Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Tentang Perasaan Yuki
Yuki duduk di teras belakang rumah Kai, Ai tertidur di kursi bayi yang digantungkan dekatnya, napas kecilnya teratur. Matahari pagi menyinari halaman, daun-daun bergoyang pelan, seakan memberi ketenangan tersendiri. Ia menatap secangkir teh hangat di tangannya, menarik napas panjang sebelum menoleh kepada Ibu Kai yang duduk di sampingnya, menatapnya penuh perhatian.
“Bu…” Yuki memulai dengan suara lirih, sedikit gemetar. “Ada sesuatu yang ingin aku jujurkan.”
Ibu Kai menunduk, tersenyum lembut. “Aku mendengarmu, Nak. Bicara saja dari hati. Tidak ada yang akan menghakimi.”
Yuki menelan ludah, matanya menatap ke arah Ai sebentar, kemudian kembali ke Ibu. “Sejak aku tinggal di rumah ini… sejak Kai dan keluargamu menolong aku dan Ai… ada sesuatu yang… tumbuh dalam hatiku. Sesuatu yang membuatku merasa hangat… aman… dan… bahagia.”
Ibu Kai menunggu, membiarkan Yuki menata kata-katanya sendiri. “Aku… aku merasa… aku mulai mencintai Kai, Bu,” Yuki mengaku pelan, suaranya nyaris berbisik. “Rasa itu datang begitu saja, pelan, tanpa aku sadari. Setiap kali dia menolong aku, setiap kali dia menggendong Ai, atau hanya tersenyum padaku… hatiku merasa tenang. Tapi aku selalu takut… takut mencintai seseorang lagi. Takut terluka. Takut kalau nanti harus kehilangan lagi…”
Ibu Kai mengangguk perlahan, tangannya memegang tangan Yuki dengan lembut. “Yuki, apa yang kau rasakan itu wajar. Cinta bisa muncul di saat yang paling tak terduga, dan hati yang pernah terluka memang selalu membawa rasa takut. Tapi itu tidak berarti kau tidak bisa bahagia lagi. Perasaanmu tulus, dan itu indah.”
Yuki menunduk, matanya berkaca-kaca. “Tapi aku selalu merasa bersalah, Bu… bersalah karena aku takut mencintai. Aku takut jika aku membiarkan diri ini jatuh, aku akan kehilangan Kai, atau… atau sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.”
Ibu Kai mengusap rambut Yuki dengan lembut. “Nak, rasa takut itu manusiawi. Yang penting adalah kau tidak menutup hatimu sepenuhnya. Kau sudah melihat bagaimana Kai memperlakukanmu dengan hormat, penuh perhatian, dan kesabaran. Itu bukan hal kecil. Ia tidak hanya menolongmu secara fisik, tapi juga emosional. Hatimu bisa percaya padanya, perlahan-lahan.”
Yuki menarik napas panjang, merasakan beban di dadanya sedikit berkurang. “Aku… aku ingin percaya, Bu. Aku ingin membiarkan perasaanku tumbuh tanpa rasa takut yang berlebihan. Tapi… aku masih butuh waktu. Aku masih belajar memaafkan diri sendiri, dan menerima kebahagiaan setelah semua yang terjadi.”
Ibu Kai tersenyum hangat, menepuk tangan Yuki. “Itu sudah langkah besar, Nak. Kau mengakui perasaanmu, kau berani membuka hati lagi. Tidak semua orang mampu melakukan itu setelah terluka. Dan ingat… kau tidak sendirian. Kai ada di sini, aku ada di sini, dan Ai selalu membawa kebahagiaan yang murni. Biarkan semua itu membimbingmu pelan-pelan.”
Yuki tersenyum tipis, matanya masih berkilau karena air mata yang belum jatuh. “Terima kasih, Bu… karena mau mendengarkan dan memahami aku. Aku merasa lega… benar-benar lega.”
Ibu Kai menarik napas dalam, menatap Yuki penuh arti. “Itu yang ibu harapkan, Nak. Sekarang kau bisa mulai membiarkan dirimu merasakan cinta lagi, perlahan, tanpa rasa takut berlebihan. Dan ketika waktunya tepat… kau bisa menyampaikan semua itu pada Kai.”
Yuki menunduk lagi, menatap Ai yang tidur nyenyak, kemudian mengangguk. “Aku akan berusaha, Bu. Aku ingin membiarkan hatiku mencintai… dan mempercayainya.”
Ibu Kai tersenyum, memandang mata Yuki dengan lembut. “Itu sudah langkah pertama yang indah. Ingat, cinta tumbuh paling kuat ketika dirawat dengan kesabaran, kejujuran, dan keberanian. Kau sudah memulainya.”
Yuki menarik napas panjang, merasakan kehangatan yang mengalir di dadanya. Ia tahu perjalanan ini belum selesai, tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa lega. Ada harapan, ada keberanian, dan ada perasaan cinta yang tulus menapak pelan di hatinya.
Ai bergerak sedikit, membuka mata mungilnya dan tersenyum pada Yuki. Yuki membalas dengan senyum lembut, lalu menatap Ibu Kai. “Aku siap, Bu… untuk perlahan-lahan menerima semuanya. Aku siap membiarkan diri ini bahagia.”
Ibu Kai tersenyum hangat, menepuk tangan Yuki lagi. “Bagus, Nak. Ini awal dari sesuatu yang indah. Dan ingat, aku akan selalu ada untuk membimbingmu, memastikan hatimu tetap aman saat kau belajar mencintai lagi.”
Yuki menunduk sejenak, merasakan kehangatan kata-kata itu, kemudian menatap Ai dan tersenyum penuh kasih. Di matanya, dunia tidak lagi terasa menakutkan. Ada cinta, ada harapan, dan ada Kai yang selalu menjadi bagian dari masa depan yang baru.
Momen itu, sederhana tapi penuh makna, menandai titik balik dalam hidup Yuki: keberanian untuk membuka hati, mempercayai cinta lagi, dan menerima kehangatan yang telah lama ia rindukan. Di sampingnya, Ai menjadi jembatan kebahagiaan, sementara Kai perlahan menjadi sosok yang tidak hanya melindungi, tapi juga dicintai dengan tulus.
Setelah percakapan itu, Yuki merasa lebih ringan. Ia menggendong Ai, menatap wajah mungil bayi itu yang kini tersenyum lebar, dan merasakan getaran hangat di dada—bukan rasa takut, bukan lagi rasa cemas, tapi rasa damai yang baru. Perlahan, ia melangkah keluar ke taman belakang, tempat bunga-bunga yang baru ditanam beberapa minggu lalu mulai mekar. Angin pagi membawa aroma tanah basah, dedaunan basah oleh embun, dan suara burung yang berkicau pelan. Semua itu seperti menyapa hatinya yang masih rapuh, memberinya rasa aman yang perlahan menenangkan.
Ibu Kai menyusul, membawa keranjang kecil berisi peralatan berkebun. “Nak, bagaimana kalau kita mulai hari ini dengan sedikit berkebun? Aku janji ini akan membuatmu rileks.”
Yuki tersenyum tipis. “Aku… baik, Bu. Aku rasa… aku butuh ini.”
Mereka bekerja bersama di taman, menanam bunga, membersihkan rumput liar, dan menyiram tanaman. Setiap tetes air yang mengenai tanah terasa seperti membersihkan beban di hati Yuki. Ibu Kai terus berbicara ringan, menanyakan kabar Ai, bagaimana perasaannya semalam, dan perlahan membimbing Yuki untuk berbagi perasaan tanpa rasa takut atau rasa bersalah.
Kai, yang melihat dari jendela ruang keluarga, tersenyum sendiri. Ia merasa lega melihat Yuki perlahan menemukan kembali keseimbangan emosionalnya. Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk turun dan membantu. Tidak banyak kata yang diucapkan, hanya kerja bersama dan beberapa senyum. Kehadiran Kai, sederhana tapi menenangkan, membuat Yuki semakin percaya diri. Hatinya mulai memahami bahwa rasa cinta dan sayang yang tumbuh bukan hal yang salah, dan tidak ada yang perlu ditakutkan.
Siang itu, setelah berkebun, mereka kembali ke dalam rumah. Ai tertidur di kereta dorong, sementara Yuki duduk di sofa dengan Kai di dekatnya. Ibu Kai menyajikan teh hangat dan kue ringan, duduk di samping mereka. “Lihat Nak, setiap hari yang kita jalani seperti ini… perlahan tapi pasti, luka itu akan sembuh. Dan hati yang pernah rapuh… bisa tumbuh kembali.”
Yuki menatap Kai, dan tanpa sadar tangan mereka bertemu di atas meja, saling menggenggam dengan lembut. Kai menatap mata Yuki, lalu tersenyum, seolah mengatakan, Aku di sini untukmu, selalu.
“Bu… aku ingin belajar menikmati hidup lagi,” ucap Yuki lirih. “Aku ingin mencintai, tapi juga tetap kuat untuk Ai.”
Ibu Kai mengangguk sambil tersenyum hangat. “Itu langkah pertama yang indah. Kau tidak perlu terburu-buru. Biarkan semuanya datang pelan-pelan, sesuai waktumu. Kai juga akan membantumu. Dan Ai… Ai akan menjadi alasan yang paling tulus untukmu bahagia.”
Malam harinya, saat Ai tertidur lelap, Yuki duduk di balkon, menatap bulan yang terang. Kai berdiri di sampingnya, menjaga jarak yang nyaman, tapi cukup dekat agar Yuki merasa tenang.
“Kai… aku… aku rasa aku mulai mengerti perasaanku sendiri,” ucap Yuki pelan. “Aku… mencintaimu. Tapi aku masih takut.”
Kai menoleh, menatap wajah Yuki yang sedikit gugup, lalu berkata lembut, “Aku mengerti. Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa perlahan-lahan, dan aku akan ada di sini, selalu mendukungmu.”
Yuki tersenyum tipis, menunduk. “Terima kasih… karena tidak memaksa, karena sabar, dan… karena membuat aku merasa aman.”
Kai mengangguk. “Aku berjanji, Yuki. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Aku akan menjaga kalian berdua.”
Di balkon itu, di bawah cahaya bulan dan angin malam yang sejuk, ada keheningan yang indah—bukan hampa, tapi penuh rasa aman, cinta yang mulai tumbuh, dan harapan yang perlahan menembus trauma masa lalu. Yuki pun merasakan untuk pertama kalinya bahwa ia bisa mencintai tanpa rasa takut berlebihan, dan Kai menyadari bahwa tanggung jawab dan cinta bisa berjalan beriringan, memberi mereka masa depan yang baru, hangat, dan penuh arti.
Jika mau, aku bisa melanjutkan ke bab berikutnya awal mula Yuki mulai memanggil Kai “Papa” dan dinamika bahagia keluarga kecil mereka di rumah Kai.