(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 107: Tungku Besi Fana
Di sebuah ruang bawah tanah yang lembap di perkebunan terbengkalai pinggiran Ibukota, cahaya obor berkedip-kedip menembus kegelapan.
Di atas meja batu panjang, mayat utusan Kerajaan Yan terbaring kaku. Zhao Xuan, mengenakan celemek kulit di atas jubah hitamnya, berdiri dengan tenang memegang sebuah pisau bedah yang ditempa dari baja biasa. Di belakangnya, Jue Ying dan empat bayangan elit Sekte Langit Asura berdiri mematung, menatap Tuan mereka dengan rasa hormat yang bercampur ngeri.
Tanpa sedikit pun keraguan, Zhao Xuan membelah dada mayat tersebut dengan presisi yang membuat tabib paling berpengalaman sekalipun akan menahan napas. Ia tidak memotong sembarangan; pisau bajanya meluncur mulus memisahkan otot dan tulang rusuk, mengekspos jaringan meridian di sekitar Dantian pria tersebut.
Dantian-nya sangat keruh, batin Zhao Xuan, mata emas asuranya memindai aliran energi yang sudah mati di dalam mayat itu. Dia memaksa membuka meridiannya dengan metode yang sangat kasar. Namun, akar spiritual di tubuh fana ini memang mulai tumbuh. Segel Dunia Tianyun benar-benar telah retak. Qi mengalir bebas dari celah dimensi.
Zhao Xuan menarik pisaunya dan menoleh ke arah Jue Ying. "Apakah kalian membawa apa yang kuminta?"
Jue Ying segera melangkah maju, membawa sebuah kotak kayu. Saat kotak itu dibuka, bau anyir darah yang sangat pekat langsung memenuhi ruangan. Di dalamnya terdapat jantung raksasa milik serigala bermutasi (Binatang Iblis tingkat rendah) yang memancarkan pendaran merah redup.
"Letakkan di kuali," perintah Zhao Xuan santai.
Di sudut ruangan, tidak ada tungku alkimia bermotif naga atau Tungku Delapan Trigram. Yang ada hanyalah sebuah kuali besi hitam tebal yang biasa digunakan juru masak fana untuk merebus kaldu tulang, diletakkan di atas tumpukan arang kayu yang menyala.
Zhao Xuan berjalan mendekati kuali tersebut. Bagi seorang alkemis Benua Tengah, meracik pil tanpa api spiritual dan tungku giok adalah sebuah kemustahilan yang akan berujung pada ledakan. Tapi Zhao Xuan bukanlah alkemis biasa; ia adalah monster yang memahami setiap hukum gaya dan energi di alam semesta.
Ia melemparkan jantung serigala itu ke dalam kuali yang berisi air mendidih dan beberapa akar herbal liar.
Alih-alih merapal mantra sihir, Zhao Xuan meletakkan kedua telapak tangan kecilnya di sisi luar kuali besi yang panas tersebut.
Teng... Teng... Teng...
Zhao Xuan mulai mengetukkan jari-jarinya ke permukaan kuali dengan ritme yang sangat aneh dan cepat. Ketukan itu menghasilkan gelombang getaran fisik yang merambat ke seluruh permukaan logam, menekan suhu dan tekanan di dalam kuali secara paksa. Air mendidih di dalamnya mulai berputar membentuk pusaran tajam. Getaran dari jari Zhao Xuan secara brutal menghancurkan serat daging jantung serigala, memaksa esensi darah dan Qi kasarnya terekstrak keluar tanpa menguap.
Lima belas menit kemudian, air di dalam kuali telah mengering sepenuhnya. Arang di bawahnya padam.
Zhao Xuan membuka tutup kuali. Dari dalam kepulan asap merah yang berbau manis, ia mengambil lima butir pil tak beraturan seukuran kelereng, berwarna semerah darah segar.
"Kualitas sampah, tingkat terendah yang pernah kubuat seumur hidupku," Zhao Xuan mendengus pelan, menatap pil di tangannya dengan kecewa. Namun, ia segera melemparkan kelima pil itu kepada Jue Ying dan bayangan lainnya. "Tapi untuk meridian fana kalian, ini lebih dari cukup. Ini adalah Pil Darah Asura. Telan ini, dan meridian kalian akan dipaksa terbuka untuk menyerap partikel Qi di udara. Rasa sakitnya akan setara dengan direbus hidup-hidup."
Jue Ying menangkap pil itu tanpa ragu sedetik pun, lalu langsung menelannya bulat-bulat, diikuti oleh keempat bayangan lainnya.
Hanya dalam hitungan detik, kelima remaja itu jatuh ke lantai batu, menggigit bibir mereka hingga berdarah untuk menahan jeritan. Urat-urat menonjol kehitaman di sekujur kulit mereka.
Zhao Xuan mencuci tangannya di baskom air dengan tenang sambil mengawasi mereka. "Jika kalian bertahan hingga fajar, kalian bukan lagi manusia fana biasa. Kalian akan melangkah ke Tahap Pertama Pengumpulan Qi. Bersiaplah, karena Kerajaan Yan tidak akan tinggal diam setelah anjing pelacak mereka mati."
Setelah memastikan fondasi sektenya telah tertanam kuat, sosok Zhao Xuan menghilang ke dalam kegelapan malam, menyelinap kembali ke dalam kehangatan Istana Zhao.
Keesokan paginya, sinar matahari musim semi yang cerah menerangi Paviliun Bersantap di taman istana.
Suasana pagi ini jauh lebih riuh dari biasanya. Putra Mahkota Zhao Tian telah kembali dari perbatasan dengan selamat, dan seluruh keluarga kerajaan berkumpul untuk sarapan. Meja dipenuhi oleh bubur ayam, bakpao daging, dan teh krisan.
Zhao Xuan yang mengenakan jubah sutra putih duduk di antara Kakak Keduanya, Zhao Ling, dan Ibundanya. Pipinya sedang menggembung karena mengunyah bakpao daging, menatap polos ke arah Kakak Sulungnya yang sedang berbicara dengan penuh semangat sambil menggerakkan sumpitnya seperti pedang.
"Sungguh, Ayahanda! Jika aku tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku akan mengira itu hanya dongeng!" cerita Zhao Tian menggebu-gebu, matanya masih memancarkan ketakjuban sisa pertempuran semalam. "Monster itu... kultivator yang meniup seruling itu... dia bisa menciptakan perisai angin dari udara kosong! Pedang kita bahkan tidak bisa menggoresnya!"
Raja Zhao meletakkan mangkuk buburnya, wajahnya berubah sangat serius. "Dan kau bilang dia mati di tangan lima bayangan berpakaian hitam?"
"Benar! Mereka melompat dari atas pohon seperti hantu! Mereka tidak menggunakan sihir angin atau api, mereka murni menggunakan tangan kosong dan belati! Gerakan mereka sangat... brutal namun efisien. Hanya butuh beberapa detik, dan leher kultivator arogan itu patah!"
Zhao Tian merinding hanya dengan mengingatnya. "Setelah itu, mereka menghilang membawa mayatnya. Ayahanda, apakah kerajaan kita diam-diam memiliki pasukan algojo tersembunyi?"
Raja Zhao menggelengkan kepalanya perlahan, alisnya berkerut tajam. "Tidak. Pengawal Bayangan milik kerajaan hanyalah prajurit elit fana. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk membunuh seseorang yang bisa mengendalikan energi gaib. Ini... ini adalah teka-teki besar. Siapa pahlawan misterius ini?"
"Mungkin itu roh leluhur kita yang turun dari langit untuk melindungi Kak Tian!" seru Zhao Ling dengan mata berbinar-binar, imajinasinya melambung tinggi. "Pasukan hantu penjaga istana!"
"Hush, Ling'er. Jangan menakut-nakuti adikmu," tegur Sang Ratu dengan lembut. Ia segera mengambil sepotong daging asap terbaik dan menaruhnya di mangkuk Zhao Xuan. "Xuan'er kita yang malang pasti ketakutan mendengar cerita potong leher di pagi hari. Makanlah yang banyak, sayang."
Zhao Xuan yang dari tadi diam, memakan daging asap itu dengan wajah datar tanpa dosa. Jika saja mereka tahu bahwa "hantu penjaga" yang sedang mereka bicarakan adalah balita kaku yang sedang disuapi ibunya ini, jantung Raja Zhao mungkin akan berhenti berdetak.
Mereka sangat ribut, batin Zhao Xuan mengunyah perlahan. Tapi setidaknya Ayahanda menyadari bahwa ini bukan ancaman fana biasa.
"Ayahanda," panggil Zhao Xuan tiba-tiba, suaranya yang kekanak-kanakan memecah ketegangan meja makan. Semua orang langsung menoleh padanya.
Zhao Xuan memiringkan kepalanya dengan tatapan polos. "Jika orang jahat berseruling itu mati... bukankah teman-temannya di utara akan sangat marah dan mengirim orang yang bisa melempar api yang lebih besar ke sini?"
Keheningan seketika melanda Paviliun Bersantap. Sendok di tangan Raja Zhao berhenti di udara. Zhao Tian menelan ludahnya dengan susah payah.
Pernyataan polos dari anak berusia dua belas tahun itu justru tepat mengenai inti dari ancaman paling mengerikan yang sedang mereka hadapi.
"Xuan'er... kau benar," Raja Zhao menghela napas panjang, wajahnya tampak bertambah tua lima tahun dalam hitungan detik. "Kerajaan Yan tidak akan melepaskan penghinaan ini. Jika mereka benar-benar memiliki sekte kultivator di belakang mereka, dinding baja benteng perbatasan utara kita tidak akan ada artinya."
Raja Zhao segera berdiri. "Tian'er, ikut aku ke ruang militer. Kita harus memobilisasi seluruh pemanah berat dan menyiapkan minyak bakar. Jika keajaiban langit akan menyerang kita, kita akan membakar langit itu sendiri."
Zhao Tian segera bangkit, memberi hormat, dan mengikuti ayahnya dengan langkah tergesa-gesa.
Di meja, Sang Ratu hanya bisa menatap punggung suami dan anak sulungnya dengan cemas. Zhao Ling menggenggam tangan ibunya erat-erat, tidak lagi memikirkan dongeng roh penjaga.
Di tengah suasana muram itu, Zhao Xuan menghabiskan gigitan terakhir bakpaonya. Ia membersihkan sudut bibirnya dengan saputangan sutra.
Mereka akan mengirim orang yang lebih kuat, pikir sang Asura di balik wajah anak kecilnya. Biarkan mereka datang. Meridian murid-muridku membutuhkan lebih banyak darah kultivator untuk tumbuh. Kerajaan Yan baru saja menawarkan diri untuk menjadi batu loncatan bagi Sekte Langit Asura.
Jauh di ufuk utara, melewati pegunungan es Kerajaan Yan.
Di dalam sebuah kuil sekte yang diselimuti oleh Qi yang sangat tebal, sebuah piringan giok kehidupan tiba-tiba retak dan pecah menjadi dua.
Seorang tetua berjubah putih yang sedang bermeditasi membuka matanya yang memancarkan kilatan petir kecil. Wajahnya berkerut penuh kemarahan.
"Siapa..." suara tetua itu menggetarkan pilar-pilar kuil. "...siapa semut di Kerajaan Zhao yang berani membunuh murid pelacak sekte kita?!"