani yang masih berdenyut.
Matanya berkaca-kaca saat melihat seorang anak kecil yang melambai lemah ke arah kereta. Anak itu tampak sangat kurus, dengan perut yang sedikit buncit karena kurang gizi.
Steven menyadari perubahan raut wajah Laura, ia mendekat dan berbicara dengan nada rendah.
"Jangan terlalu lama menatap ke luar, Laura. Itu hanya akan mengganggu fokusmu."
Dengan suara yang sedikit bergetar gadis itu menjawab,
"Mereka... mereka tidak punya apa-apa, Steven. Bayi-bayi itu... apa mereka juga bagian dari 'jaring merah' yang kau ceritakan?"
Steven menatap pemandangan yang sama dengan tatapan yang sepenuhnya datar, seolah ia sedang melihat tumpukan barang yang tidak berarti.
"Mereka adalah alasan mengapa dunia ini butuh kendali total, Laura. Kemiskinan, kelaparan, dan kekacauan adalah produk dari kegagalan sistem lama. Organisasi kita akan 'menertibkan' semua itu. Dalam dunia baru nanti, tidak akan ada lagi pemandangan seperti ini—karena semua orang akan memiliki tempatnya masing-masing dalam struktur yang kita buat."
"Dengan cara apa? Dengan menghapus kemiskinan atau dengan menghapus... mereka?"
Steven tidak menjawab secara langsung. Ia hanya mengulas senyum tipis yang terasa dingin dan penuh rahasia, lalu menarik tirai jendela agar pemandangan itu tertutup.
"Fokuslah pada pertemuan di Bandung. Kekuasaan yang akan kau pegang nanti bisa mengubah banyak hal, jika kau cukup kuat untuk melakukannya."
Laura kembali menyandarkan kepalanya, namun bayangan bayi di gendongan anak kecil tadi tidak mau pergi dari ingatannya. Di tengah kenyamanan gerbong ini, ia merasa seperti sedang berada di dalam sangkar emas yang dibangun di atas penderitaan yang tak terlihat.
Kereta api yang di tumpangi Steven dan Laura itu,mendadak melambat hingga benar-benar berhenti di sebuah perlintasan sebidang yang padat di pinggiran kota. Suara palang pintu kereta berdenging nyaring di luar, menghalangi arus kendaraan yang tak sabar melintas. Di balik kaca jendela yang gelap, Laura terpaku melihat pemandangan yang menyayat hati tepat di depannya.
Hanya berjarak dua meter dari gerbongnya, seorang ibu muda dengan baju lusuh sedang duduk bersimpuh di atas kerikil tajam, mendekap bayinya yang tertidur dalam balutan kain kumal. Di sampingnya, seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun menatap ke arah jendela kereta dengan mata yang cekung namun penuh harap.
Hati Laura mencelos. Rasa puas yang ia rasakan setelah penjelasan Steven semalam mendadak hambar. Ia merasa seperti pengkhianat—menikmati kemewahan hasil dari organisasi yang ingin mengontrol dunia, sementara di depan matanya, kemanusiaan sedang sekarat.
Tanpa memedulikan Steven yang sedang sibuk memeriksa dokumen di kursi seberang, Laura dengan terburu-buru merogoh tas tangannya. Jemarinya yang gemetar mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dari saku pribadinya yang diberikan organisasi sebagai "uang jajan" yang jumlahnya jutaan.
Laura menekan tombol otomatis untuk menurunkan kaca jendela sedikit. Udara panas Jakarta yang berdebu dan bau asap knalpot langsung menyeruak masuk, merusak aroma parfum mahal di dalam gerbong.
Laura berbisik pelan, matanya berkaca-kaca. "Gunakan ini untuk anakmu..."
Dengan gerakan cepat, Laura melemparkan beberapa lembar uang itu melalui celah jendela. Angin sepoi-sepoi membawa lembaran uang itu jatuh tepat di depan sang ibu muda.
Mata wanita itu membelalak. Ia seolah tidak percaya melihat "hujan uang" jatuh dari gerbong yang begitu megah. Dengan tangan gemetar, ia memungut uang itu dan menatap ke arah jendela. Meski kaca jendela itu gelap dari luar, sang ibu seolah tahu ada malaikat—atau mungkin jiwa yang sedang tersesat—di balik sana. Ia mengangguk berkali-kali dengan air mata yang mulai mengalir.
KLIK.
Steven menekan tombol dari konsol kendalinya, dan kaca jendela Laura kembali tertutup rapat secara otomatis. Ia menaruh dokumennya dan menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekecewaan dan peringatan.
"Kedermawanan adalah kemewahan yang tidak bisa kita miliki hari ini, Laura. Kau baru saja memberikan mereka harapan palsu. Uang itu tidak akan mengubah sistem yang menindas mereka."
Laura menoleh dengan tajam, suaranya bergetar karena emosi.
"Setidaknya itu bisa membuat bayi itu minum susu hari ini, Steven! Aku tidak bisa diam saja melihat mereka seperti itu sementara kita duduk di sini membicarakan 'tata dunia baru'!"
Steven mendekat, suaranya merendah dan berbahaya.
"Tindakanmu barusan sangat tidak profesional. Jika ada pengawas organisasi di gerbong lain yang melihatmu membuka jendela dan berinteraksi dengan 'orang bawah', mereka akan melaporkanmu sebagai aset yang tidak stabil."
Steven meraih tangan Laura yang masih memegang sisa uang.
"Simpan uangmu. Di Bandung nanti, kau akan membutuhkan setiap tetes ketegasanmu. Jangan biarkan rasa iba ini menjadi lubang di perisaimu."
Kereta kembali bergerak perlahan seiring terangkatnya palang pintu. Laura menyandarkan kepalanya di kursi, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa puas telah membantu, namun ia juga sadar bahwa tindakannya barusan telah menunjukkan kepada Steven bahwa ia masih memiliki "hati"—sesuatu yang sangat dilarang dalam dunia para Satanik yang telah ia masuki sekarang.