NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aluna ketahuan

Udara sore di Surabaya terasa lembap, seakan memeluk sisa-sisa kepedihan pagi. Setelah memastikan kondisi Bu Sasmi stabil di rumah, Aluna menjalankan rutinitas yang terpaksa ia lakukan, bersiap bekerja. Ia melangkah masuk ke rumah Friska, sahabat sekaligus rekan kerjanya.

Friska sudah siap sepenuhnya, mengenakan dress pendek berwarna merah marun yang pas di tubuhnya, menonjolkan lekuknya dengan percaya diri. Make-up matanya smokey dan bibirnya merah menyala. Ia terlihat on point, siap memburu malam.

“Jadi gimana Ibu?” tanya Friska, nadanya lembut penuh perhatian jauh dari citra femme fatale yang ia tampilkan.

Aluna meletakkan tasnya di sofa dan mulai membuka jilbabnya. “Alhamdulillah Ibu udah baik. Ini aja Ibu yang nyuruh aku kerja. Katanya nggak apa-apa aku tinggal.” Aluna membiarkan rambut hitam lurusnya jatuh.

Friska mendengus kesal. “Hmmm… Ibu pasti shock lihat kalian berantem. Lagian aku nggak habis pikir, ipar kamu itu astaghfirullah, muka dua banget yah. Arrrghhh, rasanya ingin ku jambak, Lun.”

“Aku juga. Cuma aku tahan sedari kemarin. ” balas Aluna terkekeh, mengambil cermin kecil dan mulai merias wajahnya. Ia sengaja memakai foundation sedikit lebih tebal untuk menutupi lebam.

Friska menghampirinya, tatapannya menyipit. “Aluna…..” Friska menarik dagu Aluna perlahan, melihat saksama wajah sahabatnya. “Pipi kamu bengkak dan bibir kamu ini luka…. Kok bisa? Jangan bilang ipar kamu itu nampar kamu lagi?” tebak Friska dengan nada geram yang tertahan.

Aluna menggeleng dan tersenyum kecut. Senyum itu terasa pahit, lebih seperti ringisan.

Friska menaikkan alisnya, tebakannya meleset. “Terus? Kak Sultan?” tanyanya lagi, suaranya tercekat.

Aluna mengangguk pelan. Mata yang sedang ia rias itu kembali berkaca-kaca. Sungguh, saat ini ia sangat sakit hati kepada kakaknya. Ia baru saja mendapat perlakuan kasar dari Kakak yang selama ini ia lindungi utangnya.

“Keterlaluan Kak Sultan…. Kakak macam apa dia. Pasti ini hasutan dari ipar kamu.” Friska sungguh emosi. Ia membuka laci, mengambil salep khusus luka memar. “Sini… aku obatin dulu. Make up-nya di klub aja.” Friska membersihkan pipi dan bibir Aluna dengan telaten.

Aluna hanya diam, tubuhnya kaku menahan tangis. Tak lama kemudian, air matanya menetes di pipi. Friska menghentikan gerakan tangannya. “Apa ini sakit?” tanyanya hati-hati.

Aluna menggeleng. “Tidak… ini tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit hati aku, Fris. Aku sungguh sakit hati sama Kak Sultan. Baru kali ini dia main tangan sama aku.” Tangis Aluna pun pecah. Ia mengeluarkan semua isi hatinya kembali pada Friska, menumpahkan rasa dikhianati yang menumpuk. Friska tidak berkomentar apa pun, ia membiarkan Aluna mengeluarkan semuanya, kemudian membawa Aluna dalam pelukannya dan mengusap lembut punggung Aluna.

Setelah Aluna cukup tenang, Friska berbisik. “Sudah…. kamu harus bangkit. Nggak usah terlalu mikirin Kakak dan Ipar kamu. Kamu bukan adik yang pembangkang. Tindakan kamu selama ini sudah benar. Kamu adalah adik yang sangat baik. Makanya aku menyayangi kamu seperti adik aku sendiri. Kalau saja kita beneran saudara, aku sangat beruntung memiliki adik seperti kamu. Kakakmu saja yang tidak tahu syukur memiliki adik cantik dan setulus ini. Hm.” Friska melepaskan pelukannya dan memberikan senyum penuh semangat.

“Terima kasih, Friska. Kamu selalu menjadi pendengar yang baik buat aku."  kata Aluna, memeluk erat Friska sekali lagi.

“Ya sudah… nggak usah sedih-sedih lagi. Kita berangkat kerja yuk.” ajak Friska.

**

Friska memacu motor matic Aluna membelah kemacetan kota. Aluna duduk di boncengan, memeluk pinggang Friska.

“Fris, apa kamu menerima tawaran Pak Daniel?” tanya Aluna, menyuarakan pikiran yang sedari tadi mengganggu.

“Hmmm….. Iya. Aku akan menerimanya. Sayang kalau dilewatkan. ” kata Friska, suaranya riang dan tersenyum penuh kemenangan.

Aluna mengeratkan pelukannya. Entah kenapa dia menjadi sedih akan ditinggalkan oleh Friska dan dia akan sendiri di klub. Ia merasa jembatan terakhirnya di dunia itu akan segera hilang.

“Apa kamu keberatan, Lun?” tanya Friska, melirik Aluna di balik spionnya.

“Tidak sama sekali. Aku senang, jadi kamu tidak terikat di klub lagi dan tidak harus melayani banyak orang. Hanya Pak Daniel saja. Hanya saja……” kata Aluna, kalimatnya menggantung.

“Hanya saja apa, Lun?” tanya Friska penasaran.

“Aku akan kesepian di klub tanpa kamu.” kata Aluna sedih.

Friska terkekeh. “Tenang saja. Kamu tidak akan pernah kesepian karena aku akan selalu ada buat kamu.”

“Maksudnya gimana?” tanya Aluna.

“Sudah nggak usah banyak tanya. Nanti kamu bakal tahu juga. Kita hampir sampai.” Friska tidak ingin menjawab. Ia lantas membelokkan motornya ke gedung klub.

Friska dan Aluna turun dari motor, mereka sempat mengobrol sebentar di parkiran karena Friska terus membuat Aluna penasaran. Mereka tertawa dan bercanda, mencoba mengusir sisa kesedihan Aluna.

Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan mereka.

Itu adalah Budi. Setelah pulang kerja tadi, ia memutuskan untuk langsung ke klub karena ingin bertemu Friska cepat dan berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu berduaan dengannya.

Sebelum ia sempat turun dari mobilnya, motor Friska melaju di depannya. Ia sudah senang karena bertemu Friska, tapi senyumnya berubah jadi heran ketika Friska sedang bercanda dengan seseorang yang dibonceng.

Saat Aluna melepas maskernya, Budi terkejut. “Aluna….”

Ia yakin itu adalah Aluna. Apa sekarang dia memang buka hijab? Tapi apa yang sedang Aluna lakukan di tempat seperti ini? Budi bertanya-tanya, bingung karena pakaian kerja Aluna (blus dan rok biasa yang ia pakai dari rumah) belum diganti, tidak seperti Friska yang memang dari rumah sudah seksi.

Budi segera mengambil ponselnya dan mengarahkan kameranya ke arah mereka. Klik! Klik! Ia mengambil beberapa potret mereka sebelum Aluna dan Friska masuk ke dalam klub dengan senyum mengambang.

Budi juga ikut masuk. Ia tidak langsung menampakkan diri di hadapan mereka. Ia harus memastikan jika itu benar Aluna dan apa mungkin dia bekerja di klub ini juga. Ia mengawasi dari sudut bilik kostumer, mengawasi lorong di mana Aluna dan Friska menghilang ke ruang ganti.

Tak berselang lama, Friska dan Aluna keluar. Friska langsung bergegas ke ruangan VIP di mana Pak Daniel sudah menunggunya.

Sedangkan Aluna menuju meja bar. Penampilannya sudah berubah total. Bodycon dress hitam ketat, rambut disanggul tinggi, dan make-up smokey yang tebal membuat wajahnya yang terluka tak lagi terlihat polos. Ia mengambil jus jeruk, duduk sebentar, membiarkan tubuhnya rileks.

Budi yang mengamati dari jauh, sampai menganga. Ia tak menyangka gadis yang disukainya dulu, Aluna yang selalu menjaga pandangan dan menutup auratnya, kini berubah menjadi perempuan malam dengan pakaian yang sangat berani dan seksi. Jantungnya berdebar kencang, antara terkejut dan merasakan kekecewaan mendalam.

Budi mengambil beberapa gambar Aluna dan kali ini, ia juga merekam beberapa video.

Tak berselang lama, seorang pelanggan Roger menghampiri Aluna, merangkul pundaknya dengan akrab. Aluna tersenyum, senyum profesional yang dilatih dan mereka menuju meja yang sudah dipesan Roger.

Aluna tertawa sambil mendengar cerita Roger. Sesekali Roger memegang dagu Aluna karena gemas. Budi merekam semua interaksi itu. Aluna menuangkan minuman untuk Roger dengan cekatan, lalu Roger kembali merangkul Aluna dengan mesra.

Setelah mendapat banyak foto dan video yang dirasanya cukup sebagai 'bukti', Budi mengirimnya kepada Sultan, Kakak Aluna.

Selesai dengan misi gelapnya, Budi menarik napas, menegakkan bahu dan melangkah mantap menuju meja Aluna.

“Aluna……..” panggil Budi.

Panggilan itu menghentikan tawa Aluna. Wajahnya yang semula cerah karena mendengar cerita konyol Roger, seketika pias. Ia menoleh. Matanya membulat sempurna melihat sosok yang seharusnya tidak pernah ada di tempat seperti ini.

Budi.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!