NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Tentang Mawar

Mawar membawa masuk Gerard dengan tangan yang terus menggenggam kuat, seolah tak ingin melepaskannya sedetik pun. Bahkan ia melewati Linda begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Gerard sempat menoleh dan mengangguk kecil sebagai salam, sebelum akhirnya lenyap di balik pintu dapur.

Linda? Masih di tempatnya. Dengan senyuman yang semakin lebar. Begitu mereka menghilang, suara pelan tapi penuh arti keluar dari bibirnya.

"Hoho~"

...*•*•*...

Di dapur, Mawar akhirnya melepaskan genggaman. Ia berbalik, menatap Gerard dengan senyum yang lebih ringan meski matanya masih sedikit sembap.

"Nah, Kakak! Aku mau masak. Kamu bisa pilih: tunggu di sini—tapi aku bakal canggung—atau pergi ke ruang makan dan tunggu dengan sabar." Ia menjelaskan dengan nada seperti sedang memberi opsi pada anak kecil. "Jadi, gimana?"

Gerard membuka mulut. "Emm, kayaknya aku di—"

"Ikut sama Mamah ke ruang makan!"

Suara Linda memotong dari belakang, tiba-tiba dan tegas. Gerard menoleh. Wanita itu berdiri di ambang pintu dengan alis naik turun dan senyum misterius yang entah kenapa membuat bulu kuduk Gerard meremang.

Melihat itu, Gerard hanya bisa mengangguk pasrah. "Benar... aku tunggu sama Tante aja," jawabnya pelan.

Mawar mengangguk paham. Ia sudah mengenakan apron merah dengan corak mawar yang menghiasi—nama dan hal favoritnya menyatu sempurna. Sambil tersenyum, ia mengacungkan jempol pada Gerard, satu matanya berkedip manis.

"Baiklah!"

Tubuh Gerard menegang sesaat melihat pose itu. Lalu tanpa sadar, ia terkekeh kecil.

Dia...

...*•*•*...

Dengan Linda menuntun di depan, Gerard mengikuti ke ruang makan yang ternyata cukup luas—meja panjang, beberapa rak pajangan, dan kursi-kursi kayu yang tertata rapi. Linda langsung duduk di salah satu kursi, lalu menunjuk kursi di depannya dengan santai.

"Duduklah, jangan segan."

Senyum tipis menghiasi wajahnya, tapi sorot matanya—ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat Gerard waspada.

Ia duduk. Sopan. Berusaha meredakan kecanggungan yang merayap di dada. Tapi tatapan Linda terus mengejarnya, tak lepas, tak berkedip. Ekspresi menggoda itu masih utuh.

"Setelah membawa anak Mamah keluar tanpa izin," Linda membuka suara, rendah, penuh arti. "Sekarang bikin dia nangis?"

Gerard diam. Belum sempat menjawab, Linda melanjutkan dengan nada yang sama:

"Kamu ini, ya..."

Sikap Gerard langsung berubah. Ia menunduk kecil, tapi kemudian memberanikan diri untuk menatap Linda. "Maaf, Tante..." ucapnya tulus, terdengar bersalah. "Saya nggak bermaksud—"

Namun tanggapannya itu justru disambut tawa kecil dari Linda. Gerard mengangkat alis, bingung. Wanita di depannya ini—tingkahnya mengingatkannya pada Mawar. Random. Sulit ditebak.

"Haha..." Linda menyisakan tawanya, berusaha meredakan dengan mata yang sudah sedikit berair. "Kamu, ya! Bener-bener sama kayak yang Mawar ceritain!"

Gerard makin bingung.

Linda menatapnya lekat, penuh arti. Lalu melanjutkan dengan nada menggoda:

"Tenang, polos, kikuk, tapi baik hati. Kenapa harus ada orang sepertimu, sih? Marah dikit, dong~"

Selama ini, Mawar tak pernah menyembunyikan apa pun dari Linda. Setiap perasaan, setiap kebingungan, setiap detak jantung yang tak beraturan—semua mengalir begitu saja dalam cerita-cerita panjang di dapur atau di kamar. Dan Linda, sebagai ibu sekaligus sahabat, menyimpan semuanya dengan rapi. Termasuk rasa penasarannya pada sosok Gerard.

Bahkan sekarang, setelah semua yang ia dengar, Gerard masih bisa duduk tenang di depannya dengan sikap sopan dan sedikit kikuk. Seolah tak ada yang aneh.

"Maaf, Tante. Kadang aku suka bingung harus nanggepin apa, jadi..."

"Mamah paham, kok!" potong Linda cepat. Nadanya hangat, tulus. "Mamah cuma bercanda. Bagaimanapun, kamu itu temannya anak Mamah. Dan Mamah paham banget sama anak itu."

Ia menjeda sejenak, tersenyum tipis sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih lembut:

"Justru Mamah yang harus minta maaf. Mawar tuh kalau udah nyaman sama orang, bakal nempel kayak kucing. Jujur banget, kadang sampai nggak mikir batas. Kamu pasti udah banyak direpotin, ya?"

Gerard tak menjawab, hanya tersenyum tipis. Linda bisa membaca arti di balik senyum itu—pemakluman, pengertian, atau mungkin juga sedikit rasa bersalah. Bukan sekali ini saja Mawar bertingkah seperti kucing penempel. Melinda, sepupunya, juga pernah jadi "korban". Tapi untungnya, sejauh ini semua orang meresponsnya dengan positif. Yang Linda khawatirkan hanyalah satu: adakah orang yang akan memanfaatkan kepolosan putrinya untuk hal-hal buruk?

Namun setelah percakapan singkat ini, Linda mulai bisa membaca karakter Gerard. Ia bisa mempercayainya. Setidaknya untuk sekarang.

Sambil menunggu hidangan Mawar selesai, Linda mulai bercerita—tentang hari-hari yang dilalui Mawar selama Gerard menghilang. Tentang keresahan yang tak bisa disembunyikan, tentang kebingungan seorang gadis yang tak tahu harus mencari ke mana, tentang ketakutan yang mengendap diam-diam.

Jujur saja, itu sangat merepotkan.

Setiap hari—pagi, siang, malam—Linda ada di sampingnya. Menyemangati, mengalihkan perhatian dengan aktivitas baru, mengajaknya keluar atau sekadar mengobrol panjang lebar.

Sebagai orang tua yang sangat memanjakan anak tunggal, Linda dan Andy selalu berusaha memberi ruang bagi Mawar untuk tumbuh jadi dirinya sendiri—selama itu positif. Mereka tak membebaninya dengan ekspektasi tinggi. Asal pendidikannya selesai, Mawar bebas menghabiskan waktu sesukanya.

Tapi semenjak bertemu Gerard, semuanya berubah. Mawar jadi lebih sering diam di rumah. Tak kemana-mana.

Linda tak menjelaskan semuanya. Beberapa hal ia simpan rapat, hanya tersenyum tipis, menyembunyikan sesuatu yang hanya ibu dan anak itu yang tahu.

Sepanjang cerita, Gerard hanya menanggapi dengan anggukan. Alisnya sesekali menekuk, wajahnya serius menyimak. Ia tahu—ia perlu memahami pola hidup orang yang kini sudah memiliki ruang dalam kesehariannya.

Setelah memahami bagaimana kehidupan Mawar selama ini, Gerard tersenyum tipis. Dia sudah menjadi dirinya sendiri. Itu lebih baik dari apa pun. Sejauh ini... aku juga mulai nyaman berada di sisinya. Pikirannya melayang sejenak, matanya sesekali melirik ke arah pintu dapur, di mana sesosok Mawar kadang muncul sibuk lalu kembali menghilang.

Ketika obrolan dengan Linda mereda dan hanya menyisakan keheningan yang nyaman, Linda memutuskan untuk membantu putrinya di dapur. Gerard ditinggal sendiri dengan secangkir kopi sebagai teman.

Dan saat itulah—panel biru familiar muncul di hadapannya.

[Test Drive]

[Status: Selesai]

[Hadiah: 800.000.000 IDR + Kemampuan Baru]

Akhirnya. Setelah lebih dari seminggu tanpa progres, misi itu resmi terselesaikan. Gerard mengangguk puas. Tapi belum selesai.

Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Panel di depannya bergetar perlahan, lalu berubah—tampilannya lebih pekat, lebih solid. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, suara mekanis Sistem terdengar lagi di kepalanya.

[Level Sistem telah meningkat!]

[Akses Toko diperluas]

[Fitur baru terbuka: Komunikasi]

[]

Gerard teringat. Jika lima misi selesai dan level naik, ia akhirnya bisa berkomunikasi dengan Sistem secara langsung. Dengan sedikit ragu, ia mencoba memanggil dalam hati.

Sistem?

Tak butuh waktu lama. Respon datang hampir seketika, dengan nada yang terdengar begitu... bersemangat?

[Hai, Tuan!]

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!