NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu?

Weekend yang harusnya tenang itu mendadak terasa canggung. Ketukan pintu yang terus berbunyi membuat Lala terpaksa bangun dengan rambut masih berantakan dan mata setengah terbuka. Ia membuka pintu tanpa banyak pikir.

“Iyaaa...”

Begitu pintu terbuka, keduanya sama-sama terdiam beberapa detik.

“Loh... Lala kan ya?” Rifki tampak terkejut.

Tatapannya naik turun seolah memastikan ia tidak salah orang. “Pagi-pagi kok udah di sini aja? Nginep?” tanyanya dengan nada yang terdengar seperti bercanda, tapi ada sesuatu yang kurang nyaman di baliknya.

Lala tersenyum tipis, menahan rasa tidak enak. “Eh, Mas Rifki... ada apa ya, Mas?” Ia sengaja tidak menjawab pertanyaan itu.

Rifki belum sempat menjawab ketika suara pagar dibuka terdengar. Perhatian mereka berdua otomatis beralih ke Rendra yang baru saja masuk halaman, kaos olahraga sedikit basah oleh keringat.

“Ren, hai! Apa kabar?” Rifki terlihat terlalu antusias.

“Eh iya, Mas. Baik,” jawab Rendra singkat, masih mengatur napas.

“Baru lihat lagi saya.”

“Iya nih, baru pulang. Kemarin pindah dinas keluar kota, jadi nggak di sini.” Rifki tersenyum lebar lalu menyerahkan sebuah paperbag. “ohiya Ini ada oleh-oleh.”

Rendra menerimanya sambil mengangguk sopan. Tatapannya kemudian beralih ke Lala yang masih berdiri di ambang pintu dengan ekspresi kaku.

“Masuk, La,” ucapnya pelan tapi tegas.

Lala masih belum bergerak sampai akhirnya Rendra menarik pelan pergelangan tangannya.

“Bentar ya, Mas,” katanya pada Rifki, lalu membawa Lala masuk ke dalam rumah.

Begitu sampai didalam, nada Rendra berubah.

“Lo kalau mau keluar nyambut tamu gitu liat kondisi dulu, La.”

Lala mengernyit. “Hah? Kenapa?”

“Lo liat lah pakaian lo.”

Baru saat itu Lala menunduk. Ia mengenakan daster rumahan selutut tanpa lengan, pakaian yang menurutnya biasa saja untuk di dalam rumah.

“Kenapa? Gue biasa aja.”

“Jangan dibiasain. Apalagi laki-laki,” ucap Rendra, nada suaranya terdengar kesal tapi tertahan.

“Dia kan belok, nggak mungkin juga ngapa-ngapain gue,” Lala membela diri.

“Tetep aja. Mau dia lurus, belok. Pokoknya lo jangan kayak gini lagi.”

Lala menghela napas pelan. Ia tidak sepenuhnya setuju, tapi melihat ekspresi Rendra yang serius membuatnya memilih mengalah. “Iya-iya.”

Rendra keluar lagi ke teras. Rifki masih duduk santai di kursi kayu, sebatang rokok menyala di tangannya. Asap tipis mengepul ke udara pagi.

Rendra berhenti sejenak, rahangnya sedikit mengeras. Ia bukan perokok, dan ia tidak suka rumahnya berbau asap.

“Ko Lala ada di sini, Ren, pagi-pagi gini?” tanya Rifki lagi, nada suaranya kini terdengar lebih tajam. “Dia sering nginep di sini?”

Rendra tidak tersenyum kali ini.

“Dia istri saya,” jawabnya lugas, tanpa basa-basi. Kalimat itu menggantung di udara pagi, tegas dan jelas. Tidak ada nada bercanda. Tidak ada ruang untuk salah paham.

Rifki terdiam beberapa detik. Rokok di tangannya hampir lupa dihisap. “Oh...” Ia terkekeh canggung. “Serius, Ren? Wah, gue nggak tau. Selamat ya.”

Rendra hanya mengangguk singkat. “Iya.”

“kapan nikahnya,” tanya Rifki pelan, entah maksudnya apa.

"sebulan lalu" jawab Rendra singkat.

Suasana di teras terasa sedikit kaku. Rendra berdiri, tidak ikut duduk. Posisi tubuhnya tegak, seperti memberi jarak tanpa harus mengatakannya.

“Masuk aja dulu, Mas,” ucapnya sopan tapi datar.

“Nggak usah, gue gak lama-lama, kok. Cuma mau ngasih oleh-oleh sama silaturahmi aja. Soalnya baru balik dinas,” jawab Rifki.

Tak lama kemudian Lala keluar lagi, kali ini sudah berganti pakaian dengan cardigan tipis menutupi bahunya. Ia menyapa dengan senyum sopan.

“Makasi ya, Mas, oleh-olehnya.”

“Iya, sama-sama,” jawab Rifki, tapi tatapannya masih terasa sedikit aneh. Seperti menilai, atau mungkin hanya penasaran.

Rendra menangkap itu.

“mau kopi mas?” tanyanya lala formal.

“Nggak usah, la. Gue juga mau lanjut ke rumah sebelah. Cuma kaget aja tadi liat lo di sini.”

“Ya sekarang udah tau,” jawab Rendra singkat.

Rifki akhirnya berdiri, membuang puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya. “Yaudah, gue duluan ya. Sekali lagi, selamat.”

“Ya, Mas,” jawab Rendra.

Begitu pagar tertutup dan Rifki benar-benar pergi, Rendra menghembuskan napas panjang. Lala yang berdiri di sampingnya menatapnya heran.

“Apa sih tadi?” tanya Lala pelan.

“Apanya?”

“Lo kayak... kesel.”

Rendra menoleh. “Gue nggak suka cara dia nanya.”

“Biasa aja kali, Ren. Dia kan nggak tau kita udah nikah.”

“Bukan itu.”

“Terus?”

Rendra terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Gue nggak suka dia mikir lo sering ‘nginep’ di sini.”

Lala menghela napas kecil. “Ya kan sekarang udah jelas.”

“Iya,” jawab Rendra, menatapnya lembut tapi masih menyisakan tegas di sorot matanya.

“Dan gue nggak mau ada yang ngomong aneh-aneh soal lo.”

Kalimat itu membuat Lala terdiam. Ada nada posesif, tapi juga perlindungan yang tulus.

“Lo lebay,” ucap Lala akhirnya, mencoba mencairkan suasana.

Rendra mendengus kecil. “Iya, gue emang lebay kalau soal lo.”

Lala menahan senyum. “Tuh kan, kambuh lagi.”

“Apa?”

“Sifat manjanya. Cuma sekarang berubah jadi protektif.”

Rendra mendekat satu langkah, menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Lala. “Protektif itu beda sama manja.”

“Beda tipis,” sahut Lala cepat.

Rendra terkekeh pelan. Ketegangan tadi perlahan mencair. Tangannya tanpa sadar menarik Lala mendekat, satu tangan melingkar di pinggangnya.

“Udah ah, masuk. Laper.”

“Baru juga drama lima menit udah laper,” goda Lala.

“Drama lo itu,” balas Rendra cepat.

Mereka masuk bersama. Pagi yang tadinya terasa mengusik kini kembali hangat. Tapi di kepala Rendra, satu hal masih tersisa. ia tidak suka cara Rifki menatap Lala.

Dan entah kenapa, ia merasa itu bukan terakhir kalinya mereka akan berurusan dengan tetangga itu. Hari itu berlalu tanpa kejadian berarti, tapi Lala bisa merasakan ada sesuatu yang berubah.

Rendra memang kembali seperti biasa berisik, usil, banyak bercanda. Tapi setiap kali mereka keluar rumah bersama dan kebetulan berpapasan dengan tetangga, terutama arah rumah Rifki, sikap Rendra sedikit berbeda. Lebih waspada. Lebih diam.

...----------------...

Sore itu, Lala sedang menyiram tanaman di depan rumah. Rambutnya diikat asal, mengenakan kaos rumahan dan celana panjang santai. Rendra duduk di teras sambil memainkan ponselnya, sesekali mengawasi Lala tanpa sadar.

“Ren, tolong ambilin gunting dong, di dalem,” pinta Lala.

Rendra bangkit tanpa protes. Saat ia kembali membawa gunting, suara pagar sebelah berbunyi. Refleks, tatapan Rendra langsung mengarah ke sana.

Rifki keluar rumah dengan pakaian santai, tampak hendak pergi. Matanya menangkap sosok Lala yang sedang berjongkok merapikan tanaman.

“Sore, La,” sapanya.

Lala menoleh dan tersenyum sopan. “Sore, Mas.”

Rendra berdiri sedikit lebih dekat ke Lala, seolah tanpa sengaja memposisikan diri di antara mereka.

“Mau ke mana, Mas?” tanya Lala basa-basi.

“Keluar bentar. Eh, kemarin belum sempat ngobrol banyak. Kapan-kapan main ya, Ren.”

Rendra tersenyum tipis. “Iya.”

Jawabannya singkat. Terlalu singkat.

Rifki sempat melirik Rendra, lalu kembali menatap Lala. “Lala juga sering di rumah, kan? Jadi nggak sepi-sepi amat Ren sekarang.”

Kalimat itu terdengar ringan, tapi cukup untuk membuat alis Rendra naik sedikit.

“Iya,” jawab Rendra, kali ini nadanya lebih tegas. “Rumah memang nggak pernah sepi.”

Ada penekanan halus di sana.

Rifki hanya terkekeh, lalu pamit pergi. Begitu pagar tertutup, suasana kembali sunyi.

Lala menoleh ke Rendra. “Kenapa sih lo tiap dia ada jadi kayak satpam?”

“Emang kenapa kalau gue jagain istri gue?”

Lala terdiam sepersekian detik, pipinya sedikit menghangat setiap kali Rendra menyebut kata itu dengan begitu lugas.

“Gue nggak kenapa-kenapa, Ren. Biasa aja.”

“Gue tau.”

“Terus?”

Rendra menghela napas pelan. “Gue cuma nggak suka caranya ngomong. Terlalu sok akrab.”

“Ya mungkin dia emang orangnya gitu.”

“Bisa jadi,” jawab Rendra. “Tapi gue tetep nggak suka.”

Lala berdiri, mendekat. “Lo cemburu?”

Rendra langsung menatapnya. “Enggak.”

“Boong.”

“Enggak.”

Lala menyipitkan mata, lalu tersenyum kecil. “Kalau cemburu bilang aja.”

Rendra mendengus, lalu tiba-tiba menarik Lala mendekat hingga jarak mereka hampir tak ada

“Gue bukan cemburu,” katanya pelan, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Gue cuma nggak mau ada orang yang mikir dia punya kesempatan.”

Jantung Lala berdegup sedikit lebih cepat.

“Kesempatan buat apa?”

“Buat lo.”

Lala terdiam. Untuk beberapa detik, hanya ada suara angin sore yang menggerakkan daun-daun kecil di halaman.

Lalu ia tersenyum konyol “apasih... kocak”

“Apa?”

“Gue nikah sama siapa?”

Rendra tidak menjawab.

“Gue tinggal sama siapa?”

Rendra masih diam, tapi sorot matanya mulai melunak.

“Gue pulang ke siapa tiap hari?”

Kali ini Rendra menghela napas kecil, sudut bibirnya naik tipis. “Ke gue.”

“Nah,” jawab Lala pelan. “Jadi santai aja.”

Rendra akhirnya tersenyum benar-benar. Tangannya yang tadi melingkar di pinggang Lala kini mengusap pelan punggungnya.

“Gue tau,” katanya. “Cuma ya... tetep aja.”

“Overthinking.”lala menggeleng

“Protektif,” ralatnya cepat. Lala tertawa kecil.

Sore itu berakhir dengan mereka duduk berdampingan di teras, berbagi camilan dan cerita ringan. Namun jauh di dalam hati Rendra, ada satu tekad yang semakin kuat apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan siapa pun mengusik rumah kecil yang baru saja ia bangun bersama Lala.

Dan entah kenapa, instingnya berkata bahwa Rifki belum benar-benar selesai.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
sunrise
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
sunrise
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!