Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Tumbal
Rini yang kebetulan masih kerabat jauh Ibnu, langsung membuang muka. Menunduk, mencatat di buku catatannya. Entah apa yang dicatat.
Dasar nenek gayung! Rese banget! Ya udah deh, mending gue jujur. Ngapain nutupin kejadian yang sebenernya?
"Saya memang piket, Pak Ibnu. Tapi saya diminta atasan saya mengerjakan tugas administrasi."
Aditi berbicara sambil memandang Ibnu. Ibnu tersenyum manis padanya. Aditi mencebikkan bibir.
Ibnu adalah pengagum Aditi, sejak awal Aditi bekerja di Bina Ananda. Kebalikannya, Aditi adalah pembenci Ibnu.
Aditi sudah sering menolak usaha pendekatan Ibnu. Ia tak mau jadi korban kadal buntung ala ala Ibnu. Sang wakil ketua yayasan itu sudah punya istri, tapi masih saja tebar pesona pada Aditi.
"Atasan? Siapa Bu Diti?" kejar Ibnu, tetap dengan lembut.
Aditi melirik ke arah Rini yang kini sudah tak mencatat. Rini mendelik, bagai adegan ibu tiri di sinetron. Aditi langsung membuang muka.
"Itu, Pak Ibnu. Yang lagi melotot, Bu Rini." Aditi mengalihkan pandangan ke arah Rini.
Bodo amat dah, gue bongkar aja lah! Lagian hobi banget maenin mata. Gue colok ntar! Eh, nggak jadi, takut, nenek gayung.
Ibnu menahan tawa, ia paham betul Rini memang suka melotot. Ia juga menoleh ke arah sang wakil kepala sekolah urusan kurikulum itu. Semua mata di ruangan itu menatap Rini.
"Benar itu, Bu Rini?"
Rini terkesiap. Ia menegakkan duduknya. "Hhhmm, nak Ibnu, betul saya memang meminta tolong Bu Diti input nilai ke Raport Digital. Kebetulan saya sedang banyak kerjaan.
Saya cuma minta sebagian aja. Tapi Bu Diti memaksa input semuanya. Katanya kasian sama saya. Baik memang Bu Diti itu. Tapi, gara-gara nolong saya malah jadi kurang optimal kerjanya."
Kini giliran mata Aditi yang mendelik mendengar cerita versi Rini. Ia menggelengkan kepala.
"Bu Rini, maaf kayaknya ada kronologis yang salah. Saya menolak meninggalkan meja piket. Tapi Ibu memaksa saya.
Bahkan Ibu bilang mau menggantikan tugas saya." Hidung Aditi kembang kempis karena bicara dengan menggebu-gebu.
"Bu Diti, saya tau Bu Diti itu masih muda, semangatnya menggebu. Tapi masa menuduh saya seperti itu.
Saya ini mungkin seumuran ibunya Bu Diti lho. Saya nggak mungkin bohong, takut, udah tua. Jangan buat saya di posisi seperti itu."
Mata Rini berkaca-kaca. Ibnu menipiskan bibir. Aditi memutar matanya.
Ibnu sebagai pimpinan rapat akhirnya memutuskan untuk menjeda rapat. Drama semakin panas.
Ibnu menghampiri Aditi yang berdiri di luar ruang rapat. Tertunduk sambil menggigit kuku.
"Diti, kamu nggak apa-apa?" Ibnu berbisik.
Ibnu sebenarnya termasuk golongan pria tampan. Wajahnya manis dengan perawakan tinggi besar. Ia menyadari ketampanannya itu, makanya bisa menjadi kadal buntung.
Aksinya cukup berhasil. Ibnu bisa menebar jala di mana-mana. Tapi ekornya benar-benar buntung ketika mengejar Aditi. Ditolak sejak dini. Dari pertama kali pendekatan.
"Apa-apa lah Pak! Tambah parah gara-gara Bapak mepet ini!" Aditi menggeser tubuhnya yang memang dipepet Ibnu.
Ibnu tersenyum kecil melihat reaksi Aditi. "Kamu mau kan saya tolong?"
"Hah? Saya emang wajib ditolong Pak! Saya bukan pihak yang harus bertanggung jawab sepenuhnya." Aditi mendengus.
"Ya, saya tau kok situasinya. Saya tolong kamu. Tapi nanti buka blokiran nomor saya ya. Masa abis saya tolong, sekedar bales WA saya, nggak mau?" Ibnu mengedipkan sebelah matanya.
Aditi langsung memutar tubuhnya. Ia berjalan kembali ke ruang rapat. Ia tak peduli akan respons Ibnu nantinya.
Sekolah toksiiiik! Nggak guru, nggak pengurus! Pantes anak-anaknya sumbu pendek. Aargh, kenapa gue bisa nyasar ke sini?!
Aditi kembali duduk di posisinya semula. Ibnu melanjutkan jalannya rapat. Kini giliran ketua komite berbicara, Selly.
"Saya mewakili orang tua, berharap ada penyelesaian terbaik untuk masalah ini. Jangan sampai kepercayaan orang tua menurun kepada sekolah.
Apalagi sebentar lagi memasuki akhir tahun. Kita akan menerima siswa baru. Jangan sampai insiden ini menjadi preseden buruk bagi Bina Ananda."
Selly menyelesaikan sambutannya sambil menatap Ibnu, sang wakil ketua yayasan yang manis menggigit. Selly berikan senyum terbaiknya. Ibnu menganggukkan kepala.
Agenda selanjutnya adalah paparan dari Salman, sang kepala sekolah. Salman memberikan kesaksian yang memberatkan Aditi. Ia menceritakan bahwa insiden serupa pernah terjadi saat Aditi piket, sebulan yang lalu.
Aditi memejamkan matanya. Ia benar-benar menjadi ayam geprek di rapat ini. Ibnu masih memandangnya. Aditi hanya bisa membalas menatap dengan malas.
Setelah mendengar pendapat dari jajaran pengurus yayasan, guru yang berwenang dan komite, akhirnya diputuskan bahwa harus ada yang bertanggung jawab atas insiden ini.
Pertanggungjawaban berupa pemecatan karena kelalaian dalam bekerja. Yang dipecat tentu saja Aditi. Ibnu membaca hasil keputusan dengan berhati-hati.
"Tidak usah repot-repot pecat saya, Pak Ibnu! Saya mengundurkan diri sebagai guru Bina Ananda!"
Aditi bangkit dari duduknya dan berkata dengan lantang. Semua terkesiap. Ibnu menahan napas. Salman menutup wajah dengan telapak tangannya. Rini mencebikkan bibir.