Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Menolak Lupa
Adrian ngerasa dunianya kayak dihantam godam raksasa pas denger omongan Wak Haji. Satu tahun? Dia ilang selama setahun? Dan yang lebih gila lagi, dunia yang dia liat sekarang matahari yang cerah, suara burung, wangi tanah basah ternyata cuma lapisan "Tingkat Ketiga". Semacam wallpaper cantik buat nutupin kenyataan kalau manusia sebenernya udah kalah telak.
Dia ngelihat ke arah Sekar. Tangan cewek itu mulai kelihatan tembus pandang. Ujung jari kakinya pelan-pelan berubah jadi partikel cahaya perak yang melayang ditiup angin. Adrian panik. Dia coba megang tangan Sekar, tapi rasanya kayak megang asap. Dingin dan nggak berwujud.
"Sepuluh menit, Den," suara Wak Haji kedengeran datar, tapi ada nada sedih di sana. "Sistem The Harvester nganggep Sekar itu 'bug'. Fragmen kesadaran yang terlalu manusiawi dan bisa ngerusak kestabilan simulasi. Makanya dia harus dihapus. Bukan cuma raganya, tapi jejaknya di otak semua orang."
"Gak bisa! Gua nggak bakal biarin itu terjadi!" bentak Adrian. Dia berdiri tegak. Jantung emas di dadanya berdenyut kenceng, ngirim gelombang anget ke seluruh badannya.
Adrian nggak mau lagi jadi bola pingpong yang dipukulin sana-sini. Dia capek jadi korban skenario alien, skenario bokapnya, atau skenario "Adrian" yang lain. Kalau dia emang didesain jadi "Shark", ini saatnya dia nunjukin taringnya.
"Wak, kalau ini simulasi, berarti ada kodenya kan? Ada kabelnya? Ada pusat datanya?" tanya Adrian dengan nada yang sangat tenang tapi tajem. Matanya nyala warna emas murni.
Wak Haji ngerutin dahi, sedikit kaget liat perubahan sikap Adrian yang mendadak jadi tangguh banget. "Ada. Tapi pusatnya bukan di sini. Pusatnya ada di dalem 'Inti Malabar' yang asli, di bawah gubuk ini."
Adrian langsung nengok ke lantai gubuk yang terbuat dari kayu lapuk. Dia nggak pake mikir dua kali. Dia hantem lantai itu pake tinjunya yang udah dialirin energi emas.
BRAAAKKK!
Lantai kayu itu hancur berantakan. Di bawahnya, nggak ada tanah cokelat. Yang ada cuma ruang hampa yang penuh sama kabel-kabel cahaya warna biru dan perak yang saling melilit kayak akar pohon. Inilah "Inti Malabar" yang dibilang ibunya tadi.
"Adrian, apa yang mau kamu lakuin? Itu inti sistem! Kalau kamu salah sentuh, kesadaran kamu bisa kehapus bareng Sekar!" Wak Haji memperingatkan. "Gua udah pernah mati, Wak. Gua udah pernah jadi data sampah. Gua nggak takut lagi sama yang namanya 'kehapus'," jawab Adrian. Dia loncat ke dalem lubang itu.
Pas dia melayang di antara kabel-kabel cahaya itu, Adrian ngerasa otaknya mulai diserbu ribuan informasi. Dia bisa ngelihat memori orang-orang di seluruh dunia yang lagi hidup dalam simulasi. Ada yang lagi pesta, ada yang lagi tidur, ada yang lagi kerja. Semuanya kelihatan bahagia, tapi bahagianya aneh flat, tanpa emosi yang naik turun.
Dia nyari satu nama: SEKAR. Di layar virtual yang muncul di depan matanya, dia liat barisan kode status: deleting... 85% complete. "Gak secepat itu, Bre," gumam Adrian.
Dia nangkep salah satu kabel cahaya yang paling besar. Begitu dia nyentuh kabel itu, badannya kesetrum hebat. Rasanya kayak jutaan jarum nusuk otaknya. Tapi Adrian nggak ngelepasin. Dia malah narik kabel itu, nyoba buat nyuntikkin energi emasnya ke dalem sistem.
"Kalian mau hapus dia? Oke, tapi kalian harus hapus gua juga! Dan kalau gua kehapus, sistem The Harvester kalian nggak bakal punya 'adaptor' lagi! Pilih mana, kehilangan satu bug atau kehilangan seluruh sistem?!" teriak Adrian ke arah kehampaan.
Tiba-tiba, suara dengungan mesin di sekitarnya berhenti. Waktu seolah-olah membeku. Sosok Adrian "CEO" muncul lagi di depan Adrian, tapi kali ini bentuknya kayak hologram yang keganggu sinyal (glitch).
"Adrian, lu nekat banget ya. Lu mau ngerusak surga ini cuma buat satu fragmen data?" tanya Adrian CEO. "Dia bukan fragmen data. Dia temen gua. Dia yang bikin gua ngerasa jadi manusia pas raga gua cuma buatan lab!"
Adrian narik kabel itu lebih kenceng. "Sekarang, batalkan penghapusan Sekar, atau gua bakar inti ini pake seluruh energi emas gua!" Adrian CEO diem. Dia kayak lagi ngitung peluang. "Kalau gua batalin, dia bakal tetep ada, tapi dia bakal jadi ancaman buat stabilitas dunia ini."
"Biarin itu jadi urusan gua. Gua yang bakal jagain dia. Lu urusin aja kapal induk lu di langit!" Setelah beberapa detik yang tegang, barisan kode di depan Adrian berubah. status: deletion aborted. restoring data...
Adrian ngerasa lega luar biasa. Dia liat partikel cahaya perak di atas gubuk tadi mulai nyatu lagi. Raga Sekar perlahan-lahan jadi padat. Tapi masalah belum selesai.
Begitu data Sekar pulih, sistem The Harvester ngeluarin peringatan baru: WARNING: ANOMALY DETECTED. SENDING CLEANER UNITS.
"Cleaners?" Adrian nanya.
"Mereka adalah penghapus manual," jawab Adrian CEO sebelum hologramnya ilang. "Semoga beruntung, Adikku. Lu baru aja mulai perang sama sistem yang nggak punya perasaan."
Adrian loncat balik ke atas gubuk. Dia liat Sekar udah bangun, tapi mukanya masih bingung. Dia megangin kepalanya. "Adrian? Apa yang terjadi? Gua ngerasa kayak baru aja... ilang," bisik Sekar.
"Lu aman, Kar. Gua nggak bakal biarin lu pergi," Adrian ngebantu Sekar berdiri. Dia nggak meluk Sekar dengan gaya drama, tapi dia megang bahu Sekar dengan genggaman yang kuat. "Sekarang kita nggak bisa diem di sini. Kita harus lari."
Di luar gubuk, langit yang tadi cerah mendadak berubah jadi warna merah darah. Dari arah puncak gunung Malabar, muncul sosok-sosok tanpa wajah yang badannya terbuat dari cairan hitam metalik.
Mereka melayang, masing-masing bawa pedang cahaya yang bunyinya berdenging nyakitin kuping. Ada sekitar dua belas sosok The Cleaners.
Wak Haji udah siap di depan gubuk, dia megang tongkat emasnya. "Den Adrian, bawa Sekar ke arah air terjun rahasia di balik tebing. Di sana ada gerbang yang nggak bisa dideteksi sama simulasi ini. Saya bakal tahan mereka di sini."
"Wak, gua nggak bisa tinggalin Wak Haji sendirian!" "Jangan sok pahlawan, Den! Kamu itu jantungnya, Sekar itu kuncinya. Kalau kalian ketangkep, semuanya beneran selesai! Pergi!" Wak Haji ngehentakin tongkatnya, ngebentuk perisai cahaya yang nahan serangan pertama dari The Cleaners.
Adrian narik tangan Sekar. Kali ini gerakannya cepet dan efisien. Dia nggak lagi ragu-ragu. Mereka lari nembus hutan teh yang sekarang daunnya mulai berubah jadi warna item, tanda kalau simulasi di area ini mulai rusak karena pertempuran energi.
"Adrian, raga gua... gua ngerasa beda," kata Sekar sambil lari. "Gua bisa ngerasain posisi mereka. Gua bisa denger pikiran mereka." "Bagus. Berarti lu bisa jadi GPS gua," jawab Adrian.
Mereka lari ke pinggir tebing. Di bawah sana ada air terjun raksasa yang airnya bukan bening, tapi warna emas hasil dari bocoran energi Adrian ke inti tadi. "Kita harus loncat ke sana?" Sekar ragu.
"Percaya sama gua, Kar. Di simulasi ini, gravitasi itu cuma saran," Adrian megang tangan Sekar kenceng banget, terus mereka berdua loncat terjun bebas ke arah air terjun emas itu.
Pas mereka nembus air terjun, rasanya bukan basah, tapi kayak nembus selaput gel yang anget. Mereka mendarat di sebuah gua di balik air terjun. Gua itu penuh sama ukiran kuno, tapi ukirannya bergerak-gerak.
Di dalem gua itu, ada sebuah meja batu. Di atas meja itu, ada dua buah kelereng, satu warna perak, satu warna emas. Dan di samping kelereng itu, ada sepucuk surat dengan tulisan tangan yang Adrian kenal banget. Tulisan ibunya.
“Untuk Adrian. Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah memilih untuk melawan. Kelereng perak ini berisi memori asli Sekar sebelum dia diubah jadi fragmen alien.
Kelereng emas ini berisi sisa 'kemanusiaan' ayahmu yang dia titipkan pada Ibu sebelum dia kehilangan akal. Gabungkan keduanya, dan kamu akan tahu cara menjatuhkan kapal induk itu tanpa menghancurkan bumi.”
Adrian baru aja mau ngambil kelereng itu, pas tiba-tiba bayangan di dinding gua bergerak. Salah satu Cleaner ternyata berhasil nembus pelindung Wak Haji dan udah ada di dalem gua.
Sosok hitam itu nggak nyerang pake pedang. Dia malah berubah bentuk jadi sosok yang paling bikin Adrian terpukul. Dia berubah jadi ibunya.
"Adrian... sayang... berikan kelereng itu pada Ibu. Itu benda berbahaya buat kamu," ucap "Ibu" gadungan itu dengan suara yang sangat lembut. Sekar narik pisaunya. "Adrian, itu bukan ibu lu! Liat matanya, matanya tetep lubang hitam!"
Adrian natap sosok itu. Hatinya perih, tapi pikirannya tetep dingin. Dia inget omongan ibunya di taman tadi: The Harvester bakal pake segala cara buat nipu kehendak bebasnya.
"Ibu gua nggak bakal minta gua buat nyerah," kata Adrian. Dia bukannya mundur, tapi malah maju mendekati sosok itu. "Ibu gua bakal nyuruh gua buat berjuang sampai titik darah terakhir."
Adrian ngambil kedua kelereng itu. Begitu kelereng itu ada di tangannya, sosok "Ibu" itu langsung teriak melengking dan berubah balik jadi cairan hitam yang mau nerjang Adrian.
Adrian nggak ngehindar. Dia gunain energi emasnya buat nangkep cairan hitam itu di udara, terus dia remes sampai cairan itu nguap jadi debu. Dia sekarang bener-bener punya kendali penuh atas kekuatannya.
"Kar, pegang kelereng perak ini," Adrian ngasih kelereng itu ke Sekar. "Ini memori asli lu. Begitu lu telen ini, lu bakal inget semuanya. Siapa lu sebenernya, dan kenapa lu ada di Malabar jauh sebelum gua dateng."
Sekar nerima kelereng itu dengan tangan gemeteran. "Terus lu?" "Gua bakal telen kelereng emas ini. Gua mau liat apa yang sebenernya dipikirin bokap gua sebelum dia jadi gila."
Mereka berdua diem sebentar, saling natap. Mereka tahu, begitu mereka nelen kelereng ini, hidup mereka nggak bakal pernah sama lagi. Mereka nggak bakal bisa balik jadi "petani teh" atau "CEO" lagi. Mereka bakal jadi musuh nomor satu dari sistem yang ngatur dunia.
"Bareng-bareng?" tanya Sekar.
"Bareng-bareng," jawab Adrian.
Mereka nelen kelereng itu di saat yang sama.
Seketika, gua itu meledak dalam cahaya perak dan emas yang nyatu. Adrian ngerasa otaknya ditarik ke masa lalu, ke sebuah laboratorium rahasia di bawah kawah Gunung Merapi. Dia liat bokapnya lagi berantem sama sosok bayangan perak.
"Kalian nggak bisa ambil anak saya! Dia bukan properti kalian!"teriak bokapnya di memori itu. Dan di sisi lain, Sekar mulai nangis. Dia inget sekarang. Dia bukan cuma fragmen alien.
Dia adalah anak dari salah satu pemberontak kelompok "Akar" yang diculik dan dijadikan eksperimen oleh bokap Adrian untuk menjadi pelindung Adrian. "Adrian... bokap lu... dia yang ngebunuh orang tua gua," bisik Sekar dengan suara yang penuh luka dan amarah.
Adrian tersentak. Dia mau minta maaf, tapi tiba-tiba dinding gua itu runtuh. Bukan karena The Cleaners, tapi karena ada sesuatu yang lebih besar lagi yang dateng. Sebuah kapal tempur kecil, bentuknya kayak hiu logam, nembus air terjun dan parkir di depan mereka.
Pintunya kebuka, dan yang keluar adalah... Aris. Tapi Aris yang ini badannya udah 80% mesin, dan dia bawa senjata laras panjang yang arahnya ke luar gua, seolah-olah lagi ngelindungin mereka.
"Naik sekarang kalau kalian mau hidup!" teriak Aris. "Pasukan 'The Harvester' yang asli baru aja mendarat di Jakarta, dan mereka nggak pake simulasi lagi. Mereka mulai proses penghapusan fisik!"
Adrian ngelihat ke arah Sekar yang matanya sekarang penuh kebencian ke arahnya gara-gara memori tadi. Tapi Sekar tetep naik ke kapal itu karena dia tahu musuh utamanya ada di langit.
Pas kapal itu melesat keluar dari air terjun, Adrian ngelihat ke bawah. Kebun teh Malabar yang dia cintai sekarang mulai terbakar api perak. Dan di langit, "The Harvester" mulai nurunin ribuan kabel raksasa yang langsung nancep ke kota-kota besar, mulai narik jiwa manusia keluar dari raga mereka secara paksa.
Dengan kebenaran pahit yang baru saja terungkap tentang masa lalu mereka, bisakah Adrian dan Sekar tetap bekerja sama sebagai tim?
Siapakah Aris yang sekarang tampak membantu mereka, dan apa rencananya dengan membawa mereka ke tengah "Penghapusan Fisik" di Jakarta?
Di tengah dunia yang mulai runtuh baik secara simulasi maupun nyata, mampukah Adrian menggunakan "Kemanusiaan Ayahnya" untuk membalikkan keadaan sebelum seluruh umat manusia benar-benar menjadi sejarah?
semangat update terus tor..