Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di kantor pusat, namun pikiran Linggar masih terasa mendung.
Dengan mata yang sedikit sembap, ia duduk di kursi kerjanya, jemarinya lincah menari di atas papan tik untuk mengatur jadwal padat sang CEO.
"Jam sepuluh pagi, meeting dengan investor di Hotel Mulia. Malam pukul delapan, undangan gala dinner Tuan Bayu di Bandung." gumam Linggar pada dirinya sendiri.
Linggar berhenti sejenak saat membaca catatan bagian bawah.
Jarak Jakarta-Bandung tidak mungkin ditempuh pulang-pergi dalam semalam setelah acara besar yang pasti selesai larut.
"Berarti menginap?" gumamnya dengan nada khawatir.
Segera, ia menghubungi pihak hotel di Bandung yang menjadi lokasi acara.
Suara resepsionis di seberang telepon terdengar sangat menyesal.
"Selamat pagi, Mbak. Saya Linggar, mau pesan dua kamar untuk nanti malam." ucap Linggar.l
"Mohon maaf, Ibu Linggar. Karena ada konferensi internasional, kamar di hotel kami dan hotel sekitar hampir penuh. Kami hanya memiliki satu kamar tipe Presidential Suite yang tersisa. Apakah Anda ingin mengonfirmasinya?"
Linggar langsung terdiam sejenak, jantungnya berdegup kencang.
"Satu kamar? Tapi saya butuh dua..."
"Apa yang satu kamar?"
Suara berat dan bariton itu muncul tepat di belakang telinganya.
Linggar hampir melompat dari kursinya saat mendengar suara Rangga yang berdiri di depan ruangan kerja Linggar.
Ia segera mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja dengan gerakan panik.
Rangga berdiri di sana, tampak sangat segar dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia menatap Linggar dengan kening berkerut.
"Kenapa wajahmu pucat begitu? Dan apa yang satu kamar?" tanya Rangga sambil mencoba membaca ekspresi sekretarisnya yang tampak sangat gugup.
Linggar menelan salivanya dan berusaha mencari alasan yang masuk akal.
"Itu, Pak. Maksud saya, Rangga. Untuk acara Tuan Bayu malam ini di Bandung. Pihak hotel bilang kamar hampir habis. Mereka hanya menyediakan satu kamar tersisa."
Rangga terdiam sejenak, menatap Linggar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lalu? Masalahnya di mana?"
"Masalahnya, saya tidak mungkin satu kamar dengan Anda, Rangga," jawab Linggar dengan suara pelan, wajahnya mulai memanas.
Rangga justru menyunggingkan senyum tipis, jenis senyum yang membuat Linggar merasa tidak aman.
"Bukankah Presidential Suite memiliki ruang tamu dan sofa yang luas? Lagipula, aku tidak akan memakanmu, Linggar. Setelah latihan di gym kemarin, aku tahu kamu bisa membantingku jika aku macam-macam."
Linggar tertegun. Candaan Rangga mengingatkannya pada kejadian di atas matras.
"Pesan saja kamar itu sebelum diambil orang lain," perintah Rangga sambil melangkah menuju ruangannya.
Tiba-tiba ia berhenti di ambang pintu dan menoleh.
"Linggar, kenapa matamu sembap. Apa semalam kamu menangis lagi?" tanya Rangga.
Linggar sedikit terkejut dan tidak menyangka jika Rangga akan sedetail itu memperhatikannya.
"Hanya kurang tidur karena menonton drama, Rangga," bohongnya lagi.
Rangga tidak membalas, ia hanya menatap Linggar lama sebelum masuk ke ruangannya.
Di dalam hatinya, Rangga mulai merasa ada benang merah yang aneh antara kesedihan Linggar dan waktu-waktu di mana 'Nadya' di ponselnya mendadak melankolis.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Linggar kembali menghubungi pihak hotel di Bandung.
"Halo, saya Linggar dari kantor Pak Rangga. Baik, saya konfirmasi pesan satu kamar Presidential Suite tersebut atas nama Rangga Steward. Terima kasih."
Setelah menutup telepon, Linggar menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
Pikirannya sudah kemana-mana dimana ia akan bermalam di kota yang sama, dalam ruangan yang sama dengan pria yang mencintai 'identitas palsunya' adalah sebuah bencana yang nyata. Namun, ia tidak punya pilihan lain.
Ia segera mengambil ponsel pribadinya dan mengirim pesan singkat kepada Nadya.
[Nad, Mbak hari ini tidak pulang. Ada tugas kantor mengawal Pak Rangga ke Bandung dan harus menginap karena acaranya sampai larut malam. Kamu jangan lupa kunci pintu dan jendela ya.]
Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar. Balasan dari Nadya masuk.
[Wah, sibuk banget ya Mbak? Kebetulan banget, aku juga baru mau kasih tahu. Tugas kelompokku ternyata belum selesai, Win dan teman-teman sepakat buat lanjut lembur malam ini di rumah Edwin. Jadi aku juga nggak pulang malam ini. Mbak hati-hati ya di Bandung! Jangan lupa makan!]
Linggar menghela napas lega sekaligus cemas. Setidaknya ia tidak perlu mengkhawatirkan Nadya yang sendirian di rumah.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di ponsel rahasianya. Sebuah pesan dari Rangga untuk 'Nadya'.
[Sayang, malam ini aku ada acara di Bandung. Aku mungkin akan sangat sibuk, tapi aku akan merindukan suaramu. Nanti kalau ada waktu luang, aku telepon ya? Aku ingin menceritakan betapa indahnya kota ini kalau ada kamu di sampingku.]
Linggar menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca.
Rangga akan berada di Bandung, bersamanya sebagai sekretaris, namun pria itu justru merindukan sosok 'Nadya' yang sebenarnya berada tepat di hadapannya.
"Seandainya kamu tahu, Rangga. Aku ada di sampingmu. Aku akan selalu ada di sampingmu, meski kamu tidak pernah melihatku yang sebenarnya," bisik Linggar lirih.
Ia segera menghapus air matanya saat mendengar langkah kaki Rangga keluar dari ruangan.
"Ayo, Linggar. Kita berangkat sekarang. Perjalanan ke Bandung bisa macet kalau kita telat sedikit saja."
Linggar berdiri, merapikan rok kerjanya, dan mengikuti langkah tegap pria itu menuju basement.
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan bisnis, melainkan perjalanan menuju titik paling berbahaya dari kebohongannya.
Jalanan menuju hotel tempat meeting pertama terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tanpa kehadiran sopir di balik kemudi, kabin mobil mewah itu terasa jauh lebih sempit dan intim.
Rangga fokus pada jalanan, sementara Linggar terus menatap keluar jendela, mencoba mengalihkan gemuruh di dadanya.
Tangan Rangga bergerak menyentuh layar dasbor, menghidupkan radio.
Sedetik kemudian, intro lagu Teardrops mulai memenuhi ruangan.
Melodi yang sangat familiar itu seketika menarik kesadaran Linggar.
Ini adalah lagu yang pernah ia sebutkan sebagai lagu favoritnya saat mereka mengobrol lewat pesan singkat sebagai 'Nadya'.
Tanpa sadar, Linggar mulai bersenandung lirih, hingga akhirnya suaranya keluar dengan bening dan penuh perasaan:
"We could flow like teardrops on the ocean...
We could flow like water to the sea...
It may sound unclever... we'd last forever...
If you want to stay with me... if you want to stay..."
Linggar menyanyi dengan mata terpejam, menghayati setiap kata seolah ia sedang mengemis pada takdir agar Rangga tetap di sisinya saat kebenaran terungkap nanti.
Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh melintasi pipinya, disusul tetesan lain yang tak terbendung.
Ciiiiitt!
Rangga meminggirkan mobilnya secara perlahan ke bahu jalan.
Ia mematikan musik, membuat suasana menjadi sunyi senyap.
Rangga merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan kain berwarna biru tua yang bersih dan menyodorkannya pada Linggar.
"M-maaf, maafkan aku, Rangga," ucap Linggar terbata-bata sambil menerima sapu tangan itu.
Ia mengusap wajahnya dengan panik. "Aku terlalu menghayati lagunya. Lagu ini sangat sedih."
Rangga tidak segera menjalankan mobilnya. Ia menatap Linggar dengan intensitas yang membuat Linggar sulit bernapas.
"Kamu suka lagu ini?" tanya Rangga pelan.
Linggar menganggukkan kepalanya dengan kaku. "Sangat suka. Lagu ini mengingatkanku bahwa tidak ada yang abadi, kecuali jika seseorang benar-benar ingin tinggal."
Rangga terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis—senyum yang terlihat tulus namun menyimpan kerinduan.
"Suaramu bagus sekali, Linggar. Aneh, selera musikmu sangat mirip dengan seseorang."
Rangga menghela napas panjang dan kembali memegang kemudi.
"Aku harap calon istriku, Nadya, juga menyukai lagu ini. Jika iya, aku akan memintanya bernyanyi untukku setiap malam sebelum tidur."
Kalimat itu bagai belati yang menusuk jantung Linggar.
Rangga memujinya, namun pujian itu dialamatkan untuk sosok 'Nadya' yang ideal, bukan untuk Linggar yang ada di sampingnya.
Rangga kembali melajukan mobilnya menuju hotel, sementara Linggar meremas sapu tangan milik Rangga kuat-kuat.
"Dia ingin aku bernyanyi untuknya," batin Linggar pilu.
'Tapi dia tidak sadar bahwa orang yang baru saja bernyanyi di sampingnya adalah orang yang sama.' ucap Linggar dalam hati.
Linggar melirik Rangga yang sedang fokus menyetir.
"Apa dia sangat cantik?"
"Sangat cantik," jawab Rangga tanpa ragu, matanya menerawang menatap jalanan di depan seolah sedang memproyeksikan wajah "Nadya" di kaca depan mobil.
"Bukan hanya wajahnya, tapi juga jiwanya. Dia punya cara bicara yang membuatku merasa tenang, seolah semua masalah kantorku hilang begitu saja saat aku membaca pesannya."
Linggar menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. Ia merasakan sesak yang luar biasa.
Rangga sedang memuji sebuah bayangan, sebuah kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
"Apa, dia juga cantik secara fisik? Maksudku, seperti model-model di majalah itu?" tanya Linggar dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba memancing sejauh mana Rangga mencintai citra palsu tersebut.
Rangga tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat tulus.
"Dari foto-fotonya, dia sempurna, Linggar. Rambutnya, matanya, dia terlihat sangat proporsional. Tapi jujur saja, bahkan jika dia tidak secantik di foto pun, aku merasa aku sudah terlalu dalam jatuh cinta pada pribadinya."
'Kamu bohong, Rangga,' teriaknya dalam hati.
'Jika kamu melihatku yang sebenarnya, kamu tidak akan bicara seperti itu. Kamu baru saja memuji 'Nadya' yang ramping, sedangkan di sampingmu ada 'babi' yang pernah dihina dunia.'
"Tapi kamu belum pernah bertemu dengannya, kan?" tanya Linggar lagi, suaranya kini terdengar sedikit lebih berani.
"Belum. Dia sedang sangat sibuk dengan kuliahnya," sahut Rangga.
"Tapi malam ini, setelah acara di Bandung selesai, aku berencana melakukan panggilan video dengannya. Aku ingin melihat wajahnya sebelum tidur. Aku merindukannya."
Linggar seketika merasa lemas saat mendengar perkataan dari Rangga
'Panggilan video? Itu berarti identitasnya benar-benar di ujung tanduk. Ia tidak mungkin menggunakan filter atau sudut kamera yang menipu untuk waktu yang lama.'
Mobil terus melaju membelah jalanan menuju Bandung.
Di dalam kabin yang sejuk itu, Linggar merasa seperti sedang dipanggang api.
Ia harus segera memutar otak. Bagaimana caranya ia bisa menjadi sekretaris Rangga di kamar yang sama, sekaligus menjadi 'Nadya' dalam panggilan video di saat yang bersamaan?
"Kamu kenapa, Linggar? Kok diam saja? Kepalamu pusing?" tanya Rangga menyadari perubahan raut wajah sekretarisnya.
"Nggak, Rangga. Aku cuma sedikit mengantuk," jawab Linggar sambil memalingkan wajah, menyembunyikan kecemasan yang terpancar jelas di matanya.