Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 09
Pada malam Natal, Amayah berdiri tepat di sebuah pemakaman umum di kampung halamannya. Di hadapannya terbentang sebuah kuburan yang terawat rapi—kuburan ayahnya.
Tatapan Amayah terlihat datar, namun hatinya berkata lain.
"Aku merindukan ayah..."
Kehilangan seorang ayah bukanlah hal yang mudah baginya. Ayahnya adalah sosok yang mengajarkan banyak arti tentang kehidupan, tentang bertahan, dan tentang harapan.
"Dulu ayah pernah berkata bahwa suatu saat aku akan menemukan seseorang yang akan menuntunku pada kebahagiaan..." gumamnya pelan. Senyum tipis pun terbit di wajahnya.
Amayah meletakkan sebuket bunga yang harum di atas pusara itu.
"Dan mungkin... kini aku telah menemukannya..."
"Aku harap, kami bisa bersama selamanya..."
Malam Natal itu terasa sunyi, namun hangat di hati Amayah.
---
Di tempat lain, Brian sedang asyik bermain gim di kamarnya. Konsentrasinya tiba-tiba buyar ketika ponselnya berdering. Panggilan itu berasal dari pengasuhnya, Hannah.
Isi percakapan mereka dipenuhi oleh suara Hannah yang memaksa Brian untuk ikut merayakan malam Natal bersama.
Awalnya, Brian menolak mentah-mentah. Namun, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas.
"Mungkin tidak ada salahnya jika aku ikut," pikirnya.
"Aku bisa melanjutkan gimnya nanti."
"Ayo, Brian. Ada Cecil juga, loh. Katanya dia merindukanmu..." ujar Hannah dengan nada lembut dan memohon.
"Aku tidak pernah mengatakannya," sahut seorang perempuan yang disebut Cecil dengan datar.
Brian menghela napas panjang. Ia tahu ini akan merepotkan, namun akhirnya menyerah.
"Baiklah, aku ikut. Tapi jangan ada kegiatan yang menguras energi, ya."
"Yeay! Datang ke kafe ini ya~" seru Hannah ceria.
"Baiklah," jawab Brian. Sebuah senyuman tipis—yang jarang dilihat orang lain—tersungging di wajahnya.
Malam Natal Brian pun dihabiskan bersama pengasuhnya. Sementara itu, Amayah yang telah kembali menjadi dirinya sendiri, menikmati malam Natal dengan bahagia bersama keluarganya.
Malam Natal keduanya memiliki makna yang berbeda, namun satu hal yang sama: kebahagiaan menjadi akhirnya.
Hari-hari liburan musim dingin pun berlalu dengan menyenangkan bagi mereka berdua. Meski begitu, terkadang nama satu sama lain tanpa sadar terlintas di pikiran.
Saat Amayah sedang berbelanja di kota, ia tiba-tiba berhenti di depan rak oleh-oleh.
"Brian lebih menyukai yang mana, ya...?" gumamnya sambil menimbang pilihan.
Tak lama kemudian, ia terdiam.
"Tapi... aku penasaran dia sedang apa sekarang..."
Baru setelah itu Amayah tersadar bahwa ia sedang memikirkan Brian. Wajahnya langsung memanas ketika teringat momen mereka bergandengan tangan.
Ia menggelengkan kepalanya berulang kali dengan cepat. Gerakannya membuat Barbara yang berdiri di belakangnya, serta pemilik toko, menatapnya dengan bingung.
"Tidak, tidak! Pasti dia sedang bermain gim atau melakukan aktivitas tidak berguna lainnya," batinnya, berusaha mengusir pikiran itu.
Di sisi lain, Brian yang baru bangun tidur berjalan menuju ruang tamu. Tanpa sadar, ia menyebut sebuah nama.
"Amayah, kau melihat jaketku?" tanyanya datar.
Tak ada jawaban.
Brian terdiam sejenak, lalu mulai mencari-cari.
Beberapa detik kemudian, ia teringat.
"Oh ya... dia sedang berlibur..."
Brian menghela napas panjang.
"Sepertinya aku butuh lebih banyak istirahat."
Ketidakhadiran satu sama lain membuat mereka merasa ada yang kurang, meski mereka baru saling mengenal selama beberapa bulan.
Amayah bahkan merasa ingin segera pulang dan menemui Brian. Hal itu membuat neneknya kebingungan—mengapa cucunya lebih memilih tinggal dekat seorang laki-laki yang baru ia kenali daripada bersama ibunya.
"Itu karena aku ingin belajar hidup mandiri, Nek, bukan karena hal lain!" seru Amayah dengan wajah memerah.
Neneknya tertawa kecil, menggoda dengan suara lembut.
"Oh... karena ingin hidup mandiri, ya~"
"Berhenti menggodaku!" protes Amayah.
"Namanya juga anak muda, Nek..." tambah Barbara sambil menyeruput secangkir teh.
"Ibu sama saja..." keluh Amayah cemberut.
Barbara tersenyum manis, terhibur melihat reaksi Amayah yang menggemaskan.
"Hatchoo!"
Brian bersin beberapa kali. Ia menggosok hidungnya pelan.
"Mungkin aku terkena flu," gumamnya.
---
Satu minggu kemudian, Brian yang baru saja selesai mandi dikejutkan oleh suara berisik dari arah dapur. Alisnya mengernyit. Merasa curiga, ia segera melangkah mendekati sumber suara itu.
Ternyata, Amayah sudah berada di sana. Gadis itu tampak sibuk memasak, punggungnya menghadap ke arah Brian.
"Amayah?" panggil Brian dengan nada bingung.
Mendengar namanya dipanggil, Amayah hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan kegiatannya. "Selamat malam, raja pemalas," balasnya ringan.
Mereka sudah dua minggu tidak bertemu, namun sapaan pertama Amayah justru berupa ejekan yang terasa begitu tajam.
"Sejak kapan kau tiba?" tanya Brian datar sambil duduk di sofa.
"Baru saja," jawab Amayah santai.
"Begitu ya..." Brian menanggapi singkat, lalu kembali menatap halaman buku yang sedang ia baca.
Suasana pun berubah hening. Amayah fokus pada masakannya, sementara Brian bersantai membaca. Keheningan itu terasa tenang—hingga tiba-tiba buyar seketika.
Suara piring terjatuh dan pecah menggema di ruangan.
Brian terkejut dan segera berdiri. "Apa yang terjadi...?" tanyanya sambil berjalan ke arah dapur.
"Maaf... aku menjatuhkannya..." ujar Amayah lirih. Wajahnya terlihat pucat dan lelah.
Brian menatapnya beberapa detik, lalu menyadari sesuatu. "Kau kelelahan, kan? Lebih baik istirahat. Jangan memaksakan diri," ucapnya datar, namun nadanya terdengar serius.
"Tidak usah khawatir. Aku masih sanggup," jawab Amayah sambil berdiri lebih tegak, berusaha menutupi kelemahannya.
Ia segera mengambil alat pembersih dan mulai memunguti pecahan piring.
"Baiklah kalau begitu," kata Brian singkat sebelum kembali ke sofa.
Keduanya kembali pada kegiatan masing-masing. Sesekali, Brian melirik ke arah dapur, mengamati Amayah yang tampak terus bergerak meski jelas terlihat lelah.
"Kurasa dia baik-baik saja..." pikir Brian.
Namun, yang tidak ia sadari, kepala Amayah terasa berputar. Cuaca musim dingin benar-benar memengaruhi kondisi tubuhnya. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri.
"Aku harus membuatkannya makanan. Apa pun yang terjadi," batinnya.
---
Keesokan paginya, Amayah kembali datang ke rumah Brian dalam keadaan sakit. Tubuhnya lemah, tenggorokannya terasa perih, namun ia tetap berusaha terlihat kuat. Ia menahan batuk dan langsung menuju dapur untuk memasak.
Brian tidak terlalu menyadari perubahan itu. Ia sibuk dengan urusannya sendiri, meski sesekali melirik Amayah yang tampak—sekilas—baik-baik saja.
Namun di sekolah, kondisi Amayah justru semakin memburuk. Ia kesulitan mengikuti pelajaran, kepalanya terasa berat, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Amayah, kamu baik-baik saja?" tanya guru yang sedang mengajar dengan nada cemas.
Amayah menatapnya dengan wajah pucat. "Saya baik-baik saja, hanya kurang sehat sedikit..."
"Begitu ya. Kalau ada apa-apa, segera ke ruang kesehatan," ujar sang guru.
Amayah mengangguk pelan. "Ya..."
"Aneh... tumben ada orang lain selain orang terdekatku yang mengkhawatirkanku," pikir Amayah. Kesadarannya mulai goyah.
Saat pelajaran olahraga, kondisinya semakin parah. Ia hampir tidak sanggup bergerak. Gurunya menyuruhnya beristirahat di ruang kesehatan, namun Amayah tetap memaksakan diri.
Hingga akhirnya, batas tubuhnya tercapai.
Di lorong sekolah, langkahnya melemah. Napasnya terasa berat.
"Aku... sudah tidak... kuat..." ucapnya lirih.
Tubuhnya perlahan kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.
Namun sebelum kesadarannya benar-benar hilang—
"Siapa...?" gumam Amayah pelan.
Brian muncul tepat waktu.
Sejak pelajaran olahraga, Brian memang memperhatikan Amayah dari jendela kelasnya yang menghadap ke lapangan. Gerakannya terlihat tidak normal. Firasat buruk membuat Brian meninggalkan kelasnya dan menyusul Amayah.
"Sudah ku duga... dia tidak baik-baik saja," batinnya. "Maaf karena telat menyadarinya..."
Brian segera menggendong Amayah dengan kedua lengannya.
"Mengapa kau selalu memaksakan diri...?" tanya Brian dalam hati, menatap wajah pucat gadis itu.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Beberapa jam kemudian, akhirnya Amayah tersadar.
"Aku di mana...?" tanyanya setengah sadar.
Pandangan matanya buram sesaat sebelum ia mengenali ruangan itu. "Ruang kesehatan ya... Ah... aku demam..."
Tak lama kemudian, seseorang memasuki ruangan. Itu adalah guru pengawas ruang kesehatan.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya lembut.
"Iya... terima kasih karena telah merawat saya, Bu," jawab Amayah pelan.
"Sama-sama. Tapi seharusnya kamu berterima kasih pada Brian, murid kelas 7-A, yang mengantarmu ke sini," ujar guru itu sambil tersenyum.
"Brian...?" gumam Amayah. "Boleh panggil dia ke sini, Bu?"
"Tentu. Tunggu sebentar ya."
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Brian masuk dengan langkah tenang.
"Bagaimana kondisimu?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Amayah dengan suara yang terdengar tenang, meski tubuhnya masih terasa lemah.
Brian menatapnya dengan ekspresi datar. Tatapan itu justru membuat Amayah gugup.
"Aku tidak mengerti mengapa kau berbohong padaku, Amayah," ujar Brian tanpa basa-basi.
"Maksudmu...?" tanya Amayah, wajahnya tetap datar, meski hatinya gelisah.
"Kau sudah sakit sejak kembali dari kampung halamanmu, benar?" Brian balik bertanya.
Amayah terdiam.
"Jawab aku."
"Ya..."
Brian melanjutkan, "Lalu kau bilang kau baik-baik saja, memaksakan diri membuatkanku makanan, bahkan sampai memecahkan piring di rumah."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Mengapa?"
Amayah tidak mampu menjawab. Kata-kata Brian seolah membungkamnya.
"Maksudku, kau boleh jujur padaku jika kau sakit. Tidak perlu memaksakan diri," ujar Brian dengan nada datar, namun jelas terdengar serius.
"Tapi... apa yang akan kau makan nanti?" tanya Amayah lirih, menunduk.
"Menurutku, lebih baik perutku kosong daripada kesehatanmu memburuk," jawab Brian tegas.
Ucapan itu membuat Amayah terdiam. Ia tidak pernah mendengar kalimat seperti itu sebelumnya—terlebih dari Brian.
"Saat aku sakit dulu, kau memarahiku karena kecerobohanku. Sekarang kita impas," tambah Brian dengan ekspresi lelah.
"Maaf..." ucap Amayah lirih, nyaris tak terdengar.
Tak lama kemudian, guru pengawas kembali masuk.
"Amayah, kamu sudah boleh pulang. Mau saya panggilkan orang tuamu?" tanyanya.
Amayah menoleh sekilas ke arah Brian. "Tidak perlu, Bu. Brian akan mengantar saya pulang," ujarnya santai.
"Hei, yang benar saja," Brian langsung bereaksi. "Bagaimana caranya aku membawamu pulang?"
Amayah tersenyum jahil. "Seperti yang kau lakukan dulu padaku."
"Hah? Aku tidak tahu apakah aku masih sanggup. Bisa saja berat badanmu sudah naik," ujar Brian asal.
"Kurang ajar!" kesal Amayah.
Melihat interaksi mereka, guru pengawas hanya bisa terdiam—bingung sekaligus panik.
"Maaf, Bu. Kami hanya bertengkar kecil," ujar Amayah sambil tersenyum tipis. "Brian teman sekaligus tetangga saya, jadi tidak apa-apa."
Dengan raut wajah masih ragu, guru itu akhirnya mengangguk. "Baiklah. Kalian boleh pulang."
"Terima kasih, Bu."
Dalam perjalanan pulang, Brian menggendong Amayah di punggungnya. Namun Amayah justru menyesal telah memintanya. Perasaannya pada Brian kini berbeda dari dulu, membuat situasi terasa jauh lebih canggung.
Wajah Amayah memerah, lidahnya kelu. Brianlah yang lebih dulu memecah keheningan.
"Oh ya, tadi ada pengumuman soal ekstrakurikuler. Katanya setiap murid wajib ikut setidaknya satu."
"Benarkah? Lalu kau ingin ikut ekskul apa?" tanya Amayah penasaran.
"Entahlah. Tidak ada yang benar-benar sesuai keinginanku," jawab Brian.
Amayah tertawa kecil. "Pasti kau ingin ekskul gim. Kalau ada, pasti isinya kumpulan introvert yang main gim sampai lupa waktu."
"Kalau pun ada, belum tentu diizinkan. Jangan asal beropini hanya karena aku suka gim," balas Brian kesal.
"Tapi memang begitu, kan?"
"Tidak."
"Pasti begitu."
"Berhenti mengada-ada."
"Aku tahu tentangmu."
"Tidak. Kau bahkan tidak tahu warna kesukaanku."
"Memangnya apa?"
"Tidak akan kuberitahu."
"Kalau begitu jatah makan malammu akan aku kurangi."
"Curang sekali."
"Wanita selalu benar."
"Itulah alasan mengapa banyak lelaki menyukai sesama jenis."
"Jangan-jangan kau dan John—"
"Kau ingin aku turunkan di sini saja?" ancam Brian sambil berhenti melangkah.
"Lupakan saja," ujar Amayah cepat.
Suasana kembali hening. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang berlalu-lalang. Sore di kota New York terasa ramai, namun entah mengapa tetap menenangkan.
"Brian," panggil Amayah.
"Hmm?"
"Apa ada seseorang yang kau sukai?" tanyanya pelan. Pipinya memerah.
"Aku tidak mengerti maksudmu," jawab Brian.
"Maksudku... seseorang yang kau sukai. Kau benar-benar payah," gerutu Amayah, suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan jalan.
"Tidak," jawab Brian singkat.
Mendengar itu, Amayah merasa sedikit lega. "Begitu ya..."
Brian tampak tak terlalu memikirkan pertanyaan itu. Sementara Amayah merasa lega—setidaknya ia tidak memiliki saingan.
"Tapi aku hanya mencintai Zu-Toa," ujar Brian tiba-tiba.
"Eh, siapa itu?"
"Karakter dari gim kesukaanku. Aku mencintainya lebih dari diriku sendiri," jawab Brian tanpa ragu.
Amayah menatap kosong. "Aku jadi penasaran, berapa biaya perawatan rumah sakit jiwa untuk satu pasien, ya?" tanyanya santai dengan ekspresi datar.
---
Singkat cerita, setelah mengantar Amayah pulang, Brian menyuruhnya untuk beristirahat sampai benar-benar sembuh. Ia tidak menerima alasan apa pun. Baginya, itu bukan permintaan, melainkan perintah—semata-mata karena ia tidak ingin kerepotan di kemudian hari.
Amayah sempat mengejek Brian, menyebutnya berlebihan karena selalu menganggap dirinya sebagai beban. Namun Brian menanggapi dengan datar, mengatakan bahwa itu hanyalah kenyataan. Ia mengaku khawatir jika sesuatu terjadi dan kondisi Amayah memburuk, maka ia tidak akan bisa menikmati makanan enak dalam waktu yang cukup lama.
Mendengar alasan itu, Amayah justru merasa senang. Ia merasa diandalkan, meski berusaha menutupi perasaannya dengan pura-pura kecewa karena Brian selalu bergantung padanya. Brian sama sekali tidak menanggapi sikap itu. Ia hanya berbalik, lalu meninggalkan rumah Amayah begitu saja.
Amayah pun akhirnya beristirahat. Namun, berbaring sendirian di kamarnya justru membuat pikirannya dipenuhi kejadian-kejadian kecil bersama Brian sepanjang hari. Wajahnya terasa panas menahan rasa malu.
Meski semua itu tampak sederhana, bagi Amayah setiap momen terasa begitu bermakna. Namun ia kembali menahan diri, karena ia tahu—usahanya masih belum selesai.
Bersambung.
semangat terus bang!!!