NovelToon NovelToon
OWNED BY AZEUS

OWNED BY AZEUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / CEO
Popularitas:603
Nilai: 5
Nama Author: Andara Wulan

"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."

Karya ini berisi Novel dalam Novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang dirindukan Azeus

Sepuluh hari telah berlalu, dan RS Pendidikan Utama hari ini tampak lebih cerah bagi Azeus. Masa kritisnya telah lewat, berganti dengan masa pemulihan yang diisi dengan pengawasan ketat dari Aluna yang bolos kuliah demi menjadi perawat pribadi sang CEO. Sifat obsesif Azeus justru semakin menjadi-jadi. ia tak membiarkan Aluna lepas dari pandangannya sedetik pun selama di bangsal VVIP.

Lobi utama RS Pendidikan sore itu mendadak ramai. Azeus melangkah keluar dengan kursi roda yang didorong oleh Irwan, meskipun ia bersikeras ingin jalan kaki untuk pamer kegagahannya yang sudah kembali. Ia tampak maskulin dengan kemeja hitam yang lengannya digulung, kontras dengan kulitnya yang masih sedikit pucat.

Di sekelilingnya, rombongan lengkap sudah siaga. Ayah Azeus berdiri berwibawa, sementara dr. Gathan memantau dari belakang dengan jas putihnya. Tak ketinggalan, duo curut Raka dan Dion sibuk membawakan tas berisi pakaian dan buah-buahan sisa rawat inap.

"Zeus, Papa sudah siapkan kamar lamamu di rumah utama. Bibi sudah masak besar, dan keamanan di sana jauh lebih terjamin untuk pemulihanmu," ucap Ayah Azeus sambil menatap putranya penuh harap.

Azeus mengerutkan dahi, kepalanya menoleh ke arah Aluna yang berdiri di sampingnya memegang tas kecil.

"Enggak, Pa. Zeus mau pulang ke Apartemen Aluna."

"Lho? Di sana sempit, Zeus. Di rumah utama ada pelayan 24 jam yang bisa urus kamu," bantah Ayahnya, mencoba membujuk demi Kesehatan Pasca-Kritis putranya.

Azeus menyeringai narsis, tangannya menarik lembut jemari Aluna dan menggenggamnya posesif di depan semua orang.

"Justru itu, Pa. Zeus nggak butuh pelayan banyak-banyak. Zeus cuma butuh Nana. Zeus mau berduaan saja di apartemen, nggak mau diganggu siapapun, termasuk Papa ataupun Irwan."

Dion langsung menyenggol bahu Raka sambil menahan tawa.

"Tuh kan, baru sembuh udah mau mode 'kandang' aja si Bos. Kasihan Aluna nggak bisa napas nanti."

Gathan hanya menggelengkan kepala, menyilangkan tangan di dada.

"Saran gue sih, lo butuh ketenangan. Tapi kalau lo disana nanti malah bikin Asam Lambung naik lagi gara-gara kebanyakan 'olahraga' bucin, jangan telepon gue ya."

Ayah Azeus menghela napas panjang, menatap Aluna yang hanya bisa menunduk malu dengan wajah semerah tomat. Menyadari sifat keras kepala putranya yang mendarah daging, sang Ayah akhirnya menyerah.

 "Baiklah. Irwan, antarkan mereka ke apartemen. Dan pastikan stok makanan sehat di sana terpenuhi."

Azeus tersenyum puas, sebuah kemenangan kecil yang sangat berarti baginya. Ia menatap Aluna dengan binar lapar yang membuat Aluna merinding sekaligus rindu.

"Ayo pulang, Sayang. Aku sudah punya banyak daftar 'hukuman' buat kamu "

Di kejauhan, di balik pilar lobi rumah sakit yang dingin, Erena berdiri mematung dengan rahang mengeras. Jemarinya mengepalkan tangan begitu kuat hingga kuku-kuku cantiknya memutih. Matanya yang tajam menatap pemandangan memuakkan itu. Azeus yang tertawa narsis sambil menggenggam posesif tangan "anak panti" itu. Bagi Erena, kantor pusat terasa sangat membosankan dan hampa tanpa kehadiran Azeus, sementara di sini, pria pujaannya justru sedang berpesta asmara.

"Nikmatilah selagi bisa, Aluna," desis Erena parau dengan suara penuh kebencian.

"Aku akan pastikan kamu menyesal pernah menginjakkan kaki di dunia Azeus."

Rombongan mewah itu akhirnya tiba di Apartemen Elit Aluna. Hanya dr. Gathan yang tidak ikut karena jadwal jaga di RS Pendidikan yang sangat padat. Suasana apartemen yang tenang mendadak riuh. Raka dan Dion sibuk mondar-mandir merapikan barang-barang sisa rumah sakit, sementara Irwan berdiri tegak seperti bayangan di belakang Ayah Azeus.

Azeus duduk di sofa panjang, tangannya tak lepas merangkul pinggang Aluna, menariknya sedekat mungkin seolah tak ada jarak yang boleh memisahkan mereka. Ayah Azeus menarik napas panjang, menatap putranya yang kini tampak jauh lebih hidup.

"Azeus," panggil Ayahnya dengan nada suara yang melembut.

"Papa minta maaf soal tekanan kerja kemarin. Papa sadar, memaksamu jadi robot bukan cara yang benar. Setelah inj, Papa akan longgarkan jadwal kerjamu. Kamu punya waktu lebih banyak untuk pemulihan... dan untuk Aluna."

Azeus menyeringai narsis, kepalanya bersandar di bahu Aluna tanpa rasa malu di depan semua orang. "Nah, gitu dong, Pa. Dari dulu kek."

Ayah Azeus terkekeh kecil, lalu wajahnya berubah menjadi sangat serius, membuat Raka dan Dion yang tadinya berisik mendadak diam membeku.

"Karena Papa sudah merestui kalian, Papa ingin membahas soal pernikahan," ujar Ayahnya mantap. "Papa tidak mau ada drama 'kabur-kaburan' atau 'hampir mati' lagi. Papa ingin kalian segera dihalalkan. Papa sudah siapkan tim perencana pernikahan terbaik di Jakarta. Kalian tinggal pilih tanggal."

Azeus langsung menegakkan punggungnya, matanya berkilat penuh obsesi yang tak terbendung. "Minggu depan, Pa. Zeus mau secepatnya. Zeus nggak mau ada 'lalat' atau mantan nggak jelas yang berani deketin Nana lagi."

Aluna tersentak, wajahnya semerah tomat karena semua orang menatap ke arahnya.

"Minggu depan? Kak, aku masih kuliah!"

"Kuliah tinggal kuliah, Sayang. Statusnya aja yang berubah jadi Nyonya Azeus," balas Azeus sambil mencium pelipis Aluna dengan posesif, mengabaikan dehaman kaku dari Irwan dan tawa tertahan dari duo curut di pojok ruangan.

^^^

Aura serius soal pernikahan tadi langsung buyar seketika saat Raka dan Dion selesai merapikan tas-tas RS di pojok ruangan. Dua curut ini memang tidak bisa membiarkan suasana jadi melankolis terlalu lama.

Raka berdiri tegak, membusungkan dada di depan Ayah Azeus dan Irwan yang masih pasang wajah wibawa.

"Pak Bos Besar, karena urusan angkut-angkut barang sudah beres, kami izin undur diri ya. Takutnya kalau kelamaan di sini, kita malah jadi saksi adegan yang belum lulus sensor," ucap Raka sambil melirik nakal ke arah tangan Azeus yang masih nempel di pinggang Aluna.

Dion menyambar kunci motornya, lalu mendekat ke arah Azeus. Bukannya bersikap sopan, dia malah membungkuk dan membisikkan sesuatu yang cukup keras sampai terdengar satu ruangan.

"Ze, pesen gue cuma satu. Inget kata dr. Gathan, lambung lo baru aja 'ditambal'. Jangan gas pol dulu pas malam pertama nanti, ntar jahitannya lepas gara-gara lo terlalu semangat narik napas!"

"DI-ON!" bentak Azeus dengan muka merah padam, tangannya menyambar bantal sofa dan melayangkannya tepat ke wajah Dion.

HUP! Dion menangkap bantal itu dengan sigap sambil tertawa ngakak.

"Bener tuh, Ze!" Raka menimpali sambil menarik kerah jaket Dion untuk kabur.

"Jangan sampai besok pagi ada berita utama. CEO Muda Masuk IGD Lagi Gara-Gara Terlalu Posesif di Malam Pertama. Malu-maluin kasta badboy kita, Bro!"

Irwan yang tadinya kaku sampai harus membuang muka ke arah jendela, bahunya bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak. Bahkan Ayah Azeus pun hanya bisa memijat pangkal hidungnya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah dua sahabat putranya itu.

"Sialan lo berdua! Pergi nggak?! Atau gue potong gaji kalian di bengkel?!" ancam Azeus narsis, berusaha menjaga harga dirinya di depan Aluna.

"Eh, kita kan pengusaha mandiri, Bos! Nggak mempan diancem gitu!" teriak Dion dari ambang pintu. Sebelum benar-benar keluar, dia menoleh ke Aluna.

 "Na, kalau dia kumat mesumnya, telepon Gathan aja ya! Biar disuntik obat tidur sekalian!"

Brak!

Pintu apartemen tertutup diiringi suara tawa mereka yang menggema di koridor. Aluna langsung menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat di balik telapak tangan, sementara Azeus mendengus kesal namun tak bisa menyembunyikan senyum tipisnya.

..

Ayah Azeus melirik jam tangannya yang mewah, lalu kembali menatap putra satu-satunya itu dengan tatapan memperingatkan.

"Oke, Tapi pendaftaran dokumen di Kantor catatan sipil butuh waktu. Papa minta dua minggu. Kebetulan minggu ini Papa harus ke luar negeri untuk urusan Ekspansi Bisnis Strategis di London. Kamu tahu sendiri, ini kontrak besar yang tidak bisa ditunda."

Azeus mendengus kasar, wajah narsisnya sedikit tertekuk.

"Dua minggu? Kelamaan, Pa! Keburu ada lalat lain yang ngerubungin Nana!"

"Jangan membantah, Azeus. Gunakan dua minggu itu untuk pemulihan total. Papa tidak mau pengantin laki-lakinya pingsan di depan penghulu karena asam lambung," skakmat sang Ayah yang membuat Azeus akhirnya pasrah sambil memeluk pinggang Aluna lebih erat.

Ayah Azeus kemudian menoleh ke arah Irwan. "Irwan, makanan besar yang sudah disiapkan koki di rumah utama tadi, suruh orang antar ke sini semua. Mubazir kalau dibuang, dan Azeus harus makan makanan sehat tanpa pengawet mulai sekarang."

Aluna langsung mengangguk setuju dengan mata berbinar.

"Iya, Pa. Kirim ke sini saja. Biar Aluna nggak repot masak lagi, tinggal diangetin di microwave kalau Kak Azeus lapar tengah malam."

 Aluna merasa lega, setidaknya tugas "perawat" dadakannya jadi lebih ringan.

Setelah memberikan beberapa instruksi terakhir pada Irwan, Ayah Azeus berpamitan untuk langsung menuju bandara. Begitu pintu apartemen tertutup dan menyisakan kesunyian, Azeus langsung menyandarkan kepalanya di ceruk leher Aluna, menghirup aroma vanila yang sangat ia rindukan.

"Dua minggu ya, Na?" bisik Azeus dengan suara serak yang seksi.

"Siap-siap aja, habis itu aku nggak bakal kasih kamu ampun buat keluar dari kamar ini."

Aluna hanya bisa geleng-geleng kepala, merasakan detak jantung Azeus yang kian stabil namun penuh dengan obsesi yang membara..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!