David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 24) Semua demi tiket ke Brazil
Di jantung kota Jakarta, gedung Miu Corp tampak menjulang tinggi menembus langit kelabu yang dipenuhi lalu-lalang awan tipis.
Logo perusahaan teknologi itu terpampang besar di bagian puncak gedung, huruf-huruf perak mengilap yang bisa kelihatan bahkan dari kejauhan. Di dalamnya, ribuan karyawan bekerja seperti roda mesin yang bergerak tanpa henti demi menciptakan inovasi.
Di lantai yang ditempati ruang CEO, suasana di sana berbeda. Lebih tenang dan eksklusif. Karpet abu-abu lembut meredam langkah kaki siapa pun yang berjalan. Dinding kaca transparan memperlihatkan panorama Jakarta dari ketinggian. Jalan raya seperti garis-garis tipis yang dipenuhi kendaraan kecil bak semut.
Di ujung koridor, sebuah pintu besar berwarna hitam matte berdiri kokoh. Tulisan kecil berlapis emas terpasang di sampingnya: CEO–Bella Viona.
Di dalam ruangan itu, atmosfer terasa hangat namun penuh wibawa.
Meja kerja minimalis dari kayu walnut berdiri di tengah ruangan luas. Di belakangnya, seorang wanita berusia awal tiga puluhan duduk dengan postur tegak dan percaya diri. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi, memperlihatkan garis rahang tegas yang memperkuat kesan kepemimpinan alami. Dialah Bella Viona.
Tatapannya tajam tetapi senyumnya selalu terukur, membuat orang merasa dihargai sekaligus diawasi dalam waktu bersamaan.
Di hadapannya berdiri seorang pria mengenakan kemeja biru sederhana dengan celana warna abu-abu muda. Penampilannya tidak mencolok dibanding eksekutif lain di gedung itu, namun ada ketenangan khas dalam caranya berdiri.
Dio Hardi.
Baru satu minggu bekerja di Miu Corp, tetapi namanya sudah mulai dibicarakan di hampir seluruh divisi kreatif.
Bella menutup tablet di tangannya perlahan, lalu menatap Dio dengan sorot mata penuh penilaian.
"Anda sangat luar biasa, Pak Dio." Kalimat itu diucapkan tenang, tetapi memiliki bobot besar.
Dio sedikit mengangkat alis, tidak menyangka pujian langsung dari CEO.
Bella melanjutkan, suaranya lembut namun jelas. "Dalam waktu tiga hari, konten yang Anda posting di jejaring sosial membuat aplikasi buatan perusahaan kita digunakan oleh puluhan ribu pengguna baru. Engagement naik hampir dua ratus persen. Rating pengguna rata-rata di atas 4,8."
Ia berhenti sejenak, seolah memberi ruang agar pencapaian itu benar-benar terasa. "Ini adalah pencapaian terbesar sepanjang peluncuran perdana Miu Language Apk."
Bella menyandarkan punggungnya ke kursi. "Anda memang luar biasa."
Dio tersenyum lembut tanpa kesombongan sedikitpun.
"Terima kasih atas pujiannya, Bu CEO." Nada suaranya rendah, tulus, dan tenang.
Bella memperhatikan pria itu lebih lama dari biasanya. Banyak karyawan berbakat pernah berdiri di ruangan ini. Namun kebanyakan membawa ambisi yang terlihat jelas di mata mereka. Baik soal uang, jabatan, atau pengakuan.
Dio berbeda. Ia bekerja seperti seseorang yang sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih pribadi.
"Anda sudah berusaha keras," ujar Bella.
Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum samar yang menyimpan maksud tersembunyi.
"Saya jadi penasaran," lanjutnya, menyilangkan jemari di atas meja. "Apa yang membuat Anda begitu bersemangat?"
Dio mengerjapkan mata.
Bella menatap lurus, seakan menembus pikirannya. "Apa karena pekerjaan ini sesuai dengan bidang yang Anda inginkan… atau ada motivasi lain?"
Pertanyaan itu melayang di udara. Sunyi sejenak memenuhi ruangan. Dio tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit, menarik napas pelan, seolah menimbang apakah ia harus jujur atau sekadar memberikan jawaban profesional.
Tetapi pada akhirnya, ia memilih kejujuran. "Semua karena saya menginginkan tiket untuk pergi ke Brazil."
Bella tidak bergerak, tetapi matanya berkilat tipis.
"Ada seseorang yang ingin saya temui di sana, Bu CEO." Jawab Dio dengan sederhana. Namun emosi di baliknya begitu jelas.
"Sudah kuduga," batin Bella perlahan menyeringai kecil. Tepat seperti dugaannya.
Beberapa minggu sebelumnya, Bella memang mengumumkan sebuah program motivasi bagi tim creative content creator. Dimana bagi siapa pun yang mampu meningkatkan performa produk digital perusahaan secara signifikan akan mendapatkan perjalanan ke Brazil untuk menghadiri pembukaan kantor cabang baru di Sao Paulo.
Program itu awalnya hanya strategi bisnis. Namun kini menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik. Karena Bella tahu sesuatu yang tidak pernah Dio sangka.
Ia sudah lama mengenali nama pria itu.
Dio Hardi, suami dari Laila Cakrawala. Mantan karyawan terbaik Miu Corp, yang namanya selalu melambung tinggi bersama pujian-pujian yang tiada henti. Sesosok yang gigih dan cantik, dengan julukan the Miu Corp icon beauty and brain. Paling penting adalah, wanita yang menghilang dari kehidupan suaminya demi pernikahan kontrak guna menebus hutang kepada David Mendoza, salah satu investor berpengaruh di perusahaan itu.
Bella hanya tersenyum ringan. "Begitu ya."
Alunan suaranya terdengar santai, seolah tak ada makna tersembunyi di baliknya. "Semoga Anda berhasil."
Dio mengangguk hormat. "Terima kasih."
Pertemuan itu selesai.
Dio berbalik dan melangkah menuju pintu. Setiap langkahnya tenang, tetapi ada beban tak terlihat yang ikut berjalan bersamanya.
Klik.
Pintu ruang CEO tertutup perlahan di belakangnya.
Koridor lantai eksekutif terasa jauh lebih dingin dibandingkan ruangan tadi. Dio berhenti tepat di depan pintu, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Seolah seluruh energi yang ia kumpulkan selama percakapan tadi akhirnya runtuh.
Tangannya merogoh saku celana. Ia mengeluarkan ponsel. Layar menyala. Dan di sana, wallpaper sederhana menampilkan wajah seorang wanita yang tersenyum lembut.
Laila.
Rambut panjangnya tertiup angin dalam foto itu, mata hangatnya menatap kamera dengan kebahagiaan polos yang kini terasa begitu jauh.
Dada Dio terasa sesak.
Batin pria itu berbisik pelan. "Tunggulah sebentar lagi, Laila."
Jempolnya menyentuh layar, seolah ingin memastikan sosok itu nyata. "Kita pasti akan bertemu."
Suara langkah karyawan berlalu-lalang di koridor, tetapi Dio seperti berada di dunia sendiri.
"Aku selalu berharap… semoga kau di sana baik-baik saja." Matanya sedikit memerah, namun ia segera menarik napas panjang dan menguatkan diri.
Sebab, belum waktunya rapuh. Masih ada yang harus ia capai. Yakni Brazil. Lebih tepatnya ibukota negara itu, Sao Paulo.
**********
Dikala Dio tengah berusaha menggapai Laila, wanita itu malah sebaliknya. Ia malah berada dalam rengkuhan hangat pria lain, yang siapa lagi kalau bukan David Mendoza.
"Hmm," lenguh Laila membuka matanya perlahan dan sesuatu yang besar, hangat nan kokoh mengalungi tubuh mungilnya.
Dengan nyawa belum terkumpul sepenuhnya, ia meraba sesuatu yang menghalau pandangannya. Yaitu dada bidang milik David yang nampak kekar dan empuk.
"Ini apa sih?" ucapnya mengigau.
Tidak lama dan tanpa sadar, ia melebarkan senyumnya lalu mengusap-usapkan wajah layaknya kucing yang tengah bermanja.
"Umm hangatnya..." gumamnya.
"Wangi lagi..."
Greppp.
Tiba-tiba pelukan itu mengerat, hingga Laila merasa sesak. Ia seketika tersadar total, apalagi saat David berkata, "ini masih pagi sayang. Jangan mancing adrenalin, ya."
Degg!!
Laila tersentak. Ia dengan spontan disertai sekuat tenaga, mendorong tubuh pria itu agar menjauhinya. Namun sayang, tenaga yang ia punya tidak mampu melakukan hal demikian.
"Ukkkh, awas!" sembur Laila dengan wajah memerah.
David tidak menggubrisnya. Malahan, ia kian menenggelamkan wanita itu dalam pelukannya seraya mengatakan dengan lirih, "tolong begini saja sebentar."
Laila terpaku. Ucapan David bagaikan perintah yang bersemayam dalam permintaan. Hening sesaat. Laila bergulat dengan dirinya sendiri. Ada rasa canggung sekaligus nyaman yang bersatu padu menjadi satu. Ia bingung, perasaan aneh macam apa itu.
Ingin rasanya ia melepas pelukan itu, tetapi tubuhnya berkata lain. Terlebih dikala David berkata begitu dengan suara berat yang amat menenangkan, dalam dan syahdu bagaikan ombak air laut. Seolah kalau Laila menolak, dia seperti orang paling jahat di dunia. Karenanya, pelan-pelan tubuhnya yang tadinya melakukan perlawanan, seketika luluh lantah.
Ia pun hanya bisa berkata dengan suara hampir berbisik, "jangan lama."
Senyum David mengembang. Ia mengelus lembut pucuk kepala Laila sambil menjawab, "iya, sayang."
Kata sayang.
Entah sejak kapan Laila mulai terbiasa dengan panggilan itu. Ia tidak pernah risih apalagi marah sekalipun. Terutama dikala pria tersebut mengatakannya sambil menyentuh dirinya. Padahal dulu, hanya Dio yang berhak memanggilnya begitu. Tidak boleh ada yang lain.
Perasaan Laila berkecamuk. Antara sikapnya itu sebagai respon karena takut menyinggung, atau mungkin saja ia memang sudah nyaman dan menerima kehadiran David dalam hidupnya.