Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Langit masih gelap ketika Serra mulai membuka mata. Hangat selimut masih membungkus tubuh mereka, namun jauh di lubuk hatinya justru terasa dingin. Sejenak ia mengingat momen terindah yang datang perlahan.
Berawal dari sofa ruang tamu, lalu berakhir di atas ranjang. Serra memejamkan mata sejenak. Ia ingat bagaimana Ethan sempat berhenti di ambang pintu kamar, seolah masih memberi kesempatan untuknya mundur.
"Kau yakin?," suaranya terdengar lebih rendah dan penuh pertimbangan. Namun Serra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menciumnya lebih dalam, membuat pertahanan Ethan semakin goyah.
Flashback itu membuat napas Serra sedikit bergetar. Mengingat betapa lembutnya perlakuan Ethan bahkan di momen yang paling rentan. Ia mulai menoleh, di sampingnya Ethan masih terlelap setelah beberapa kali melakukan hal intens dengannya.
Wajahnya tampannya jauh lebih tenang dibanding beberapa waktu lalu saat trauma masih membungkamnya dalam diam. Seolah untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, ia benar-benar bisa beristirahat.
Namun hal itu, sangat menghancurkan hati Serra.
Matanya turun sedikit, memperhatikan detail kecil yang semalam sempat ia abaikan. Mulai dari garis bahu Ethan yang terlihat jelas bahkan dalam posisi santai, hingga jemari tangan bertekstur kasar, namun selalu berhati-hati ketika menyentuh dirinya.
Tanpa sadar, jemari Serra bergerak perlahan, menyentuh pelan punggung tangan Ethan. Begitu hangat dan nyaman. Matanya kembali menatap wajah Ethan yang tertidur. Kali ini lebih lama, dan lebih dalam. Seolah benar-benar menghafal setiap detailnya.
Serra kembali bertanya pada dirinya sendiri, jika ia pergi nanti, apakah masih bisa melihat wajahnya lagi?. Tangannya perlahan naik, lalu berhenti beberapa senti di atas pipi Ethan. Ia sempat ragu, namun berakhir dengan gerakan yang nyaris tak terasa. Serra menyentuh pipi sang kekasih dengan ujung jari. Sangat pelan, seakan takut membangunkannya.
Ethan sedikit bergerak dalam tidur, tapi tidak terbangun. Perlahan Serra mendekat, seolah setiap centimeter jarak adalah keputusan besar yang harus ia tanggung sendiri. Ia berusaha mengontrol helaan napasnya, lalu menunduk dan mengecup bibir Ethan dengan sangat lembut dan singkat. Beberapa detik setelahnya, ia menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan rasa sesak yang mulai menyelimuti, "terimakasih," bisik nya lirih, hampir tak terdengar.
Ethan tidak bergerak, karena masih tertidur pulas.
Air mata Serra akhirnya jatuh tanpa suara. Dengan cepat ia menghapusnya, seolah dirinya sendiri tidak boleh melihat kelemahan itu terlalu lama.
Beberapa menit kemudian, wanita itu bangkit perlahan dari ranjang. Setiap gerakannya sangat berhati-hati, agar tidak membangunkan kekasihnya. Ia mulai mengenakan pakaian, lalu menarik koper besar yang telah ia persiapkan di bawah ranjang.
Matanya sesekali kembali ke arah Ethan, seakan tubuhnya menolak untuk benar-benar pergi. Sebelum melangkah keluar kamar, Serra berhenti di ambang pintu, menoleh sekali lagi. Ethan masih bergeming dengan setengah tubuh tertutup selimut, wajahnya tetap damai seperti seseorang yang percaya jika dunia sudah aman untuknya.
Sesaat Serra hampir mundur. Namun suara percakapan Adrian yang terekam di benaknya kembali terngiang. Tanpa menimbulkan suara, ia segera melangkah keluar, meninggalkan pria yang sangat dicintainya.
...----------------...
"Enghhh..."
Ethan mulai terbangun, matanya terbuka perlahan dengan rambut sedikit berantakan. Ia meregangkan tubuh yang setengahnya masih tertutup selimut. Ranjang itu terlihat berantakan, terlihat jelas sisa dari malam yang panjang namun terlalu nyata untuk dianggap mimpi.
Tangannya mulai bergerak ke sisi ranjang, namun tidak ada siapapun di sana. Dalam keadaan yang masih setengah sadar, ia meraba lagi seprai di sampingnya, tapi tetap kosong.
"Mm.. Serra," suara rendahnya terdengar serak dan berat oleh sisa kantuk.
Ethan mulai duduk perlahan, menatap sisi tempat tidur yang masih berantakan. Jejak itu menandakan jika Serra benar-benar ada di sana semalam. Ia beranjak dengan langkah malas, seolah otaknya belum sepenuhnya memproses sesuatu yang terasa janggal.
"Serra.."
Ia keluar kamar masih dengan langkah malas, rambut acak-acakan, dan hanya memakai boxer. Biasanya di jam seperti ini, ia akan mendengar suara kecil di dapur, atau suara langkah ringan wanitanya.
Namun pagi itu terasa lebih sunyi, Ethan berhenti di tengah ruangan. Tatapannya menyapu setiap ruangan secara perlahan, dari satu sudut ke sudut lain, seakan berharap jika kekasihnya muncul dari balik pintu atau memanggil namanya dengan nada lembut seperti biasa.
"Serra?."
Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih cepat, ia mulai berjalan ke arah dapur, namun tidak ada tanda aktivitas pagi, situasinya pun masih tetap sama dengan yang semalam.
"Serra?!," panggilnya lagi, kali ini lebih keras. Ia mulai membuka pintu kamar mandi, tapi tetap tidak ada siapapun di sana. Hanya ada keheningan yang merayap.
Beberapa detik ia berdiri terdiam, lalu akhirnya kembali ke kamar. Tepat di atas nakas, ponsel Serra masih tergeletak rapi. Ethan membeku, tangan yang hendak meraih ponsel itu berhenti di udara.
Karena selain waktu itu, Serra tidak pernah lagi meninggalkan ponselnya. Namun alih-alih merasa panik, ia justru berjalan ke kamar mandi, menyalakan shower, dan berdiri di bawahnya tanpa banyak ekspresi. Air dingin mengalir di seluruh tubuhnya, menenggelamkan sisa hangat semalam yang kini terasa seperti sesuatu yang jauh.
Setelahnya, dengan hanya mengenakan hoodie dan celana panjang seadanya, bahkan tanpa benar-benar mengeringkan rambutnya dengan baik, ia mulai melangkahkan kaki dengan tergesa menuju pintu keluar apartemen.
...----------------...
Pintu dojang pun terbuka, di sana tampak Antonio yang sedang merapikan matras langsung menoleh. "Oh kau, tumben sekali," sapa nya santai.
"Dimana Serra?," Ethan bertanya setelah melihat suasana dojang yang sepi.
Antonio berhenti bergerak, raut wajahnya tampak bingung, "Serra? untuk apa dia kemari, apa dia tidak memberitahumu?," lanjutnya.
"Memberitahu apa?," Ethan mulai penasaran.
Antonio menghela napas pelan, "Sejak lusa kemarin dia sudah berhenti," tukasnya.
Ethan terpaku, waktu terasa berhenti dalam sekejap. Banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya yang tak bisa ia ungkapkan. "Lusa?," suaranya nyaris tidak terdengar.
Antonio mengangguk, "dia datang sambil sedikit bercerita, sepertinya hubungan kalian sedang tidak baik. Lalu memberiku surat pengunduran diri, dia bilang padaku ingin pulang ke kampung halamannya," jelas Antonio.
Apa ini? apa maksud semua ini?, hubungan tidak baik?, jelas-jelas semalam kami melakukannya sampai berulang kali, lalu kampung halaman? tidak mungkin, hidupnya saja selalu berpindah tempat, batin Ethan penuh tanya jawab.
"Hey.. kau baik-baik saja?," suara Antonio memecah lamunannya.
Ethan pun tersadar, ia tertawa pelan "O-oh.. haha, terimakasih sudah memberitahu," ujarnya.
Antonio yang bersimpati pun mendekat seraya menepuk tegas bahu Ethan, "jangan bertengkar terlalu lama, semoga kalian cepat berbaikan."
Ethan hanya terdiam, mendengar sedikit saran jitu dari Antonio, mengenai percintaan. Namun di samping itu, ia telah menemukan jawaban yang semakin jelas terbuka. Serra memang pergi meninggalkannya, dan hal itu sudah direncanakan.