NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AWAL KISAH

Siang itu, sebuah ruang sidang Pengadilan Agama dipenuhi udara pengap.

Di bangku penggugat duduk seorang perempuan berusia tiga puluhan bersama kuasa hukumnya. Wajahnya tampak tenang, meski jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan.

Tak jauh dari sana, seorang pria duduk sendirian. Punggungnya tegak, sorot matanya kosong.

“Ibu Sinta… apakah Anda tidak ingin berdamai dengan suami Anda?” tanya hakim untuk kesekian kalinya.

Sinta mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, suaranya mantap meski dadanya bergemuruh.

“Tidak, Yang Mulia.”

Hakim menghela napas pelan, lalu beralih.

“Pak Farhan…”

“Saya mengikuti keinginannya, Yang Mulia,” jawab Farhan tenang, tanpa menoleh.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.

“Baiklah. Karena tidak adanya tuntutan lanjutan dari kedua belah pihak, maka dengan ini majelis memutuskan bahwa Ibu Sinta Andriani binti almarhum Susilo dan Bapak Farhan Bahtiar bin Handi Bahtiar resmi bercerai dan tidak lagi terikat sebagai suami istri. Segala hak dan kewajiban agar dilaksanakan sesuai tuntunan agama dan negara!"

Palu diketuk.

Tok!.

Satu suara kecil… yang mematahkan tiga belas tahun kebersamaan.

Sidang dinyatakan selesai.

Sinta melangkah keluar gedung dengan kaki gemetar. Begitu melewati pintu utama, pertahanan yang ia bangun sejak pagi runtuh seketika. Air matanya jatuh, mengalir tanpa bisa dicegah.

Bukan karena menyesal mengambil keputusan.

Melainkan karena mimpi tentang rumah tangga yang ia rawat dengan sepenuh hati kini resmi menjadi kenangan.

Farhan berdiri tak jauh darinya. Ada jarak di antara mereka—jarak yang tak lagi bisa dijembatani.

“Terima kasih telah menjadi istri yang baik,” ucap Farhan lirih.

Ia menunduk sebentar.

“Maafkan aku.”

Lalu pria itu pergi dengan langkah ringan, seolah beban telah terangkat dari pundaknya.

Sinta menatap punggung yang semakin menjauh itu.

Tiga belas tahun bersama… bukan waktu sebentar untuk dihapus begitu saja. Dadanya terasa sesak.

“Terima kasih juga, Mas…” gumamnya hampir tak bersuara.

“Semoga kau bahagia.”

Angin siang menyapu wajahnya, membawa serta sisa air mata dan doa yang tak pernah terdengar.

Hari itu, Sinta pulang tanpa suami.

Namun dengan luka yang baru saja dimulai.

Sampai di rumah, dua pasang mata langsung menatap Sinta yang melangkah masuk sendirian.

Kedua putranya sudah cukup besar untuk memahami arti keheningan itu. Mereka tahu—Ayah tak akan pulang lagi bersama Bunda.

“Bunda…” panggil Leo, anak sulungnya pelan.

Pertahanan terakhir Sinta runtuh.

Air matanya meleleh kembali. Belum sempat ia menjawab, Adrian—putra keduanya—sudah berlari dan memeluk pinggangnya erat.

“Nggak apa-apa, Bunda,” ucap bocah itu bijak, meski suaranya ikut bergetar.

“Kita bisa kok… tanpa Ayah.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada keputusan hakim siang tadi. Sinta mengelus rambut Adrian dengan tangan gemetar.

“Ayah tidak meninggalkan kalian, Nak,” katanya terisak.

“Hanya… tidak lagi sama Bunda…” tangisan pun pecah.

Leo ikut mendekat, memeluk ibunya dari sisi lain. Tiga hati yang patah berpelukan di ruang tamu yang mendadak terasa terlalu luas.

Hari itu, mereka belajar arti kehilangan—bersama.

Sementara di tempat lain, Farhan pergi ke sebuah jalur kereta api. Ia berteriak sekuat-kuatnya ketika kendaraan beroda besi itu melintas.

"Aarrgghh!" sejuta remuk dan sesak melanda dadanya.

Airmatanya luruh, tapi keputusan telah dibuat. Ia memang tidak merasakan gejolak cinta untuk Sinta yang sudah jadi mantan istrinya.

Kring! Bunyi ponselnya terdengar. Farhan mengambil dari saku dan menatap siapa yang menelepon.

"Rani cintaku", sebuah nama yang tersemat untuk kekasihnya Perempuan yang berhasil menggeser kedudukan Sinta di hatinya.

Farhan memilih mendiamkannya, menolak mengangkat.

Ting! Sebuah notifikasi pesan datang.

Rani Cintaku ...

(Mas ... kamu di mana? Aku khawatir loh!)

Sebuah perhatian yang membuat hati Farhan sedikit menghangat. Lalu bunyi notifikasi pesan kembali datang.

Rani cintaku ...

(Mas ... Kalau ada apa-apa, cerita saja ke aku ya. Jangan simpan sendiri, aku selalu ada untukmu.)

Farhan mengembuskan napas panjang. Perhatian sederhana itu terasa begitu menenangkan.

Sedikit demi sedikit, kesedihannya mereda. Bayangan wajah Sinta tak lagi memenuhi pikirannya.

Yang tersisa hanya wajah Rani—manis, rapuh, dan terasa membutuhkan dirinya.

*******

Waktu berlalu hari berganti, dua minggu setelah perceraiannya dengan Sinta. Farhan menyunting Rani sebagai istrinya.

Pesta besar pun digelar, semua tamu penting datang. Farhan dengan bahagia memperkenalkan Rani sebagai istrinya.

Semua.memberi selamat, kebahagiaan terpancar dari raut keduanya. Hingga acara selesai.

Setelah pesta selesai, Farhan memboyong keluarga barunya ke sebuah rumah mewah. Rumah yang selama ini diinginkan Rani.

"Ini adalah hadiah pernikahan untukmu sayang!" ujar Farhan.

Rani menatap bangunan bertingkat itu dengan.mata besar. Mulutnya terbuka lebar.

"Ini ... Ini untukku?" tanyanya lirih.

"Tentu!" angguk Farhan.

Lalu ia mendekati mobil dan mengangkat Claudia yang tertidur pulas. Gadis kecil itu memeluk lehernya erat-erat. Farhan menenangkannya dengan mengelus punggung Claudia.

"Ayo masuk!" ajak Farhan.

Mereka masuk, Rani mengedarkan pandangannya. Sofa mewah nan empuk tertata di ruang tamu dengan lampu kristal menggantung.

Ruang keluarga juga ada sofa panjang menghadap televisi berukuran 80 inch di atas bufet berisi banyak panjangan dari keramik dan kristal mahal.

Tangga yang dilapisi karpet merah, lantai marmer ...

"Mas ... Ini indah sekali!" puji Rani tak mampu berkata apa-apa.

"Kau suka?" tanya Farhan tentu Rani mengangguk kuat.

"Ayo kita bawa Claudia ke kamarnya!" ajak Farhan.

Keduanya naik tangga, masuk sebuah kamar berukuran besar. Seluruh isi ruangan berwarna pink, warna kesukaan Claudia.

"Ini kamar Claudia sendiri!" ujar Farhan lalu meletakkan gadis kecil yang digendongnya ke ranjang besar.

"Claudia nggak tidur sama kita?" tanya Rani polos.

Farhan terkekeh, ia menghadap tubuhnya ke sang istri. Rani, seorang perempuan yang sangat terbatas, begitu lemah dan rapuh. Sosok yang Farhan inginkan, ia selalu dibutuhkan.

Berbeda dengan Sinta, yang begitu mandiri. Walau tak menampik, Sinta juga mengurusinya tak kekurangan. Tetapi, Farhan merasa dia tidak dibutuhkan Sinta karena perempuan itu bisa melakukan apapun.

Rani lemah, rapuh, selalu membutuhkan.

Sedangkan Sinta terlalu mandiri—dan Farhan tak pernah merasa benar-benar diperlukan.

"Mas!" Rani mengagetkan lamunan Farhan.

"Ah ...maaf!" ujar pria itu lalu tiba-tiba menggendong istrinya.

Rani memekik, lalu tertawa bahagia ketika sang suami membawanya ke peraduan mereka.

Jauh dari tempat mewah itu, di pinggiran kota. Rumah lebih mewah berdiri.

Hunian yang luas tanahnya 1000m² dan luas bangunan 1700m². Belum lagi delapan mobil mewah dan dua motor besar yang terparkir di garasi. Seluruh harta melimpah itu adalah harta Farhan untuk mantan istrinya. Sinta.

Wanita itu memang sangat mandiri, ia sudah punya usaha semenjak gadis. Sebuah toko kue ternama yang terletak di sebuah kawasan bisnis. Selain harta peninggalan suaminya, Sinta tak kekurangan uang sama sekali.

Namun malam itu Sinta duduk di balkon kamarnya. Menatap langit kelabu. Ia tau hari ini adalah pernikahan Farhan, mantan suaminya.

Tak jauh dari sana, sebuah undangan warna emas tergeletak di atas nakas. Sinta diundang ke acara itu. Tetapi ia memilih tidak datang. Ia belum sanggup menghadapi itu sendirian.

"Semoga kau bahagia, Mas ...."

bersambung.

Hai ini adalah Novel baruku.

Hope You like it!

jangan lupa masukkan ke dalam laci bacaanmu ya. Vote and klik love!

Next?

1
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!