Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 - Don't Leave ++
Aku berangkat kerja dengan perasaan yang sulit kujelaskan—sedikit bahagia, sedikit takut, dan harapan yang terlalu pelan untuk disebut yakin.
Begitu aku memasuki lobi kantor, tatapan orang-orang langsung tertuju kepadaku. Beberapa berbisik pelan, sebagian lain terang-terangan menatap tanpa berusaha menyembunyikan rasa ingin tahu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku terus berjalan menuju lift. Untung saja saat pintu lift terbuka, Arvin tidak ada di sana. Aku masuk dan berdiri diam sepanjang lift naik, mencoba mengabaikan keganjilan yang sejak tadi kurasakan.
Begitu lift berhenti di lantai divisiku, aku segera keluar dan melangkah cepat menuju ruanganku.
“Pagi.” ucapku begitu masuk.
“Pagi…” jawab mereka hampir bersamaan, terdengar ragu.
Aku mengernyitkan dahi. “Kenapa, ya? Kok semua orang kelihatannya aneh. Dari tadi aku diperhatiin terus, bahkan ada yang berbisik-bisik.”
Tak ada yang langsung menjawab. Mereka justru saling berpandangan.
“Ada apa, sih?” tanyaku lagi.
“Ehm… itu, Li…” Fera membuka suara dengan ragu.
“Ada gosip di grup perusahaan, Mbak.” kata Merry blak-blakan.
“Gosip apa?” tanyaku bingung.
“Ehm… gosip tentang kamu dan Arvin.” jawab Fera lirih.
“Hah?” Aku terkejut. “Aku dan Arvin?”
“Iya, Li. Banyak yang ngira kalian pacaran karena kejadian di kantin kemarin.” kata Riki.
“Iya, Mbak. Coba lihat sendiri di grup perusahaan.” sambung Merry.
Aku segera membuka ponsel dan masuk ke grup perusahaan. Selama ini notifikasinya selalu kubisukan; aku jarang membukanya dan hanya aktif di grup divisi.
Dadaku langsung terasa sesak saat membaca satu per satu pesan di layar. Benar saja, banyak yang berspekulasi bahwa aku dan Arvin berpacaran. Bahkan ada foto saat Arvin menangkap tubuhku kemarin.
Gawat.
Bagaimana jika ini sampai ke Henry?
Apa yang akan Henry pikirkan tentangku?
Belum sempat aku mencerna semuanya, Pak Arman datang memasuki ruangan.
“Selamat pagi.” ucapnya.
“Pagi, Pak.” jawab kami hampir bersamaan.
Saat melewati mejaku, Pak Arman berhenti sejenak.
“Lia, saya paham indahnya masa muda. Di perusahaan ini juga tidak ada larangan menjalin hubungan antar karyawan. Tapi saat bekerja, kamu harus fokus. Kamu harus tahu menempatkan diri.” katanya tenang, namun tegas.
Hah?
Apa maksudnya?
Ah… apa Pak Arman juga membicarakan aku dan Arvin?
“Pak, saya dan Arvin tidak—” ucapku berusaha menjelaskan.
“Iya, iya. Sudah. Sekarang fokus bekerja. Masih banyak hal yang harus kita selesaikan.” potong Pak Arman sebelum aku selesai bicara.
Aku hanya bisa menghela napas. Sepertinya apa pun yang keluar dari mulutku, orang-orang tidak akan percaya.
Lalu bagaimana dengan Henry?
Semoga Henry mempercayaiku.
Aku menyalakan komputer dan mencoba kembali fokus bekerja, meski pikiranku terus dipenuhi kecemasan.
Jam makan siang pun tiba. Aku dan yang lain menuju kantin. Saat sampai di sana, beberapa pasang mata kembali memandangiku, seperti sejak pagi. Namun kali ini aku memilih tidak memedulikannya.
Setelah memesan makanan, kami duduk di meja. Seperti biasa, aku duduk bersama Fera dan Riki. Tak lama kemudian, Caca datang—seperti biasa bersama Arvin.
“Hai, guys.” sapa Caca ceria sambil duduk di depanku.
Arvin menatapku sekilas, lalu berjalan menuju meja di belakangku tanpa mengatakan apa pun.
“Li… kamu udah lihat grup perusahaan?” tanya Caca.
Aku mengangguk.
“Parah banget, ya. Ada aja yang sempat-sempatnya foto waktu kamu ditangkep Arvin.” katanya.
Belum sempat aku menanggapi, seseorang berhenti di dekat meja kami.
Niko. Teman satu divisi Caca.
“Eh? Kok pasangan baru duduknya berjauhan sih? Duduk satu meja dong.” godanya.
“Niko!” seru Caca kesal.
“Kenapa, Ca?” jawab Niko santai.
“Jangan ngejek kayak gitu.”
“Siapa yang ngejek? Aku cuma heran aja. Katanya pacaran, tapi duduknya nggak satu meja.” kata Niko lagi.
“Udah, sana.” usir Caca.
“Ya ampun, Ca. Jahat banget kamu sama aku.” keluh Niko sebelum akhirnya pergi.
“Maaf ya, Li. Niko emang gitu orangnya.” ujar Caca.
Aku mengangguk pelan.
“Li…” Fera tiba-tiba menoleh ke arahku. “Kamu sama Arvin sebenarnya pacaran atau nggak, sih?”
Aku langsung menatapnya.
“Ya nggaklah. Kemarin kamu lihat sendiri, kan, kejadiannya kayak apa?”
“Ya siapa tahu kalian diem-diem pacaran.” sahut Fera.
“Ya ampun, Fera. Aku nggak suka dia. Aku suka orang lain.” jawabku refleks.
Ups.
“Siapa?” tanya Fera cepat.
“Kamu suka siapa, Li?” Riki ikut penasaran.
Aku dan Caca saling berpandangan sejenak.
“Kim Joon, lah. Siapa lagi,” kataku cepat. “Iya, kan, Ca?”
“Hahaha, iya. Siapa lagi yang disukai Lia selain Kim Joon. Standarnya tinggi. Minimal speknya CEO.” kata Caca bercanda.
Aku langsung menatapnya tajam.
“CEO? Kayak Pak Henry dong?” celetuk Fera.
Dadaku langsung menegang.
“Ehm… itu…” Aku kehabisan kata-kata.
“Kalau standarmu setinggi itu, gimana kamu bisa cepat nikah?” kata Riki.
“Kamu sendiri kenapa belum nikah?” balasku.
“Aku lagi nabung. Aku laki-laki, nanti jadi kepala keluarga. Kalau nggak punya uang, mau dikasih makan apa istri dan anakku? Daun?” jawab Riki santai.
Aku, Caca, dan Fera tertawa bersamaan.
Tak lama kemudian makanan datang. Kami makan tanpa banyak bicara.
Selesai makan, kami keluar dari kantin. Baru beberapa langkah, Arvin memanggilku.
“Mbak Lia…”
Aku menoleh.
Arvin mendekat.
“얘기 좀 하자 (Ayo kita bicara)” katanya pelan.
Aku menatap Caca, Fera, dan Riki.
“Kamu mau bicara apa sama Lia, Vin?” tanya Caca waspada.
“Bukan apa-apa.” jawab Arvin singkat.
Aku sebenarnya malas berbicara dengannya, tetapi sepertinya ada sesuatu yang penting.
“가자. 옥상으로. (Ayo ke rooftop.)” kataku.
Kami pun menuju ke sana.
Angin siang dan terik matahari langsung menyambut begitu kami tiba.
“Kamu mau bicara apa?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Aku mau minta maaf. Gara-gara aku, kita jadi dikira pacaran.” ucap Arvin.
“Udahlah. Itu juga nggak disengaja. Soal gosip, biarin aja. Nanti juga orang-orang lupa sendiri.” jawabku.
“누나… (Kak…)” katanya pelan. “Apa aku bener-bener nggak punya kesempatan?”
Aku menatapnya. “Maksudmu?”
“Apa aku nggak bisa bener-bener jadi pacarmu?”
Aku terkejut.
“Arvin… kamu suka aku?” tanyaku ragu.
“Kayaknya iya.” jawabnya jujur.
“Kayaknya? Berarti kamu sendiri nggak yakin?”
“Aku cuma merasa nyaman kalau sama kamu.”
Aku menghela napas, menahan gemetar di dadaku.
“Maaf, Vin. Aku nggak suka kamu. Apa pun yang kamu rasakan—entah itu suka atau hanya nyaman—aku nggak bisa membalasnya. Aku udah suka sama cowok lain.”
Alis Arvin berkerut. “Kim Joon?” tanyanya cepat, seolah berharap jawabannya iya.
Aku menggeleng.
“Bukan. Seseorang yang udah lama mengisi hatiku. Jauh sebelum aku tahu siapa itu Kim Joon.”
“Siapa pria itu?” desaknya, suaranya sedikit naik.
Aku menatapnya lurus, kali ini tanpa ragu.
“Maaf. Aku nggak bisa bilang.”
Arvin terdiam. Rahangnya mengeras, lalu ia mengalihkan pandangan ke arah kota di bawah sana. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.
Aku menarik napas sekali lagi.
“Soal cinta, nggak cuma soal nyaman. Tapi tentang hati yang terikat. Dan hatiku nggak pernah ke kamu. Sejak lama, hatiku udah milih orang lain—orang yang selalu ada buat aku. Maaf kalau ini menyakitimu, tapi aku nggak mau kamu berharap pada sesuatu yang memang nggak pernah ada.”
Arvin tertawa kecil, hambar. “Jadi… selama ini aku sendirian ya. Nyaman sendiri.”
Aku tidak menjawab. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
“Aku harus balik ke ruanganku,” ucapku pelan. “Masih banyak pekerjaan.”
Tanpa menunggu responsnya, aku berbalik meninggalkan rooftop itu.
Aku tidak menoleh lagi—bukan karena tidak peduli, tapi karena aku tahu, kali ini aku sudah melakukan hal yang benar.
Sore hari, saat jam pulang tiba, aku langsung pulang. Sepanjang hari ini, aku tidak melihat Henry. Biasanya ia sesekali melewati ruanganku, sekadar menoleh atau bertanya hal sepele. Namun hari ini tidak.
Apakah ia sudah tahu gosip tentangku dan Arvin?
Apakah ia marah dan memilih menjauh?
Jangan.
Tidak boleh.
Jika Henry menjauh, kepada siapa lagi aku bisa bersandar?
Aku tidak berani mengirim pesan. Lebih baik membicarakannya langsung nanti.
Sesampainya di apartemen, aku segera menghapus riasan dan mandi. Air hangat mengalir, tapi pikiranku dingin dan kacau.
Saat keluar dari kamar mandi, Henry sudah ada di ruang tengah, menonton televisi.
“Oh? Kamu udah pulang?” tanyaku, sedikit terkejut.
Henry tidak menjawab. Ia mematikan televisi, berjalan ke kamar, mengambil baju, lalu masuk ke kamar mandi. Tidak sepatah kata pun. Tidak satu pun lirikan.
Dadaku terasa ditekan.
Aku tahu. Ia pasti sudah mendengar gosip itu.
Sambil menunggu Henry selesai mandi, aku duduk menonton televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa pun. Beberapa menit kemudian, Henry keluar. Ia kembali melewatiku tanpa suara.
Kesal, bingung, dan takut bercampur jadi satu. Aku bangkit dan mengikutinya ke dapur.
“Mas… kamu kenapa? Kenapa diem aja kayak gini?” tanyaku.
Henry membuka kulkas, mengambil air, lalu meminumnya. Setelah itu ia berjalan menuju kamar.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, aku memeluknya dari belakang.
“Mas… jangan diemin aku kayak gini,” ucapku lirih. “Kamu satu-satunya tempatku bersandar. Satu-satunya orang yang aku percaya.”
Henry terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, suaranya datar, “Kalau aku sepenting itu buat kamu, kenapa kamu terlihat mesra sama Arvin?”
Tubuhku menegang.
“Kamu udah lihat fotonya?” tanyaku pelan.
“Iya.”
“Mas… itu nggak kayak yang kamu lihat. Aku terdorong orang, hampir jatuh. Arvin menangkapku biar aku nggak jatuh. Hanya itu. Nggak ada apa-apa.”
Henry berbalik setengah, menatap lantai.
“Perasaan kamu ke Arvin gimana?”
“Aku nggak punya perasaan apa pun. Dia hanya rekan kerja. Jangan ragukan aku, Mas. Kalau kamu aja nggak percaya sama aku, siapa lagi yang percaya sama aku?”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Cuma kamu yang aku cintai. Nggak ada laki-laki lain. Aku mohon… percaya sama aku.”
Henry akhirnya berbalik sepenuhnya. Tangannya mengusap pipiku, menyeka air mata yang terus mengalir.
“Jangan menangis,” ucapnya lembut. “Maafin aku. Aku salah karena meragukanmu. Mulai sekarang aku akan percaya. Aku nggak akan mudah terpengaruh gosip murahan.”
Aku mengangguk, terisak.
“Jangan ragukan aku lagi, Mas. Hatiku cuma buat kamu.”
“Iya,” katanya pelan. “Udah… jangan menangis lagi.”
Tangisku mereda. Aku menatapnya lama, seolah ingin memastikan ia benar-benar ada di hadapanku, bukan hanya bayangan yang bisa pergi kapan saja.
“Mas…” ucapku pelan, hampir berbisik. “Akan aku buktiin kalau cuma kamu yang aku cintai. Cuma kamu.”
Henry tampak terkejut. “Lili, apa maksud—”
Aku tidak memberinya kesempatan menyelesaikan kalimatnya. Aku menggenggam tangannya dan menariknya masuk ke kamar.
“Lili… kamu mau apa?” tanyanya, suaranya terdengar bingung.
“Aku mau kamu.” jawabku jujur.
Aku mendorongnya ke tempat tidur hingga tubuhnya jatuh pelan dan berbaring terlentang. Jantungku berdegup keras, bukan karena gairah semata, melainkan karena perasaan terdesak—takut kehilangan, takut tak lagi dipercaya.
Aku naik ke atas ranjang dan duduk di atas tubuhnya, lututku di kedua sisi pinggangnya. Bukan posisi yang asing bagi kami, tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu yang ingin kubuktikan, sesuatu yang ingin kutunjukkan tanpa kata-kata.
Henry menatapku. Diam. Tatapannya gelap, sulit ditebak—antara marah, cemburu, dan kelelahan emosional yang belum sempat ia keluarkan.
Aku menunduk dan mencium bibirnya lebih dulu. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut. Ciuman itu seperti pengakuan yang kupaksakan keluar dari diriku sendiri. Beberapa detik ia diam, membiarkanku memimpin. Lalu Henry membalas—lebih dalam, lebih tegas, seolah akhirnya melepaskan sesuatu yang sejak tadi ia tahan.
Tangannya naik ke punggungku, menahan tubuhku agar tak menjauh. Napas kami bercampur, semakin berat. Aku merasakan kehangatan tubuhnya menembus kain yang masih menempel di antara kami.
Tanganku bergerak ke dadanya, menarik kaos yang ia kenakan ke atas. Henry tidak menghentikanku. Ia hanya mengangkat lengannya, membiarkan kain itu terlepas, lalu kembali memegang pinggangku—kali ini lebih kuat.
Sentuhannya membuatku terdiam sejenak.
Giliran pakaianku. Tangannya menyusuri sisi tubuhku, tidak ragu, tidak meminta izin—karena kami sudah pernah sampai di titik ini sebelumnya. Gerakannya mantap, seolah ia ingin memastikan aku merasakan bahwa sentuhannya tetap sama. Bahwa tidak ada yang berubah.
Kami berhenti sesaat.
Hanya tatapan.
Aku bisa melihat konflik itu di matanya—keraguan yang belum selesai, rasa ingin memiliki yang bercampur cemburu, dan kebutuhan untuk diyakinkan bahwa aku memang miliknya.
Henry membalikkan posisiku dengan gerakan tegas namun tetap terkontrol. Kini aku terbaring di bawahnya, sementara ia menahan tubuhnya di atasku—cukup dekat hingga napasku tersendat.
Aku mengangkat wajah, menatap matanya yang masih menyimpan bayangan keraguan.
“Mas…” suaraku pelan, tapi pasti. “Di hatiku cuma ada kamu.”
Henry diam, menatapku dalam.
“Bukan dia. Bukan siapa-siapa,” lanjutku lirih. “Kalau aku masih di sini, kalau aku sampai sejauh ini… itu karena kamu.”
Tatapannya melembut, meski sisa cemburu itu belum sepenuhnya hilang.
Tangannya menyusuri tubuhku perlahan, seolah ingin memastikan bahwa kata-kataku bukan sekadar penghibur, melainkan kebenaran yang bisa ia rasakan. Pakaian yang tersisa terlepas tanpa tergesa.
Henry kembali mencium bibirku, lembut namun dalam. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya, membalas tanpa ragu.
Tak lama, bibirnya turun ke leherku. Aku memejamkan mata, menikmati sentuhannya yang perlahan semakin rendah, hingga mencapai tempat yang membuat napasku terputus.
“Aah…” lirihku.
Ia bertahan di sana cukup lama, membuatku kehilangan arah. Setiap sentuhannya terasa seperti penegasan bahwa aku miliknya—bukan dalam arti kepemilikan, tapi dalam arti dipilih.
Saat akhirnya ia menyatukan kami, aku bisa merasakan intensitas yang berbeda. Ada cinta di sana, tapi juga cemburu yang belum sepenuhnya padam.
“Ah! Mas…”
“Sebut namaku, Lili.” ucap Henry pelan, suaranya berat.
“Mas Henry… aah…”
Ia berhenti sejenak, menatapku, memastikan tatapanku hanya untuknya.
“Nggak akan aku biarin kamu sama cowok lain.”
“Aku nggak akan sama cowok lain. Aku cuma maunya sama kamu.”
Henry menunduk dan menciumku lagi sebelum kembali menyatukan kami. Tanganku melingkar di punggungnya, mencari pegangan, merasakan setiap detik kebersamaan itu.
Dalam momen tersebut, cinta dan cemburu melebur menjadi satu. Bukan untuk membuktikan kepemilikan, melainkan untuk menegaskan pilihan.
Kami tenggelam dalam kebersamaan yang tak akan pernah kulupakan. Di saat itu, tak ada Arvin. Tak ada keraguan. Hanya Henry.
Dan aku—yang memilih, dan dipilih.
Di pelukannya sore itu, aku merasa dicintai.
Merasa diinginkan.
Merasa cukup.
Tidak seperti di rumah, tempat aku sering merasa tak terlihat dan tak dianggap.
Bersama Henry, aku merasa menjadi seseorang.