NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PENJAGA CAHAYA YANG HILANG

Ruangan bawah tanah itu kini hanya diterangi oleh bara merah dari mesin yang rusak dan sisa-sisa pendaran biru yang memudar di dinding. Kai, yang kembali berada dalam dunia abu-abu, mencoba memfokuskan pendengarannya. Suara napas pria tua itu tenang, berirama, dan sangat berwibawa.

"Siapa kau?" Elara berdiri di depan Kai, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

Pria tua itu melangkah masuk ke dalam lingkaran cahaya remang-remang. Wajahnya dipenuhi kerutan yang menceritakan ribuan kisah, namun matanya—meskipun Kai hanya melihatnya sebagai binar perak—tampak sangat hidup.

"Namaku Profesor Aris. Aku adalah mentor ayahmu di Universitas Seni dan Sains, jauh sebelum Lumina Corp menjadi raksasa yang serakah," ucapnya lembut. Ia meletakkan buku catatan kuno itu di atas meja kerja yang berdebu.

"Mentor Ayah?" Kai meraba-raba meja untuk berdiri. Elara membantunya dengan sigap. "Kenapa baru muncul sekarang? Di mana kau saat Ayah membutuhkan bantuan untuk melawan Yudha?"

Aris menunduk, ada penyesalan yang dalam di pundaknya. "Ayahmu, Malik, memilih untuk menjauh dariku saat dia mulai mengembangkan Spektrum Biru. Dia tahu bahwa teknologi ini terlalu kuat. Dia ingin melindungiku, dan dia ingin melindungi 'Spektrum Putih' agar tidak jatuh ke tangan militer."

"Spektrum Putih..." gumam Kai. "Yudha bilang itu senjata. Ayah bilang itu perlindungan. Apa sebenarnya itu?"

Aris tersenyum, lalu ia menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, sebuah proyektor kecil yang ia bawa di sakunya memancarkan cahaya putih yang sangat murni. Di mata Kai yang monokrom, cahaya itu tidak tampak seperti kilauan putih biasa, melainkan seperti sebuah tekstur—sebuah kedalaman yang belum pernah ia rasakan.

"Spektrum Biru adalah tentang emosi dan penyembuhan individu. Tapi Spektrum Putih..." Aris berjalan mendekati layar kristal yang retak. "...adalah tentang persatuan. Itu adalah frekuensi di mana semua warna bergabung kembali menjadi satu. Itu bukan senjata untuk menghancurkan, Kai. Itu adalah teknologi untuk meniadakan konflik."

"Meniadakan konflik?" Elara mengerutkan kening. "Bagaimana caranya?"

"Ia bekerja dengan cara menyeimbangkan frekuensi otak manusia dalam skala besar," jelas Aris. "Jika Spektrum Biru adalah obat, maka Spektrum Putih adalah kedamaian permanen. Namun, ada harganya. Untuk mengaktifkannya, dibutuhkan seorang seniman yang benar-benar tidak terikat pada warna fisik—seseorang yang melihat dunia melampaui apa yang ditangkap mata."

Aris menatap mata Kai yang kini tampak kelabu. "Seseorang seperti kau sekarang, Kai. Kebutaan warna keduamu bukan sebuah kecelakaan. Itu adalah syarat terakhir untuk memahami Spektrum Putih."

Kai tertegun. Ia meraba wajahnya. "Jadi... semua ini sudah direncanakan?"

"Tidak direncanakan oleh manusia, tapi oleh takdir dari karya itu sendiri," Aris menyerahkan buku catatan itu kepada Kai. "Ayahmu meninggalkan bagian terakhir dari formulanya di Oakhaven, bukan di gunung yang kau kunjungi, tapi di tempat yang paling kau benci."

"Rumah lama kami," bisik Kai. Rumah yang terbakar saat kecelakaan itu terjadi.

Tiba-tiba, suara sirene polisi dan helikopter mulai mendekat kembali ke arah sekolah seni. Konsorsium mungkin sudah mundur, namun otoritas negara kini datang untuk menyelidiki "Malam Biru" yang baru saja mengguncang kota.

"Kalian harus pergi," kata Aris tegas. "Gunakan jalur bawah tanah yang terhubung ke kanal kota. Aku akan menahan mereka di sini dan memberikan penjelasan bahwa ini adalah eksperimen sains yang gagal."

"Tapi Profesor—"

"Jangan berdebat, Kai! Waktumu terbatas. Jika pemerintah menyita Proyek Spektrum, mereka akan menggunakannya untuk kontrol populasi, bukan untuk perdamaian. Kau harus menemukan Spektrum Putih di reruntuhan rumahmu dan mengaktifkannya sebelum mereka menutup akses ke seluruh jaringan Lumina."

Elara menarik tas punggungnya. "Ayo, Kai. Kita harus pergi."

Sebelum Kai melangkah keluar melalui pintu rahasia, ia berhenti sebentar. "Profesor, kenapa kau membantuku?"

Aris menatap Kai dengan tatapan seorang ayah. "Karena aku ingin melihat dunia yang tidak lagi bertengkar tentang warna apa yang paling benar. Aku ingin melihat dunia melalui mata putih yang murni. Pergilah, anak muda. Jadilah cahaya yang tidak bisa dipadamkan."

Kai dan Elara menghilang ke dalam terowongan bawah tanah yang gelap. Di dalam kegelapan itu, Kai merasa anehnya ia justru merasa lebih kuat. Kebutaan warnanya kini bukan lagi penjara; itu adalah filter yang memudahkannya untuk fokus pada esensi dari segala sesuatu.

"Kita akan kembali ke Oakhaven, Elara," ucap Kai saat mereka sampai di pinggiran kanal yang sunyi. "Tapi kali ini, kita tidak akan mencari warna. Kita akan mencari cahaya."

Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Ibu kota tampak sunyi setelah badai biru semalam. Namun di bawah tanah, pertempuran yang sesungguhnya untuk menentukan masa depan persepsi manusia baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!