Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-25
Matahari pagi mulai terbit, memancarkan sinar emasnya di ufuk timur. Burung burung berkicau di halaman belakang, menyambut pagi yang cerah.
Semua manusia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti karena istirahat tidur malam. Hajeera berlari kecil menuju pak Darso yang menunggunya di depan mobil yang akan mengantar nya.
Bu Selyn dan pak Benedick mengantar kepergian sang putri yang akan berangkat ke sekolah pagi pagi sekali.
Hajeera duduk di kursi belakang, membuka sedikit jendela nya melambaikan tangannya pada orang tua yang mengantar kan nya sampai pintu.
"Bye mah, pah! Jera berangkat..." teriak Hajeera, lalu mobilpun melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah mereka.
Seperti biasa Hajeera mengeluarkan ponsel nya untuk menganalisis data perusahaan yang selalu di kirimkan oleh pak Romi, namun kali ini ia bukan membuka fail yang susah masuk melainkan mencari berita yang beredar di internet.
"Rasanya aneh, bukankah trending topik saat ini adalah aku?" Hajeera bertanya tanya dalam hatinya.
"Apakah Jack yang mengurus nya?" tanya jera lagi, karena setahunya Demian mengatakan jika Jack akan mengurus media yang akan mempublish vidio mereka.
"Kenapa nona?" tanya pak Darso yang menyadari jika nona mudanya berbicara sendiri sedari tadi.
Hajeera terperanjat dengan alis yang terangkat.
"Gak papa kok pak, saya cuman lagi ada pikiran ajah..." jawabnya yang membuat pak Darso hanya mengangguk mengerti.
Mobil pun berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah, hari masih pagi bahkan ia bisa dibilang orang yang pertama kali datang ke sekolah hari ini, entahlah mood nya mengajak berangkat pagi karena jika siang sedikit dia malas harus bertemu Indri apalagi Aaron.
Namun matanya menangkap satu sosok pria yang tengah berdiri melambaikan tangan pada orang yang sudah masuk gerbang sekolah.
"Jackk!"
Deghhh
Jack terperanjat wajahnya kikuk, dan suaranya tiba tiba terbata bata.
"Eh--hei~~" sapa Jack menyengir kuda, seperti seseorang yang ketahuan mencuri telur.
"Lagi ngapain di sini?" tanyanya.
"Apakah kamu mengenal ku?" tanya Jack kaget sekaligus bingung, ada orang lain yang mengenalinya di sekolah ini.
Shittt
Hajeera mendesis saat sadar jika Jack tidak mungkin mengenali nya, karena wajahnya memakai riasan yang membuat mukanya nampak lusuh.
"Aku Hadriana..." jawab Hajeera berbisik.
"Hahaha... Are you kiding?" Jack tertawa menertawakan Hajeera yang mengaku ngaku menjadi Hadriana, matanya menatap dari atas sampai bawah tubuh Hajeera yang tertutup pakaian yang longgar dan kerudung yang sedikit besar.
Plakkkk
Hadriana menggeplak bahu Jack pelan dengan bibir kumat kamit seolah tengah membaca mantra.
"Terserah, aku memang begini saat pergi ke sekolah..." ujar Hajeera mengedikkan bahunya masa bodo.
"Tapi, thanks kamu sudah membantuku untuk membungkam media..." ucapnya dengan senyum tulus yang nampak manis di mata Jack.
Jantung Jack mendesir saat mengetahui wanita dihadapannya memang Hadriana, namun baru saja ia akan menjawab Hadriana sudah pergi menghilang dari pandangannya.
"Sial!! mengapa bisa begini? Hmphhh..." Jack berdesis menarik nafasnya dengan dada yang berdebar.
Entahlah padahal sekuat tenaga ia sudah mencoba melupakan Hadriana karena ia sadar akan perbedaan kastanya dengan Hadriana, di tambah Demian temannya juga mengincar Hadriana mati Matian.
"Tunggu! Di bilang aku membungkam media?" Jack bertanya mengernyitkan dahinya saat menyadari ucapan terimakasih Hadriana yang tidak ia lakukan.
Tubuhnya mondar mandir kesana kemari memikirkan kira kira siapa gerangan yang telah mengurus vidio semalam, karena saat anak buahnya mencari preman tersebut mereka sudah terkapar dan hari ini tidak ada satu media pun yang meliput tentang mereka.
Namun saat semakin dipikirkan, otaknya mengingat satu nama yang jika sudah tertarik maka akan menjadi obsesi. Demian, pria yang tertarik pada Hadriana dan sifatnya yang obsesi terhadap hal yang diinginkannya tidak menutup kemungkinan jika Demian yang langsung turun tangan mengurus masalah yang bersangkutan dengan miliknya.
Ia masuk ke dalam mobil, merogoh sakunya untuk mencari ponsel miliknya, setelah ketemu ia menekan sebuah nomer yang berada di dalam kontaknya.
Tuttttttt, tuttttt, tuttttt,,
"Halo? Ada apa pagi pagi?" suara serak basah khas seseorang bangun tidur terdengar dari seberang sana.
"Semua kejadian semalam sudah kamu urus?' tanya Jack penasaran
"Hmmm,..." jawabnya singkat tanpa berbicara panjang lebar.
Jack mendengus, ia satu langkah di belakang dari temannya itu, sedikit tidak terima namun memang kenyataannya begitu, ia hampir selalu kalah oleh Demian, bahkan bisa dibilang tidak pernah menang dengan Demian saat memperebutkan satu wanita, bukan karena dirinya kurang tampan atau kurang kaya, tapi Demian memiliki daya tarik tertentu yang semakin membuat wanita wanita ingin dan ingin bersama dengannya.
"Kenapa? Apa kamu menyukai maspupah? Tenang saja aku hanya ingin tebar pesona pada Hadriana, untuk dua orang lain nya aku tidak peduli..." ucapnya, Jack hanya melengos mendengar ucapan sahabat nya, padahal ia pun sama menginginkan Hadriana tapi ia sudah berkali kali di tolak Hadriana dengan berbagai alasan, sampai akhirnya ia menyerah dan tanpa sengaja meniduri salah satu teman Hadriana.
Jack mengakhiri telepon nya tanpa menjawab ucapan Demian, tangannya menghidupkan mesin mobil lalu melajukan nya dengan kecepatan tinggi.
Mood pagi nya benar benar rusak, hatinya lagi lagi harus patah akibat tabrakan bersama Demian. Namun bagaimana pun ia tidak ingin memiliki sesuatu yang tengah menjadi incaran temannya, meski hatinya harus terluka kembali karena melihat wanita yang diinginkan nya tertawa di pangkuan temannya.
Hajeera menatap maspupah lekat lekat, memandangi temannya yang sedikit berbeda dari biasanya. Wajahnya tampak murung dan tidak mengeluarkan sepatah katapun pada mereka sedari tadi.
"Sebenarnya temanmu kenapa jer?" tanya Livia berbisik pada Hajeera yang tengah memandang lekat maspupah di hadapannya.
"What's wrong with you,pup?" tanya jera dengan suara imut khas manjanya.
"Nothing..." jawab maspupah mengedikkan bahunya dengan wajah meleyos menghindari tatapan mata teman temannya yang semakin menatap nya dengan lekat tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun.
"Benarkah, aku tadi bertemu Jack di depan gerbang..." sontak saja mata Maspupah melotot sempurna saat mendengar ucapan Hajeera.
"Why? kenapa kamu kayak kaget gitu? Atau jangan jangan kamu pasangan ons nya yang sekarang?" tanya Hajeera menyelidik dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengar selain mereka.
"Tutup mulut loh! Jangan asal ngomong!" ucap Maspupah yang membuat Hajeera dan Livia bengong, karena tidak tahu salah mereka di mana, padahal biasanya mereka bercanda lebih dari itu namun kali ini entah mengapa maspupah malah lebih sensitif dari biasanya.
Mereka terdiam menatap kepergian Maspupah yang pergi keluar padahal pelajaran belum selesai, Livia mengirim kan sinyal pertanyaan pada Hajeera yang di jawab gelengan kepala dengan wajah lesu.