NovelToon NovelToon
Ranjang Kedua Suamiku

Ranjang Kedua Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Andila

Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.

Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.

"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.

"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.

Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?

Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Unit Apartemen.

Malam itu sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah rumah yang pernah dipenuhi kehangatan. Rania berbaring di sisi tempat tidur, menatap langit-langit sambil mendengar napas suaminya yang teratur. Sudah lama sekali mereka berbagi ranjang tanpa benar-benar bersama.

Rania menoleh pelan ke arah Rangga. Wajah pria itu tampak lelah, tapi bukan lelah yang dia kenal. Ada jarak yang tak kasatmata di sana.

"Mas," panggil Rania lirih.

Rangga membuka mata sekilas. "Kenapa?"

Rania ragu sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena g*airah semata, tapi karena harapan yang terlalu lama dia simpan. "Kita... sudah lama," ucapnya pelan, kalimatnya menggantung. "Aku kangen."

Rangga terdiam. Beberapa detik berlalu, terasa jauh lebih lama dari seharusnya. Dia lalu menghela napas dan duduk setengah badan.

"Aku capek, Ran. Kerjaan lagi banyak, besok aku juga harus berangkat pagi-pagi sekali untuk rapat penting," ucapnya malas.

Rania mengangguk kecil. Alasan itu terdengar familiar, bahkan terlalu familiar. "Kemarin juga begitu," katanya hampir berbisik. "Minggu lalu juga."

Rangga mengusap wajahnya, tampak tidak sabar. "Kamu tahu kan, aku lagi banyak pikiran?" Suaranya mulai meninggi.

Rania menelan l*udah. Dia mendekat sedikit, bukan dengan tuntutan, hanya ingin merasa diinginkan. "Aku cuma pengen dekat sama kamu," katanya jujur. "Aku kangen banget."

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan menyakitkan. Padahal pada suami sendiri, tapi entah kenapa rasanya sangat pahit sekali.

Rangga menjauh, lalu membalikkan badan. "Enggak sekarang. Aku pengen tidur." Singkat, padat, dan menikam.

Tak ada pelukan. Tak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya punggung yang membelakangi dan jarak yang kembali menganga.

Rania menghela napas, kemudian memejamkan mata, menahan rasa perih yang menjalar perlahan. Sudah berbulan-bulan seperti ini. Suaminya tak lagi mau menyentuh. Jangankan menyentuh, memperlakukannya dengan mesra pun tidak. Seakan dirinya sudah tak lagi diinginkan.

"Aku hanya ingin kau peluk, mas." Lirih Rania. Matanya kembali basah, mengandung luka seperti malam-malam sebelumnya.

***

Pagi menjelang, suara berisik memenuhi seisi dapur di mana Rania berada. Terlihat wanita itu sedang sibuk menyiapkan sarapan, sembari menunggu suaminya keluar dari kamar.

"Selamat pagi, Mama."

Rania menoleh ke arah belakang saat mendengar suara suaminya, tampak Rangga sudah memakai pakaian kerja sembari menggendong putra mereka.

"Selamat pagi, Sayang." Rania bergegas menghampiri putranya—Dafa dan beralih mengambil Dafa dari gendongan Rangga. "Tumben gak nangis." Dia mengecup gemas pipi gembul Dafa, mengabaikan Rangga yang sejak tadi melihatnya dengan senyum cerah.

Rania mendudukkan Dafa dan segera menyiapkan sarapan untuk putranya, tidak lupa menyiapkan makanan untuknya dan Rangga juga.

Rangga terus melihat ke arah Rania yang tampak seperti menghindarinya. "Sayang," panggilnya dengan pelan, membuat Rania melihat ke arahnya. "Aku minta maaf untuk yang tadi malam. Aku benar-benar ca-"

"Gak papa, aku ngerti kok," balas Rania dengan cepat, tanpa menunggu Rangga menyelesaikan ucapannya. Tentu saja hal itu membuat Rangga menghela napas berat, merasa bersalah. "Lagian udah biasa juga, 'kan." Sambungnya penuh sindiran.

Rangga terdiam, merasa tertohok dengan ucapan Rania. Namun, dia memilih untuk tidak lagi membalas perkataan wanita itu karena tidak ingin memulai pertengkaran.

Kemudian mereka menikmati sarapan dalam diam. Tidak ada cerita, tidak ada canda tawa. Suasana terasa mencekam yang nyaris membuat napas sesak. Keheningan itu membuat suara denting sendok semakin menguat.

"Aku harus berangkat sekarang," ucap Rangga, berdiri seraya menatap arloji mewahnya yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit.

Rania ikut beranjak tanpa diminta, mengikuti langkah Rangga untuk mengantar kepergian suaminya seperti biasa. "Jangan sampai ada yang ketinggalan," ucapnya. Walau ketus, tetapi dia masih memberi perhatian.

Rangga mengangguk, kemudian tangannya terulur mengusap pipi Rania, lalu melabuhkan kecupan di bibirnya. "Mas berangkat dulu, yah." Dia tersenyum, mencoba untuk meredakan amarah istrinya.

"Hati-hati di jalan, Mas." Rania kembali mengalah. Dia membalas lambaian tangan Rangga, kemudian kembali masuk ke dalam rumah saat mobil suaminya sudah tidak terlihat.

Setelah mengantar Rangga, Rania kembali ke dapur untuk melanjutkan sarapan bersama dengan Dafa. Terlihat mbok Jum—pembantunya juga sudah datang untuk membersihkan rumah karena memang wanita paruh baya itu tidak tinggal bersama dengan mereka.

Ting.

Tiba-tiba ada pesan masuk ke dalam ponsel Rania membuat wanita itu segera mengambil benda pipih tersebut dan tersenyum saat mendapat pesan dari sahabatnya.

"Hari ini aku pulang, Rania. Aku membeli banyak ole-ole untukmu dan Dafa, nanti malam aku ke sana yah. Love you🩷."

Rania terkekeh saat membaca pesan Vita, kemudian dia segera membalas pesan itu dan mengatakan jika sudah tidak sabar untuk melihat ole-ole yang dibawa oleh sahabatnya.

"Ah, gimana kalau aku aja yang ke apartemennya," gumam Rania. Vita pasti lelah karena habis pulang kampung, jadi lebih baik kalau dia saja yang datang ke sana, sekalian memberi kejutan untuk sahabatnya itu.

Rania kemudian segera bersiap-siap untuk pergi ke apartemen Vita bersama dengan Dafa, tidak lupa dia lebih dulu singgah ke supermarket untuk membeli bahan masakan agar bisa memasak di apartemen wanita itu.

Tidak butuh waktu lama, Rania sudah sampai di parkiran apartemen Vita. Dia segera mengajak Dafa dan membawa belanjaannya untuk masuk ke dalam apartemen tersebut.

"Mama, gendong," pinta Dafa sembari merentangkan tangannya.

Rania menggelengkan kepala. "Dafa jalan dulu yah, Sayang. mama susah bawak belanjaan nih." Dia menunjukkan tentengan belanjaan yang harus di bawa. Padahal niatnya beli beberapa bahan saja, tetapi malah membeli banyak.

Dafa menggeleng kuat, bocah berumur hampir 3 tahun itu tetap mau digendong. Kedua matanya bahkan langsung memerah seperti akan menangis.

Rania menghela napas kasar, tidak kuasa menolak putranya yang menggemaskan. "Yaudah, sini." Dia segera menggendong Dafa membuat bocah itu langsung tertawa senang, sementara tangan yang sebelahnya menenteng belanjaan dengan kesusahan.

"Mau ke lantai berapa, Nyonya?" tanya seorang lelaki yang sedang berada di dalam lift.

"Ah, saya ke lantai 4 juga," jawab Rania dengan ramah, dibalas anggukan kepala laki-laki itu.

Setelah sampai, Rania segera keluar dari lift dan bergegas menuju unit apartemen Vita. Dia menurunkan Dafa dari gendongan dan meletakkan barang belanjaannya di lantai karena ingin menekan password apartemen itu.

Namun, Rania mengurungkan niatnya saat melihat pintu apartemen Vita tidak tertutup dengan rapat. "Kenapa pintunya terbuka?" gumamnya heran. Dia diam sejenak, berpikir apakah harus masuk ke dalam atau tidak. Mungkinkah Vita sudah sampai?

"Dafa tunggu di sini sebentar, yah," ucap Rania. Entah kenapa dia jadi merasa was-was.

Setelah mendapat anggukan dari Dafa, perlahan Rania membuka pintu sembari memperhatikan sekitar. Ruang tamu tampak kosong, tapi samar-samar dia mendengar suara dari dalam kamar dan segera melangkahkan kakinya untuk mendekat.

"Akh... Ah... Ah..."

Deg

Rania berdiri di depan pintu kamar dengan tubuh tegang dan jantung berdebar keras saat mendengar suara dessahan yang sangat kuat—sangat akrab dari dalam kamar. Tangan yang akan membuka pintu tampak gemetaran, keringat dingin mengucur deras di wajahnya yang memucat.

"Ka-kalian!"

*

*

*

Bersambung.

1
Oma Gavin
tangkap saja rangga dan beni mereka berdua biang keroknya biar tau rasanya mendekam dipenjara jgn cuma mikirin nama baik keluarga nya
partini
👍👍👍
bener ran, yg penting bebas dulu dari cengkraman c serangga
Oma Gavin
wah perang dunia ke 3 ini saat andre dan rania jemput dafa jgn sampai dafa disandera harusnya rania ngga usah ikut rangga tau banget kelemahan rania
Yuliana Tunru
nah lho rangga dapat lawan tangguh hingga juliqn dan vidi pun tak bisa berkutik msh mau arogan ..smoga bibi bisa kabari rania ttg dafa kasihan ankmubrania lasti akan di sakiti kkga rangga
Oma Gavin
Alhamdulillah nyungsep dech keluarga beni dan rangga tinggal tunggu waktu kalian semua salah pilih lawan yg ngga kaleng" yg ada justru kalian semua dibikin bangkrut dan dibongkar semua keburu beni
Raisha: mereka otw masuk hotel prodeo & nggembel Oma 💃🤣
total 1 replies
partini
wah bisa di lacak ,,hemmm pintar juga si jul jul
Oma Gavin
Kenzo mafia kejam bila ketemu orang yg tidak berperasaan masa lalu Kenzo telah membentuk kepribadiannya yg ngga mudah
kenzo.. ngeriiii🤭
partini
lagi jatuh cinta jadinm tuan muda Kenzo ga eling🤣🤣
Ayu Andila: Wkwk😭
total 1 replies
cinta semu
apa berani polisi itu bertindak mengingat keluarga Rangga punya power ...jgn ambil Dafa dulu cari cara lain ..kalo bisa cari teman yg bisa membantu u Rania ...jika cuman sendiri pasti mudah sekali Rangga mematahkan u ...
Oma Gavin
semoga rania memenangkan semua gugatan nya hak asuh anak dan perceraian
cinta semu
g tau gimana cara Rania berpikir ...zonk terus ...coba berpikir cerdas
Ninik
Rania itu bener2 bego apa gimana sih Kenzo melarang keluar rumah kan demi keselamatan dia udah tau ada org2 suruhan Rangga tp masih aja nanya dasar kamseupay
partini
udah punya ank Rania polos nya luar biasa 🤭,sering" interaksi yg mendebar kn Thor lucu aja sama Kenzo 😂
partini
Rania kaya kurang 1/2 ons 🤣🤣
dah nurut aja kenapa sama tuan muda
اختی وحی
rania jngn oon,masa mau ambil baju dirumah lama, udah bner² sembunyi
alhamdulillah ran, ada yg mau bantu kamu
partini
Rangga rakus bin Maruk moga aja kena penyakit kelamin
Sri Wahyuni Abuzar
nenek keparat ..bukan nya menenangkan cucunya malah bikin fitnah pula 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!