NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana ruang makan yang tadinya tegang mulai mencair saat Rizal dan Aisyah menikmati sarapan mereka dalam ketenangan.

Rizal menyendok bubur hangatnya dengan perlahan, sementara Aisyah sesekali melirik jam tangan peraknya yang melingkar cantik.

"Mas, aku nanti ke kantor sebentar ya. Ada dokumen yang harus segera kutandatangani," ucap Aisyah sambil meletakkan gelas susu cokelatnya.

"Ingat, jam delapan Mas ada kursus bahasa bersama Madame Claire di perpustakaan. Dia orangnya sangat tepat waktu."

Rizal mengangguk paham, menatap istrinya dengan pancaran kekaguman.

"Iya, Sayang. Aku tidak akan terlambat. Aku akan berusaha memberikan kesan pertama yang baik."

"Nanti kabari aku ya, Mas, kalau kursusnya sudah selesai atau kalau Mas butuh sesuatu," tambah Aisyah lembut.

"Iya, Aisyah. Jangan khawatirkan aku. Fokuslah pada pekerjaanmu di kantor," jawab Rizal.

Selesai sarapan, Aisyah beranjak menuju kamar utama.

Tak lama kemudian, ia keluar kembali dengan penampilan yang benar-benar berbeda.

Ia telah menanggalkan mukenanya dan menggantinya dengan setelan kerja yang sangat berkelas: sebuah blazer berwarna biru navy yang dipadukan dengan celana kain senada, serta hijab sutra bermotif elegan yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna.

Kesan wanita pebisnis yang tangguh dan cerdas terpancar kuat dari dirinya.

Ia menenteng tas kulit bermerek dan memegang beberapa berkas.

Rizal yang sedang berdiri bersandar pada tongkatnya di dekat pintu, terpaku melihat transformasi istrinya.

Ia melangkah mendekat, langkahnya sedikit tertatih namun matanya tak lepas dari sosok Aisyah.

"Masya Allah. Kamu benar-benar luar biasa, Aisyah. Terkadang aku masih tidak percaya wanita sehebat ini adalah istriku."

Aisyah tersenyum malu, pipinya sedikit bersemu merah mendengar pujian jujur dari suaminya.

Ia merapikan kerah baju Rizal sejenak sebelum berpamitan.

"Mas juga akan menjadi pria yang hebat, bahkan lebih hebat dariku," sahut Aisyah. ia mencium tangan Rizal dengan takzim, sebuah bentuk penghormatan yang membuat Rizal merasa sangat dihargai sebagai kepala keluarga.

Dari sudut dapur yang pengap, Intan mengintip dengan rasa iri yang membakar hati.

Ia melihat kemesraan itu sebagai ancaman, namun juga sebagai peluang.

Ia segera merapikan bajunya yang sudah agak kering, bersiap melancarkan rencana busuknya begitu deru mobil Aisyah menghilang dari halaman rumah.

"Pergilah, Ma. Pergilah yang lama," gumam Intan licik sambil memegang nampan kosong.

"Biarkan aku yang 'menemani' Mas Rizal belajar pagi ini."

Rizal duduk di kursi kayu jati yang kokoh di dalam perpustakaan pribadi keluarga Baskoro.

Ia menatap deretan buku-buku tebal yang tertata rapi, jantungnya berdegup sedikit kencang memikirkan pelajaran bahasa asing pertamanya yang akan dimulai dalam beberapa menit.

Madame Claire masih dalam perjalanan, dan suasana rumah terasa sangat sepi setelah keberangkatan Aisyah.

Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka perlahan. Rizal mengira itu adalah Bi Inah yang membawakan air minum, namun ia salah.

Intan masuk dengan penampilan yang berubah total.

Ia telah menanggalkan celemek dan baju tidurnya yang basah, menggantinya dengan gaun malam berbahan sutra tipis yang sangat pendek dan ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sengaja.

Wajahnya telah dipoles riasan tipis namun menggoda, dan aroma parfumnya yang menyengat langsung memenuhi ruangan.

Rizal tertegun, namun bukan karena kagum, melainkan karena rasa muak yang mendalam.

"Intan? Apa-apaan ini? Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Rizal dengan suara dingin, tangannya mencengkeram erat gagang tongkatnya.

Intan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru memasang wajah memelas, matanya berkaca-kaca seolah penuh penyesalan.

Dengan gerakan cepat, ia berlari kecil menghampiri Rizal yang masih duduk.

"Mas, aku rindu kamu!" seru Intan dengan suara manja yang dibuat-buat.

Sebelum Rizal sempat menghalau, Intan langsung menghambur dan memeluk tubuh Rizal dengan erat.

Ia menyandarkan kepalanya di dada Rizal, mencoba membangkitkan kembali kenangan masa lalu saat mereka masih menjalin kasih.

"Aku tahu kamu masih mencintaiku, Mas. Kamu menikahi Mama hanya karena kamu ingin membalas dendam padaku, kan? Tapi tolong, Mas, jangan siksa aku lagi dengan cara ini. Aku tidak kuat melihatmu bersama Mama," bisik Intan tepat di telinga Rizal, tangannya mulai meraba lengan Rizal yang kini terasa lebih berotot.

Rizal mematung sejenak dan merasakan degup jantung Intan. Namun di dalam kepalanya, bayangan wajah tulus Aisyah saat sholat Subuh tadi jauh lebih kuat.

Ia menyadari bahwa ini adalah bagian dari rencana busuk yang dibisikkan Hadi semalam.

Rizal perlahan mengangkat tangannya, namun bukan untuk membalas pelukan itu.

Ia memegang bahu Intan dengan tenaga yang cukup kuat untuk mendorongnya menjauh.

"Lepaskan, Intan," ucap Rizal dengan nada yang sangat rendah namun mengandung ancaman yang nyata.

"Jangan buat aku melakukan hal yang akan membuatmu menyesal seumur hidup."

Intan tidak peduli dan malah ia berjalan mendekati Rizal.

Suasana di dalam perpustakaan yang sunyi itu mendadak pecah oleh ketegangan yang memuakkan.

Rizal merasakan amarah yang memuncak saat tangan Intan mulai menarik kerah kemeja pemberian Aisyah dengan paksa, mencoba membawa tubuh Rizal lebih dekat ke arahnya.

"Lepaskan, Intan! Apa kamu sudah gila?!" bentak Rizal.

Dengan sisa tenaga dan emosi yang meluap, Rizal menggunakan lengan kirinya untuk mendorong bahu Intan sekuat tenaga. Namun, karena Intan mencengkeram kain kemeja Rizal terlalu erat untuk menariknya, terdengar suara

SREEEKK!

Bagian depan kemeja Rizal sobek, memperlihatkan dadanya.

BRUK!

Intan terpental dan terjatuh ke lantai marmer yang dingin.

Di saat yang bersamaan, pintu perpustakaan terbuka lebar. Madame Claire, wanita paruh baya keturunan Prancis dengan kacamata berbingkai emas, berdiri mematung di ambang pintu.

Ia membelalakkan matanya melihat pemandangan di depannya: seorang pria dengan baju sobek dan seorang gadis muda yang terduduk di lantai dengan pakaian sangat minim.

Melihat ada saksi mata, Intan langsung menjalankan skenario busuknya.

Ia menarik tali gaun tipisnya hingga merosot, lalu berteriak histeris sambil menutupi dadanya dengan tangan yang gemetar.

"Tolong! Tolong saya, Madame! Tolong!" teriak Intan dengan tangisan yang dibuat-buat.

"Rizal, dia mau memperkosa saya! Dia memaksa saya masuk ke sini dan merobek bajunya sendiri agar saya terlihat bersalah! Tolong, Madame!"

Madame Claire menutup mulutnya dengan tangan, tampak syok dan bingung.

Rizal berdiri dengan bantuan tongkatnya, napasnya memburu.

Wajahnya merah padam bukan karena nafsu, melainkan karena hinaan yang luar biasa.

"Jangan percaya padanya, Madame! Dia yang menjebak saya!" tegas Rizal, namun suaranya tenggelam oleh raungan tangis Intan yang semakin keras.

Suara keributan itu memancing Bi Inah berlari dari dapur.

Begitu melihat Intan menangis histeris dan kondisi Rizal yang berantakan, Bi Inah tidak langsung percaya pada drama Intan.

Sebagai orang yang sudah lama bekerja di sana, ia tahu busuknya hati Intan.

Tanpa membuang waktu, Bi Inah berlari ke sudut ruangan dan mengambil telepon rumah.

Tangannya gemetar saat menekan nomor ponsel majikannya.

Di kantor, Aisyah baru saja meletakkan tasnya di atas meja kerja saat ponselnya bergetar hebat.

"Halo, Bi Inah? Ada apa?" tanya Aisyah tenang.

"Nyonya! Cepat pulang, Nyonya! Di perpustakaan, Non Intan membuat keributan besar dengan Tuan Rizal! Dia menuduh Tuan macam-macam di depan guru kursusnya! Cepat, Nyonya!" suara Bi Inah terdengar panik.

Aisyah terdiam sejenak sambil mengeluarkan senyum dingin yang sangat tipis.

Ia merogoh laci mejanya, mengambil sebuah tablet yang terhubung langsung dengan CCTV tersembunyi yang baru ia pasang di sudut perpustakaan semalam.

"Tenang, Bi. Aku segera ke sana," ucap Aisyah pelan.

"Biarkan drama itu berlanjut sedikit lagi. Aku ingin melihat sejauh mana putriku bisa menghancurkan dirinya sendiri." gumam Aisyah yang segera pulang ke rumah.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!