Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
Sore harinya sepulang kerja, Azka mendapatkan teguran dari Andin yang mengetahui putranya melabrak Celina di kantornya. "Apa kamu tidak bisa terus membela wanita itu?"
"Ma, Celina sudah keterlaluan. Dia berani menampar dan menarik rambutnya Elma. Apa Mama tak dapat membuka mata melihat dan mendengar sikap calon menantu kesayangan Mama itu?" singgung Azka.
"Mama lebih percaya Celina daripada wanita murahan itu!" kata Andin.
"Ma, Elma bukan wanita murahan. Dia hanya tak dapat melawan saja, Celina punya segalanya. Jadi, dia dapat mengatur semua orang sesuai keinginannya!" tuding Azka lagi.
"Kamu salah, Celina adalah orang yang paling tulus dengan keluarga kita. Suatu hari nanti kamu akan mengerti mengapa Mama bersikeras menjodohkan kalian!"
"Memangnya apa alasannya?" Azka penasaran.
"Kamu tidak akan percaya, kami ingin kamu menilainya sendiri!" ucap Andin.
"Apa salahnya Mama memberitahu aku?" tanya Azka yang begitu penasaran.
"Mama cuma mau kamu yang mencari tahu sendiri!" jawab Andin.
Azka masuk ke kamarnya setelah mendapatkan teguran dari sang mama. Celina berhasil mempengaruhi semua orang agar berpihak kepadanya. Azka menjadi yakin jika Celina adalah orang yang sangat licik dan jahat.
Malam harinya, Azka menghubungi Celina untuk pertama kalinya. Ia mengajak wanita itu menikmati makan malam bersama sembari membahas persiapan pernikahan.
Celina sampai 10 menit setelah Azka, ia duduk dihadapan pria itu yang kelihatan begitu manis dimatanya. Celina melemparkan senyuman terindahnya.
"Aku sudah memesan makanan kesukaanmu, kebetulan aku tadi bertanya kepada mamaku. Kamu 'kan sering bercerita dengannya, jadi aku mencoba menanyakan dan mamaku ternyata tahu makanan yang kamu sukai," kata Azka dengan lembut membuka percakapan.
Ya, makanan memang telah tersaji dihadapan Celina. "Terima kasih sudah mencari tahu tentang makanan kesukaanku."
"Silahkan dimakan!" Azka lebih dulu mencicipi makanannya.
Celina memandang makanan dihadapannya dengan ragu. Ia takut jika Azka mencoba meracuninya.
"Kenapa masih dipandang? Kamu takut, ya?" Azka menerka.
"Aku percaya denganmu. Kamu 'kan calon suami aku," kata Celina tersenyum.
"Ya sudah, silahkan dimakan!" ucap Azka.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kita yang diurus keluargaku, apa kamu setuju?" Celina mulai menyantap makanannya. Seluruh persiapan buat acara janji dan resepsi pernikahan diserahkannya kepada saudara dari pihak ibu kandungnya. Dia tak mau repot mengurusnya karena mereka akan memberikan terbaik dan sesuai keinginannya.
"Terserah kamu saja, aku terima bersih saja!" kata Azka sembari memperhatikan Celina mencicipi makanannya.
Celina yang baru memasukkan makanannya ke dalam mulutnya merasakan keanehan. Rasa yang sangat pedas tetapi tak dapat dia cium ketajamannya sebelum menyantapnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Azka melihat Celina mendadak diam, wajah mulai memucat.
"Rasanya sangat pedas, aku tidak kuat!" jawab Celina meraih segelas air putih lalu meneguknya.
"Kamu tidak suka pedas?" tanya Azka yang pura-pura panik.
"Kamu sengaja, ya!" jawab Celina menuding, ia menatap Azka yang tersenyum seringai.
"Maafkan aku!" Azka melemparkan senyuman jahat.
Celina yang tahan dengan rasa pedas makanannya mencoba berdiri namun kakinya tak kuat sehingga ia terjatuh dan pingsan.
"Celina!!" Azka mulai panik, ia tak menyangka wanita dihadapannya akan pingsan. Dia pikir hanya mengalami perut mules saja.
Semua orang yang ada di restoran matanya tertuju kepada Celina yang pingsan bahkan beberapa diantaranya berteriak karena terkejut. Azka mendekati Celina dan memangku kepala wanita itu, ia mencoba membangunkannya.
"Tuan, cepat bawa dia ke rumah sakit!" pinta salah seorang tamu.
Azka segera menggendong Celina ke mobil, ia ditemani sopir dan seorang asistennya Celina. Keduanya menghampirinya karena melihat Azka membawa majikannya dalam keadaan panik.
-
Satu jam kemudian, orang tuanya Azka tiba di rumah sakit. Andin yang kesal dengan putranya melayangkan tamparan ke wajah pria itu. "Mama sudah bilang kepadamu kalau Celina tidak bisa makanan yang sangat pedas!"
"Maafin aku, Ma. Aku pikir rasa pedasnya tak membuatnya begini!" Azka mencoba membela diri.
Hendra yang melihat calon besannya memarahi Azka mendekatinya dan berkata, "Ini bukan salahnya, ini hanya musibah kecil!"
"Celina hampir mati, anda cuma bilang bukan salah putra saya dan musibah kecil. Tuan Hendra sebagai seorang ayah kenapa tidak memiliki kekhawatiran terhadap anaknya sendiri?" singgung Andin yang terlihat kesal dengan sikapnya Hendra.
"Celina baik-baik saja, itu lebih dari cukup. Saya bukannya tak khawatir, tapi saya tak mau Kak Andin memarahi Azka," jelas Hendra biar tidak salah paham.
"Saya memarahi Azka biar dia tidak mengulangi kesalahannya dan mau bertanggung jawab!" kata Andin melirik putranya.
Dua jam kemudian, mereka tiba di rumah. Celina juga sudah masuk ke ruangan rawat inap ditemani 2 orang pelayan rumahnya.
"Kamu sudah mempermalukan kami!" Andin melanjutkan kemarahannya di rumah.
"Aku minta maaf, Ma!"
"Bagaimana jika keluarga Celina dari pihak ibunya menuntut kamu? Bisa habis kita!!" kata Andin yang masih sangat kesal putranya ceroboh.
"Aku janji tidak akan mengulanginya dan meminta maaf kepada keluarganya!"
"Awas saja jika hal itu terjadi, Mama tidak sudi memaafkanmu!!" Andin kemudian berlalu.
Angga yang sedari tadi di rumah sakit diam dan berusaha meredakan emosi istrinya menghampiri putranya. "Papa tahu kamu sengaja dan ingin memberikan pelajaran kepada Celina 'kan?"
Azka menatap papanya tanpa mengiyakan atau menyangkalnya.
"Suatu hari nanti kamu akan menyesal melakukannya!" kata Angga.
"Aku cuma ingin membalas sakit hatinya Elma dengan hukuman kecil, tapi aku tak tahu jika bubuk cabe hampir saja membu-nuhnya!" Azka mulai merasa bersalah.
"Lupakan Elma, fokus dengan pernikahan kalian. Terkadang sesuatu yang tidak kita sukai, ternyata malah itulah yang terbaik buat kita!" nasihat Angga.
"Iya, Pa."
"Sudah malam, pergilah tidur. Besok pagi kembalilah ke rumah sakit!" kata Angga.
***
Esok paginya, Azka ke rumah sakit menjenguk Celina. Begitu sampai, ia melihat Celina duduk di atas ranjang dengan kaki berselonjor dan laptop berada di pangkuannya. Tak ada riasan wajah namun masih kelihatan cantik kala wanita itu melemparkan senyuman.
"Kenapa kamu tidak beristirahat?" Azka duduk di samping Celina.
"Sebentar lagi kita menikah jadi aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku," kata Celina.
"Kamu 'kan lagi sakit lebih baik beristirahat!" kata Azka.
"Aku tidak apa-apa!" ucap Celina kembali tersenyum.
"Aku minta maaf tentang kejadian semalam!" kata Azka lagi meskipun sebelumnya dia sudah meminta maaf.
"Ya, aku tahu kamu pasti tak sengaja dan Tante Andin lupa memberitahumu jika aku tak sanggup makan makanan yang sangat pedas."
Azka terdiam.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Celina gantian bertanya.
"Sebentar lagi aku ke sana. Aku ke sini cuma ingin memastikan lagi kamu baik-baik saja," jawab Azka.
"Terima kasih, ya, sudah mau perhatian denganku. Mungkin jika tidak ada kejadian ini, kamu akan bersikap cuek," sindir Celina.