"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
"Apa kabar, Sahabat Literasi? Terkadang, semesta mematahkan hatimu di satu tempat hanya untuk menyatukannya kembali dengan cara yang lebih indah di tempat lain. Di episode ini, kita akan melihat bagaimana Hana yang dulu rapuh kini bertransformasi menjadi sosok yang begitu bersinar. Bukan karena perhiasan, melainkan karena kemandirian. Dan di tengah aroma manis tepung, sebuah hati yang baru mulai mengetuk pintu. Mari kita saksikan kelahiran kembali Hana."
.
.
Pagi di kota kecil itu selalu diawali dengan harmoni yang menenangkan. Kicauan burung, udara pegunungan yang masih murni, dan aroma mentega serta pandan yang menguar dari sebuah ruko bercat putih bersih.
Di atas pintunya, sebuah papan kayu estetik kini terpasang rapi dengan tulisan. 'Saka's Kitchen Tradisi & Cinta.'
Hana berdiri di balik etalase kaca, menata barisan kue talam durian dan bolu mawar yang masih mengepulkan uap tipis. Ia mengenakan apron berwarna krem di atas tunik simpel berwarna hijau zaitun.
Rambutnya disanggul modern yang sederhana, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang kini tampak lebih berisi dan bercahaya.
Hana yang sekarang bukanlah Hana yang dulu meringkuk di pojokan apartemen Bima. Bahunya tegak, tatapannya fokus, dan senyumnya... senyum itu memiliki kekuatan yang sanggup membuat siapa pun yang melihatnya merasa damai.
"Bu Hana, pesanan seratus kotak untuk pengajian sudah siap?" tanya Fatimah, asisten pertamanya yang merupakan warga lokal.
"Sudah, Fat. Tolong diperiksa kembali ikatannya ya, jangan sampai ada yang longgar," jawab Hana lembut namun tegas.
Di sudut ruangan yang disekat transparan, sebuah bouncer bayi bergoyang pelan. Aditya Saka sedang asyik memilin mainan kainnya, sesekali mengeluarkan suara celotehan kecil yang menjadi musik latar paling indah bagi Hana.
Menjelang siang, lonceng di atas pintu berdenting nyaring. Hana yang sedang mencatat pembukuan segera mendongak dengan senyum profesionalnya yang hangat.
"Selamat datang di Saka's Kit ..." Kalimat Hana terhenti.
Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku berdiri di ambang pintu.
Ia memakai kacamata berbingkai tipis yang membingkai mata cerdas namun teduh. Di tangannya, ia memegang sebuah catatan kecil.
"Dokter Adrian?" Hana tertegun sejenak.
Pria itu, dr. Adrian, tampak sama terkejutnya. Matanya membulat, menatap Hana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tidak percaya. "Mbak Hana? Pemilik toko kue yang sedang dibicarakan semua orang di rumah sakit ini... ternyata Anda?"
Hana tertawa kecil, rasa canggung yang sempat ada menguap digantikan rasa syukur. "Dunia ternyata sempit ya, Dok. Silakan masuk."
Adrian melangkah mendekat ke etalase, namun matanya tak lepas dari wajah Hana. Ada sesuatu yang berbeda. Terakhir ia melihat Hana di ruko lama tempo hari.
Wanita itu tampak seperti lilin yang hampir padam. Sekarang, Hana di depannya tampak seperti matahari pagi, hangat, kuat, dan menyilaukan.
"Saya ke sini atas tugas dari Ibu Kepala Panti Asuhan Kasih Bunda. Beliau bilang, ada toko kue baru yang rasanya sangat otentik dan pemiliknya sangat baik. Beliau ingin memesan kudapan untuk acara ulang tahun panti besok," jelas Adrian. Ia meletakkan catatannya di meja, namun tangannya sedikit ragu. "Tapi melihat Anda sekarang... saya hampir tidak mengenali Anda yang dulu."
"Terima kasih, Dok. Semua berkat bantuan Dokter juga di awal masa sulit saya," sahut Hana tulus.
Adrian beralih menatap ke arah bouncer di sudut ruangan. Matanya melembut. "Boleh saya lihat Saka?"
"Tentu, Dok."
Adrian berjongkok di samping Saka, membiarkan jemari mungil Saka menggenggam telunjuknya. "Halo, Jagoan. Kamu sudah besar sekali. Pipimu sudah seperti bakpao buatan ibumu, ya?"
Hana memperhatikan interaksi itu dari balik meja. Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di dadanya. Selama ini, satu-satunya sosok pria yang ia bayangkan bersentuhan dengan anaknya adalah Bima, seorang ayah yang bahkan membuang foto USG anaknya sendiri.
Melihat Adrian yang begitu tulus memperlakukan Saka, Hana merasa matanya sedikit memanas.
"Dia sehat sekali, Hana," ucap Adrian tiba-tiba, beralih memanggil namanya tanpa embel-embel 'Mbak', menciptakan suasana yang mendadak terasa lebih intim. "Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa. Sendirian, di kota asing, dan membangun bisnis sehebat ini... Anda wanita yang sangat kuat."
Hana menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. "Saya hanya tidak punya pilihan lain selain menjadi kuat, Dok."
"Pilihan selalu ada, tapi Anda memilih untuk tegak berdiri. Itu yang membedakan Anda dengan orang lain," sahut Adrian pelan.
Ada binar ketertarikan yang tak lagi bisa disembunyikan di mata dokter muda itu. Selama ini ia sering bertemu wanita cantik di rumah sakit.
Namun pesona Hana - perpaduan antara keibuan, kemandirian, dan keteguhan - membuat jantungnya berdegup dengan cara yang tidak biasa.
Saat Adrian sedang membantu Hana memilah menu untuk panti asuhan, ponsel Adrian bergetar. Ia sekilas melihat berita yang sedang trending di media sosial Jakarta.
"*Pesta Pernikahan Megah Pengusaha Bima Erlangga Terancam Tertunda Akibat Masalah Likuiditas Perusahaan*."
Adrian melirik Hana yang sedang sibuk menjelaskan perbedaan tekstur kue talam dan kue lumpur. Ia tahu siapa Bima. Ia tahu luka yang ditinggalkan pria itu pada wanita di depannya.
Namun, melihat Hana yang sekarang, Adrian sadar bahwa Hana sudah berada di level yang tidak akan bisa dicapai oleh Bima lagi.
"Dokter? Kok melamun?" tanya Hana heran.
"Ah, tidak. Saya hanya berpikir... sepertinya saya akan sering-sering mampir ke sini. Bukan hanya untuk pesanan panti, tapi mungkin untuk... asupan gula harian saya?" Adrian mencoba melempar candaan ringan yang membuat Hana tertawa renyah.
"Tentu, Dok. Pintu toko ini selalu terbuka untuk Dokter."
~~
Sore itu, setelah Adrian pamit dengan janji akan menjemput pesanan besok pagi, Hana berdiri di depan cermin rukonya. Ia memegang pipinya yang terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan Bima saat berinteraksi dengan pria lain.
Ia melihat bayangan dirinya - Hana yang mandiri, Hana yang punya harga diri, Hana yang tak lagi butuh divalidasi oleh kemewahan palsu.
Di Jakarta, Bima mungkin sedang berdebat dengan Clarissa soal biaya katering yang membengkak di tengah krisis perusahaan. Di Jakarta, Bima mungkin sedang menatap laci terkunci yang menyimpan foto kotor Saka.
Namun di sini, di kota kecil ini, Hana sedang menatap masa depan yang mulai berwarna merah jambu.
"Saka," bisik Hana sambil menggendong bayinya, "Sepertinya ada orang baik yang ingin berteman dengan kita."
Hana tersenyum. Ia tidak tahu bahwa Adrian baru saja masuk ke dalam mobilnya dan tidak langsung menyalakan mesin. Dokter itu hanya duduk diam, memegang dadanya yang bergemuruh. Ia baru saja menyadari satu hal.
Ia tidak hanya ingin menjadi dokter bagi Saka, tapi ia ingin menjadi alasan di balik senyum Hana setiap pagi.
Pertemuan tidak sengaja itu telah menanam benih yang kuat. Namun, apakah masa lalu Hana yang belum sepenuhnya tuntas akan menjadi penghalang bagi tumbuhnya benih itu?
Akankah dr. Adrian berani melangkah lebih jauh untuk mendekati Hana?
Jangan lewatkan babak baru kehidupan Hana.
...----------------...
To Be Continue ....