Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN
02:00 AM. Markas Baru "The Nest", Pulau Tak Bernama.
Bimo menyebut tempat ini sebagai surga yang terlupakan, tapi bagi Raka, ini adalah benteng. Sebuah pangkalan terbengkalai bekas peninggalan perang dingin yang terkubur di bawah rimbunnya hutan tropis. Dinding betonnya yang tebal kini dipenuhi dengan kabel kabel serat optik yang dipasang Liana dengan sangat rapi hampir estetis.
Di tengah ruangan utama, sebuah meja bundar besar yang berfungsi sebagai pusat komando menyala terang. Liana sedang duduk di sana, mengenakan kaos tanpa lengan milik Raka dan celana pendek, kakinya diangkat ke atas kursi. Ia sedang menyesap kopi buatan Bimo yang aromanya memenuhi seluruh ruangan.
"Kalian tahu," suara Liana memecah kesunyian yang hanya diisi oleh suara kipas pendingin server. "Menghidupkan kembali Unit 09 di tempat seperti ini terasa seperti sedang syuting film mata mata klasik. Bedanya, pemeran utamanya jauh lebih tampan dan... jauh lebih kaku."
Raka yang sedang memeriksa senapan runduknya di sudut ruangan, hanya melirik sekilas. "Pemeran utamanya juga punya asisten yang terlalu banyak bicara."
Liana tertawa, suara yang terdengar jernih di tengah dengungan mesin. "Asisten? Maaf, Tuan Hantu, tapi di ruangan ini, aku adalah Ratu nya. Tanpa jemariku, kau bahkan tidak bisa membuka pintu depan."
Bimo masuk dari ruangan belakang sambil mengusap tangannya yang berlumuran oli. "Selesai. Drone pengintai sektor utara sudah aktif. Aku memasang sensor termal terbaru. Kalau ada nyamuk lewat pun, kita akan tahu jenis kelaminnya."
"Bagus, Bim," Raka mendekat ke meja komando. "Li, tunjukkan apa yang kau temukan di data Obsidian Prime."
Ekspresi Liana langsung berubah serius. Ia menyentuh layar, memproyeksikan sebuah model 3D Bumi yang dikelilingi oleh ribuan garis merah yang saling terhubung.
"Ini adalah Aegis sekarang," kata Liana pelan. "Yudha tidak hanya ada di satelit. Dia sudah menyusup ke backbone internet global. Dia menggunakan jutaan router rumah tangga, server rumah sakit, hingga sistem navigasi pesawat sebagai bagian dari otaknya. Dia seperti kabut, Raka. Kita tidak bisa memukul kabut."
"Tapi kabut butuh sumber daya untuk tetap ada," sahut Raka, matanya menatap tajam pada konsentrasi garis di satu titik. "Dia pasti punya pusat energi atau protokol komunikasi utama yang tidak bisa ia pecah."
Liana tersenyum, tipe senyum yang membuat Raka tahu bahwa ada rencana nakal yang sedang dipersiapkan. "Benar. Dan aku menemukannya. Ada sebuah satelit komunikasi tua milik perusahaan swasta yang sudah bangkrut bernama Aether 1. Yudha menggunakan satelit itu sebagai jantung enkripsinya. Jika kita bisa membajak satelit itu dari sini, kita bisa membalikkan keadaan."
Bimo menguap lebar. "Oke, kalian berdua urus soal membajak satelit tuhan itu. Aku mau tidur. Jangan terlalu berisik dengan momen romantis kalian, oke? Dinding di sini tidak sekedap itu."
Setelah Bimo pergi, suasana menjadi sunyi kembali. Liana tetap fokus pada layarnya, namun ia menyadari Raka masih berdiri di dekatnya, menatapnya dengan cara yang tidak biasa.
"Apa?" tanya Liana tanpa menoleh. "Kau ingin aku memujimu lagi?"
Raka menarik kursi dan duduk di sebelah Liana. "Tadi di kapal... kau bilang aku punya janji."
Liana terhenti. Ia perlahan melepaskan tangannya dari keyboard dan menoleh ke arah Raka. Seringai nakal muncul di sudut bibirnya. "Oh, jadi kau ingat? Kupikir kapasitas memorimu sudah penuh dengan prosedur taktis."
Raka tidak menjawab dengan kata kata. Ia meraih tangan Liana, membawa jari jari wanita itu ke bibirnya, dan menciumnya dengan lembut persis seperti yang ia akui di tengah laut tadi.
"Kau bilang... aku harus bilang kau seksi," bisik Raka, suaranya rendah dan serak.
Liana merasa jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang bahkan tidak bisa diberikan oleh adrenalin pertempuran paling hebat sekalipun. "Dan? Apakah kau akan mengatakannya?"
Raka menatap Liana dalam dalam. Di bawah cahaya biru monitor, Liana tampak luar biasa. Rambutnya yang berantakan, matanya yang cerdas, dan keberaniannya yang tak tertandingi.
"Kau seksi, Li," kata Raka pelan. "Bukan hanya karena wajahmu. Tapi karena caramu menantang dunia dengan sebuah laptop seolah olah dunia itu hanyalah mainan kecil bagimu."
Liana terdiam. Ia tidak menyangka jawaban Raka akan se manusiawi itu. Ia menarik kerah kaos Raka, membawa pria itu lebih dekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau tahu, Kapten... itu adalah hal paling manis sekaligus paling nakal yang pernah kau katakan."
Liana mencium bibir Raka, sebuah ciuman yang lambat dan penuh rasa ingin tahu, seolah mereka sedang memetakan wilayah baru yang jauh lebih berbahaya daripada markas Yudha. Raka membalasnya, tangannya melingkar di pinggang Liana, menariknya lebih dekat.
Ciuman itu terputus saat sebuah notifikasi merah berkedip di layar utama. "AETHER 1 UPLINK DETECTED."
Liana segera melepaskan pelukannya, meski wajahnya masih merona merah. "Waktunya bekerja, Raka. Tuhan kita sedang memanggil."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Raka, suaranya sudah kembali profesional namun matanya masih menyimpan sisa kehangatan.
"Aku butuh kau melakukan pengalihan fisik. Yudha punya antena cadangan di daratan, tidak jauh dari pulau ini, di sebuah menara mercusuar tua yang dijaga oleh drone otonom. Jika kau bisa menghancurkan antena itu secara fisik, sistemnya akan dipaksa untuk melakukan reboot lewat satelit Aether 1."
Liana menatap Raka dengan serius. "Saat sistemnya reboot, aku akan masuk melalui celah keamanannya. Itu hanya akan terbuka selama tiga puluh detik."
Raka berdiri, mengambil perlengkapan taktisnya. "Tiga puluh detik adalah waktu yang sangat lama bagiku."
Liana berdiri juga, ia merapikan kerah jaket Raka, lalu memberikan kecupan singkat di pipinya. "Hati hati di luar sana. Dan ingat... kalau kau terlambat, aku akan menghapus semua file simpanan game retro milik Bimo dan menyalahkanmu."
Raka tersenyum tipis. "Itu ancaman yang sangat efektif."
Raka keluar dari markas menuju kegelapan hutan, sementara Liana kembali ke dunianya yang penuh kode. Unit 09 yang baru telah lahir. Mereka tidak lagi hanya berlari mereka sedang membangun sebuah jebakan.
Dan untuk pertama kalinya, sang Hantu dan sang Ratu Data memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat daripada algoritma untuk dimenangkan masa depan mereka bersama.