NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 12 - YANG TAK DI UNDANG

Malam itu Ara tidak menatap langit-langit.

Ia duduk di meja belajarnya, buku catatan terbuka di depannya, pena di tangan, tapi tidak sedang mencatat apa pun. Lampu belajarnya menyala kuning seperti biasa, bayangan panjangnya jatuh ke dinding seperti biasa, dan semua terlihat sama seperti malam-malam sebelumnya.

Tapi rasanya tidak sama.

Sesuatu sudah berubah sejak tadi siang di atap, dan Ara belum bisa dengan tepat menyebut apa. Bukan perasaan yang besar dan dramatis seperti di novel-novel yang pernah ia baca. Lebih seperti sesuatu yang kecil dan diam-diam sudah bergeser beberapa sentimeter dari tempatnya semula, cukup untuk membuat segala sesuatu terlihat sedikit berbeda dari sudut yang sedikit berbeda pula.

Ia memikirkan kalimat itu.

*Orang yang dicintai semua orang biasanya juga paling jarang benar-benar diperhatikan.*

Ara meletakkan penanya di atas buku catatan. Menyandarkan punggungnya ke kursi.

Ia sudah mendengar banyak hal tentang dirinya selama enam belas tahun hidupnya. Cantik. Ramah. Sempurna. Menyenangkan. Mudah disukai. Semua diucapkan oleh orang-orang yang mencintai versi Tiara yang mereka kenal, versi yang tersenyum dengan tepat dan berkata hal yang tepat dan tidak pernah memperlihatkan hari yang buruk kepada siapa pun karena hari yang buruk tidak sesuai dengan image yang sudah terbentuk terlalu lama untuk dirombak.

Tidak ada yang pernah melihat ke balik itu dan berkata dengan nada sedatar orang menyebutkan fakta cuaca bahwa ia mungkin kesepian di dalam semua keramaian itu.

Tidak ada sampai seseorang yang bahkan tidak ingat namanya sampai pertemuan ketiga.

Ponsel Ara bergetar di sudut meja.

Ia mengambilnya.

Via.

*Ara. Besok kita harus ngobrol. Beneran ngobrol. Bukan yang kamu setengah-setengah kayak kemarin.*

Ara menatap pesan itu beberapa detik. Lalu mengetik balasannya.

*Iya. Besok aku cerita semua.*

Tiga detik kemudian Via membalas.

*Semua?*

*Semua.*

Tidak ada balasan lagi setelah itu. Via bukan tipe yang mengirim emoji atau kalimat penutup yang manis. Kalau ia sudah puas dengan jawaban seseorang ia akan berhenti membalas dan itu sendiri sudah merupakan bentuk persetujuannya.

Ara meletakkan ponselnya.

Besok ia akan cerita semua. Tentang nama yang keceplosan, tentang atap, tentang Gill yang datang dengan tawaran yang tidak masuk akal diucapkan dengan nada yang terlalu masuk akal. Tentang susu kotak tadi pagi dan cara Mike menatap mereka bertiga sebelum pergi dengan senyum yang terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Tentang kalimat itu.

Tapi bukan itu saja yang ia pikirkan malam ini.

Yang juga ia pikirkan adalah apa yang harus terjadi setelah besok. Karena menerima tawaran Gill adalah satu hal, tapi menjalaninya adalah hal yang berbeda, dan Ara belum punya gambaran jelas tentang seperti apa menjalani sesuatu bersama seseorang yang berkomunikasi dalam kalimat-kalimat pendek dan tatapan yang tidak bisa dibaca dan sesekali menawarkan keripik tanpa permisi.

Ara membuka buku catatannya ke halaman kosong.

Menuliskan satu pertanyaan di sana, bukan karena ia perlu menulisnya tapi karena kadang sesuatu terasa lebih nyata kalau sudah ada di atas kertas.

*Gill sebenarnya seperti apa?*

Ia menatap pertanyaan itu.

Lalu menutup buku catatannya karena itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab malam ini.

---

Keesokan paginya, Ara tiba di kelas lebih awal lagi.

Kebiasaan baru yang tidak ia rencanakan tapi sudah terbentuk dengan sendirinya dalam tiga hari terakhir. Bangkunya, tasnya, buku catatannya. Semuanya di tempat yang sama. Semua terlihat normal.

Yang tidak normal adalah bahwa pagi ini ia duduk di bangkunya dengan perasaan yang sudah berbeda dari sebelumnya. Bukan tenang sepenuhnya, tapi lebih seperti seseorang yang sudah memutuskan akan melompat dan sekarang hanya menunggu hitungan ketiga.

Satu.

Beberapa siswa masuk. Mengobrol. Meletakkan tas.

Dua.

Lina dan Diana datang tapi kali ini hanya melempar senyum dari jauh tanpa menghampiri, mungkin sudah membaca bahwa hari ini bukan hari yang tepat untuk menagih apa pun.

Tiga.

Mike masuk.

Ia terlihat sama seperti selalu dari luar. Rambut rapi, seragam sempurna, langkah yang tahu ke mana arahnya. Tapi ketika matanya menemukan Ara dan ia berjalan mendekat, ada sesuatu yang sedikit berbeda dari caranya bergerak. Lebih hati-hati. Lebih terukur.

"Pagi," Mike berkata, berdiri di sisi meja Ara.

"Pagi," Ara membalas.

Hening sebentar. Hening yang berbeda dari biasanya, hening yang menyadari dirinya sendiri dan tidak tahu harus diisi dengan apa.

Mike menarik kursi kosong di depan meja Ara dan duduk. Itu sendiri sudah tidak biasa. Mike jarang duduk di kelas orang lain, biasanya hanya berdiri sebentar lalu pergi. Tapi pagi ini ia duduk, meletakkan sikunya di meja, dan menatap Ara dengan ekspresi yang lebih serius dari yang biasa ia perlihatkan di lorong atau di kantin.

"Aku mau ngomong sesuatu," Mike membuka percakapan. Suaranya pelan, cukup untuk tidak didengar oleh bangku-bangku yang lebih jauh. "Dan aku harap kamu dengerin sampai habis."

Ara mengangguk. "Oke."

Mike menarik napas satu kali. Pelan. "Aku tahu kita sudah lama berteman. Dan karena itu aku nggak mau pura-pura kemarin itu nggak bikin aku terkejut." Ia memainkan ujung lengan seragamnya sebentar, satu kebiasaan kecil yang Ara tahu muncul ketika Mike sedang memilih kata-katanya dengan lebih hati-hati dari biasanya. "Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang nggak bisa senang buat temannya."

Ara mendengarkan.

"Jadi," Mike melanjutkan, mengangkat kepalanya dan menatap Ara langsung, "aku cuma mau tanya satu hal. Dan aku minta jawaban yang jujur."

"Tanya."

"Kamu baik-baik aja?"

Ara terdiam.

Bukan karena pertanyaan itu mengejutkan. Tapi karena dari semua pertanyaan yang bisa Mike tanyakan, dari semua hal yang bisa ia bahas tentang kemarin dan Gill dan gosip dan semua yang sudah terjadi, yang ia pilih adalah itu.

Kamu baik-baik aja.

Ara menatap Mike selama beberapa detik.

"Iya," ia menjawab akhirnya. "Aku baik-baik aja."

Mike mengangguk pelan. Menatap Ara satu detik lagi dengan cara yang menyampaikan bahwa ia masih ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi memilih untuk menyimpannya. Lalu ia berdiri, mendorong kursinya kembali ke tempat semula.

"Oke," ia berkata. "Kalau ada yang perlu dibicarain, kamu tahu aku ada."

Ara mengangguk. "Makasih, Mike."

Ia berjalan pergi. Beberapa kepala menoleh mengikutinya sampai ia keluar pintu.

Ara menatap meja di depannya.

Lalu menoleh ke arah pintu kelas dan bersiap untuk apa yang akan datang berikutnya.

Tidak harus menunggu lama.

Karena dua menit kemudian, ketika kelas sudah mulai cukup ramai tapi guru belum masuk, langkah kaki yang tidak terburu-buru tapi juga tidak pelan berhenti di ambang pintu kelas XI-A.

Gill masuk.

Kali ini tanpa kantong plastik, tanpa es krim. Hanya tas di punggung dan tangan kiri yang memegang sesuatu. Matanya langsung menemukan meja Ara, dan ia berjalan ke sana dengan cara yang sama seperti kemarin, langsung, tanpa singgah, tanpa terlihat peduli dengan puluhan pasang mata yang mengikuti gerakannya sejak ia melangkah masuk ke kelas yang bukan kelasnya.

Ia berhenti di sisi meja Ara.

Meletakkan sesuatu di atas meja.

Kotak susu lagi.

Full cream. Merek yang sama. Sedotan sudah ditusukkan.

Ara menatap kotak susu itu, lalu mengangkat kepala ke arah Gill. "Ini kebiasaan baru?"

"Kamu tidak sarapan dengan benar," Gill menjawab, bukan pertanyaan.

"Dari mana kamu tahu?"

"Kemarin kamu habiskan bekalmu terlalu cepat untuk seseorang yang sudah makan pagi dengan kenyang."

Ara menatapnya. "Kamu memperhatikan seberapa cepat aku makan?"

"Aku duduk di dekatmu. Sulit untuk tidak memperhatikan."

Kelas sudah hampir penuh sekarang dan hampir seluruhnya sedang memperhatikan percakapan ini dengan tingkat ketidakdisiplinan yang luar biasa konsisten. Beberapa berbisik. Beberapa hanya menatap diam-diam sambil berpura-pura membuka buku.

Ara menarik napas dan memutuskan bahwa membahas soal seberapa banyak Gill memperhatikan detail tentang dirinya di depan seluruh kelas bukan ide yang baik.

"Terima kasih," ia berkata, mengambil kotak susu itu.

Gill mengangguk satu kali. Lalu, sebelum ia berbalik untuk pergi, ia menoleh sebentar ke arah bangku Via yang sudah ditempati oleh Via yang datang tepat waktu pagi ini, duduk dengan buku catatan di pangkuannya dan ekspresi wajah seseorang yang sedang dengan sangat aktif berpura-pura tidak memperhatikan apa yang terjadi di depannya.

"Cebol," Gill berkata ke Via.

Via mengangkat kepala. Matanya langsung menyala. "Hah? Kamu manggil aku apa?"

"Cebol," Gill mengulang, dengan nada yang sama datar seperti ia menyebut nama benda. "Jangan ganggu pacarku."

Seluruh kelas menahan napas.

Via menutup buku catatannya dengan bunyi yang cukup keras untuk mengisi keheningan itu. Berdiri dari bangkunya, tidak penuh karena ia memang sudah duduk dan berdiri penuh hanya akan memperlihatkan betapa benarnya julukan yang baru saja dilontarkan, tapi cukup untuk menyampaikan bahwa ia tidak menerima ini diam-diam.

"Kamu tau nggak," Via berkata, suaranya mengandung nada yang kalau di-skala-kan masuk ke kategori bahaya ringan mendekati menengah, "betapa tidak sopannya manggil orang yang baru kamu kenal dengan sebutan fisik?"

"Kamu yang datang ke aku kemarin dan nanya urusan orang lain," Gill merespons. "Itu juga tidak sopan."

"Itu beda."

"Bedanya apa?"

"Aku melakukannya karena peduli sama teman aku."

"Dan aku melakukannya karena kamu pertama."

Via membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Lalu membukanya lagi. "Itu tidak—itu logikanya—kamu—"

Ara menyaksikan ini dari bangkunya dengan perasaan yang tidak bisa ia definisikan dengan satu kata. Karena di satu sisi ini adalah situasi yang seharusnya membuat ia khawatir atau canggung atau tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi yang ia rasakan justru sesuatu yang bergerak naik dari dadanya ke tenggorokan dan keluar sebelum ia sempat menahannya.

Tawa.

Bukan tawa kecil yang sopan. Tawa yang lebih nyata dari itu, yang keluar begitu saja karena Via, Via yang tidak pernah kehabisan kata di situasi apa pun, sedang berdiri di depan seseorang yang berhasil membuatnya tersandung di argumennya sendiri.

Via menoleh ke Ara dengan ekspresi yang mengatakan: ini tidak lucu.

Tapi Ara sudah tidak bisa menghentikan tawanya sepenuhnya, hanya bisa menekannya menjadi lebih kecil sambil menutup mulut dengan punggung tangan.

Via menoleh kembali ke Gill dengan tatapan yang sudah memutuskan bahwa pertempuran ini belum selesai. "Aku masih tidak percaya kalian beneran pacaran."

Gill menatapnya sebentar. Lalu tanpa berkata apa-apa ia menoleh ke Ara. "HP kamu."

Ara mengernyit. "Hah?"

"Keluarkan."

"Untuk apa?"

"Keluarkan saja."

Ara menatapnya selama dua detik, menimbang apakah ia ingin menurut atau tidak, lalu memutuskan bahwa hari ini sudah cukup banyak hal yang tidak ia duga terjadi dan satu hal lagi tidak akan membuat perbedaan yang signifikan.

Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikannya ke Gill.

Gill mengambilnya. Membukanya karena rupanya ia sudah memperhatikan pola kunci layar Ara juga di atap kemarin, satu fakta yang sedikit mengejutkan dan sedikit lainnya membuat Ara merasa seperti ia perlu mengganti pola kuncinya setelah ini.

Lalu Gill melakukan sesuatu yang tidak Ara duga.

Ia bergeser, berdiri setengah langkah lebih dekat ke Ara, satu tangannya turun ke bahu Ara dengan cara yang ringan tapi ada. Bahu Ara langsung kaku setengah detik sebelum ia berhasil menyuruh dirinya untuk rileks karena bereaksi berlebihan di depan seluruh kelas XI-A adalah hal yang akan ia sesali.

Gill mengangkat ponsel Ara ke depan mereka berdua, layar kamera menghadap ke wajah mereka.

Tangannya yang memegang bahu Ara bergerak sedikit, sudut yang lebih baik untuk foto, dan dua jarinya terangkat ke kamera dalam tanda V yang sangat santai untuk seseorang yang sedang membuktikan sesuatu kepada puluhan saksi.

Klik.

Satu foto.

Gill menurunkan ponselnya, melihat hasilnya sebentar dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, lalu memberikannya kembali ke Ara.

"Kami tidak bercanda," ia berkata ke Via, nada suaranya sama datar seperti selalu. "Cebol."

Lalu ia memutar badannya dan berjalan keluar kelas.

Langkahnya tidak terburu-buru. Tidak pula lambat. Sama seperti masuk tadi, seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia pergi dan tidak membutuhkan siapa pun untuk memvalidasi itu.

Pintu kelas menutup di belakangnya.

Dan kelas XI-A meledak.

Bukan dalam arti yang buruk. Lebih seperti tekanan yang sudah ditahan selama lima menit terakhir akhirnya menemukan salurannya. Obrolan, bisikan, seseorang di baris belakang yang tertawa pelan, Lina yang langsung menyenggol Diana dengan penuh semangat.

Via berdiri di tempatnya selama tiga detik.

Lalu duduk kembali.

Menatap ke depan dengan ekspresi yang tidak bisa Ara baca sepenuhnya karena ada terlalu banyak hal di dalamnya sekaligus, terlalu banyak untuk diurai dalam waktu singkat.

Ara masih memegang ponselnya. Masih di aplikasi kamera, foto terakhir masih terbuka di layar.

Ia menatap foto itu.

Bukan foto yang sempurna dalam artian teknis. Angle-nya sedikit miring, pencahayaan kelas pagi hari tidak terlalu bagus, dan Ara tertangkap dengan ekspresi yang jelas memperlihatkan bahwa ia tidak sepenuhnya siap untuk difoto.

Tapi ada sesuatu di foto itu yang membuat Ara tidak langsung menutupnya.

Gill di sebelahnya dengan tanda V ke kamera dan ekspresi yang sama datar seperti selalu, tapi ada sesuatu di sudut matanya yang berbeda dari semua tatapan dingin yang sudah Ara terima darinya selama tiga hari ini.

Sesuatu yang sangat kecil.

Hampir tidak ada.

Tapi Ara sudah belajar membaca hal-hal kecil pada Gian William, dan hal kecil itu terasa seperti cukup untuk malam ini.

Bel berbunyi.

Guru masuk.

Ara mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di sudut meja, tepat di sebelah kotak susu yang sudah ia minum setengahnya tanpa sadar.

Via masih diam di sebelahnya, tapi di antara mereka tidak ada dinding lagi, hanya udara biasa dan dua orang yang butuh waktu masing-masing untuk menyusun apa yang baru saja terjadi menjadi sesuatu yang bisa dimengerti.

Ara membuka buku catatannya.

Menulis tanggal di pojok kiri atas.

Dan di bawah tanggal itu, tanpa rencana, tanpa mengerti sepenuhnya mengapa, ia menuliskan tiga kata kecil yang kemudian ia coret dengan cepat sebelum siapa pun sempat membacanya.

Tapi sudah terlanjur ditulis.

Dan tulisan yang sudah terlanjur ditulis, bahkan setelah dicoret, tidak bisa benar-benar menghilang.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!