“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 21
Matahari mulai tergelincir di kaki barat, memantulkan rona pucat pada hamparan pohon sawit di kaki bukit. Hawa dingin sisa hujan siang, terbawa angin lembah yang meliuk kasar di sela ilalang.
Di pelataran belakang, Nadya berdiri sambil menatap rapatnya pepohonan hutan bukit barisan. Sesekali tangannya mengusap teteknya yang terasa nyeri. Dia sudah mem popping teteknya, namun produksi Asi yang berlebih membuat benda kenyal itu tetap membengkak meski baru setengah hari tidak dihisap anak susunya.
Nadya berdesis pelan, wajahnya meringis samar.
Yessy yang mengetahui itu, menghampiri sambil mengusap pundak Nadya.
“Mulai sakit, ya, Yuk?” tanyanya seraya ikut meringis seolah merasakan nyeri yang Nadya rasakan.
“Nggak, Yes, cuma nyeri dikit,” dusta Nadya, ia lalu berbalik, berjalan santai masuk ke dalam rumah. “Kayaknya mau hujan lagi ini, Yes, bikin soto enak kali, ya? Ibu ada bahan nggak?” lanjutnya berusaha mengalihkan pembicaraan tentang tetek.
“Ada ayam sih, Yuk kayaknya, kalo yang lainnya kurang tau Yessy. Ayuk cek aja di kulkas, ntar kalo ada bahan yang kurang Yessy otewe cari ke warung Yuli,” sahut Yessy.
Nadya mengangguk mantap, lalu membuka kulkas. Tatapannya menyapu isi kulkas, mencari bahan yang dia butuhkan. Namun, gerakannya terhenti saat suara Bu Harmi menimpali dari meja makan.
“Malam ini nggak usah masak, Nad,” ujarnya sambil tersenyum hangat. “Barusan Hasna nganterin pindang ikan baung sama botok rimbang.”
Alis tebal gadis manis itu mengerut, air mukanya sedikit meredup. Ia lalu menutup pintu kulkas dengan gerakan lambat, kemudian berjalan menghampiri Bu Harmi yang menatap kagum beberapa hidangan yang sudah Hasna siapkan.
“Wah, nikmat sekali kelihatannya, Bu. Pintar masak ternyata Hasna,” ujar Nadya, berusaha terlihat biasa saja dengan senyum manis di bibirnya.
Bu Harmi menoleh sekilas, lalu menyomot tahu isi yang juga dibawakan oleh Hasna.
“Hasna memang suka memasak, dulu dia sering ke sini masak bareng sekalian ngajarin Sukma, waktu Sukma dan Rizal pengantin baru.” Cerita Bu Harmi.
Nadya manggut-manggut mengerti, meski batinnya tak sepenuhnya ingin tau cerita itu. Ia lalu kembali ke kamarnya berniat mengambil baju dan pergi mandi. Namun, langkahnya terhenti saat gendang telinganya menangkap suara Rizal yang baru saja pulang dari areal.
“Widih, tahu isi dari mana ini, Bu?” serunya.
“Hasna yang bikin, sama itu dia ada masakin pindang ikan baung.” Bu Harmi menjawab dengan suara ringan.
“Hasna emang nggak pernah gagal kalau bikin tahu isi sama pindang baung, selalu mantulll terkentull-kentull,” terdengar tawa renyah di ujung ucapan Rizal.
Mendengar ucapan Rizal, Nadya menghentikan langkahnya, ada getir aneh yang menyusup di sudut hatinya yang mulai mendingin. Ia menggenggam erat baju ganti yang di pegangnya, tatapannya nanar ke arah ranjang yang kosong.
“Kapan kamu pulang, Ndut. Nad-nad kangen,” gumamnya pelan.
.
.
.
Gelap merayap pelan, mengusir sisa senja yang berkilat di pucuk dedaunan. Sudah tiga hari sejak Adam diberi susu formula, malam adalah waktu yang selalu dinantikan Nadya. Anak susunya itu akan pulang saat petang menjelang dan pergi ketika langit kembali terang.
Nadya tersenyum hangat sembari memperhatikan Adam yang memainkan kakinya di udara, bibir bayi gembul itu mengoceh seolah bercerita tentang hari yang telah dilaluinya.
Ia kemudian menciumi pipi anak susunya, turun ke dada dan berakhir di perut gendut bocah lucu itu. Dahinya mengernyit tipis saat melihat perut Adam, ia meraba, lalu menepuk pelan, alis gadis itu semakin mengerut dalam saat melihat kondisi perut Adam.
“Kamu minum berapa banyak, Ndut, perutmu sampe kembung begini?” tanyanya lebih kepada diri sendiri, lalu kembali memeriksa badan anak susunya dengan saksama.
Di tengah fokusnya memeriksa kondisi Adam, Rizal masuk ke kamar, membuat Nadya sedikit tersentak.
“Sejak kapan Abang ketularan mereka? Masuk kamar nggak ketuk pintu!” sungutnya.
“Pintunya kebuka lebar, Abang kira nggak masalah kalo nyelonong,” sahut Rizal, tatapannya langsung menyelidik saat melihat tangan Nadya sedang memijat pelan perut Adam. “Kenapa, ada masalah?” tanyanya kemudian.
“Tau, tanya sama yang ngurusin lah, ngapain tanya saya,” jawab Nadya ketus.
Rizal menelan ludah pelan, rautnya sempat membeku sebelum perlahan kembali tersenyum. “Kan kamu yang ngurus Adam, Nad, masak Abang harus tanya orang lain.”
Nadya tertawa sumbang, lalu beranjak dari sisi Adam. “Sudah nggak. Abang lupa tiga hari ini Adam nggak sama saya. Bentar lagi juga pengasuh barunya dateng, tanya aja langsung ke orangnya.”
Alis pria bertubuh kekar itu berkerut tipis, matanya sendunya berkedip cepat. “Kok kamu ngomongnya gitu, sih Nad. Mau bagaimanapun Adam itu masih tanggung jawab kamu dong.”
“Tanggung jawab saya? Enak betul.” Tatapan Nadya menusuk ke arah Rizal yang berdiri di depannya. “Sejak Abang menyalahi aturan yang sudah dokter wanti-wanti untuk Adam, tanggung jawab saya selesai. Lagian, lusa saya mau balik ke kota, ngapa pula saya ikut campur urusan Adam lagi.”
Mendengar ucapan Nadya, bahu Rizal sontak menegang, satu tangannya meraih lengan Nadya yang ingin beranjak dari tempatnya.
“Maksud kamu apa?” tanyanya, jelas ada raut kepanikan di sorot matanya yang berubah tajam.
Nadya menarik kasar tangannya, tatapannya beralih ke luar jendela. “Udah nggak ada lagi yang bisa saya kerjakan di sini, buat apa pula saya bertahan.”
Rizal mengusap wajahnya kasar, napasnya terdengar berat. “Kamu tetap bisa mengasuh Adam kalau malam, Nad. Lagi pula perjanjian kita enam bulan? Sekarang baru berjalan tiga bulan, masih ada waktu sisa ‘kan?”
“Perjanjian yang mana? Saya bahkan belum nerima ua—”
“Kalau begitu mana rekeningmu!” sergah Rizal. Ia lalu mendekatkan langkahnya. “Kamu selalu menghindar tiap kali Abang mau transfer tentang uang itu, atau kamu mau cash? Abang ambilkan sekarang juga kalau memang itu bisa buat kamu tetap bertahan disini.” imbuhnya sambil terus menekan badan mungil Nadya.
Nadya mendorong kasar tubuh kekar Rizal, kembali memberi jarak di antara mereka.
“Kamu pikir saya melakukan ini demi uang?!” balas Nadya tajam.
Rizal perlahan melangkah mendekat, raut wajahnya datar, namun tatapannya lurus tanpa berkedip, tepat ke manik Nadya.
“Lantas, kalau bukan karena uang, untuk apa Anda melakukan ini semua Ibu Amara Nadya Zulkarnaen?!”
Nadya tersentak kecil, tatapannya goyah. Ia mundur setengah langkah, bersamaan dengan itu Rizal terus maju—menghimpitnya hingga tersudut di sisi meja.
“Kenapa kaget? Kamu pikir aku nggak bisa cari tau siapa kamu. Di perusahaan kamu boleh pimpinanku, tapi di rumah ini, aku yang pegang kendali.”
Rizal menundukkan kepalanya sedikit, menangkap jelas wajah Nadya yang memerah.
“Dengar Ibu Nadya, Aku yang membawa kamu kesini, maka aku juga yang akan membawa kamu pergi.”
Lalu tanpa aba-aba, Rizal mencium lembut bibir Nadya.
Cup
Bersambung.
Bonus visual Nadya 😘
Semangat 🔥