NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4

Sore itu Jakarta sedang panas-panasnya.

Zara Florista berjalan santai menyusuri trotoar dengan tote bag kain berisi bunga pesanan tambahan. Rambutnya diikat asal, kaos putihnya sedikit terkena serbuk daun.

Ia berhenti di sebuah warung kecil dekat taman.

“Bang, es teh satu ya.”

Penjualnya mengangguk, lalu matanya bergeser ke sosok lain di samping Zara.

Seorang pria tua dengan celana pendek olahraga, kaos polos abu-abu, dan sandal jepit. Rambutnya sudah memutih, tapi posturnya masih tegap. Wajahnya serius… terlalu serius untuk ukuran orang yang baru jalan santai.

“Pak, mau apa?” tanya penjual.

“Air mineral 1 ya bang.”

Penjual itu mengambil botol, lalu berkata datar, “Lima ribu.”

Pria tua itu terdiam.

Tangannya merogoh saku kanan.

Lalu kiri.

Lalu belakang.

Hening.

Wajahnya berubah sangat pelan.

“Saya… sepertinya lupa membawa dompet.”

Penjual langsung mendengus. “Waduh, Pak. Jangan gitu dong. Dari tadi keliling sini, nggak beli-beli. Sekarang bilang lupa dompet.”

Zara yang sudah menerima es tehnya menoleh.

Ia mengamati pria tua itu dari ujung kepala sampai sandal jepitnya.

Baju biasa.

Sandal biasa.

Tidak terlihat seperti orang kaya.

Tapi juga bukan benar-benar pengemis.

 Namun ekspresi wajahnya… terlalu bermartabat untuk minta-minta.

“Pak, Bapak haus ya?” tanya Zara polos.

Pria tua itu menoleh padanya. Tatapannya tajam, tapi ada kilatan aneh di matanya.

“Lumayan.”

Penjual menghela napas. “Kalau nggak ada uang, ya jangan beli, Pak.”

Zara langsung membuka dompet kecilnya.

“Udah, Bang. Saya bayar aja.”

Ia menyerahkan uang sepuluh ribu. “Sama roti satu ya.”

Penjual itu terdiam sebentar, lalu mengambil roti dari etalase.

Pria tua itu menatap Zara.

“Kamu tidak perlu melakukan itu.”

Zara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Daripada Bapak pingsan di sini, nanti saya juga yang repot.”

Pria tua itu menahan sesuatu di wajahnya. Antara tersinggung dan ingin tertawa.

“Memangnya saya terlihat selemah itu?”

Zara memiringkan kepala. “Sedikit.”

Penjual hampir tersedak menahan tawa.

Botol air dan roti itu akhirnya berpindah tangan.

Pria tua itu menerima dengan ragu.

“Terima kasih.”

“Dengan senang hati Kakek…”Zara sudah berbalik hendak pergi ketika tiba-tiba ia menoleh lagi.

“Oh iya, kek.”

“Apa?”

“Besok jangan lupa bawa dompet ya.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada seperti guru menegur murid SD.

Pria tua itu terdiam dua detik.

Lalu untuk pertama kalinya sore itu, ia tertawa pelan.

“Baik, Nona.”

Hari berikutnya, Zara kembali melewati jalur yang sama.

Dan benar saja.

Pria tua itu ada di bangku taman.

Dengan botol air di tangan.

Ia mengangkat botolnya sedikit ketika melihat Zara, seperti memberi salam.

Zara menyipitkan mata, dan mengenalinya ahhh…kakek yg lupa bawa dompet.

Lalu zara menghampiri kakek di bangku taman itu.

“Kakek bawa dompet hari ini?”

Pria tua itu mengangguk tenang. “Saya belajar dari kesalahan.”

Zara duduk di ujung bangku tanpa diminta.

“Namanya siapa, kek?”

Pria tua itu berpikir sebentar.

Jonathan Maheswara jelas bukan nama yang bisa ia ucapkan sembarangan.

“Jo.”

“Jo?” Zara mengernyit. “Kayak nama anak band.”

“Itu nama saya.”

“Pak Paijo? Atau pak Tejo?”

Pria tua itu menatapnya. Menahan tawanya.

Belum pernah ada yang memanggilnya begitu.

Di rumah ia dipanggil Tuan Maheswara.

Di kantor ia dipanggil Pak Presdir.

Di rapat ia dipanggil Pak Jonathan.

Pak Tejo terdengar… aneh.

Dan hangat.

“Iya,” jawabnya akhirnya.

“Yaudah, mulai sekarang saya panggil Kakek Jo aja.”

“Kakek?”

“Emang Kakek masih mau dipanggil Abang?”

Pria tua itu terdiam.

Lalu tertawa lagi.

Sudah lama sekali ia tidak tertawa tanpa beban seperti ini.

“Kamu ini selalu bicara sembarangan?”

“Iya. Tapi tulus.”

Jawaban itu membuat Jonathan…atau sekarang, Kakek Jo..terdiam lebih lama.

Angin sore berembus pelan.

“Dan kamu? Nama kamu Siapa?”

“Nama ku Zara kek.”

“Ahhh…nama yang indah.”

“Kakek tinggal sama siapa?”

“Dengan cucu saya.”

“Cucunya baik?”

Pria tua itu berpikir.

“Baik. Hanya saja terlalu serius.”

Zara mengangguk mantap. “Berarti selera humorisnya kurang kek.”

“Mungkin.”

“Yaudah kapan-kapan ajak ke sini. Biar saya yang ajarin.”

Pria tua itu menatap gadis di sampingnya.

Gadis dengan kaos sederhana, rambut di ikat asal, wajah yang cantik, sikapnya sopan tapi lucu dan senyum tanpa beban.

Zara tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Zara tidak tahu ia sedang berbicara dengan pemilik salah satu perusahaan terbesar di negeri ini.

Dan anehnya,

Itulah yang membuat Jonathan betah.

Sejak sore itu, hampir setiap hari ia “jalan sehat” di jalur yang sama.

Kadang benar-benar lupa membawa uang kecil.

Kadang membeli bakso dengan zara.

Dan setiap sore, Zara selalu duduk sebentar.

Mengobrol.

Mengeluh soal pelanggan.

Menceritakan bibinya yang cerewet.

Menertawakan hidup.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama,

Jonathan Maheswara menemukan teman.

Teman beda usia.

Yang tidak peduli siapa dirinya.

Hanya peduli apakah ia sudah minum atau belum, bawa dompet atau lupa lagi.

Ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti, cucu serius yang ia maksud…

Akan berdiri tepat di hadapan gadis ini.

Dan dunia mereka akan bertabrakan dengan cara yang paling tidak elegan.

Tapi untuk sekarang,

Kakek Jo hanya ingin menikmati perannya.

Sebagai pria tua yang pura-pura lupa dompet.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!