Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Permintaan Maaf.
"Tunggu, Rania!"
Rania tersentak, lalu menoleh ke belakang saat ada seseorang yang memanggilnya. Seketika raut wajahnya berubah saat melihat sosok wanita yang sedang berdiri tepat di belakangnya.
"S*ial! Kenapa bisa bertemu dengannya di sini?" Rania mengepalkan tangan, menatap wanita itu dengan penuh kebencian.
Di sisi lain, Vita yang baru saja selesai makan siang bersama dengan teman-temannya, tidak sengaja melihat Rania di pinggir jalan. Itu sebabnya dia langsung meminta temannya untuk berhenti dan segera menghampiri wanita itu.
"Bisa kita bicara sebentar, Rania?" pinta Vita, dia menatap Rania dengan sayu—penuh kesedihan.
Rania berdecak, kedua matanya memerah tajam. Bicara katanya? Sungguh dia tidak menyangka jika Vita akan menjadi manusia yang sangat tidak tahu malu dan tidak tahu diri.
Hampir 7 tahun mereka bersahabat, bahkan lebih dari seorang saudara. Ternyata Rania benar-benar tidak bisa melihat sifat Vita yang sesungguhnya, bahkan dia juga tidak bisa melihat sifat asli suaminya sendiri.
Rania kembali berbalik, merasa tidak sudi untuk bicara dengan Vita. Jangankan bicara, dia bahkan jijik melihat wajah wanita itu. Bayangan percintaan Rangga dengan Vita kembali menari-nari dalam pikirannya membuat tubuhnya langsung bergetar penuh kemarahan.
"Rania, Aku mohon dengarkan aku." Vita langsung mencekal tangan Rania saat melihat wanita itu akan masuk ke dalam mobil dan mengabaikannya. Dia tahu jika Rania pasti sangat membencinya, tapi bagaimana pun dia harus tetap bicara dengan wanita itu.
"S*ialan!" bentak Rania sembari menghempaskan tangannya dengan kuat membuat cekalan Vita terlepas, wanita itu bahkan sampai melangkah mundur karena terkejut mendengar umpatannya.
Bukan hanya Vita saja yang merasa kaget mendengar umpatan Rania, tetapi Kenzo yang sejak tadi diam memperhatikan, juga tampak menaikkan kedua alisnya karena tidak menyangka jika Rania akan mengumpat seperti itu.
Sudut bibir Kenzo terangkat, matanya menatap tajam, memperhatikan raut wajah Rania yang dipenuhi dengan kemarahan. Batinnya bergejolak penasaran, ingin tahu alasan dibalik kemarahan wanita itu.
"Rania... " Vita menggigit bibir, kedua tangannya saling bertautan, menatap Rania penuh keraguan. "Maafkan aku." ucapnya pelan, hampir tidak terdengar. Matanya mulai berkaca-kaca, wajahnya memucat.
Rania langsung tertawa saat mendengar kata maaf keluar dari mulut Vita. Sungguh, dia benar-benar merasa jika mereka semua sudah tidak waras. Baik Rangga, maupun Vita. Semudah itu mereka minta maaf tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun.
Apa saat bercinta, mereka teringat akan dirinya? Tidak, tentu saja tidak. Jika mereka ingat pada dirinya sedikit saja, maka hubungan seperti itu tidak akan terjadi.
"Benar-benar memuakkan!" desis Rania. Suaranya pelan, tapi terdengar jelas ditelinga Vita dan membuat dadanya berdegup kencang.
Vita menunduk, tidak berani lagi mengeluarkan suara. Dia tahu telah berbuat salah—berbuat dosa. Dia mengkhianati sahabatnya sendiri, merusak hubungan baik yang terjalin di antara mereka, merusak rumah tangga sahabatnya juga.
"Jangan pernah lagi muncul di hadapanku. Kalau sampai aku melihatmu, kau tau sendiri akibatnya!" ucap Rania, suaranya bergetar, tapi tetap tajam dan menghunus tepat ke dada Vita.
Vita tersentak, tubuhnya gemetaran. "Rania, aku tidak-"
"Tutup mulutmu!" bentak Rania membuat Vita terlonjak kaget. "Kau tidak berhak menyebut namaku dengan mulut kotormu itu, dasar j*alang pengkhianat!"
Deg.
Vita tersentak, tubuhnya menegang, dadanya berdenyut sakit mendengar segala ucapan Rania. Padahal apa yang dia rasakan sekarang belum seberapa dengan apa yang wanita itu rasakan.
"Maafkan aku," ucap Vita, mulai terisak.
Kedua tangan Rania semakin mengepal erat diserta napas yang memburu. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil itu dengan kuat membuat Vita terlonjak kaget.
Kesabaran Rania telah habis. Ingin sekali dia menampar, menjambak rambut wanita itu, dan berteriak mencaci makinya. Namun, dia tidak serendah itu, dia juga tidak mau melakukan sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirinya.
Benci? Dendam? Tentu saja, semua itu bersarang dalam hati Rania. Dia tidak bersikap kasar bukan berarti dia lemah, bukan berarti dia memaafkan, tapi karena dia ingin membalas dendam dengan menghancurkan mereka semua. Bukan hanya sekedar pukulan atau cacian, tapi tentang kehancuran yang tidak bisa lagi mereka pulihkan.
"B*ajingan brengs*ek!" umpat Rania dengan penuh kesal, dadanya tampak naik turun dengan napas tersengal, tanpa sadar jika saat ini Kenzo terus memperhatikan.
Rania menyandarkan tubuhnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kembali bergumam penuh umpatan, melampiaskan segala amarah yang sedang menerjang.
Sementara itu, Kenzo sendiri tetap diam tanpa sedikit pun mengeluarkan suara, membiarkan Rania melakukan apapun yang wanita itu inginkan, dan memberikan waktu untuk menenangkan diri
"Benar-benar wanita yang menarik." Kenzo tersenyum tipis sembari terus menatap Rania.
Setelah merasa sedikit tenang, Rania melihat ke arah samping di mana Kenzo berada. Seketika dia tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan, spontan wajahnya memerah karena merasa malu.
"Ma-maafkan saya," ucap Rania, merasa canggung dan tidak enak. Apalagi tadi dia membanting pintu mobil Kenzo dengan kuat, bagaimana kalau pintunya sampai rusak? Dia jadi merasa cemas karena mobil laki-laki itu pasti sangat mahal.
"Sudah selesai?"
"H-hah?" Rania terkesiap, menatap Kenzo dengan mulut menganga lebar dan mata terbelalak.
"Urusanmu," sambung Kenzo, matanya melirik ke arah Vita yang masih berada di sana memperhatikan.
Rania ikut melirik ke arah samping, lalu mendessah kesal saat melihat Vita masih ada di sana. Untung saja kaca mobil itu gelap dan tidak bisa dilihat dari luar, jadi wanita itu tidak tahu apa yang sedang dia lakukan dan sedang bersama dengan siapa dalam mobil itu.
"Sudah," jawab Rania, helaan napas lelah terdengar jelas dari jawabannya. "Maaf karna telah membuat Anda menunggu." sambungnya dengan tidak enak.
Kenzo mengangguk dan segera melajukan mobilnya untuk pergi dari tempat itu, sementara Rania memperhatikan Kenzo yang kembali diam dan fokus menatap jalanan.
"Astaga, bisa-bisanya aku mengumpat di depannya." Rania merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menahan emosi. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Ki-kita mau ke mana?" tanya Rania. Dia memperhatikan jalanan yang tampak asing, sepertinya dia tidak pernah lewat dari jalanan itu atau memang tidak mengingatnya.
"Ke rumahku," jawab Kenzo singkat.
"Ooh, ke rumah- apa?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda