Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Bikin Sarapan
Ogi menemui Lilis di luar. Gadis itu terlihat cemberut. Menatap tajam ke arah Ogi yang baru keluar.
“Naha Akang tega nikah jeung mojang séjén atuh? Eneng dianggap naon salila ieu? (Kenapa Akang tega nikah sama gadis lain atuh? Eneng dianggap apa selama ini?)" timpal Lilis dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Astaga, Neng Lilis. Memang Eneng nganggap Akang naon? Urang mah ngan tatanggaan atuh, (Astaga Neng Lilis, memangnya Eneng menganggap Akang apa? Kita kan cuman tetanggaan atuh,)" sahut Ogi.
“Jadi Eneng ngan dianggap tatangga salila ieu, Kang? Tega pisan sih… (Jadi aku hanya dianggap tetangga selama ini, Kang? Tega banget sih...)" Lilis menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Lis, ulah kieu. Abdi teu ngeunah ka pamajikan. Ulah kaleuleuwihi atuh, (Lis, jangan begini. Nggak enak aku sama istriku. Jangan berlebihan atuh,)" ujar Ogi berusaha menenangkan.
“Emang sakumaha geulisna manéhna, nepi ka Akang langsung hayang nikah jeung manéhna kitu waé? (Emang secantik apa sih dia? Sampai Akang langsung mau menikahinya begitu saja?)" balas Lilis.
Mendengar itu, Eyang Imas ikut keluar. Dia sudah mengangakan mulutnya karena hendak angkat suara. Namun kalah cepat dari Arisa.
"Jangan ganggu suamiku!" tegas Arisa.
"Oh... Jadi kau istrinya Kang Ogi?" Lilis menatap Arisa dari ujung kaki dan kepala. Seolah sedang menilai penampilan gadis itu. Ia sempat terdiam karena memang pada dasarnya Arisa cantik.
"Biasa aja ih! Gak secanting Eneng," komentar Lilis.
"Terserah kau mau bilang apa, yang jelas Kang Ogi dan aku sudah menikah! Jadi aku mohon maklumi lah, dan jangan pernah ganggu Kang Ogi lagi!" sahut Arisa. Dia lalu mengaitkan tangannya ke lengan Ogi. "Ayo, Kang. Kita masuk. Aku akan buatkan sarapan," ajaknya sembari menyeret Ogi.
Ogi mengulum senyum. Sementara itu Lilis terpaksa pergi dengan ekspresi kesalnya.
Arisa segera melepas gandengannya setelah memastikan Lilis pergi. Tak lama, Eyang Imas baru masuk ke rumah.
"Kau ternyata hebat juga atuh, Neng... Tapi lain kali jangan terlalu kasar ya," saran Ogi.
"Wanita seperti itu memang pantas di kasarin, Kang. Dari pada dia ganggu Akang terus," tanggap Arisa.
"Jangan atuh, Neng. Di sini orang kalau marah takutnya main dukun," balas Ogi.
"Apa?" Arisa kaget.
"Ayo, Neng. Kita ke dapur. Katanya mau bikinkan sarapan buat Ogi," sergah Eyang Imas. Sengaja memotong pembicaraan Ogi dan Arisa.
"Eh iya, Eyang..." Arisa terpaksa mengikuti Eyang Imas ke dapur.
Setibanya di dapur, dahi Arisa berkerut dalam. Dia tidak melihat ada kompor di sana.
"Eyang tadi udah bikin keredok. Kamu kalau mau bikin yang lain, buat saja ya. Eyang mau ke ladang dulu," kata Eyang Imas.
"Baik, Eyang " Arisa mengangguk saja. Dia takut bertanya pada Eyang Imas karena merasa segan.
Kini Arisa sendirian di dapur. Namun dia masih celingak celingukan karena bingung. "Mana sih?" gumannya.
Ogi yang menyadari itu, segera mendekat. Dia bertanya, "Ada apa atuh, Neng? Cari apa?"
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Apa?" Mata Arisa membulat. "Pakai kayu? Aku nggak salah dengar kan?" tanyanya tak percaya.
"Nggak salah, Neng..." jawab Ogi tenang.
"Tapi ini sudah tahun 2026 loh, Kang! Masih ada gitu orang yang masak pakai kayu? Kayak zaman primitif ini, Kang!" ungkap Arisa.
"Beginilah kenyataannya kalau di desa atuh, Neng. Eyang juga udah biasa pakai kayu," kata Ogi.
"Itu kan Eyang. Tapi aku enggak." Arisa mendengus kasar.
"Biar Akang ajari cara hidupin apinya ya," kata Ogi.
"Terserah deh. Tapi aku udah kehilangan motivasi buat masak, Kang. Tiba-tiba ngerasa capek duluan," keluh Arisa sambil duduk ke kursi.
"Ya udah, biar Akang saja yang bikin sarapan. Enang mau sarapan apa atuh?" tanya Ogi.
"Aku biasanya makan nasi goreng, sandwich atau roti sama selai stroberi. Ada?" ujar Arisa.