Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Bab 14 Bagaimana Ini?
Tepat pukul setengah tujuh malam.
Denzel sudah kembali ke dapur dan sibuk menyiapkan masakan.
Sup jagung tulang iga telah direbus selama tujuh hingga delapan menit di atas kompor.
Saat ini, Denzel sedang mencuci beras.
Dia mencuci beras dalam panci selama beberapa kali. Setelah membuang air cucian beras, dia kembali memasukkan air bersih ke dalam panci. Pada saat yang bersamaan, dia menggunakan jari telunjuknya untuk
mengukur ketinggian air dengan beras.
Setelah ketinggian air berada di satu ruas
Jari, barulah dia mengangguk dengan puas. Kemudian, dia melanjutkan ke proses berikutnya.
Meski di kehidupan sebelumnya dia begitu asal-asalan dalam hal memasak, hal itu tentu saja tidak menjadi masalah karena dia memasak untuk dirinya sendiri.
Namun kini, kondisinya berbeda, dia harus merawat Fiona dan bayi yang ada di dalam perutnya dengan baik, jadi wajar jika dia lebih teliti dalam melakukannya.
Semakin lezat masakannya, Fiona pasti makan lebih banyak, nutrisi yang bayi butuhkan pun juga akan ikut tercukupi.
Apa pun yang terjadi, dia harus berusaha merawat istrinya dengan baik,
Paling tidak harus memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. Dengan begitu, Fiona akan melahirkan tiga anak kembar yang cantik dan imut!
Namun, Denzel juga tidak tahu pasti apa ketiga bayinya nanti adalah laki-laki atau perempuan.
Di kehidupan sebelumnya, ketika Denzel mengetahui bahwa Fiona sedang hamil, orang-orang desa ada yang mengatakan bahwa semua anak kembarnya adalah laki-laki, sementara ada juga yang mengatakan bahwa semua anaknya adalah perempuan. Bahkan juga ada yang mengatakan bahwa bayinya terlahir cacat.
Oleh karena itu, untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya, dia tetap harus menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Fiona.
Namun... jangan sampai anaknya nanti terlahir cacat ...
Di tengah kesibukannya, Denzel terus berdoa di dalam hatinya.
Tak lupa, di sela-sela memasak, dia juga pergi ke Ruang Cincin.
Setengah hari pun berlalu, ratusan bibit stroberi telah tumbuh hingga setinggi lututnya. Cabang serta daunnya bahkan tampak lebih tebal daripada tumbuhan stroberi pada umumnya.
Hal yang lebih mengejutkan adalah sudah banyak bibit stroberi yang telah berbunga. Mungkin, hanya dalam waktu semalam saja dia sudah akan panen stroberi.
Memang benar, ini lebih menyenangkan ketimbang dia bermain
Hay Day di ponsel miliknya sebelum ini.
Waktu belum menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit di malam hari, akan tetapi aroma sedap sudah tercium dari dapur kumuh yang penuh dengan aura kehidupan. Makan malam yang cukup mewah bagi keluarga kecil ini telah siap.
Telur orak-arik lengkap dengan potongan bawang, tumis paprika kentang asam pedas dan juga seporsi kecil sup jagung tulang iga yang manis.
Namun, ada satu hal yang membuatnya kurang sempurna, alat pengatur waktu pada mesin penanak nasi sepertinya telah rusak. Setelah Denzel memasukkan nasi ke dalamnya, mesin itu masih terus dalam keadaan
Memasak meski nasi sudah matang. Akibatnya, saat aroma gosong tercium, Denzel menyadari lapisan kerak tebal sudah terbentuk di bagian bawah.
Aahh... itu bukan masalah. Fiona bisa memakan nasi bagian atas, sedangkan dirinya bagian bawah.
Denzel bolak-balik menuju ruang tamu dan dapur dengan membawa makanan dan sup ke atas meja. Setelah berpikir sejenak, dia kembali lagi ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.
Saat Denzel melangkahkan kakinya ke dapur, tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang membuka pintu gerbang di halaman.
Saat membuka pintu, tanpa sadar Fiona mengendus aroma sedap dari
Dalam rumah.
Aroma sedap itu begitu kuat hingga membuat mata cantiknya berbinar-binar. Dia mengerutkan keningnya seolah tidak percaya, lalu bergumam, "Aroma sedap ini benar-benar berasal dari dalam rumah."
Saat mengatakannya, Fiona sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju ruang utama.
Pintu rumah memang tidak dalam keadaan terkunci. Begitu melangkahkan kakinya masuk, pandangan Fiona langsung tertuju pada meja makan yang ada di ruang utama.
Setelah melihat makanan yang masih mengepul di atas meja, dia langsung tertegun!
Denzel... benar-benar... memasak!
Dia bahkan memasak tiga menu makanan sekaligus!
Fiona berjalan menuju meja makan dengan tatapan kosong. Saat melihat sup jagung tulang iga, muncul raut tidak percaya di wajah cantiknya!
Denzel juga memasak sup jagung tulang iga?
Apa Denzel menang judi hari ini?
Tidak mungkin! Apa Denzel masih punya uang untuk berjudi?
Suaminya itu bahkan tidak mengambil uangnya sedikit pun.
Apa mungkin dia meminjam uang pada Arvin?
Bagaimanapun, selain Arvin, tidak ada seorang pun di desa yang mau meminjamkan uang pada Denzel. Hal itu karena Fiona telah memperingatkan mereka.
Saat Fiona dipenuhi dengan keterkejutan dan pertanyaan dalam pikirannya, Denzel kembali dari dapur dengan membawa dua piring dan sendok.
Begitu melihat Fiona yang berdiri di depan meja makan, Denzel pun tersenyum. Dia langsung menghampiri Fiona, lalu berkata, "Pas banget, ayo duduk, kita makan bareng!"
Denzel sebenarnya memiliki wajah yang tampan, akan tetapi, karena tubuhnya yang besar dan kekar, membuat wajahnya terlihat seram saat tidak tersenyum. Namun, asalkan dia
Tersenyum sedikit saja, suasana sekitar langsung berubah dalam sekejap.
Awalnya, saat Fiona melihat Denzel, dia sudah bersiap bertanya pada suaminya itu apa sudah meminjam uang pada Arvin atau tidak.
Namun, semua itu berubah saat dirinya melihat wajah Denzel yang penuh tawa dan kelembutan. Hatinya pun berdetak kencang.
Denzel lagi-lagi tersenyum padanya...
Hal yang terpenting adalah
Denzel tidak berubah.
Tidak berubah menjadi pria yang mudah marah dan sering mabuk-mabukan seperti dulu.
Untuk sesaat, Fiona merasa seperti
Melihat Denzel saat pertama kali berjumpa di masa bersekolah dulu.
Saat itu, Denzel terlihat penuh dengan semangat, auranya terpancar bagai sinar matahari, tak kenal takut dan ceria.
Apalagi saat Denzel menariknya dari kerumunan teman sekolah dan tersenyum padanya. Senyum itu seolah telah menghangatkan dunianya...
Detik ini, Denzel tentu saja tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Fiona.
Denzel menghampiri Fiona dengan perlahan, lalu dia menyadari ada sesuatu yang menempel di rambut istrinya itu.
Dia meletakkan piring di tangannya dan ingin mengulurkan tangan untuk mengambil benda itu. Namun, karena
Teringat sebelumnya Fiona menolak saat Denzel mendekatinya, Denzel pun tampak ragu sejenak dan memilih untuk mengingatkannya, "Ada sesuatu di rambutmu."
Fiona masih tenggelam dalam pancaran senyum di wajah Denzel. Baru setelah mendengar ucapan Denzel, dia pun tersadar dan langsung mengulurkan tangan untuk meraih sesuatu yang menempel di kepalanya. Saat merasakannya, dia menarik benda itu dan melihatnya.
"Oh, ini bahan sisa pemotongan kertas di pabrik. Aku tadi buru-buru pulang, makanya nggak sadar."
Denzel mengambil piring dan mulai menyajikan makanan untuk Fiona, lalu dengan setengah bercanda dia berkata, "Buru-buru pulang? Hehe, jangan-
Jangan, kamu kangen aku, makanya buru-buru pulang untuk ketemu, iya, 'kan?"
Sebenarnya Denzel hanya asal bicara saja. Dia ingin mencairkan suasana antara dirinya dan Fiona.
Jika tidak, akan selalu ada jarak di antara hubungan mereka. Jarak seperti itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Meski tahu Denzel sendiri yang telah menyebabkan hubungan antara mereka berdua menjadi seperti ini.
Namun, kata-kata Denzel tepat menghantam pikiran Fiona. Wajah mungilnya yang putih dan lembut sontak memerah tak terkendali.
Fiona juga merasa bingung. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi hari
Ini. Begitu selesai bekerja, ingin rasanya dia cepat-cepat pulang ke rumah bertemu Denzel ...
"Dasar! Siapa juga yang... yang kangen sama kamu ... " bantah Fiona. Dia lantas memandang ke arah meja makan, lanjut berkata, "Aku lapar, makanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan memasak."
Saat mengatakannya, dia dengan cepat mengulurkan tangan ke meja makan untuk mengambil piring. Fiona langsung melakukan sesuatu untuk menutupi detak jantungnya yang berdetak kencang.
Kenapa dia merasa Denzel sedang menggodanya barusan?
Begitu tangan mungil Fiona hendak meraih piring di atas meja, sepiring nasi
Yang masih mengepul dijulurkan ke arahnya.
"Kalau lapar, cepat gih dimakan."
Fiona langsung tertegun, wajahnya memerah dan hatinya pun terkejut setengah mati!
Sebenarnya ... apa yang terjadi pada Denzel hari ini?
Mulai dari memeluknya?
Menyentuhnya?
Membuatkan mie untuknya?
Memasak?
Menggodanya?
Sekarang... Denzel justru kembali berulah dengan mengambil sepiring
Penuh nasi untuk diberikan padanya?
Ini... ini sungguh aneh!
Dia... sedikit kewalahan melihat sikap Denzel! Bagaimana ini?