Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berakhir
Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Ayra melangkah masuk ke koridor Pengadilan Agama dengan setelan formal yang rapi, memancarkan kesan wanita cerdas dan mandiri. Jauh sekali drngan dandanan Ayra daat masih menjadi istri Rayyan. Di sampingnya, Melissa berjalan dengan tenang sambil membawa tas kerja berisi tumpukan berkas yang akan menjadi senjata mereka.
Saat memasuki ruang tunggu sidang, Ayra melihat Rayyan sudah duduk di sana. Wajah pria itu tidak lagi angkuh seperti biasanya. Ada gurat kecemasan dan kelelahan yang nyata di matanya. Rayyan menoleh pada Ayra. Seketika matanya terbelalak, Istrinya yang sebentar akan menjadi mantan itu, terlihat begitu berbeda. Jauh elegan dan... Cantik.
Rayyan berdiri. Ia bermaksud menghampiri Ayra. Tapi Ayra justru memalingkan wajah dan terus berjalan masuk ke ruang sidang tanpa sepatah kata pun.
"Panggilan sidang nomor perkara 123, Penggugat atas nama Kinayra Calista dan Tergugat Rayyan Gibran, silakan memasuki Ruang Sidang Satu," seru petugas pengadilan.
Ayra dan Melissa bangkit, diikuti oleh Rayyan dan pengacaranya. Begitu mereka masuk, petugas segera menutup pintu rapat-rapat.
"Sidang perkara cerai gugat antara Kinayra Calista melawan Rayyan Gibran dinyatakan dibuka dan tertutup untuk umum," ucap Hakim Ketua sambil mengetuk palu sekali.
Di dalam ruangan yang hanya berisi majelis hakim, panitera, dan para pihak yang berperkara, suasana terasa sangat dingin. Hakim Ketua menatap Rayyan dengan saksama.
"Saudara Tergugat, apakah Saudara sudah menerima dan membaca salinan gugatan dari Penggugat?" tanya Hakim.
"Sudah, Yang Mulia," jawab Rayyan pelan.
"Di dalam gugatan ini, Penggugat memaparkan alasan perceraian yang sangat serius. Ada poin mengenai pengakuan perselingkuhan secara terbuka, kekerasan psikis yang berdampak pada keguguran janin, hingga masalah intimidasi mengenai harta gono-gini. Saudara Tergugat, apakah Saudara merasa perlu menanggapi atau ada upaya perdamaian?"
Rayyan melirik Ayra yang duduk dengan dagu tegak. Keberanian Ayra di ruang sidang ini benar-benar di luar perkiraan Rayyan. Ia sempat ingin menyangkal, tapi ia tahu Melissa sudah menyiapkan tumpukan bukti di dalam map cokelat itu.
"Saya... saya masih ingin mempertahankan rumah tangga ini, Yang Mulia. Saya ingin meminta maaf atas semua yang terjadi. Saya betul-betul khilaf, Yang Mulia." ucap Rayyan lirih, mencoba mencari simpati Hakim Ketua dan Ayra. Ia sedang aman karena takut hartanya terkuras habis.
Hakim Ketua kemudian menatap Ayra. "Bagaimana dengan saudari Penggugat? Apakah masih ada keinginan untuk berdamai?"
Ayra menarik napas dalam, lalu menjawab dengan suara yang jernih dan tegas.
"Tidak, Yang Mulia. Saya tetap pada gugatan saya. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan setelah pengkhianatan dan intimidasi yang saya alami."
Hakim Ketua mengangguk setelah mendengar pernyataan tegas dari Ayra.
"Sesuai prosedur, karena kedua belah pihak hadir, maka sidang hari ini ditunda untuk menempuh tahap mediasi terlebih dahulu. Saya menunjuk Hakim Mediator untuk membantu saudara-saudara mencari titik temu," ucap Hakim Ketua sambil mengetuk palu sekali.
Sidang pun ditutup. Ayra, Rayyan, dan para pengacara keluar dari ruang sidang utama menuju bagian mediasi untuk menentukan jadwal pertemuan. Di sana, mereka mendapatkan jadwal bahwa mediasi baru akan dilaksanakan satu minggu kemudian.
***
Selama satu minggu masa tunggu itu, Rayyan hidup dalam ketakutan. Ia terus-menerus mencoba menghubungi Ayra, namun nomornya telah diblokir. Ia bahkan mencoba mengirim pesan melalui Melissa, namun Melissa hanya menjawab dengan dingin bahwa segala pembicaraan akan dilakukan di depan mediator.
Satu Minggu Kemudian: Hari Mediasi
Ayra datang ke Pengadilan Agama tanpa didampingi Melissa masuk ke dalam ruangan, sesuai aturan mediasi.
Di dalam ruangan kecil itu, hanya ada Ayra, Rayyan, dan seorang Hakim Mediator.
Rayyan duduk di hadapan Ayra dengan wajah yang jauh lebih kuyu dari minggu lalu. Begitu Hakim Mediator mempersilakan mereka bicara, Rayyan langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Ayra.
"Ayra, tolonglah. Kamu lihat sendiri kan, aku datang ke sini dengan itikad baik. Kenapa kamu harus menuliskan soal rekam medis dan soal Liztha ke dalam gugatan? Itu bisa menghancurkan reputasiku kalau sampai orang kantor tahu," bisik Rayyan dengan suara memohon.
Ayra menatap Rayyan dengan tatapan yang sangat datar. "Kamu masih memikirkan reputasi kantor di saat kita sedang membahas hancurnya rumah tangga dan hilangnya nyawa anak kita?"
Ayra menatapnya tak percaya sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa ada manusia seperti kamu di dunia ini, Mas?" Gumamnya letih.
"Aku tahu aku salah soal Liztha, Ayra. Tapi soal harta gono-gini itu, bukankah kita bisa bicarakan di luar? Kamu tidak perlu sekaku ini. Kalau kamu mau, aku bisa berikan kompensasi, asal cabut poin-poin yang menyudutkan aku di depan hakim," lanjut Rayyan lagi.
Hakim Mediator kemudian menyela,
"Saudara Tergugat, fokus mediasi adalah mencari perdamaian untuk mempertahankan pernikahan, bukan negosiasi harta. Saudari Penggugat, apakah ada syarat dari Anda untuk memaafkan Tergugat dan kembali membina rumah tangga?"
Ayra menoleh ke arah Hakim Mediator, suaranya tetap jernih.
"Pak Hakim, tidak ada syarat apa pun. Rasa percaya saya sudah mati. Saya hanya ingin proses ini cepat selesai agar saya bisa lepas dari laki-laki yang bahkan di saat seperti ini hanya memikirkan hartanya sendiri."
Mendengar jawaban telak itu, Hakim Mediator menutup sesi hari itu dengan kesimpulan bahwa mediasi tidak berhasil. Ia akan melaporkan kegagalan ini kepada Hakim Ketua, dan sidang akan dilanjutkan ke tahap pembacaan gugatan pada dua minggu berikutnya.
Saat keluar dari ruang mediasi, langkah Rayyan terasa berat. Ia segera mencegat Ayra di koridor yang mulai sepi.
"Ayra, tunggu! Kamu benar-benar tega melakukan ini?" tanya Rayyan dengan suara tertahan, matanya menatap Ayra dengan penuh ketidakpercayaan.
"Kamu ingin menghancurkan karierku dan mengambil setengah dari apa yang sudah aku hasilkan dengan susah payah?"
Ayra berhenti melangkah, tapi ia tidak berbalik. Ia hanya menoleh sedikit, memberikan tatapan yang membuat Rayyan merasa sangat kecil.
"Aku tidak menghancurkanmu, Mas. Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri saat kamu memutuskan untuk selingkuh dan memfitnahku berselingkuh dengan ayahmu sendiri. Benar-benar biadab!" jawab Ayra, tapi masih bersikap tenang.
Rayyan terpaku, kehilangan kata-kata. Ia melihat Ayra berjalan menjauh bersama pengacaranya tanpa menoleh sedikit pun. Akhirnya Rayyan bisa merasakan kalau dunianya benar-benar sudah runtuh. Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi ibunya dengan napas memburu.
"Bu, mediasi gagal. Ayra tidak mau kompromi sedikit pun!" seru Rayyan begitu telepon tersambung.
"Dia tahu posisinya kuat karena bukti-bukti itu. Kalau sidang ini lanjut sampai pembuktian, aku bisa kehilangan segalanya, Bu! Karierku, uangku, semuanya!"
Di seberang telepon, Elly terdiam. Kesombongan yang selama ini ia miliki mendadak sirna. Rencana besarnya untuk mengusir Ayra tanpa harta justru berbalik mengancam masa depan putranya sendiri.
***
Akhirnya setelah berbulan-bulan proses persidangan yang melelahkan, hari yang paling menentukan itu tiba.
Hari Putusan.
Ruang Sidang Satu kembali menjadi saksi. Kali ini suasananya jauh lebih sunyi dan berat. Tidak ada lagi adu argumen. Tidak ada lagi air mata. Semua sudah berada di titik akhir.
Ayra duduk dengan tenang di bangku Penggugat. Setelan berwarna peach, sangat pas di kulitnya yang putih mulus. Kini tubuhnya terlihat lebih berisi dan mempesona. Ditunjang dengan wajahnya terlihat lebih segar dan tentu saja lebih cantik.
Di seberang, Rayyan duduk kaku. Jas mahal yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. Sejak sidang pembuktian berlangsung, satu per satu kebohongannya runtuh.
Hakim Ketua membuka berkas putusan dan menatap seluruh pihak di ruang sidang.
“Setelah memeriksa seluruh rangkaian persidangan, keterangan para pihak, saksi, dan ahli, serta memperhatikan pengakuan Tergugat di bawah sumpah, majelis hakim menyimpulkan bahwa rumah tangga Penggugat dan Tergugat telah mengalami keretakan yang bersifat permanen.”
Rayyan menunduk. Tangannya mengepal di atas pahanya.
“Bahwa Tergugat telah mengakui perselingkuhan, dan bahwa tindakan memfitnah Penggugat berselingkuh dengan ayah kandung Tergugat sendiri merupakan pelanggaran berat terhadap kehormatan dan martabat seorang istri.”
Ayra tetap duduk tegak. Wajahnya tenang, meski rahangnya mengeras.
“Bahwa upaya mediasi dinyatakan gagal dan tidak terdapat harapan rukun kembali.”
Hakim Ketua menarik napas singkat.
“Maka majelis hakim memutuskan.”
Palu terangkat.
“Satu. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.”
Palu diketuk.
“Dua. Menjatuhkan talak satu bain sughra dari Tergugat Rayyan Gibran kepada Penggugat Kinayra Calista.”
Rayyan terdiam. Wajahnya pucat.
“Tiga. Menetapkan pembagian harta bersama sesuai ketentuan hukum yang berlaku.”
“Empat. Menghukum Tergugat untuk membayar seluruh biaya perkara.”
Palu diketuk sekali lagi.
“Sidang dinyatakan selesai.”
Ayra berdiri. Ia merapikan tasnya, lalu menoleh ke arah Rayyan untuk terakhir kalinya.
“Kamu bukan kalah di pengadilan, Mas,” ucapnya datar.
“Kamu kalah saat memilih selingkuh, lalu memfitnah istrimu berselingkuh dengan ayahmu sendiri. Itu biadab!”
Rayyan tak mampu menjawab.
Ayra melangkah keluar ruang sidang tanpa menoleh kembali, diikuti Melissa yang setia mendampinginya.
"Setelah ini, kamu siap melanjutkan kuliahmu lagi, kan?" Tanya wanita itu. Menatap wajah Ayra yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
"Tentu, mbak. Aku tak akan lagi menyia-nyiakan hidupku. Usiaku masih dua puluh satu tahun. Masih pantas menjadi mahasiswi lagi, kan?" Candanya.
"Menjadi anak SMA pun, kamu masih pantas, kok."
Derai tawa pun mengiringi langkah mereka, menuju gerbang kebahagiaan. Itulah yang selalu ada dalam doa Ayra. Tapi hidup ini misteri, tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi setelah beberapa menit, jam atau hari-hari berikutnya.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"