Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Bab 13 Denzel Yang Dikenal Brutal, Ternyata
Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat.
Kebanyakan orang di desa makan malam lebih awal.
Setelah selesai makan dan seharian bekerja di sawah, banyak ibu-ibu yang berkumpul di bawah pohon beringin besar di gerbang masuk desa. Mereka saling bertukar informasi terbaru yang ada di desa. Terkadang, mereka juga sempat diam-diam menggosip orang yang kebetulan lewat di depan mereka.
Sebentar lagi, Denzel akan pergi ke kota dan satu-satunya akses yang bisa dilewati adalah gerbang masuk desa.
Gerombolan ibu-ibu duduk berjejer di sebuah bangku kecil, mereka terlihat asik mengobrol dengan penuh membara. Namun tiba-tiba, ada salah satu ibu-ibu bermata tajam yang langsung memerhatikan Denzel yang sedang berjalan ke arah mereka. Segera saja, salah satu ibu-ibu itu memberi kode dengan mengedipkan mata pada kawanannya.
"Hei, hei! Lihat tuh, suami Fiona lagi menuju ke sini!"
Saat mendengar peringatan itu, ibu-ibu yang lain langsung bereaksi dan berhenti mengobrol. Pada saat yang bersamaan, entah sengaja atau tidak, mereka melirik Denzel dan diam-diam saling menatap satu sama lain.
"Dia pasti pergi berjudi lagi!"
"Ckckck! Dasar bocah tak tahu diri!"
Denzel merasakan lirikan mata para ibu-ibu sedang mengarah kepadanya.
Hal itu tentu saja membuatnya tidak nyaman.
Jarang sekali dia melewati jalan ini dalam keadaan sadar. Biasanya sih dia selalu melewati jalan ini dalam keadaan mabuk.
Namun, ada beberapa kali saat dia melewati jalanan ini, selalu saja ada yang menatapnya dan akhirnya menyebabkan perkelahian.
Meski Denzel adalah pelaku utama dalam kejadian itu, dia hanya ingat salah satu ibu-ibu yang ada di bawah pohon beringin, pernah dia tarik kerahnya. Hal
Itu karena dia mabuk sehingga membuatnya tidak seberapa ingat.
Bagaimanapun, karena temperamennya yang buruk saat mabuk, kebanyakan orang di desa kini memilih mengambil jalan memutar daripada berpapasan dengannya.
Denzel pun tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal itu.
Namun, karena sudah memutuskan untuk berubah, dia tidak boleh bersikap semaunya seperti dulu.
Namanya juga tetangga, saat bertemu setidaknya harus bertegur sapa.
Meski tidak nyaman saat merasakan tatapan ibu-ibu itu, Denzel memilih untuk menghentikan langkahnya dan tersenyum ke arah mereka.
Ibu-ibu itu tidak menyangka Denzel akan tiba-tiba berhenti. Apalagi saat melihat tatapan Denzel, tubuh mereka langsung bergetar hebat.
Hati mereka pun langsung mulai panik.
Apa mungkin bocah itu tahu mereka sedang membicarakan yang tidak-tidak tentangnya? Lalu, dia ingin memberikan pelajaran pada mereka di bawah pohon beringin ini?
Jelas-jelas mereka tidak langsung menatap ke arah Denzel, tapi entah kenapa bocah itu kelihatannya sedang marah!
Bagaimana ini? Apa yang harus mereka lakukan?
Bocah bengis itu bisa menghajar
Siapa pun tanpa pandang bulu!
Denzel mana tahu jika ibu-ibu yang terlihat begitu tenang itu, sebenarnya sedang merasa was-was dalam hatinya.
Denzel berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan senyum yang tampak alami dan sopan di wajahnya. Kemudian, dia menyapa dan mengangguk dengan sopan pada mereka, "Selamat malam, Ibu-ibu."
"Aaa ... hahaha!" Bibi Rita yang paling gemuk di antara ibu-ibu pun terlihat cepat merespon dengan tertawa, lalu berkata, "Selamat malam, Denzel. Mau ke mana malam-malam begini?"
Selesai bertanya, tanpa sadar Bibi Rita bisa bernafas dengan lega.
Barusan, dia mengira Denzel akan
Menghajarnya.
Namun siapa sangka, Denzel justru menyapa mereka untuk pertama kalinya.
Itu sebabnya mereka harus menjawab sapaan itu.
Apalagi Keluarga Adrian Nyoto sangat mengkhawatirkan kandungan yang ada di perut istri Denzel.
Kemarin, saat Denzel mabuk, Bibi Rita mengatakan banyak hal sampai mulutnya berbusa dan baru menyadari bahwa Denzel bahkan tidak menghiraukannya.
Saat ada waktu nanti, dia ingin berbincang-bincang dengannya mengenai penjualan anak, ups! Maksudnya tentang pengadopsian anak.
Begitu mendengar suara Bibi Rita
Yang menyapa Denzel, ibu-ibu lainnya pun tersadar. Mereka lantas berniat untuk menimpali sapaan Denzel, "Selamat malam, Denzel. Mau pergi ke mana, nih? Ke kota beli bir?"
"Pastinya. Siapa pun tahu kalau Denzel suka sekali minuman anggur jagung Keluarga Baskara yang ada di kota!"
Setelah melihat sapaannya direspon dengan hangat, Denzel pun tersenyum, lalu berkata, "Aku mau ke kota beli beberapa bahan makanan dan sayuran. Kalau begitu, lanjutkan saja obrolannya, ya."
"Oh, baiklah! Apa???"
Begitu mendengar jawaban Denzel, mereka langsung tercengang!
Apa?
Apa mereka tidak salah dengar?
Pemalas seperti Denzel pergi membeli bahan makanan dan sayuran?
Denzel tidak ingin menghabiskan waktu untuk menjelaskan pada mereka.
Setelah mengangguk, dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju arah kota.
Butuh waktu lebih dari setengah jam berjalan kaki untuk bisa sampai ke kota.
Di bawah pohon beringin besar.
Ibu-ibu menatap sosok Denzel yang kini perlahan lenyap dari pandangan
Mereka. Setelah tertegun sejenak, akhirnya mereka tersadar dan langsung berkumpul.
"Ya Tuhan! Apa aku nggak salah dengar, nih? Denzel mau pergi beli bahan makanan dan sayuran?"
"Iya! Bukannya dia selalu bermalas-malasan di rumah dan hanya nungguin istrinya pulang untuk buatin dia makanan? Selain itu, dia bahkan menyapa kita barusan?"
"Ini benar-benar aneh! Dia itu 'kan pria malas sepanjang masa!"
"Sial! Sayang sekali dia sudah menghabiskan semua harta peninggalan kakeknya. Kurasa, kakeknya pasti sudah emosi kali melihat kelakuannya ini!"
"Eh, lebih kasihan lagi istrinya! Dia
Sedang mengandung tiga bulan, tiap hari harus berjalan kaki selama satu setengah jam lebih untuk kerja di pabrik kertas!"
"Ckckck... kudengar dia juga putri dari keluarga kaya. Keputusannya menikah dengan pria seperti Denzel menghancurkan seluruh hidupnya!"
"Haisss... kasihan sekali nasibnya!"
Para ibu sedang menggosip, semuanya tampak menghela napas panjang saat membicarakan kelakuan Denzel.
Di sisi lain.
Denzel yang sedang menyusuri sepanjang jalan merasa hidungnya gatal dan terus bersin-bersin.
"Hatsyi!"
Setelah bersin sekali lagi, Denzel pun menggosok hidungnya dan mempercepat langkah kakinya terus berjalan ke depan.
Fiona harusnya pulang tepat pukul delapan lewat empat puluh menit pada malam hari. Jika Denzel bisa lebih cepat pulang, artinya dia bisa memasak lalu makan bersama Fiona.
Hari ini adalah hari yang sangat langka. Seorang Denzel menyusuri jalan menuju kota dalam keadaan tidak mabuk.
Perjalanan yang awalnya membutuhkan waktu tiga puluh menit, kini dipersingkat menjadi dua puluh menit saja.
Setibanya di kota, dengan mengandalkan ingatan yang ada di benaknya, Denzel berkeliling ke sana kemari dan akhirnya menemukan satu-satunya supermarket yang menjual bahan-bahan mentah.
Begitu memasuki supermarket, tatapan matanya langsung bergerak mengamati sekeliling. Setelah menemukan apa yang dicari, Denzel langsung menuju ke area buah dan sayuran segar.
Hari ini, dia lumayan beruntung.
Walaupun sudah malam, supermarket masih tersedia banyak sayuran segar.
Harga satuan sayuran di sini juga sangat terjangkau, satu ikat hanya seharga dua sampai empat ribu saja.
Namun, mengingat hanya ada uang
Tiga puluh delapan ribu di sakunya, dia harus memilih sayuran dengan hati-hati.
Denzel menyusuri area buah dan sayuran. Dia mengambil dua buah kentang, dua buah paprika, dua butir telur, satu bongkol bawang bombay dan satu buah jagung manis.
Setelah selesai, dia pun pergi ke tempat penimbangan. Pegawai supermarket yang berjaga langsung menimbang semua belanjaan Denzel, dengan total belanjaan seharga delapan belas ribu.
Selanjutnya, Denzel kembali menimbang seperempat tulang iga sapi.
Setelah membayar semuanya, Denzel keluar dari supermarket. Uang tiga puluh delapan ribu yang dia bawa, kini hanya tersisa seribu saja di
Kantongnya...
Ternyata ... memang harus segera mencari uang.
Setelah menghentikan langkahnya di pintu masuk supermarket selama satu dua detik, Denzel menenteng tas belanjaannya dan pergi.
Pada saat yang bersamaan.
Di sebuah pabrik kertas yang bising.
Fiona dengan terampil meletakkan bahan baku kertas seberat hampir dua puluh lima kilogram ke atas meja mesin pemotong. Dia menekan sakelar on/off, lalu mesin mulai beroperasi.
Fiona pun menyeka keringat yang ada di dahinya selagi bahan baku kertas
Sedang dipotong. Kebetulan pengawas produksi juga tidak ada di tempat, dia pun memilih setengah duduk di atas meja produksi untuk beristirahat.
Baginya, perilaku malas semacam ini sangatlah menjijikkan.
Namun, demi kesehatan bayi yang ada di perutnya, dia tidak boleh berdiri terlalu lama. Dia juga tidak berani memberitahu pengawas mengenai kondisinya saat ini. Jika tidak, pabrik pasti akan membujuknya untuk berhenti bekerja.
Meski dia lulusan manajemen ekonomi, di tempat terpencil seperti ini, jangankan pekerjaan sipil, buruh harian saja sudah sangat sulit didapatkan. Tidak heran jika orang-orang sangat sulit mengganti pekerjaan.
Dalam waktu singkat, dia harus mendapatkan uang untuk menghidupi diri dan bayinya. Selain menjadi buruh, tidak ada jalan lain untuk bisa mendapatkan uang.
Bagaimana jika dia kehilangan pekerjaannya saat ini? Entah itu karena usia kehamilan yang semakin besar atau juga karena rekan kerja sedesa yang memberitahu atasan tentang kehamilannya. Lalu, bagaimana nasibnya? Apa yang bisa dia lakukan?
Apa dia ... bisa mengandalkan Denzel?
Fiona memijat pahanya yang terasa penat. Dia teringat senyum dan sikap lembut Denzel padanya hari ini. Entah kenapa kejadian itu terus terngiang-ngiang di benaknya dan tanpa sadar membuatnya tersenyum.
Dalam hatinya pun terus berpikir... andai saja Denzel bisa bersikap seperti itu selamanya, bukankah akan lebih baik...