NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SABOTASE DAN PENYERANGAN

Dua hari kemudian, rombongan Cassian berangkat ke provinsi utara. Mereka tidak pergi dengan prosesi megah seperti yang biasa dilakukan oleh keluarga kerajaan. Sebaliknya, mereka pergi dengan kereta sederhana dan pengawal minimalis untuk menunjukkan bahwa ini perjalanan kerja, bukan parade kerajaan.

Dalam kereta, Catharina duduk bersama Victoria, meninjau dokumen tentang kondisi di provinsi utara dengan sangat teliti.

"Kekeringan sudah berlangsung tiga bulan penuh," ujar Victoria sambil membaca laporan. "Hasil panen turun hampir enam puluh persen. Banyak keluarga petani yang sudah mulai menjual ternak mereka untuk bertahan hidup."

"Berapa lama perjalanan kita?" tanya Catharina.

"Dua hari kalau cuaca bagus. Tiga hari kalau ada masalah di jalan."

Di kereta lain, Cassian dan Lucian sedang berdiskusi tentang strategi dengan serius.

"Kamu yakin ini ide yang bagus?" tanya Lucian. "Meninggalkan ibukota saat pertempuran politik sedang sangat sengit?"

"Justru inilah alasan mengapa ini ide yang sangat bagus," jawab Cassian. "Pertempuran politik di ibukota itu permainan tanpa pemenang sejati. Apa pun yang aku lakukan, Alexander akan melawan. Tapi kalau aku menunjukkan kepemimpinan nyata dengan memecahkan masalah nyata di provinsi? Itu sesuatu yang tidak bisa dia lawan dengan mudah."

"Kecuali dia menyabotase upaya kita."

"Dia bisa mencoba. Tapi menyabotase bantuan kemanusiaan? Itu akan sangat berdampak buruk pada opini publik."

Lucian harus mengakui logika itu masuk akal.

Perjalanan memakan waktu dua setengah hari. Saat mereka tiba di provinsi utara, pemandangan yang menyambut mereka cukup mengejutkan meski mereka sudah siap dari laporan-laporan.

Ladang-ladang yang seharusnya hijau dengan tanaman sekarang coklat dan kering kerontang. Sungai yang biasanya mengalir deras sekarang tinggal aliran kecil yang lemah. Di desa-desa yang mereka lewati, orang-orang terlihat kurus dan tanpa harapan.

"Ya Tuhan," bisik Seraphina dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini jauh lebih buruk dari yang aku bayangkan."

Mereka langsung menuju desa terbesar di provinsi untuk bertemu dengan pemimpin lokal. Kepala desa, seorang pria tua bernama Elder Marcus, menyambut mereka dengan wajah yang campuran antara harapan dan skeptis.

"Yang Mulia Pangeran Cassian," sapanya sambil membungkuk hormat. "Kami sangat terhormat dengan kunjungan anda sekalian. Tapi maafkan kami kalau kami tidak bisa menyediakan penyambutan yang layak. Sumber daya kami sangat terbatas sekarang."

"Kami tidak datang untuk penyambutan, Elder Marcus," jawab Cassian dengan nada yang sangat hangat. "Kami datang untuk membantu. Tapi pertama, kami perlu memahami situasi yang sebenarnya terjadi. Bisa Anda ceritakan dengan detail?"

Elder Marcus terlihat sangat terkejut dengan ketertarikan tulus Cassian. Biasanya, keluarga kerajaan yang datang ke provinsi hanya mau tur singkat dan makan malam mewah, tidak benar-benar mau tahu tentang masalah sebenarnya.

"Silakan duduk, Yang Mulia. Ini akan jadi cerita yang sangat panjang."

Mereka menghabiskan tiga jam penuh mendengarkan Elder Marcus dan pemimpin desa lainnya menceritakan tentang tingkat keparahan krisis. Cassian, Victoria, dan Catharina mencatat dengan sangat detail, bertanya pertanyaan lanjutan, bahkan meminta untuk melihat ladang secara langsung.

Saat mereka berjalan melalui ladang yang kering dengan petani lokal sebagai pemandu, Cassian benar-benar mendengarkan dan mengamati dengan sangat seksama. Dia bertanya tentang sistem irigasi yang ada, tentang praktik rotasi tanaman, tentang alternatif sumber air.

"Ini bukan hanya tentang kekeringan," ujar Victoria sambil memeriksa tanah dengan teliti. "Kualitas tanah juga menurun drastis. Bahkan kalau hujan datang, produktivitas tidak akan langsung kembali ke tingkat normal."

"Jadi kita perlu solusi multi-aspek," ujar Cassian sambil berpikir keras. "Bantuan pangan segera, pengembangan sumber air, rehabilitasi tanah, dan mungkin diversifikasi tanaman untuk ketahanan masa depan."

Catharina yang berdiri di samping sangat terkesan dengan bagaimana cara berpikir Cassian. Dia tidak sekadar memikirkan perbaikan cepat untuk terlihat bagus, tapi solusi berkelanjutan yang sebenarnya.

"Ini akan sangat mahal," ujar Lucian yang menghitung perkiraan biaya kasar.

"Aku tidak peduli tentang biaya," jawab Cassian dengan sangat tegas. "Ini tentang nyawa orang-orang. Kita akan menemukan dananya entah bagaimana."

Malam itu, mereka berkumpul di rumah Elder Marcus yang sangat sederhana untuk makan malam. Bukan jamuan mewah, hanya makanan sederhana dan dari apa yang desa bisa sediakan.

"Yang Mulia," ujar salah satu petani tua dengan sangat ragu-ragu. "Maafkan pertanyaan kami yang sangat kurang ajar, tapi kenapa Anda datang ke sini? Kenapa Anda peduli tentang kami?"

Cassian meletakkan garpunya dan menatap petani itu dengan sangat tulus.

"Karena kalian adalah rakyat kerajaan ini. Kalian yang memberi makan kerajaan dengan hasil panen kalian. Kalau aku mau menjadi Raja suatu hari, aku harus mulai dengan memahami dan melayani mereka yang paling penting untuk kelangsungan kerajaan. Dan itu adalah petani, pengrajin, pedagang, orang-orang biasa. Bukan hanya bangsawan di ibukota."

Petani itu terlihat sangat tersentuh. Beberapa bahkan meneteskan air mata.

"Kami akan mendukung Anda, Yang Mulia," ujar Elder Marcus dengan mata nanar yang emosional. "Bukan karena Anda keluarga kerajaan, tapi karena Anda keluarga kerajaan pertama yang benar-benar melihat kami sebagai manusia, bukan hanya rakyat jelata."

Dan pada momen itu, Catharina tahu bahwa mereka sudah memenangkan hati dan pikiran dari provinsi utara.

Tinggal memperluas itu ke seluruh kerajaan.

****

Hari ketiga di provinsi utara, Cassian dan timnya sudah bekerja dengan sangat keras membantu mengorganisir distribusi bantuan pangan yang mulai berdatangan dari berbagai perkebunan bangsawan pendukung mereka. Catharina dan Victoria mengatur sistem pencatatan yang sangat teliti agar distribusi benar-benar adil dan merata ke semua keluarga yang sangat membutuhkan.

Pagi itu, sebuah konvoi besar yang membawa biji-bijian, air bersih dalam tong-tong kayu yang besar, dan berbagai persediaan lainnya tiba di desa utama. Rakyat berbaris dengan sangat tertib untuk menerima jatah mereka. Wajah-wajah yang tadinya penuh keputusasaan mulai menunjukkan secercah harapan.

"Ini berjalan jauh lebih lancar dari yang kukira," ujar Lucian sambil membantu menurunkan karung-karung biji-bijian yang sangat berat dari kereta.

"Karena Elder Marcus dan para pemimpin desa sangat kooperatif," jawab Catharina sambil mencatat dengan teliti nama-nama kepala keluarga yang sudah menerima bantuan. "Mereka yang mengorganisir rakyat dengan sangat baik."

Tiba-tiba, seorang penunggang kuda datang dengan sangat kencang, hampir menabrak beberapa orang yang sedang berdiri. Dia turun dari kuda dengan sangat tergesa dan langsung menghampiri Cassian dengan wajah pucat.

"Yang Mulia! Ada masalah yang sangat besar! Konvoi bantuan kedua yang seharusnya tiba hari ini diserang di jalan!"

"Apa?!" Cassian langsung berdiri dengan sangat cepat. "Diserang oleh siapa?"

"Tidak tahu pasti, Yang Mulia. Para penyerang semua memakai topeng hitam. Mereka membakar hampir setengah dari persediaan dan mencuri sebagian lainnya. Para penjaga yang mengawal terluka sangat parah."

Wajah semua orang langsung berubah drastis. Ini bukan kecelakaan atau serangan bandit biasa. Ini sabotase yang sangat terencana dengan matang.

"Di mana lokasinya?" tanya Cassian dengan sangat cepat.

"Sekitar sepuluh kilometer ke arah timur, Yang Mulia."

"Kita harus ke sana sekarang juga," ujar Cassian sambil bersiap naik kuda dengan tergesa.

"Tunggu dulu," Victoria menarik lengannya dengan kuat. "Ini bisa jebakan. Mereka mungkin ingin menarikmu keluar dari desa untuk menyerangmu di tempat yang jauh lebih sepi."

Cassian terdiam sejenak, menyadari Victoria benar sekali. "Tapi kita tidak bisa membiarkan penjaga yang terluka tanpa pertolongan sama sekali."

"Aku yang akan pergi dengan beberapa penjaga," ujar Lucian dengan tegas. "Kamu tetap di sini, lanjutkan pengawasan distribusi. Kalau kamu tiba-tiba pergi, rakyat akan sangat panik dan program akan terganggu total."

Cassian tidak menyukai ide itu tapi dia tahu Lucian benar. "Baiklah. Tapi bawa penjaga yang cukup banyak. Dan kalau ada bahaya, segera mundur tanpa ragu."

Lucian mengangguk dan berangkat dengan sepuluh penjaga terbaik yang mereka punya.

Catharina merasakan kecemasan yang sangat besar melihat Lucian pergi, tapi dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk emosional semacam ini. Masih sangat banyak rakyat yang menunggu bantuan. Maka dia membiarkan Lucian melakukan tugasnya.

"Ayo kita lanjutkan," ujarnya sambil kembali ke meja distribusi dengan mantap.

Tapi dalam hatinya, dia terus berdoa dengan sangat tulus agar Lucian kembali dengan selamat.

*****

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!