NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecewa

...****************...

Sebulan lagi menuju Ramadan. Aku resmi mengajukan cuti seminggu sebelum bulan itu tiba.

Rasanya aneh mengisi formulir cuti dengan alasan pulang kampung seperti mengisi sesuatu yang lebih besar dari sekadar tanggal dan tanda tangan.

Tak terasa, hubunganku dengan Linda sudah hampir tujuh bulan.

Tujuh bulan yang awalnya ringan.

Tujuh bulan yang kini terasa berat.

“Aku pulang nanti sebelum Ramadan ya. Seminggu di sana,” kataku sore itu.

“Oke…” jawabnya santai.

“Nanti kalau di sana sering-sering telpon aku.”

Aku menatapnya.

“Kamu nggak mau ikut? Sekalian kenalan sama orang tuaku?”

Linda bahkan tidak butuh waktu untuk berpikir.

“Nggak usah repot-repot. Aku nggak minat. Nggak minat sama sekali.”

Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu tegas.

“Sebenarnya aku kecewa kalau kamu begini,” kataku pelan, menahan nada.

“Kamu bisa nggak ngalah sedikit aja sama aku?”

“Enggak. Aku nggak minat. Nggak mau. Nggak mau, sumpah.”

Dadaku menghangat oleh rasa yang bukan lagi sabar.

“Linda… jadi hubungan kita itu nggak serius ya? Cuma mau main-main aja?”

Ia menatapku datar. Tidak marah. Tidak juga merasa bersalah.

“Iya. Aku memang nggak pernah rencana mau serius. Terus gimana? Mau gimana sekarang?”

Kalimat itu seperti memukul tepat di tengah dada.

Aku terdiam beberapa detik.

Suara di sekitarku seperti menjauh.

“Aku nggak bisa begini, Lin…” suaraku lebih rendah sekarang, tapi jauh lebih berat.

“Aku nggak bisa main-main terus. Orang tuaku sudah tua. Mereka pengin cepat-cepat punya cucu. Dan kalau sekarang aku punya pacar tapi nggak mau menikah… aku harus gimana?”

Linda tersenyum tipis.

Senyum yang biasanya membuatku jatuh, sekarang terasa asing.

“Itu urusan kamu sama orang tua kamu, Ka. Jangan bawa aku ke sana.”

“Hubungan itu bukan cuma soal senang-senang, Lin.”

“Ya berarti kamu salah orang.”

Sunyi.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Linda bukan sebagai perempuan yang membuatku nyaman…

tapi sebagai seseorang yang memang tidak pernah berdiri di titik yang sama denganku.

Aku ingat ibu di layar ponsel malam itu.

Wajah yang menua. Suara yang menahan rindu.

Aku ingat pesan Hana. Tentang orang baik yang lupa menjaga dirinya sendiri.

Dan kini, di hadapanku, berdiri perempuan yang dengan jujur mengatakan ia tidak pernah berniat melangkah sejauh itu.

“Aku pikir… kita menuju ke arah yang sama,” kataku lirih.

“Kamu aja yang terlalu jauh mikirnya,” jawabnya singkat.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada drama.

Hanya kenyataan yang akhirnya telanjang.

Dan di momen itu, aku sadar bimbang bukan lagi soal dua hati.

Tapi soal memilih masa depan

atau bertahan di sesuatu

yang dari awal memang tidak pernah punya arah

...----------------...

Sejak percakapan itu, ada sesuatu yang berubah.

Bukan marah.

Bukan juga benci.

Hanya… dingin.

Aku tetap menjemputnya. Tetap mengantarnya pulang seperti biasa. Tetap duduk di kursi kemudi dengan wajah yang sama.

Tapi tidak lagi dengan hati yang sama.

Dulu, setiap kali sampai di depan rumahnya, aku pasti turun. Masuk sebentar. Kadang menginap.

Sekarang?

“Kamu nggak mau turun?” tanyanya malam itu.

“Enggak… rasanya nggak enak badan. Aku pulang ya.”

Ia menatapku beberapa detik, mencoba membaca sesuatu.

“Oh ya udah. Hati-hati di jalan ya.”

Singkat. Tanpa protes.

Padahal sebenarnya, jarak rumahnya ke kos ku lebih jauh daripada kantor ke kos ku.

Kalau dipikir-pikir, aku justru memutar arah hanya untuk mengantarnya.

Lucu ya.

Kadang kita mempertahankan sesuatu hanya karena labelnya masih ada.

Di perjalanan pulang, jalanan terasa lengang.

Lampu-lampu kota seperti tidak terlalu terang malam itu.

Aku sadar satu hal kecewaku sudah di ujung tanduk.

Bukan hanya karena ia tidak ingin serius.

Tapi karena ia mengatakannya dengan begitu mudah. Seolah tujuh bulan ini tidak pernah punya bobot apa-apa.

Ponselku bergetar.

Bukan Linda.

Hana.

> “Ka, kamu udah di kos?”

Aku terdiam.

Ada perasaan hangat kecil yang muncul tanpa diminta.

> “Baru sampai.”

Beberapa detik kemudian, ia mengirim pesan lagi.

> “Capek ya?”

Aneh.

Linda tidak pernah bertanya seperti itu.

Atau mungkin pernah… tapi aku tidak pernah benar-benar merasa diperhatikan.

Aku menatap layar lama.

Aku tahu ini berbahaya.

Kecewa pada satu orang bisa membuat kita mencari pelarian pada yang lain.

Dan aku tidak mau menjadikan Hana sebagai pelarian. Tapi malam itu…

jujur saja, hanya satu nama yang membuatku ingin bercerita.

Aku mematikan mesin mobil. Duduk diam beberapa saat di parkiran kos.

Aku tidak sedang memilih siapa yang lebih baik.

Aku sedang menyadari aku tidak bisa lagi berjalan di tempat yang sama.

Kecewa itu bukan ledakan.

Ia seperti retakan kecil di kaca.

Awalnya nyaris tak terlihat.

Tapi sekali muncul…

ia tidak pernah benar-benar hilang.

Dan aku tahu,

tinggal menunggu waktu

sebelum kaca itu pecah seluruhnya..

...----------------...

Malam itu aku masuk ke kamar kos tanpa menyalakan lampu. Aku membiarkan gelap menyambut ku lebih dulu.

Tas ku letakkan sembarang. Jaket ku lempar ke kursi. Aku rebah di kasur, menatap langit-langit yang nyaris tak terlihat.

Tujuh bulan.

Bukan waktu yang singkat.

Bukan juga waktu yang bisa dianggap main-main.

Aku mengingat setiap kata Linda saat itu.

Nada suaranya. Tatapan matanya yang sama sekali tidak goyah saat mengatakan tidak mau menikah.

Bukan ragu.

Bukan takut.

Tapi penolakan yang sudah final.

Aku memejamkan mata. Dadaku terasa sesak, bukan karena cemburu, tapi karena kecewa.

Selama ini aku menahan banyak hal.

Menahan keinginanku mengenalkan dia pada orang tuaku. Menahan pertanyaan-pertanyaan ibu yang selalu halus tapi menekan.

“Sudah ada calon belum, Nak?”

“Kapan bawa teman ke rumah?”

Dan aku selalu menjawab dengan senyum yang dipaksakan. Sebentar lagi, Bu.

Padahal…

bahkan arah hubungan ini pun tidak jelas.

Ponselku kembali menyala.

Pesan dari Linda.

> “Kamu dingin banget sekarang.”

Aku membaca pesan itu lama.

Jari-jariku menggantung di atas layar, tapi tak ada satu kata pun yang keluar.

Dingin?

Atau aku hanya berhenti memaksakan diri?

Aku mematikan layar. Bukan karena tidak peduli.

Tapi karena aku lelah menjelaskan hal yang tidak pernah ia ingin pahami.

Aku bangkit, duduk di tepi kasur.

Mengusap wajahku sendiri.

Untuk pertama kalinya, aku bertanya jujur pada diriku:

Aku ini pacarnya… atau hanya teman singgah?

Di kepala, wajah ibu muncul lagi.

Wajah bapak yang selalu diam tapi berharap.

Rumah.

Ramadan.

Pulang.

Dan entah kenapa, di antara semua itu…

wajah Hana ikut terlintas.

Bukan dengan rasa yang berlebihan.

Bukan dengan keinginan yang melampaui batas.

Hanya perasaan tenang. Didengar. Diperlakukan sebagai manusia, bukan pelarian.

Aku segera menggeleng.

Tidak. Aku tidak boleh sejauh itu.

Hana sedang berduka. Aku tidak ingin menjadi orang yang salah di waktu yang salah.

Aku menarik napas panjang.

Keputusan belum kuambil.

Tapi satu hal jelas aku tidak bisa terus berpura-pura kuat di hubungan yang tidak punya arah.

Malam semakin larut. Di luar, suara kendaraan makin jarang.

Aku akhirnya berbaring kembali, memunggungi dinding. Mataku terbuka, pikiranku berisik.

Mungkin pulang ke rumah adalah jawaban.

Atau justru awal dari pertanyaan yang lebih besar.

Yang jelas… hubunganku dengan Linda tidak lagi sama.

Dan aku tahu, jarak yang tadi terasa kecil

pelan-pelan sedang berubah menjadi jurang.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!