Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
Keheningan di koridor rumah sakit terasa mencekam setelah histeria Hana mereda. Arlan berdiri di depan pintu ruang rawat, menatap kosong ke arah lantai marmer yang dingin. Di dalam sana, Hana tertidur karena pengaruh obat penenang ringan, namun sisa-sisa air mata masih membekas di bantalnya.
Dokter spesialis penyakit dalam yang menangani Hana menghampiri Arlan. Wajahnya tampak serius, tidak ada lagi nada santai seperti saat menjelaskan kondisi fisik Hana tadi.
"Pak Arlan, kita harus bicara jujur," ucap Dokter itu pelan.
"Secara klinis, detak jantung dan pernapasan Ibu Hana stabil. Namun, rasa sakit yang dia rasakan di dadanya itu 'nyata' bagi otaknya. Ini adalah bentuk pertahanan diri yang runtuh. Saya sangat menyarankan agar Ibu Hana segera dikonsultasikan dengan rekan saya, seorang psikolog klinis. Kita harus melakukan observasi mental hari ini juga sebelum trauma ini mengakar menjadi depresi berat."
Arlan terdiam. Kata 'psikolog' dan 'trauma' terasa seperti hantaman godam di dadanya. Ia mengangguk lemah.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Apapun."
Satu jam kemudian, seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis dan wajah yang sangat menenangkan datang.
Beliau adalah Dokter Sarah, psikolog senior di rumah sakit tersebut. Atas permintaan Dokter Sarah, Arlan, Umi, dan Mama Hana diminta menunggu di luar agar Hana merasa lebih privat.
Di dalam ruangan yang remang-remang, Hana sudah terbangun. Matanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tubuhnya seolah ada di sana, namun jiwanya terasa terbang entah ke mana.
"Halo, Hana... Saya Sarah. Boleh saya duduk di sini?" tanya Dokter Sarah lembut, tanpa membawa papan jalan atau stetoskop yang menakutkan.
Hana tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan matanya sedikit.
"Hana, saya tahu dadamu terasa sangat sesak sekarang. Rasanya seperti ada beban ribuan ton yang menindihmu, ya?"
Mendengar kalimat itu, napas Hana mulai tersengal lagi.
"Sakit... Dok. Mereka bilang... aku jahat," lirih Hana. Suaranya pecah, penuh dengan kerapuhan.
"Siapa yang bilang kamu jahat?"
"Semua orang. Di sana..." Hana menunjuk ke arah ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
"Mereka bilang aku pelakor. Padahal aku sayang Kak Inggit... aku ingin menepati janji pada Kak Inggit. Kenapa dunia jahat sekali?"
Hana mulai terisak, namun kali ini tangisnya tertahan, sebuah tangis yang jauh lebih menyakitkan daripada jeritan. Ia meremas kain sprei rumah sakit dengan kuat.
"Aku ingin pulang ke rumah Mama... aku tidak mau jadi istri Mas Arlan kalau akhirnya seperti ini. Aku takut, Dok. Aku takut melihat orang-orang..."
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Arlan bisa mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Hana. Jantungnya berdenyut nyeri. Kalimat "Aku tidak mau jadi istri Mas Arlan" menghantam ego dan perasaannya secara bersamaan. Ia menyadari satu hal, keberadaannya saat ini, bagi Hana, adalah sumber rasa sakit karena status mereka yang memicu fitnah tersebut.
Setelah sesi observasi yang berlangsung hampir satu jam, Dokter Sarah keluar dan menemui Arlan di lorong yang sepi.
"Pak Arlan," Dokter Sarah menatap Arlan dengan tajam namun empatik.
"Ibu Hana mengalami Acute Stress Disorder. Dia merasa harga dirinya sebagai wanita muslimah yang selama ini dia jaga, hancur dalam semalam. Baginya, label 'pelakor' itu lebih menyakitkan daripada kematian."
Arlan mengepalkan tangannya.
"Apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Berikan dia rasa aman yang absolut. Dia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri sekarang. Jangan paksa dia untuk kuat. Dan satu hal lagi, Pak..." Dokter Sarah menjeda kalimatnya.
"Hana merasa bersalah karena telah menikah dengan Anda. Dia merasa kehadirannya adalah kesalahan. Anda harus meyakinkannya bahwa dia bukan kesalahan, melainkan anugerah. Jika tidak, dia akan terus menyakiti dirinya sendiri secara mental."
Arlan bersandar di dinding rumah sakit, memejamkan mata. Ia teringat sapu tangan biru di sakunya. Gadis yang dulu begitu berani menyelamatkannya, kini hancur lebur karena mencoba menyelamatkan wasiat istrinya.
"Terima kasih, Dok," ucap Arlan dengan suara serak.
Saat itu juga, Arlan mengambil keputusan besar. Ia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Dandy.
"Ndy, kumpulkan semua bukti akun yang menyebar fitnah itu. Saya tidak akan hanya lapor polisi. Saya akan melakukan klarifikasi terbuka di kampus besok pagi. Saya akan umumkan siapa Hana sebenarnya di depan semua orang. Saya tidak peduli karir saya terancam, yang penting Hana mendapatkan kembali harga dirinya."
Di ujung lorong, Arlan menatap pintu kamar Hana. Ia tidak akan membiarkan "malaikatnya" berjuang sendirian di dalam kegelapan itu lagi.
***
Hai Readers terima kasih sudah membaca sejauh ini yaa
Semoga betah dengan cerita nya, maaf ya kalau author jarang update soalnya lagi proses skripsian
Ditambah author juga sambil ngajar
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya
Yukk kasih saran dan kritikan kalian
Author mengucapkan taqaballahuminkum minal waminkum taqobbal ya Karim ❤️
Minal aidzin wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin🙏
Selamat hari raya idul Fitri semuanya