NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gunung Padang

Langit di atas Jawa Barat tidak lagi berwarna perak tenang; kini, sebuah garis merah membara membelah cakrawala, memanjang dari utara menuju selatan. Itu adalah "Icarus", asteroid yang telah diubah menjadi rudal kinetik oleh para elit di Bulan. Gesekannya dengan lapisan atmosfer menciptakan suara gemuruh rendah yang bisa dirasakan oleh setiap makhluk hidup di pulau itu. Di bawah laut Pantai Selatan, Liora baru saja keluar dari fasilitas sel tidur yang hancur, menatap langit dengan kengerian yang murni.

"Jangan terpaku pada ketakutan, Liora. Waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki," suara Adam bergema di benaknya, kali ini dengan nada yang lebih mendesak, seolah-olah frekuensi jiwanya sedang bergetar hebat menahan tekanan dari luar angkasa.

Liora segera memacu kendaraan taktisnya, sebuah jip amfibi bermesin senyap, menuju arah Cianjur. Perjalanan ini adalah perlombaan melawan maut. Di sepanjang jalan, ia melihat penduduk desa keluar dari rumah mereka, menatap ke langit dengan wajah pucat. Beberapa mengira itu adalah kiamat yang dijanjikan, sementara yang lain hanya bisa bersimpuh dalam doa. Mereka tidak tahu bahwa di balik batu-batu purba yang sering mereka kunjungi sebagai tempat wisata, tersimpan kunci keselamatan dunia.

Gunung Padang berdiri di hadapan Liora layaknya sebuah raksasa yang sedang bermeditasi. Tumpukan batu kolom andesit yang tersusun rapi di atas bukit itu nampak lebih mistis di bawah cahaya merah asteroid. Di sana, Mpu Barada sudah menunggu di teras utama, dikelilingi oleh kabut yang entah bagaimana nampak bergerak mengikuti irama detak jantung bumi.

"Kau tepat waktu, Cah Ayu," ujar Mpu Barada tanpa menoleh. "Adam sudah mulai menghubungkan pusat Borobudur dengan titik nadi di sini. Gunung ini bukan sekadar kuburan kuno. Ini adalah Suda Shana cakram pertahanan bumi yang telah tertidur selama dua puluh ribu tahun."

Liora mendaki tangga batu yang curam dengan napas yang tersengal. "Bagaimana cara kita mengaktifkannya? Elit menggunakan laser dan nuklir, kita hanya punya tumpukan batu!"

"Batu-batu ini adalah semikonduktor alami, Liora," Adam menjelaskan dari dalam batinnya. "Struktur Gunung Padang dirancang untuk menangkap energi tektonik dan mengubahnya menjadi gelombang elektromagnetik terkonsentrasi. Elit di Bulan tahu tentang ini melalui riset mereka yang mencuri data dari Unit 731. Mereka tahu bahwa manusia zaman dulu bisa menembakkan energi ke langit. Itulah sebabnya mereka menyebut riset ini 'The Tower of Babel Project' mereka ingin menghancurkan setiap alat yang bisa menjangkau mereka di atas sana."

Adam membimbing Liora menuju sebuah celah sempit di teras kedua yang tertutup oleh semak belukar. Di sana, terdapat sebuah batu datar yang memiliki ukiran lubang-lubang kecil melingkar.

"Letakkan tanganmu di sana, Liora. Kau adalah konduktor fisikku. Aku akan mengalirkan energi dari Borobudur melalui jalur meridian bumi menuju posisimu. Kita akan menjadikan Gunung Padang sebagai lensa raksasa."

Liora meletakkan telapak tangannya di atas batu dingin itu. Seketika, ia merasakan sengatan listrik yang luar biasa. Bukan listrik yang membakar, melainkan energi yang terasa seperti aliran air bah yang masuk ke dalam pembuluh darahnya. Di saat yang sama, di bawah Borobudur, tubuh fisik Adam mulai memancarkan cahaya yang begitu terang hingga menerangi seluruh ruang bawah tanah kristal.

Getaran mulai terasa dari dasar bukit. Batu-batu kolom andesit di seluruh Gunung Padang mulai bersinar biru safir. Suara dengungan yang sangat rendah jauh lebih rendah dari frekuensi mana pun yang pernah diciptakan manusia mulai keluar dari perut bumi.

"Aktifkan!" teriak Mpu Barada sambil mengangkat tongkatnya ke arah asteroid Icarus yang kini sudah nampak sebesar bulan purnama di langit.

Di Bulan, di dalam Bahtera Exodus, Dr. Maru menatap layar monitor dengan mata terbelalak. "Mustahil! Sinyal gravitasi dari koordinat 6.9 derajat Selatan meningkat drastis! Mereka membangkitkan The Primal Ray!"

"Tembakkan meriam laser dari orbit! Jangan biarkan mereka mengunci koordinat Icarus!" perintah suara dingin sang Pemegang Kendali dari kursi rodanya.

Satelit elit yang masih memiliki sisa energi melepaskan tembakan laser merah dari langit menuju Gunung Padang. Ledakan demi ledakan menghantam lereng bukit, menciptakan kebakaran hutan dan menghancurkan beberapa struktur batu. Namun, energi biru dari Gunung Padang tidak tergoyahkan. Ia membentuk perisai plasma yang menangkis serangan laser tersebut.

"Liora, tahan sedikit lagi! Aku harus menghitung vektor inklinasi asteroid itu secara manual tanpa bantuan komputer!" Adam mengerang di dalam kesadaran kolektifnya.

Liora menjerit kesakitan saat energi itu mulai membakar syaraf-syaraf di tangannya. Kulitnya mulai melepuh, namun ia tidak melepaskan tangannya dari batu kunci tersebut. Ia melihat bayangan jutaan manusia yang akan musnah jika asteroid itu menghantam bumi. Ia melihat wajah anak-anak yang tidak berdosa, dan ia teringat pengorbanan Adam yang telah kehilangan kemanusiaan fisiknya demi momen ini.

"Lakukan, Adam! Sekarang atau tidak sama sekali!" teriak Liora menembus suara gemuruh langit.

Tiba-tiba, seluruh bukit Gunung Padang seolah-olah meledak dalam cahaya biru yang menyilaukan. Sebuah pilar energi raksasa yang lebih padat daripada cahaya manapun melesat dari puncak gunung menuju angkasa. Pilar itu tidak lurus, melainkan melengkung mengikuti medan magnet bumi, tepat menuju jalur lintasan asteroid Icarus.

Di angkasa luar, pilar energi itu menghantam Icarus dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Asteroid yang tadinya membara merah itu seketika berubah menjadi putih pijar sebelum akhirnya hancur menjadi debu angkasa dalam sebuah ledakan sunyi yang menciptakan kembang api raksasa di langit malam Indonesia.

Dunia mendadak menjadi sangat terang sejenak, sebelum kembali gelap. Garis merah di langit telah hilang.

Liora terhempas ke belakang, jatuh pingsan di atas bebatuan purba. Tangannya menghitam karena luka bakar, namun napasnya masih ada. Di Borobudur, pendaran cahaya di tubuh Adam meredup, menyisakan keheningan yang menyesakkan.

"Kita... berhasil..." suara Adam terdengar sangat lemah, seperti bisikan yang hampir hilang ditelan angin. "Tapi mereka... mereka telah melihat kekuatan kita. Mereka tidak akan lagi menyerang dengan benda mati. Mereka akan mengirimkan apa yang tersisa dari Unit 731 yang sebenarnya. Para 'Arc.hon' pemimpin Nephilim yang memiliki kesadaran elit sepenuhnya."

Mpu Barada menghampiri Liora, mengoleskan ramuan herbal ke tangannya yang terluka. Ia menatap ke langit dengan cemas. Meski asteroid telah hancur, ia bisa merasakan bahwa perang ini baru saja berpindah dari perang teknologi menjadi perang eksistensi.

"Bangunlah, Cah Ayu," bisik Mpu Barada. "Asteroid itu hanyalah gertakan. Musuh yang sebenarnya sedang bersiap untuk turun ke bumi dengan wujud yang menyerupai kita."

Di dalam Bahtera di Bulan, Dr. Maru berdiri di depan deretan tabung kristal yang berbeda dari yang ada di Himalaya. Di dalam tabung ini, sosok-sosok di dalamnya tidak pucat. Mereka nampak seperti manusia sempurna dengan aura yang sangat mengintimidasi.

"Aktifkan Protokol Arc.hon," perintah sang Pemegang Kendali. "Jika bumi tidak bisa kita miliki sebagai ladang, maka kita akan turun sebagai dewa untuk menghakimi mereka yang memberontak."

Adam, yang kesadarannya masih terhubung dengan jaring bumi, merasakan getaran keberangkatan dari Bulan. Ia tahu, babak terakhir dari pertempuran ini tidak akan terjadi di laboratorium atau di atas gunung, melainkan di dalam hati setiap manusia yang tersisa.

"Liora," suara Adam kembali menguat di batin Liora yang mulai sadar. "Kita harus mengumpulkan sisa-sisa manusia yang masih memiliki nurani. Kita harus membangun 'Pasukan Frekuensi'. Karena para Arc.hon itu tidak bisa dibunuh dengan senjata. Mereka hanya bisa dikalahkan dengan kesadaran yang lebih tinggi dari milik mereka."

Perjalanan Adam dan Liora kini memasuki fase yang paling krusial. Bukan lagi tentang bertahan hidup, tapi tentang memenangkan kembali definisi "Manusia" dari tangan mereka yang ingin mengubahnya menjadi mesin yang suci namun mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!