Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Tuan, kapan Anda akan membawa saya ke rumah? Saya ingin bertemu dengan Shopia. Biarkan dia tahu siapa ibunya," ucap seorang wanita sembari bergelayut di lengan Tuan Haysa.
Hana mencibir, memperhatikan dari jauh. Ia tetap berdiri di tempatnya, melihat dengan jelas dan mendengar percakapan mereka.
"Jadi, Shopia sebenarnya adalah anak ayah brengsek itu dan selingkuhannya? Pantas saja sangat membelanya," gumam Hana mencibirkan bibir jijik.
"Tuan, Shopia menginginkan villa di perkebunan teh itu. Apakah Anda akan memberikannya? Biarkan kami tinggal di sana. Tidak masalah meskipun itu di desa dan jauh dari kota. Kita akan aman seperti itu, bukan? Nyonya tidak akan mengetahuinya," lanjutnya dengan suara yang manja. Tangannya merayap dan meraba dada Tuan Haysa.
Hana menggeram, tangannya mengepal kuat mendengar permintaan wanita itu. Ia melangkah semakin mendekat, ingin tahu apa jawaban dari laki-laki brengsek itu.
"Kau tenang saja. Saat Hana kembali, dia harus memberikan villa itu kepada Shopia. Dia tidak pantas menempati villa mewah itu," jawab Tuan Haysa dengan mudahnya.
Hana mendengus, menatap tajam pasangan menjijikkan itu. Dengan penuh emosi ia menendang sebuah pot bunga di luar jendela hingga menarik perhatian semua orang yang ada di restoran. Kemudian, berbalik dan pergi dengan santai seolah-olah tak melakukan kesalahan.
Sepasang manusia menjijikkan itu pun menoleh, sang wanita berdiri dengan cepat untuk melihat seorang gadis yang melenggang dari restoran.
"Ada apa?" tanya Tuan Haysa mendekat.
"Kau kenal dengan gadis itu?" tanyanya sembari menunjukkan keberadaan Hana di antara lalu-lalang manusia dan kendaraan yang padat.
"Yang mana?" Tuan Haysa melihat jauh.
"Yang itu! Yang mengenakan gaun biru muda dengan rambut yang digerai. Dia yang menjatuhkan pot bunga itu," katanya menjelaskan.
Sayang, Hana telah menghilang di antara lautan manusia.
"Aku tidak mengenalnya. Sebaiknya kita kembali saja. Kau sudah berjanji akan memberikan yang terbaik untukku," bisik Tuan Haysa nakal.
Mereka pergi ke sebuah hotel melanjutkan hubungan terlarang. Hana yang masih di sana, melihat semuanya.
"Kasihan sekali wanita di rumah itu. Dia memperlakukan anak haram suaminya seperti mutiara. Biarlah, aku ingin tahu apa yang akan terjadi padanya saat tahu semua ini," ujar Hana sembari tersenyum sinis dan pergi dari sana.
Kakinya tak lelah menyusuri jalanan kota, berlomba dengan hiruk-pikuk kendaraan dan suara-suara pedagang yang menjajakan dagangannya. Di kejauhan, ia melihat Ethan dan seorang perempuan berpakaian minim keluar dari sebuah bar.
Hana mendengus, terus melangkah berpapasan dengannya.
"Memalukan! Seperti ini kelakuan anak kesayangan ayah dan ibu. Hanya tahu bersenang-senang dan mengangkat tangan meminta uang. Kau pikir uang orang tuamu hanya untukmu?" sindir Hana sengaja berhenti di dekat Ethan.
Ethan meradang, melepaskan tangan perempuannya dan mendekati Hana. Ia melayangkan tangan hendak menampar, tapi Hana dengan sigap menangkap tangan itu dan membalikkan tamparannya.
Plak!
Ethan membelalak, menatap sekeliling di mana banyak mata yang menonton dan bibir yang tertawa.
"Jika ayah dan ibu tidak dapat mendidik mu dengan benar, maka biarkan aku yang mendidik mu!" ucap Hana seraya menarik kerah pakaian Ethan dengan sangat kuat.
Ia sudah terbiasa menghadapi para pejabat nakal seperti Ethan di kerajaan Amerta dulu.
"Jika ingin bersenang-senang setidaknya gunakan uangmu sendiri. Bukan menadah pada orang tua tanpa tahu malu. Kau berbicara omong kosong kepada perempuanmu bahwa uangmu melimpah. Memalukan!"
Hana meracau, menampar Ethan berkali-kali. Lalu, melirik perempuan yang bersama kakak keduanya itu dengan sinis.
"Sebagai perempuan kau harus punya harga diri. Jangan merendahkan dirimu di hadapan uang. Laki-laki hanya akan mempermainkan dirimu, setelah bosan kau akan dibuangnya seperti sampah!" katanya kejam.
Perempuan itu menghentak kaki, pergi dengan kepala tertunduk menahan malu. Hana menendang bagian belakang Ethan, menggiringnya pulang. Sesekali akan memukul laki-laki itu atau menendangnya. Tak peduli pada mobil yang dibawa Ethan.
"Hentikan! Aku adalah kakakmu! Kau tidak pantas memperlakukan aku seperti ini!" bentak Ethan berbalik melawan Hana.
Hana memungut sebuah tambang yang tergeletak di tepi jalan. Menggulungnya di tangan, melangkah mendekati Ethan. Lalu, memukulkan tambang itu ke tanah.
"Berlutut!" Suara Hana penuh wibawa.
Ethan yang mendengar tidak dapat membantah, sontak ia jatuh berlutut di hadapan Hana. Mereka telah tiba di depan kediaman keluarga Haysa. Hana berjalan ke belakang Ethan, tersenyum sinis. Kemudian ....
Wush!
Cebret!
Hana mencambuk punggung Ethan dengan cepat dan kuat.
Argh!
"Apa yang kau lakukan?" protes Ethan memegangi punggungnya yang terasa panas dan perih.
Namun, Hana tak mendengar. Ia terus mengayunkan tambang mencambuk tubuh Ethan.
"Kau gila, Hana! Kenapa kau memukuliku?" teriaknya panik.
Ia melirik rumahnya yang besar, ingin berlari ke dalam, tapi gerbang itu tertutup.
"Ibu! Kakak! Selamatkan aku!" teriak Ethan sembari melarikan diri dari serangan Hana.
Cebret!
Hana tak peduli meski tubuh Ethan sudah berdarah-darah.
"Bukankah kau pernah memukuliku seperti ini demi Shopia? Kau bahkan tidak mendengar tangisanku, kau tidak mendengar permohonanku. Tak hanya sekali, kau sering melakukan ini berkali-kali kepadaku!" geram Hana, ingatan pemilik asli berputar di mana Ethan sering memukulinya dengan ikat pinggang karena berselisih dengan Shopia.
"Ampun! Hentikan! Hentikan! Aku minta maaf," mohon Ethan sembari mengangkat kedua tangan menghalangi cambukan Hana.
"Apakah aku harus mendengar mu?" Hana mengangkat tangan tinggi-tinggi, sebelah kakinya menginjak keras kaki Ethan.
Lalu, mengayunkan tangan hendak memukulnya kembali.
"Hentikan!"
hai jalang gk tau diri lo