NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 - I'll Be There

Pagi itu terasa panas.

Bukan semata karena suhu ibu kota yang memang tak pernah ramah, melainkan karena rasa cemburu Henry yang tak ia sembunyikan sama sekali.

Setelah apa yang kami lakukan kemarin sore—permainan panas yang meninggalkan sisa-sisa keberanian dan rasa bersalah—aku menjelaskan lagi alasan kenapa aku menyebut Julian sebagai pacarku. Tentang rencanaku berpura-pura pacaran dengannya, agar Ana cemburu dan gosip tentang aku dan Arvin berhenti beredar.

“Udah dong, jangan pasang wajah kayak gitu.” kataku sambil menyendok sarapan.

Henry menatapku sebentar, rahangnya mengeras.

“Gimana aku nggak kayak gini?” ucapnya akhirnya. “Kamu bakal pura-pura pacaran sama Julian. Buat aku, ini kayak kamu terang-terangan selingkuh di depan mata.”

“Aku kan udah jelasin kemarin, Mas.” Nada suaraku melunak. “Ini cuma strategi. Biar Kak Ana cemburu, dan biar aku sama Arvin nggak digosipin lagi.”

“Tapi tetap aja…” Henry menggantung kalimatnya.

“Mas…” Aku meraih tangannya di atas meja. “Di hatiku ini cuma ada kamu. Nggak ada yang lain.”

Ia menatapku, tapi keraguan masih jelas di matanya.

“Kak Ian juga nggak suka aku,” lanjutku cepat. “Dia sukanya sama Kak Ana. Jadi nggak akan ada apa-apa di antara kami.”

“Masa depan nggak ada yang tahu, Lili,” katanya pelan. “Siapa tahu salah satu dari kalian berubah.”

“Nggak,” aku menggeleng tegas. “Aku nggak akan biarin itu terjadi. Aku cuma mau sama kamu. Nggak akan ada cowok lain selain kamu.”

Henry menatapku lama, seolah menimbang setiap kata.

“Jadi jangan ragukan aku, ya,” ucapku lirih. “Lilia cuma akan menyukai satu Henry.”

Aku mendekat, mengecup bibirnya singkat—cukup untuk menenangkan, cukup untuk meyakinkan.

“Percaya sama aku, ya.”

Henry akhirnya mengangguk.

“Ya udah,” kataku, berusaha kembali santai. “Habiskan sarapannya. Kita harus berangkat.”

Kami makan tanpa banyak bicara. Udara di antara kami masih hangat, tapi tak lagi setegang tadi.

Setelah mencuci piring, kami keluar unit dan masuk ke lift. Begitu pintunya tertutup, Henry tiba-tiba mendorongku ke dinding.

“Mas…” refleks aku menahan napas. “Kamu mau apa?”

“Sebentar aja.” katanya.

“Sebentar ap—”

Kalimatku terpotong ketika bibirnya menutup bibirku. Aku terkejut—bukan karena ciumannya, melainkan karena tempatnya. Lift.

Punggungku menempel ke dinding dingin, kontras dengan tubuh Henry yang hangat dan begitu dekat. Napasku tercekat, jantungku berdetak terlalu cepat. Sesaat aku panik, membayangkan pintu lift terbuka dan seseorang melihat kami dalam jarak sedekat ini.

Namun Henry sama sekali tak peduli.

Ciumannya menuntut, seolah semua kecemasan, kecemburuan, dan ketakutan yang sejak tadi ia tekan akhirnya tumpah begitu saja. Tangannya menahan pinggangku, tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuatku tahu—ia tidak akan mundur.

Aku sempat ragu, bibirku menegang, tapi hanya sepersekian detik.

Perasaan itu terlalu familiar. Terlalu hangat. Terlalu Henry.

Akhirnya aku menyerah. Aku membalas ciumannya, melingkarkan tanganku ke lehernya, menariknya sedikit lebih dekat. Ruang lift yang sempit membuat kami tak punya jarak. Nafas kami bertabrakan, ritmenya tak lagi teratur.

Ciuman itu dalam. Lambat tapi penuh emosi.

Bukan ciuman tergesa, melainkan ciuman seseorang yang takut kehilangan—dan ingin diyakinkan bahwa ia masih dipilih.

Aku bisa merasakan Henry menghela napas pelan di sela ciuman itu, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri. Seolah ciuman itu adalah caranya memastikan aku benar-benar masih miliknya.

Bunyi ding lift membuatku tersadar.

Aku membuka mata lebih dulu, napasku masih belum stabil. Jarak kami terlalu dekat, terlalu berbahaya. Aku mendorong dadanya perlahan, memaksa diriku kembali ke kenyataan.

Pintu lift terbuka. Lantai satu. Aku langsung mendorongnya menjauh. Syukurlah tak ada siapa-siapa.

“Kamu gila, Mas.” ucapku sambil merapikan diri.

“Aku gila karena kamu.” jawabnya ringan.

Aku menghela napas, lalu mendekat lagi, mengusap bibirnya dengan jariku.

“Lihat. Lipstikku nempel.” Aku menunjukkan jariku. “Kalau orang kantor lihat, gawat.”

“Biarin aja.” katanya santai.

Aku mendesah kecil. “Aku berangkat dulu.”

Henry mengangguk.

Begitu keluar apartemen, mobil Julian sudah menunggu. Aku langsung masuk. Kemarin aku memang sudah memintanya melanjutkan sandiwara ini—tentang pura-pura pacaran, tentang gosipku dengan Arvin. Julian setuju, bahkan menawarkan diri mengantarku ke kantor.

“Kak,” tanyaku saat mobil meninggalkan kawasan apartemen, “kamu nggak bilang ke Kak Ana kalau ini cuma pura-pura, kan?”

“Nggak.” jawabnya singkat.

“Bagus.” Aku menghela napas lega. “Makasih ya, Kak, udah mau bantu. Aku janji ini nggak akan lama. Aku bakal cari cara biar Kak Ana dan Kak Henry nggak jadi nikah. Biar Kakak bisa sama Kak Ana.”

“Nggak perlu, Lia,” ucap Julian, matanya tetap fokus ke jalan. “Aku ngelakuin ini cuma buat bantu kamu. Aku nggak ngarepin apa-apa.”

“Tapi di hati kecil Kakak, Kakak pengen sama Kak Ana, kan?”

Julian menoleh sebentar, lalu kembali menatap lurus ke depan.

“Percuma, Li. Orang tua kalian nggak akan setuju.”

“Nanti aku bantu ngomong sama Mama-Papa—”

“Nggak usah.” Suaranya tenang, tapi tegas. “Aku nggak mau direstui karena terpaksa. Aku mau mereka nerima aku karena mereka memang mau, bukan karena anak mereka.”

Aku terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Kak Ian terlalu pasrah. Perjuangin dong. Siapa tahu nanti mereka berubah pikiran.”

“Nggak mungkin,” katanya. “Sekarang aja mereka menjodohkan Ana sama Henry—CEO Natura Foods. Aku nggak ada apa-apanya dibanding dia.”

“Cinta itu nggak mandang harta, Kak,” bantahku. “Kak Ana juga suka Kakak karena kebaikan Kakak, bukan karena status.”

“Tapi orang tua kalian mandang harta.”

Aku terdiam.

Mama dan Papa bukan tipe orang yang gila harta atau merendahkan orang lain. Tapi untuk urusan pasangan Ana, mereka ingin yang setara—karena mereka takut Ana akan menderita jika tidak.

Setelah perjalanan yang terasa panjang, mobil Julian akhirnya sampai di depan Gedung Natura Foods.

Aku menoleh ke arahnya.

“Kak, berhentiin di depan pintu masuk gedung ya. Jangan di pinggir.”

Julian melirikku singkat, lalu mengangguk dan menuruti.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Aku sengaja memilih tempat itu—tempat semua orang bisa melihat.

Begitu turun dari mobil, beberapa pasang mata langsung tertuju padaku. Aku berdiri sebentar, lalu membalikkan badan, sedikit membungkuk ke arah Julian.

“Sampai nanti, sayang.” ucapku jelas.

Julian terdiam.

Aku bisa melihat ekspresi terkejut di wajahnya.

“Sayang.” ulangku pelan tapi tegas.

“Oh… iya,” katanya akhirnya, agak canggung. “Sampai nanti.”

Aku tersenyum, lalu berbalik masuk ke gedung.

Baru beberapa langkah, aku melihat Fera berdiri tak jauh dari pintu masuk. Tatapannya lurus ke arahku—penuh tanya.

Mobil Julian melaju pergi.

Aku menghampirinya.

“Hai, Ra.”

“Lia,” katanya pelan. “Itu siapa? Kok kamu manggilnya sayang?”

“Pacarku.” jawabku singkat.

“Apa?” alisnya langsung terangkat. “Sejak kapan kamu punya pacar?”

“Udah, ayo masuk,” kataku sambil menarik lengannya. “Nanti aku ceritain.”

Kami masuk dan naik lift. Fera beberapa kali melirikku, jelas menahan rasa penasaran.

Begitu sampai di ruangan kami, ia langsung menghadapku.

“Sekarang jelasin,” katanya. “Siapa pacar kamu?”

“Apa?!” seru Merry dari mejanya. “Mbak Lia punya pacar?”

Aku meletakkan tasku, menarik kursi, lalu menghela napas.

“Aku pacaran sama Julian,” kataku akhirnya—versi yang sudah kupilih untuk diceritakan.

“Dokter Julian?” tanya Fera. “Yang waktu kita ke rumah sakit jenguk Arvin?”

Aku mengangguk.

“Terus kenapa waktu itu kamu nggak bilang?” Fera menyilangkan tangan.

“Waktu itu belum waktunya.” jawabku singkat.

Merry langsung mendekat.

“Dokter Julian ganteng nggak, Mbak?”

“Ganteng,” jawab Fera tanpa mikir. “Tapi ya… tetap gantengan Pak Henry.”

Aku tersenyum tipis, pura-pura fokus ke laptop.

“Pagi.”

Suara itu membuat kami menoleh hampir bersamaan.

Pak Arman sudah berdiri di dekat mejanya, menaruh tas.

“Pagi, Pak.” jawab kami.

Pak Arman menyalakan laptopnya, lalu melirik sekilas ke arahku. Tatapannya singkat, tapi cukup membuatku menegakkan duduk.

“Lia,” panggilnya.

“Iya, Pak?”

“Summary customer insight yang kemarin, siang ini kirim ya,” katanya santai.

“Tambahin rekomendasi awalnya. Kita bahas besok.”

“Baik, Pak.” jawabku.

Pak Arman mengangguk, lalu mulai membuka berkasnya sendiri.

Ruangan kembali terasa normal—setidaknya di permukaan.

Aku menatap layar laptopku, jari-jariku mulai bergerak.

Permainanku sudah dimulai.

Dan cepat atau lambat, dampaknya pasti sampai ke orang yang paling ingin kulihat reaksinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!