Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10: Garis Dilanggar
Malam pertama tidur di kamar Arsen ternyata tidak seburuk yang Aluna bayangkan atau mungkin justru lebih buruk, tergantung dari sudut pandang mana melihatnya.
Arsen menepati janjinya. Ia tidak menyentuh Aluna dengan cara yang tidak senonoh. Tetapi... ia menyentuh.
Sepanjang malam, lengan Arsen melingkari pinggang Aluna dari belakang, menarik tubuh Aluna hingga punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Arsen. Kaki panjangnya mengunci kaki Aluna, memastikan Aluna tidak bisa bergerak kemana-mana. Dan wajahnya... terkubur di leher Aluna, napasnya hangat menerpa kulit sensitif di sana.
Aluna tidak bisa tidur sepanjang malam. Bagaimana bisa, saat setiap sentuhan Arsen terasa seperti api di kulitnya? Saat setiap hembusan napas Arsen membuat bulu kuduknya berdiri? Saat jantungnya berdetak terlalu cepat, terlalu keras?
Yang lebih menakutkan sebagian kecil dari dirinya mulai... nyaman dengan pelukan itu.
Tidak. Tidak. Tidak.
Aluna menggelengkan kepala di kegelapan, berusaha mengusir pikiran berbahaya itu.
Ia tidak boleh nyaman. Tidak boleh terbiasa. Karena begitu ia terbiasa... begitu ia mulai menikmati sentuhan Arsen... ia kalah.
Dan Arsen menang.
Pagi itu, Aluna bangun dengan tubuh yang masih terkunci dalam pelukan Arsen. Pria itu masih tidur wajahnya terlihat lebih muda, lebih damai saat tidur, tanpa topeng dingin yang biasa ia pakai.
Aluna menatap wajah itu dengan perasaan campur aduk. Bagaimana bisa seseorang yang terlihat begitu tampan, begitu sempurna di luar... begitu rusak di dalam?
Apa yang membuatnya seperti ini? Apa yang membuatnya begitu takut kehilangan hingga ia harus mengurung, mengontrol, memiliki dengan cara yang salah?
Tanpa sadar, tangan Aluna terangkat jemarinya hampir menyentuh wajah Arsen, hampir menyusuri garis rahang tegasnya--
Mata kelam itu terbuka.
Aluna tersentak, tangannya langsung ditarik kembali.
Tetapi Arsen lebih cepat. Tangannya menangkap pergelangan tangan Aluna, menahannya di udara.
"Mau menyentuhku?" tanya Arsen dengan suara serak suara orang yang baru bangun tidur, yang entah kenapa terdengar... sensual.
"T...tidak," jawab Aluna cepat, wajahnya memerah.
Arsen tersenyum tipis senyum yang tahu Aluna berbohong. Ia membawa pergelangan tangan Aluna ke bibirnya, mencium kulit di sana dengan lembut.
"Kamu boleh menyentuhku kapan pun kamu mau, Aluna," bisiknya sambil mata kelamnya menatap dalam ke mata Aluna. "Bahkan, aku ingin kamu menyentuhku. Aku ingin tanganmu mengeksplorasi tubuhku sama seperti tanganku... mengeksplorasi tubuhmu."
Kata-kata itu membuat wajah Aluna semakin merah. Ia menarik tangannya dengan paksa, dan kali ini Arsen melepaskannya dengan senyum puas di wajahnya.
"Mandi," perintah Arsen sambil bangkit dari tempat tidur. Ia hanya mengenakan celana piyama, dadanya telanjang memperlihatkan otot-otot yang terbentuk sempurna. "Kita ada sarapan dengan klien penting pukul sembilan."
"Saya bisa mandi sendiri," ucap Aluna cepat saat melihat Arsen berjalan menuju kamar mandi.
Arsen berhenti, menoleh dengan senyum yang berbahaya.
"Aku tahu," balasnya. "Tapi aku akan menunggu di luar pintu. Dan Aluna?" Tatapannya mengintensif. "Jangan coba-coba mengunci dari dalam. Karena aku punya kunci untuk semua pintu di rumah ini."
Ancaman itu jelas tidak ada privasi. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Sarapan dengan klien ternyata adalah sarapan bisnis di sebuah hotel bintang lima. Aluna terpaksa ikut mengenakan dress cream elegan yang Arsen pilihkan, sepatu heels yang membuat kakinya sakit, dan riasan natural yang Bu Sinta bantu aplikasikan.
Di mobil, Arsen memegang tangan Aluna sepanjang perjalanan jemarinya terjalin dengan jemari Aluna, genggamannya hangat dan possessive.
"Ingat," ucap Arsen tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, "kamu adalah tunanganku. Senyum. Bersikap manis. Dan jangan pernah... jangan pernah menatap pria lain terlalu lama."
"Kalau saya menatap?"
Arsen menoleh, tatapan gelapnya membuat Aluna menelan ludah.
"Maka pria itu akan kehilangan pekerjaannya hari itu juga," jawabnya datar. "Dan kamu... akan mendapat hukuman yang lebih dari sekadar duduk di pangkuanku."
Aluna tidak berani bertanya hukuman seperti apa.
Sarapan bisnis berlangsung di restoran hotel yang sangat mewah. Klien kali ini adalah pasangan suami-istri paruh baya yang ingin berinvestasi di proyek apartemen mewah Arsen.
Aluna duduk di sebelah Arsen sangat dekat, hingga paha mereka bersentuhan di bawah meja. Tangan Arsen tidak pernah lepas dari tangan Aluna, bahkan saat ia harus menulis atau makan.
"Jadi ini tunangan Anda yang cantik itu, Arsen?" tanya Nyonya Tania istri dari investor dengan senyum hangat.
"Ya," jawab Arsen sambil mengangkat tangan Aluna yang ia pegang, menciumnya dengan lembut di depan pasangan itu. "Aluna. Wanita yang akan segera menjadi istriku."
Aluna hampir tersedak air putih yang ia minum.
Nyonya Tania tertawa gemas.
"Aww, kalian pasangan yang sangat serasi! Kapan pernikahannya?"
"Segera," jawab Arsen dengan cepat, melirik Aluna dengan tatapan yang menantang—berani kamu membantah?
Aluna hanya bisa tersenyum kaku, tidak tahu harus berkata apa.
Sarapan berlanjut dengan pembicaraan bisnis. Tetapi di tengah diskusi tentang ROI dan market analysis, tangan Arsen yang bebas bergerak ke bawah meja menyentuh paha Aluna dengan lembut.
Aluna tersentak, menatap Arsen dengan mata membelalak.
Tetapi Arsen tetap berbicara dengan profesional pada kliennya, seolah tangannya tidak sedang mengelus paha Aluna naik-turun di bawah meja dengan gerakan yang sangat... intim.
"A...Arsen..." bisik Aluna pelan, mencoba menghentikan tangan itu.
Tetapi Arsen malah menggenggam paha Aluna lebih erat, jemarinya menekan dengan lembut namun possessive.
"Ssshh," bisiknya sangat pelan, hanya untuk Aluna. "Diam. Atau aku akan melakukan lebih dari ini."
Wajah Aluna memerah. Ia tidak bisa fokus pada pembicaraan. Yang bisa ia rasakan hanya tangan Arsen di pahanya, sentuhan yang terlalu intim untuk tempat publik, sentuhan yang membuat tubuhnya bereaksi dengan cara yang... memalukan.
Sarapan terasa seperti siksaan yang panjang.
Setelah klien pamit, Arsen dan Aluna kembali ke mobil. Begitu pintu tertutup dan memberikan privasi, Arsen langsung menarik Aluna ke pangkuannya posisi yang sudah terlalu sering terjadi akhir-akhir ini.
"Arsen, apa yang--"
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan padaku?" potong Arsen dengan suara serak. Tangannya melingkari pinggang Aluna, menarik tubuh Aluna hingga menempel sempurna padanya. "Duduk di sana dengan dress yang sangat pas di tubuhmu. Tersenyum manis pada orang lain. Membuatku... gila."
"Saya hanya melakukan apa yang Anda suruh--"
"Dan kamu melakukannya terlalu sempurna," desis Arsen sambil tangannya bergerak ke belakang kepala Aluna, menarik rambut Aluna dengan lembut namun paksa. "Kamu tahu betapa sulitnya bagiku untuk tidak menciummu di depan mereka? Untuk tidak menandaimu sebagai milikku di depan semua orang?"
Mata kelamnya menatap bibir Aluna dengan tatapan yang penuh... hasrat.
"Arsen, jangan--"
Tetapi sudah terlambat.
Arsen menghancurkan bibirnya pada bibir Aluna dengan ciuman yang jauh lebih kasar dari ciuman pertama mereka di malam hujan.
Ini bukan ciuman lembut. Ini bukan ciuman romantis.
Ini ciuman yang possessive. Yang menuntut. Yang menghancurkan semua pertahanan.
Bibirnya bergerak melawan bibir Aluna dengan dominasi yang absolut, lidahnya memaksa masuk, mengeksplorasi setiap sudut mulut Aluna dengan kelaparan yang menakutkan.
Aluna mencoba mendorong dada Arsen, mencoba melawan, tetapi tangan Arsen di belakang kepalanya menahannya di tempat tidak kasar hingga menyakiti, tetapi cukup kuat untuk memastikan Aluna tidak bisa lepas.
Dan yang lebih buruk tubuh Aluna mulai merespons.
Tangannya yang tadinya mendorong sekarang mencengkeram kemeja Arsen, bibirnya yang tadinya terkatup sekarang mulai membalas ciuman itu, tubuhnya yang tadinya kaku sekarang melemas dalam pelukan Arsen.
Arsen merasakan perubahan itu dan mengerang pelan suara yang dalam, yang primitif, yang membuat sesuatu di perut bawah Aluna mengencang.
Tangannya yang di pinggang Aluna bergerak naik, menyusuri tulang rusuk Aluna, hampir hampir menyentuh--
"TUAN ARSEN!"
Suara Pak Joko dari kursi depan membuat mereka tersentak terpisah.
Aluna menoleh dengan napas tersengal, wajah merah padam. Pak Joko menatap lurus ke depan dengan wajah profesional, tetapi ada sedikit warna merah di telinganya tanda ia tahu apa yang terjadi di kursi belakang.
"K-kita sudah sampai di kantor, Tuan," ucap Pak Joko dengan suara yang sedikit gemetar.
Arsen mengumpat pelan dalam bahasa yang Aluna tidak mengerti. Ia menatap Aluna dengan tatapan yang masih dipenuhi hasrat yang belum tersalurkan.
"Kita lanjutkan nanti," bisiknya dengan suara serak sambil ibu jarinya mengusap bibir Aluna yang bengkak karena ciuman tadi. "Di tempat yang lebih... privat."
Aluna tidak menjawab. Ia tidak bisa. Tenggorokannya terasa kering, tubuhnya masih gemetar, dan yang paling memalukan ia bisa merasakan betapa basahnya bibirnya, betapa cepatnya jantungnya, betapa... responsifnya tubuhnya terhadap Arsen.
Ia mulai kalah.
Dan ia tahu itu.
Sisa hari itu berlalu dalam kabut. Aluna mengikuti Arsen kemana-mana ke meeting, ke site visit proyek, ke makan siang bisnis seperti bayangan yang tidak bisa dipisahkan.
Dan sepanjang hari itu, Arsen menyentuhnya. Tangannya selalu menemukan alasan untuk menyentuh di pinggang saat berjalan, di bahu saat berbicara, di tangan saat duduk.
Sentuhan demi sentuhan yang perlahan menghancurkan pertahanan Aluna.
Malam itu, mereka kembali ke mansion lebih cepat dari biasanya. Arsen membatalkan makan malam dengan klien, memilih untuk makan di rumah berdua dengan Aluna.
Di ruang makan, Aluna kembali duduk di pangkuan Arsen posisi yang sudah mulai terasa... normal. Menakutkan betapa cepat tubuhnya beradaptasi.
Arsen menyuapi Aluna dengan sabar, sesekali mencium kening Aluna, pipi Aluna, sudut bibir Aluna ciuman-ciuman kecil yang possessive namun lembut.
"Kamu mulai terbiasa," ucap Arsen tiba-tiba di tengah makan malam.
Aluna menoleh menatapnya.
"Terbiasa dengan apa?"
"Denganku," jawab Arsen sambil tangannya di pinggang Aluna mengelus dengan lembut. "Dengan sentuhanku. Dengan kehadiranku. Dengan... memiliki."
Aluna menggeleng cepat, meski dalam hatinya ia tahu Arsen benar.
"Saya tidak--"
"Kamu membalas ciumanku tadi," potong Arsen dengan senyum tipis. "Di mobil. Kamu membalas. Bahkan... kamu menikmatinya."
Wajah Aluna memerah.
"Itu... itu hanya--"
"Reflex?" tebak Arsen. "Atau mungkin..." suaranya menjadi lebih rendah, lebih serak, "...kamu mulai merasakannya juga? Obsesi ini? Tarikan ini?"
Tangannya bergerak dari pinggang ke wajah Aluna, memaksa Aluna menatapnya.
"Aku bisa melihatnya di matamu, Aluna," bisiknya dengan tatapan yang intens. "Kamu benci aku. Tetapi kamu juga... tertarik. Tubuhmu bereaksi padaku. Jantungmu berdetak untukku. Dan cepat atau lambat... hatimu akan menyerah juga."
"Tidak akan pernah," bisik Aluna, tetapi suaranya tidak sekuat yang ia inginkan.
Arsen tersenyum senyum yang penuh kepastian.
"Kita lihat saja."
Ia mencium bibir Aluna dengan lembut berbeda dari ciuman kasar di mobil tadi. Ciuman ini lembut, mengeksplorasi, seolah Arsen punya waktu selamanya.
Dan yang menakutkan Aluna tidak mendorong.
Ia hanya diam, membiarkan Arsen menciumnya, membiarkan tubuhnya merespons, membiarkan dirinya... tenggelam sedikit lebih dalam ke dalam obsesi gelap Arsen Mahendra.
Garis sudah dilanggar.
Dan tidak ada jalan kembali.
Malam itu, saat mereka berbaring di tempat tidur dengan Arsen memeluk Aluna dari belakang seperti biasa, Arsen berbisik di telinga Aluna.
"Aku mencintaimu, Aluna Pradipta," bisiknya pelan. "Dengan cara yang salah, mungkin. Dengan cara yang gelap. Tetapi ini cintaku. Dan suatu hari... kamu akan mencintaiku juga."
Aluna tidak menjawab.
Tetapi air mata mengalir di pipinya dalam kegelapan.
Karena ia mulai takut takut bahwa Arsen mungkin benar.
Bahwa cepat atau lambat, ia akan jatuh ke dalam cinta yang gelap dan berbahaya ini.
Dan tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya.
Bahkan tidak dirinya sendiri.