Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua Puluh Tiga
Sisa hari itu berjalan dengan suasana yang terasa sangat berat bagi Felicia. Kata-kata Anissa seperti racun yang mengalir perlahan di pikirannya, menggerogoti rasa percaya diri yang baru saja mulai ia bangun. Kalimat "jangan sampai dikira godain bos" terus bergema, membuat Felicia merasa kecil dan tidak pada tempatnya.
Ia menatap layar monitor dengan pandangan kosong. Keyakinannya untuk menerima permintaan Pak Han yang tadinya berada di angka delapan, kini merosot tajam hingga ke titik nol. Ia merasa seperti sedang memainkan peran yang bukan miliknya—seorang asisten biasa yang mencoba melompati kasta menuju kursi "Nyonya Manajer".
Pak Han, dengan instingnya yang tajam, segera menyadari ada yang tidak beres. Atmosfer di ruangan itu berubah; tidak ada lagi gerutu kecil Felicia saat diberi tumpukan dokumen, tidak ada lagi perdebatan jenaka soal pilihan kopi.
"Felicia, laporan audit minggu lalu tolong ditaruh di meja saya sekarang," ujar Pak Han tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Baik, Pak. Segera," jawab Felicia datar.
Hanya tiga kata. Tanpa embel-embel "Banyak banget sih, Pak" atau "Bapak nggak lihat saya lagi ngetik?". Felicia beranjak dari kursinya, meletakkan map di meja Pak Han dengan gerakan mekanis, lalu berbalik begitu saja tanpa menatap mata pria itu.
"Tolong atur jadwal meeting dengan vendor kain untuk besok sore. Di luar kantor saja," tambah Pak Han lagi, sengaja menguji.
"Baik, Pak. Akan saya atur."
Pak Han akhirnya berhenti mengetik. Ia mengangkat wajah, menatap punggung Felicia yang tampak kaku. Gadis itu sedang memasang tameng yang sangat tinggi.
Sikapnya begitu patuh, namun dingin. Ia mengiyakan semua perintah seolah-olah ia sedang dalam mode "tidak ingin berdebat"—sebuah tanda bahaya besar bagi Pak Han.
Bagi orang lain, Felicia mungkin terlihat sebagai asisten yang sangat penurut hari ini. Namun bagi Pak Han, kepatuhan tanpa "nyawa" ini jauh lebih mengkhawatirkan daripada bantahan paling keras sekalipun.
Pak Han bersandar di kursinya, matanya menyipit memperhatikan Felicia yang kembali menekuni komputernya.
Ada yang salah. Dan saya harus tahu apa itu sebelum dia benar-benar menarik diri, batin Pak Han.
Sore merayap perlahan, membawa suasana kantor yang mulai sepi. Felicia sudah merapikan meja kerjanya dengan gerakan cepat, seolah ingin segera melarikan diri dari atmosfer gedung ini. Namun, saat tangannya baru saja meraih tas, suara berat itu menginterupsi gerakannya.
"Saya ada meeting mendadak dengan Pak Bramasta. Tolong dampingi saya sekarang," ucap Pak Han. Pria itu berdiri di ambang pintu ruangannya, masih mengenakan jas lengkap, menatap Felicia dengan tatapan yang sulit dibaca.
Felicia terdiam sejenak. Ia tidak langsung mengiyakan seperti biasanya. Ia menarik napas pendek, lalu memberanikan diri menatap sepatu pantofel Pak Han, menghindari kontak mata langsung.
"Kalau hari ini... saya izin pulang lebih awal, apa boleh, Pak?" tanya Felicia pelan.
Pak Han mematung. Akhirnya, sebuah penolakan keluar dari bibir gadis itu setelah seharian ia bersikap seperti robot penurut yang dingin. Pak Han melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga ia bisa melihat helai rambut Felicia yang sedikit berantakan.
"Kamu sakit?" tanya Pak Han, suaranya melembut, kehilangan nada otoritasnya.
Felicia menggeleng tanpa mengangkat wajah. "Enggak, Pak."
"Terus kenapa? Saya lihat seharian ini kamu murung. Kamu bahkan tidak membantah instruksi saya satu kali pun sampai detik ini," cecar Pak Han. Ia meletakkan satu tangannya di pinggiran meja Felicia, mencoba mencari celah untuk melihat ekspresi gadis itu.
"Saya nggak apa-apa," jawab Felicia singkat.
Jawaban klasik itu justru membuat Pak Han mendengus pelan. Ia tahu betul, kalimat 'nggak apa-apa' dari seorang wanita—terutama Felicia—adalah sinyal bahwa dunianya sedang benar-benar 'apa-apa'.
"Felicia," panggil Pak Han, kali ini dengan nada yang lebih dalam dan penuh penekanan. "Saya ini Manajer Pemasaran, saya terbiasa membaca keanehan dalam sistem. Jangan bilang nggak apa-apa kalau bahu kamu saja kelihatan sangat berat begitu."
Felicia menggigit bibir bawahnya, merasa benteng pertahanannya mulai goyah. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia takut menjadi "batu sandungan", tapi lidahnya terasa kelu.
"Pak Bramasta sudah menunggu," kilat Felicia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Persetan dengan Pak Bramasta," gumam Pak Han pelan, hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat Felicia mendongak kaget. Pak Han menatapnya lurus. "Duduk kembali, Felicia. Kita tidak akan ke mana-mana sebelum kamu bicara jujur apa yang membuat suasana hati kamu buruk hari ini."
...*****...
Suasana di dalam mobil mewah itu terasa begitu menyesakkan, padahal pendingin udara sudah diatur cukup rendah. Mereka sudah sampai di parkiran restoran tempat pertemuan dengan Pak Bramasta akan berlangsung, namun mesin mobil masih menderu halus. Pak Han tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mematikan mesin, apalagi turun.
Ia melepaskan kedua tangannya dari kemudi, lalu memutar tubuh sepenuhnya menghadap Felicia yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela, memilin ujung tali tasnya dengan gelisah.
"Felicia, lihat saya. Saya tidak akan turun dari mobil ini sebelum kamu mau jujur," ucap Pak Han. Suaranya tidak meledak-ledak, namun ada nada tegas yang menuntut kejujuran.
Felicia akhirnya menoleh, namun tatapannya tetap kosong. "Saya benar-benar tidak apa-apa, Pak. Lebih baik kita turun sekarang sebelum terlambat. Tidak enak membuat klien sekelas Pak Bramasta menunggu."
Pak Han mendengus pelan, tangannya mengepal di atas sandaran tangan. "Saya tidak akan bisa fokus dalam rapat itu kalau kepala saya isinya cuma menerka-nerka apa kesalahan saya sampai kamu mendiamkan saya begini. Saya tidak bisa membiarkan kamu ada di samping saya, tapi jiwa kamu entah ada di mana."
Felicia menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Seharian saya bersikap normal, Pak. Saya melakukan semua instruksi Bapak tepat waktu. Tidak ada yang berbeda dengan kinerja saya."
"Justru itu masalahnya!" Pak Han sedikit meninggikan suaranya, frustrasi karena Felicia terus bermain aman. "Sikap kamu sangat berbeda hari ini. Tadi pagi kita masih sarapan dengan baik, tapi kenapa setelah saya kembali dari rapat direksi, kamu berubah sedingin es? Apa ada yang bicara sesuatu sama kamu?"
Mata Felicia bergetar sedikit saat mendengar tebakan jitu Pak Han. Namun, ia kembali mengeraskan hatinya. Mengingat peringatan Anissa, ia merasa jarak adalah satu-satunya cara menyelamatkan reputasi Pak Han.
"Pak, Bapak punya banyak urusan penting—posisi Direktur, audit Pusat, masalah vendor—daripada cuma memikirkan mood saya yang sedang tidak stabil," keluh Felicia lirih.
Pak Han menatap Felicia dengan tatapan yang sulit diartikan; ada amarah, tapi lebih banyak luka di sana. Ia meraih tangan Felicia yang gemetar, menggenggamnya erat seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia lepaskan.
"Tetapi urusan kamu jauh lebih penting buat saya, Felicia." bisik Pak Han, suaranya kini melunak namun sangat dalam. "Saya tidak peduli dengan jabatan itu kalau untuk mendapatkannya saya harus melihat kamu kehilangan binar di mata kamu. Saya tidak bisa melakukan apa pun dengan tenang jika kamu menutup diri seperti ini. Katakan, siapa yang membuat kamu merasa rendah diri?"
Felicia tertegun. Ia menatap tangan Pak Han yang membungkus tangannya, merasakan kehangatan yang kontras dengan hatinya yang beku. Kelembutan Pak Han justru membuatnya ingin menangis.
"Kita bicara soal ini nanti, Pak. Kita sudah hampir terlambat."
Pak Han mengangguk pada akhirnya, "yasudah. Tapi, kamu harus janji kalau kamu akan menceritakan semuanya pada saya. Semuanya."