Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Rencana
Bab 19 — Rencana
Karena mulai saat ini…
Alisha Mahendra memutuskan berhenti menunggu.
Ia berdiri di depan jendela apartemen kecil yang jarang ia gunakan. Pemandangan kota di luar terlihat sibuk seperti biasa. Lampu kendaraan mulai memenuhi jalan.
Pikirannya tetap tertuju pada satu orang.
Alisha Pratiwi.
Gadis itu muncul tiba-tiba lalu mengambil perhatian Alvaro.
Hal itu tidak bisa ia terima.
Ponsel di tangannya kembali bergetar.
Pesan masuk dari nomor yang tadi ia hubungi.
Sebuah alamat.
Sebuah waktu pertemuan.
Alisha membaca pesan itu tanpa ekspresi. Ia langsung mengambil tasnya lalu keluar dari apartemen.
Mobil hitam yang sama kembali melaju meninggalkan gedung itu.
Perjalanan kali ini menuju kawasan yang berbeda dari pusat kota.
Bangunan di sekitar mulai terlihat tua. Lampu jalan tidak terlalu terang. Beberapa toko sudah tutup.
Mobil berhenti di depan sebuah bar kecil.
Tempat itu tidak terlalu ramai. Musik terdengar pelan dari dalam.
Alisha turun dari mobil lalu masuk tanpa ragu.
Beberapa pria yang sedang duduk di dekat pintu menoleh saat melihatnya.
Penampilannya terlihat sangat berbeda dari suasana tempat itu.
Gaun sederhana tetapi mahal.
Sepatu hak tinggi.
Tatapan dingin.
Ia berjalan menuju meja di sudut ruangan.
Seorang pria sudah duduk di sana.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Rambutnya pendek. Wajahnya terlihat keras seperti seseorang yang sudah lama hidup di jalanan.
Pria itu tersenyum saat melihat Alisha.
“Kamu datang juga.”
Alisha duduk di hadapannya.
“Aku tidak suka menunggu.”
Pria itu mengangkat gelas minumnya.
“Aku juga.”
Beberapa detik mereka saling menatap.
“Aku dengar kamu butuh bantuan,” kata pria itu.
Alisha langsung ke inti pembicaraan.
“Aku ingin seseorang diawasi.”
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Hanya diawasi?”
Alisha tidak langsung menjawab.
Ia mengeluarkan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja.
Foto Alisha Pratiwi muncul di layar.
Pria itu melihat foto itu beberapa detik.
“Gadis ini?”
“Iya.”
“Siapa dia?”
Alisha menjawab singkat.
“Seseorang yang terlalu dekat dengan orang yang seharusnya milikku.”
Pria itu tersenyum kecil.
“Aku mulai mengerti.”
Ia menatap foto itu lagi.
“Jadi apa yang kamu inginkan?”
Alisha menatap lurus ke arah pria itu.
“Aku ingin tahu semua tentang hidupnya.”
“Ke mana dia pergi.”
“Siapa yang ia temui.”
“Setiap hari.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Itu pekerjaan mudah.”
Ia lalu bertanya lagi.
“Kalau ternyata dia terus berada di dekat orang yang kamu maksud?”
Alisha terdiam beberapa detik.
Ia mengingat kembali pemandangan di depan rumah kos tadi pagi.
Alvaro membuka pintu mobil untuk Alisha Pratiwi.
Senyumnya.
Tatapan matanya.
Perasaan panas kembali muncul di dadanya.
“Kalau itu terjadi,” katanya pelan, “aku ingin dia dijauhkan.”
Pria itu menatapnya dengan lebih serius.
“Seberapa jauh?”
Alisha menjawab tanpa ragu.
“Sejauh mungkin dari kehidupan Alvaro.”
Pria itu tertawa kecil.
“Pekerjaan seperti itu biasanya tidak murah.”
“Aku tidak peduli.”
Alisha mengeluarkan sebuah kartu lalu meletakkannya di atas meja.
“Selama hasilnya sesuai.”
Pria itu mengambil kartu itu lalu memasukkannya ke sakunya.
“Baik.”
Ia berdiri dari kursinya.
“Aku akan mulai malam ini.”
Sebelum pergi ia berhenti sebentar.
“Oh ya,” katanya sambil menoleh.
“Ada satu hal yang perlu kamu tahu.”
“Apa?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Beberapa teman lamaku sekarang bekerja untuk seseorang yang mungkin kamu kenal.”
Alisha mengerutkan kening.
“Siapa?”
Pria itu menjawab santai.
“Bram.”
Nama itu membuat Alisha terdiam.
Ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Beberapa kali Alvaro menyebutnya dalam percakapan dengan orang tuanya.
Bram adalah seseorang yang memiliki masalah dengan keluarga Mahendra.
Pria itu melanjutkan.
“Kalau kamu butuh sesuatu yang lebih… mereka bisa membantu.”
Alisha menatapnya beberapa detik.
“Kalau perlu, aku akan menghubungimu lagi.”
Pria itu mengangguk lalu pergi meninggalkan bar.
Alisha tetap duduk di tempatnya.
Pikirannya mulai menyusun sesuatu yang lebih besar.
Jika orang-orang Bram benar-benar terlibat…
Mungkin rencananya bisa berjalan lebih mudah.
Sementara itu, di sisi lain kota, Alvaro baru saja keluar dari kantor.
Malam sudah turun. Lampu jalan menyala terang.
Ia berjalan menuju mobilnya saat ponselnya berdering.
Nama Alisha Pratiwi muncul di layar.
Ia langsung mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
Suara gadis itu terdengar sedikit lelah.
“Kamu masih di kantor?”
“Baru keluar.”
“Kamu sudah makan?”
Alvaro tersenyum tipis.
“Belum.”
“Aku juga belum.”
Alvaro membuka pintu mobilnya.
“Kalau begitu aku jemput.”
Alisha Pratiwi sempat diam beberapa detik.
“Kamu tidak perlu repot.”
“Tidak masalah.”
Alvaro sudah menyalakan mesin mobilnya.
“Tunggu aku.”
Telepon ditutup.
Mobil hitam itu melaju menuju rumah kos tempat Alisha tinggal.
Beberapa menit kemudian, sebuah motor berhenti di ujung gang yang sama.
Seorang pria duduk di atas motor itu.
Matanya memperhatikan mobil yang baru saja masuk ke gang.
Ia mengambil ponsel lalu memotret dari kejauhan.
Foto Alvaro keluar dari mobil.
Foto Alisha Pratiwi berjalan mendekatinya.
Beberapa detik kemudian foto lain dikirim ke sebuah nomor.
Di layar ponsel penerima terlihat jelas wajah mereka berdua.
Alisha Mahendra membaca pesan itu di dalam mobilnya.
Matanya menyipit saat melihat foto tersebut.
Mereka terlihat sangat dekat.
Tangannya mengepal pelan.
Beberapa menit kemudian pesan balasan muncul.
Pria yang ia temui di bar tadi menulis singkat.
“Pengawasan sudah dimulai.”
Alisha menatap layar ponsel cukup lama.
Pikirannya semakin yakin.
Ia tidak bisa menunggu lebih lama.
Jika Alisha Pratiwi terus berada di dekat Alvaro…
Semuanya akan semakin sulit.
Ia mengetik balasan.
“Pastikan dia tidak menyadari apa pun.”
Pesan langsung terkirim.
Di ujung kota yang lain, pria di atas motor membaca pesan itu lalu tersenyum.
Ia memasukkan ponselnya ke saku.
Matanya kembali menatap ke arah rumah kos.
Alvaro dan Alisha Pratiwi baru saja masuk ke mobil.
Motor itu menyalakan mesin.
Pria itu mulai mengikuti mobil dari jarak jauh.
Tanpa disadari oleh Alvaro maupun Alisha…
Seseorang sudah mulai mengawasi setiap langkah mereka.
Seseorang yang tidak ragu melakukan apa saja.
Karena malam itu…
Rencana perlahan mulai bergerak.
Alisha Pratiwi belum tahu bahwa dirinya sudah menjadi target.
#bersambung