"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOSOK MISTERIUS
BAB 11
Satu nama keramat yang seharusnya tak terdengar, Tama menoleh dengan tatapan elangnya, tak hanya membuat Tama mendelik bahkan Selin yang berada tak jauh dari Tama pun langsung memasang kuda – kudanya.
“Akhirnya kita bertemu disini..”
Tama menoleh ke arah Asistennya, ada Bayu yang sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya, sontak tatapan Tama sudah mampu dia mengerti, Bayu berjalan mendekati sang Bos.
“Jemput Bu Alisya, Bay!” perintah Selin melalui benda kecil di telinga sehingga Bayu bisa langsung mendengar.
“Bu, Mari ikut saya..” Tama mengusap punggung Istrinya dan meminta Istrinya ikut dengan Bayu, hembusan nafas yang dingin seketika berubah hangat saat menatap sang istri.
“Aku akan menyusulmu..”
“Iya Mas..” Tak bertanya bahkan tak menolak, Alisya menurut mengukuti langkah Bayu.
Menunggu beberapa detik, berkumpul Tama tak lepas memandang kekecewaan sang Istri tercinta sampai Istrinya itu benar – benar pergi menjauh.
“Mau apa kamu?” Menatap lembut beberapa detik yang lalu tak lagi terlihat, Tama sudah kembali dengan memutar tubuhnya.
“Astaga kita baru bertemu setelah lima tahun berlalu, kenapa kamu masih tak beramah tama denganku, Tam?”
Tama memejamkan mata sejenak, ingin rasanya dia telan hidup – hidup manusia di depannya, namun sayang Tama tidak bisa melakukan itu.
“Berani Anda muncul di hadapan saya, Tuan Kevin Alvaro?” tak ada keramahan dalam nada bicara Tama, menatapnya saja sudah sangat tajam apa lagi kata – katanya.
"Aku hanya rindu dengan mu, dan Tam? Apa itu Kakak Ipar?"
“Tutup Mulutmu!”
Tama menggretakan giginya, sungguh dia sudah kepancing emosi. Beruntung Alisya tidak menyaksikan ketidak ramahan suaminya ini, karena siapa pun yang melihat jelas pasti merasa takut.
"Astaga.. kenapa kamu masih saja tak ramah padaku Bang? Bisakah kita melupakan masa lalu kita?"
“Diam atau aku bunuh kamu, Kevin!”
Pria berjas hitam itu tersenyum, jelas dia tak seramah dengan ucapannya pada Tama. Sedangkan Selin hanya diam memandang dari kejauhan, dia hanya memantaunya saja jika memang lawannya sudah berani maju satu langkah saja, Selin langsung memasang kuda – kudanya.
Sedangkan di sisi lain, Alisya merasa ada sesuatu dengan suaminya, terlihat jelas tatapan Suaminya sangat tidak ramah dengan orang itu, baiklah Alisya akan bertanya nanti.
“Bayu..”
“Iya Bu?”
“Aku mau minum air mineral..”
“Baik saya ambilkan, tapi bisakah Ibu tunggu disini?” Tanya Bayu dengan nada ramahnya, dan Alisya langsung menganggukan kepalanya.
“Iya Bayu, aku akan tunggu disini..” Bayu tersenyum dan tak lama Pria berjas hitam itu pergi menjauh, mencari sesuatu yang di butuhkan Nona mudanya.
“Silakan bu..” benar – benar hanya beberapa detik, kini Bayu sudah kembali dengan segelas air mineral.
“Silakan diminum bu,”
“Terimakasih Bayu..” Alisya menatap sekeliling, baru saja dia menenggak air minum di tangannya, kedua matanya sudah mendelik.
“Huueekkk..”
"Bu? Ibu kenapa?" Bayu mendelik dia merebut gelas di tangan Alisya dengan gelisah.
"Bayu minggir! Huueeekkk!!"
Alisya berlari sehingga membuat Bayu panik, pria berambut klimis itu mengikuti langkah nonanya yang memasuki Toilet.
“Bu, Baik – baik saja?”
“Hueeeekkkk!”
“Hueeekkk!!”
Tak terdengar Alisya menjawab pertanyaan Bayu, hanya terdengar suara yang membuat Pria itu semakin cemas.
“Ada apa?”
Tepat Waktu, Selin datang dengan wajah yang juga sudah tidak nyaman, yang jelas saja Selin tetap memantau Bayu melalui benda kecil di pendengarannya dan apa yang Bayu ucapkan pasti Selin mendengarnya.
“Bu Alisya muntah, Selin!” Wanita Cantik itu menghembuskan nafasnya, itu artinya dia harus sesegera mungkin memberikan Info pada sang Bos.
Melalui benda kecil di telinga pria itu berkomunikasi dengan Partner kerjanya.
Tak menunggu lama, Tama datang dengan wajah cemasnya, dia menarik tubuh Bayu yang sedang berdiri di depan pintu.
“Kenapa Alisya?”
Panik?
Tentu saja!!
Tama bahkan sudah panik setengah mati.
“Saya tidak tahu Pak, tadi Ibu minta ambilkan air mineral..”
Tama melirik gelas di tangan Bayu dan langsung mengambilnya, di amati baik – baik air di dalam gelas tersebut Tama takut ada sesuatu di dalam air yang diminum Istrinya.
“Air aman Pak, saya sudah coba dulu dulu..”
“Kamu yakin??”
“Saya sangat yakin Pak.”
Tama mengeluarkan nafasnya, dia masuk ke dalam toilet tanpa mengetuknya.
“Astaga Tam, Ini Toilet Wanita!” Selin mengomel, memang Bosnya ini selalu seenaknya saja. Tapi apalah daya siapa yang bisa melarang sang Bos.
“Sayang?”
Tama mendelik saat melihat Alisya yang sudah terduduk lemas di dalam toilet, wajahnya pucat kedua matanya sudah terpejam.
“Sayang, kamu kenapa?” Tama menahan kepala Alisya yang ingin terbentur lantai, Istri kesayangannya itu sudah sangat lemas.
“Aku mual Mas..”
Tama mengangguk dia memeluk sebentar sang istri memberikan rasa nyaman sebelum mengangkat sang Istri dan sesegera mungkin keluar dari sana.
Di dalam mobil perhatian Tama tak sedikitpun teralihkan dari sang Istri. Memang sepanik ini Tama pada Alisya, terkesan berlebihan tapi memang begitulah Tama.
“Kita ke dokter ya?” Tawar Tama dengan nada lembutnya namun Alisya hanya menenangkan kepalanya.
“Tidak usah mas, aku mau pulang saja..”
Tama mengangguk dan melirik Selin yang duduk di depan, mobil yang di kendarai Bayu pun melaju dengan cepat dan tak butuh waktu lama mereka tiba di Hotel.
“Aku Gendong ya?”
“Iya Mas..”
Selin membukakan pintu, dia membantu Tama yang sedang menggendong Istrinya.
“Pelan – pelan Tam, tas Alisya biar aku yang pegang..” Tama mengangguk dan sekilas menatap Sang Sekretaris.
“Terimakasih Selin..” Tak menjawab Gadis cantik itu hanya menganggukan kepala.
Sesampainya di dalam kamar Tama langsung membaringkan sang Istri, di kecupnya dengan sayang sehingga membuat Alisya terpejam.
“Istirahatlah sayang..” Setelah mengganti baju dan membersihkan riasan sang Istri, Tama kembali keluar kamar menemui Asistennya.
"Apa aku bilang? Ini yang aku takutkan Tam! Tapi kamu malah menyepelekan.." Selin mengomel, sedangkan yang di omeli masih terlihat biasa saja, tenang karena Istrinya sudah baik – baik saja.
“Alisya Hanya kecapean Sein,”
Selin memutar bola matanya, berbicara dengan Tama ini memang melelahkan, apapun yang di larang pasti dia lakukan, seekstrim itukah seorang Tama??
Karena menurut Tama Larangan adalah Perintah!
“Pantau terus Kevin, aku tidak mau dia melangkah lebih jauh..”
“Di luar Prediksiku ternyata Kevin ada di sini, dan alarmku sudah menyala Tam, aku tidak mau Adik Tirimu itu nekat ke kamu..” Tama menganggukan kepala.
“tenang saja, dia tidak akan berani menyentuhku..”
Selin membuka laptopnya, terlihat Gadis itu mengirimkan satu pesan yang Tama sediri tidak tahu apa itu.
“Istirahatlah, Aku ingin menemani Istriku..” Selin mengangguk dengan wajah yang masih terlihat cemas.
“Argo dan Goni Berjaga di depan kamar, aku cemas Kevin akan nekat saat kamu lengah..”
Tama hanya mengangguk, dia sangat percaya Selin akan melakukan apapun yang terbaik untuknya.
“Kamu tidurlah dengan Nyenyak, jangan terlalu mencemaskan aku..”
Selin mengangguk sesaat Tama mengusap kepala Gadis di depannya.
“Kamu harus berjanji padaku kalau kamu akan selalu baik – baik aja..” Bisik Selin dengan nada yang sangat pelan.
“Aku Berjanji”
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya