NovelToon NovelToon
Crowned Villains :The End Of Old World

Crowned Villains :The End Of Old World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Asjoe the writer

Dunia adalah sebuah luka yang menolak untuk sembuh. Di Utara, perang suci antara Holy Kingdom dan Demon Realm tak kunjung usai. Di Selatan, tirani matriarki menciptakan perbudakan sistematis terhadap kaum pria. Sementara di Timur, jutaan nyawa menjadi tumbal bagi ambisi Federasi dan Aliansi. Bahkan di Barat, Kekaisaran Berline yang agung telah membusuk dari dalam akibat korupsi, nepotisme, dan kelaparan yang mencekik rakyatnya.Saat dunia memprediksi keruntuhan Berline akan menjadi awal dari domino kehancuran global, sebuah anomali muncul dari balik bayangbayang. Bukan pahlawan yang bangkit, melainkan Chara Initiative Organization (CIO). Sebuah organisasi villain yang kejam dan tak terduga. Lewat kudeta berdarah, mereka merebut tahta Berline dan memulai langkah radikal untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lama. Bagi mereka, dunia yang rusak tidak butuh diperbaiki; dunia butuh dihancurkan untuk dibangun kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asjoe the writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Harapan di Garis Depan

Fajar seharusnya membawa cahaya, namun di Barloa, fajar hanya menyingkap pemandangan genosida yang tertunda. Langit berwarna merah tembaga karena asap sihir dan debu tanah.

Pasukan kavaleri ringan yang dipimpin Kaelen semalam hanya menyisakan separuh dari jumlah aslinya. Zirah perak Kaelen kini tertutup noda darah yang mulai mengering, sementara pedangnya terasa berkali-kali lipat lebih berat.

"Lapor... unit artileri Aliansi mulai bergerak maju lagi. Mereka membawa 'Battering Ram' raksasa yang diperkuat elemen tanah," suara Elara terdengar parau.

Ia terus-menerus mengonsumsi ramuan pemulih mana, namun wajahnya tetap pucat pasi.

Kaelen melihat dari kejauhan. Pasukan Aliansi tidak lagi menyerang dengan amarah, melainkan dengan ketenangan yang menakutkan—seperti mesin penggiling yang tahu bahwa gandumnya sudah tak punya jalan keluar.

"Tinggal dua ribu orang kita yang masih bisa mengangkat senjata," gumam Kaelen. "Berapa lama lagi?"

"Count Carlosc mengirim pesan lewat merpati sihir semalam. Mereka terjebak hujan badai di Hutan Hitam. Setidaknya... tiga jam lagi, paling cepat," jawab Elara putus asa.

Tiga jam. Di medan perang seperti ini, tiga menit saja sudah terasa seperti keabadian.

"Tarik semua pasukan ke benteng dalam," perintah Kaelen.

"Biarkan gerbang tengah jatuh. Kita akan bertahan di koridor sempit menuju istana Viscount. Di sana, jumlah mereka yang besar justru akan menghambat mereka sendiri."

Ini adalah strategi terakhir: War of Attrition (Perang Kelelahan). Kaelen tidak lagi bermimpi memukul mundur 80.000 orang. Ia hanya ingin menukar setiap jengkal tanah Barloa dengan waktu.

"BOM!"

Dinding luar Barloa akhirnya runtuh total. Pasukan Aliansi merangsek masuk seperti air bah. Di sinilah keterbatasan manusia biasa terlihat jelas. Meski Kaelen memiliki Holy Crest, ia bukan dewa. Gerakannya mulai melambat karena kelelahan otot yang hebat. Setiap kali ia menebas, lengannya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

Seorang perwira Aliansi bertubuh raksasa dengan kapak besar menerjang ke arahnya. Kaelen berhasil menangkis, namun benturan itu membuatnya terpental dan menghantam tembok batu.

"Mati kau, tikus Federasi!" teriak si raksasa.

Kaelen tidak bisa menghindar tepat waktu. Namun, sebelum kapak itu turun, sebuah ledakan es dari Elara membekukan kaki lawan, memberi celah bagi Kaelen untuk menusuk celah zirah lawan tersebut. Kaelen terengah-engah, bersandar pada pedangnya.

"Satu setengah jam lagi..." bisik Kaelen pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, bumi di kejauhan bergetar. Bukan getaran dari serangan Aliansi, melainkan suara terompet panjang yang sangat dikenal oleh setiap prajurit Federasi. Di ufuk timur, di sela-sela kabut hutan, muncul panji-panji emas dengan lambang singa bersayap.

Count Carlosc telah tiba dengan kavaleri berat dan korps infanteri segar.

"Bantuan datang! Bala bantuan dari Count Carlosc!" teriak para prajurit Barloa yang semula sudah menyerah pada maut. Semangat mereka yang padam kembali menyala seketika.

Pasukan Aliansi yang terkonsentrasi di dalam kota kini terjepit. Mereka terlanjur masuk terlalu dalam ke Barloa, membuat barisan belakang mereka yang terbuka menjadi sasaran empuk bagi kavaleri Count Carlosc yang menghantam dari sisi samping dengan kecepatan penuh.

Kaelen jatuh terduduk di atas reruntuhan. Cahaya Holy Crest-nya menghilang, menyisakan kulit yang memar dan tubuh yang benar-benar habis energinya. Dia melihat Count Carlosc—seorang pria paruh baya yang tangguh—memimpin serangan balik yang brutal.

Kaelen berhasil. Dia tidak mengalahkan 80.000 pasukan itu sendirian, tapi dialah alasan mengapa Barloa masih berdiri untuk melihat bantuan datang.

Namun, di tengah sorak sorai kemenangan itu, Elara mendekati Kaelen dengan wajah tegang. Ia memegang sebuah surat dari kurir rahasia yang baru saja tiba.

"Kaelen... ini bukan dari ibu kota Federasi," bisik Elara dengan suara gemetar.

"Ini laporan intelijen dari Barat. Kekaisaran Berline... sudah jatuh. Tidak ada lagi Kaisar. Organisasi bernama CIO baru saja mengumumkan pembentukan 'Negara Korporat' dan mereka... mereka telah mengeksekusi lima ribu bangsawan dalam satu malam."

Kaelen menatap langit Welcon yang kini bersih dari asap. Kemenangan kecilnya di sini terasa sangat kecil dibandingkan bayang-bayang mengerikan yang mulai merayap dari Barat.

1
anggita
mampir like👍 iklan ☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!