Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Pagi di rumah sakit terasa lebih tenang.
Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar perawatan. Dira sudah duduk di ranjang dengan wajah sedikit lebih segar, meski masih terlihat kesal seperti biasa.
Di sampingnya, Kenzo sedang duduk sambil memeriksa berkas di meja.
“ Dira jangan bandel lagi ya,” kata Kenzo
Dira meliriknya.
“Siapa juga yang bandel?”
“Kamu keluar gak izin dulu sama abang ”
Dira langsung mencubit lengan kenzo.
“Om el yang tukang ngadu nih .”
Kenzo tertawa kecil.
Di sisi lain ruangan depan pintu , Elvan berdiri sambil melipat tangan.
“Aku masih di sini, ya.”
Dira mendengus.
“Terserah.”
Kenzo menghela napas. “Kamu baru aja kecelakaan, Dir. Bisa nggak sekali aja nurut?”
Dira menatap ke arah jendela, pura-pura tidak peduli.
Namun sebenarnya kepalanya masih memikirkan kejadian semalam.
Mobil yang mengejar mereka. Benturan keras. Dan wajah Elvan yang terlihat panik.
Hal yang jarang sekali ia lihat. Elvan masuk mendekat kearahnya dengan wajah tenang seperti biasa. Jasnya sudah rapi kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Dira langsung memalingkan wajah.
“ om ke sini lagi?”
Elvan tidak menjawab. Ia hanya menatap Dira sejenak, memastikan gadis itu benar-benar baik-baik saja.
Kenzo memperhatikan mereka berdua.
“Dokter bilang dia boleh pulang siang ini,” kata Kenzo.
Elvan mengangguk pelan.
“Bagus.”
Dira langsung menyela.
“Aku pulang sama bang Kenzo boleh?.”
Elvan menoleh padanya.
“Enggak.”
Jawabannya pendek.
Dira langsung menatap elvan . “Tapi kenapa om ?”
Tapi Elvan sudah berbicara lagi dengan nada dingin.
“Mulai sekarang kamu nggak boleh ke mana-mana sendiri.”
Dira tertawa sinis.
“Perintah calon suami nih?”
Elvan menatapnya tanpa ekspresi.
“Perintah orang yang hampir kehilangan kamu semalam.”
Kalimat itu membuat ruangan tiba-tiba sunyi.
Dira terdiam sesaat… lalu kembali memalingkan wajah.
" Duhh kenapa ni jantung " batin dira
Di tempat lain…
Sebuah ruangan gelap dengan jendela besar.
Seorang pria duduk santai di kursi kulit sambil memutar gelas berisi minuman.
Pria itu adalah Bara.
Di depannya berdiri seorang anak buah.
“Maaf Bos… rencana semalam gagal.”
Bara tersenyum tipis. “Gagal?”
Ia berdiri perlahan.
Langkahnya mendekat.
“Mobilnya rusak… tapi mereka masih hidup.”
Anak buahnya menunduk takut.
Bara tertawa kecil.
“Tidak apa-apa.”
Ia menatap keluar jendela.
“Permainan baru saja dimulai.”
Matanya menyipit.
“Kalau Elvan ingin melindungi gadis itu… kita lihat seberapa jauh dia bisa bertahan.”
***
Langit sore masih agak mendung ketika Dira akhirnya memutuskan pulang sore itu .Ia keluar dari pintu rumah sakit. Di kepalanya masih ada perban kecil, langkahnya sedikit pelan, tapi wajahnya… sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru kecelakaan kemarin.
Dia tetap dira si Bar-bar.
Di sebelahnya, Elvan berjalan dengan tangan di saku jas, ekspresi tetap datar seperti biasa. Sementara di sisi lain, Kenzo. terlihat jauh lebih tegang, matanya sesekali memastikan adiknya benar-benar baik-baik saja.
“Kamu yakin kuat untuk jalan?” tanya Kenzo
Dira mendengus.
“Ya ampun bang , aku cuma sakit di bagian kepala sedikit doang, bukan kaki.”
Kenzo menatap tajam.
“Kamu kemarin pingsan dua jam.”
Dira langsung mengalihkan pandangan.
“Itu… cuma tidur.”
Elvan yang dari tadi diam hanya menghela napas pelan.
“Naik mobil dulu.”
Mereka akhirnya masuk ke mobil Elvan. Kenzo duduk di kursi depan, sementara Dira di belakang.
Mobil baru keluar dari area rumah sakit beberapa menit ketika tiba-tiba Dira mencondongkan badan ke depan.
“Bang….”
Kenzo sudah langsung curiga. “Kenapa?”
Dira tersenyum lebar “Aku lapar.”
“Wajar,” jawab Kenzo. “Nanti kita makan di rumah.”
“Tapi aku pengen sesuatu.”
Kenzo menyipitkan mata. “Apa?”
Dira menunjuk ke luar jendela dengan mata berbinar. “Seblak.”
Mobil langsung sunyi.
Kenzo menoleh pelan.
“Kamu baru saja keluar dari rumah sakit.”
“Iya.”
“Dan kamu minta makanan pedas.”
“Iya.”
“Seblak level berapa?”
Dira berpikir sebentar lalu berkata dengan polos,
“Level lima.”
“DIRA!”
Kenzo langsung mengusap wajahnya frustasi.
“Elvan, jangan berhenti di mana pun,” kata Kenzo tegas.
Dari kursi belakang, Dira langsung merengut.
“Bang pelit banget sih.”
“Elvan juga nggak bakal beliin kamu.”
Elvan tetap fokus menyetir.
“Benar.”
Dira langsung protes keras.
“Kalian jahat banget! Aku habis kecelakaan loh!”
Kenzo menoleh cepat.
“Justru karena itu kamu nggak boleh makan pedas dira!”
Dira merosot di kursinya dramatis.
“Padahal kalau aku makan pedas biar aku cepat sembuh…”
Kenzo menatapnya tidak percaya.
“Itu teori dari mana?”
“Dari… perasaan.”
Elvan hampir saja tersenyum, tapi dia menahannya.
Dira masih belum menyerah. Ia kembali maju ke depan, kali ini menatap Elvan lewat kaca spion.
“Om Elvan….”
Elvan mengangkat alis tipis.
“Hmm?”
“Om Elvan kan yang bikin aku kecelakaan kemarin.”
Kenzo langsung menoleh tajam “DIRA.”
“Tanggung jawab dong,” lanjut Dira santai. “Belikan aku seblak.Ya. plisss”
Elvan akhirnya melirik ke kaca spion. Mata mereka bertemu.
Wajah Dira penuh harap. Benar-benar seperti anak kecil yang lagi minta permen.
Kenzo langsung memotong. “Jangan diladeni.”
Dira merengut lagi.
“Sedikit aja… level satu deh…Ya..”
“Tidak.”
“Level nol?”
Kenzo menghela napas panjang.
“Elvan, tolong jangan—”
Mobil tiba-tiba melambat.
Kenzo menatap tidak percaya saat mobil berhenti di pinggir jalan… tepat di depan gerobak seblak.
“Elvan.”
Nada suara Kenzo datar tapi mengancam.
Dira langsung bersorak dari belakang.
“YEAAAY! MAKASIH OM!”
Kenzo menoleh ke Elvan dengan mata menyipit.
“Kamu serius?”
Elvan mematikan mesin mobil dengan santai.
“Dia bakal terus merengek sampai rumah.”
Kenzo terdiam beberapa detik… lalu menghela napas kalah. Dari kursi belakang, Dira sudah melompat turun duluan.
“TIGA SEBLAK YA BU!”
Kenzo langsung memegang kepala.
“Kamu kan katanya sakit.”
Dira menoleh dengan wajah polos.
“Aku kan nggak bilang bang Kenzo nggak boleh makan.”
Elvan akhirnya benar-benar tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan kemarin… suasana terasa ringan.
Dan entah kenapa, melihat Dira yang kembali cerewet begitu… membuat Elvan merasa jauh lebih tenang.
Bersambung..........