novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Ternyata selama ini Pharma saja yang terlalu percaya diri, merasa dirinya adalah pusat semesta Lyra. Padahal, bagi Lyra, London itu cuma destinasi belajar, dan Pharma? Pharma itu cuma "kebetulan" yang lewat di jalur kariernya.
Sifat asli Lyra yang asbun (asal bunyi) dan bodo amat sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang paling ampuh. Dia ke London bukan buat mengejar cinta lama yang sudah basi, tapi buat menyerap ilmu medis sebanyak-banyaknya. Kalau Pharma jadi kasar atau lebih milih Veronica, ya sudah, Lyra tinggal bilang, "Emang gue pikirin?"
Pagi Hari: Mode Masa Bodo
Pagi hari sebelum acara gala dinner, Lyra bangun di hotelnya dengan perasaan sangat segar. Dia tidak peduli dengan puluhan panggilan tak terjawab dari Pharma. Sambil mengunyah roti lapis, dia membaca jurnal medis terbaru, mengabaikan drama rumah tangga yang menurutnya sudah tidak relevan lagi.
Dia berangkat ke Delphi lebih awal untuk menyelesaikan beberapa tugas di laboratorium. Saat sedang asyik meneliti slide mikroskop, pintu lab terbanting terbuka.
Pharma berdiri di sana, napasnya memburu, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang menumpuk. "Lyra! Apa-apaan kamu? Berani-beraninya kamu pindah ke hotel dan mematikan ponsel!"
Lyra bahkan tidak mengangkat kepalanya dari mikroskop. "Lagi sibuk, Sir. Ada bakteri yang lebih menarik buat diperhatiin daripada suara Anda."
"Lyra!" Pharma mencengkeram meja lab. "Saya ini suamimu!"
"Oh, masih ya?" Lyra akhirnya mendongak, menatap Pharma dengan tatapan yang sangat datar. "Gue pikir status itu udah hangus sejak lo asyik gelendotan sama Veronica. Lagian, Pharma, gue ke London ini buat nyari ilmu, bukan nyari ribut sama lo. Kalau lo mau pamer sama Veronica di istana nanti, ya pamer aja. Nggak usah ngatur-ngatur gue tinggal di mana."
Pharma tertegun. Dia terbiasa melihat Lyra yang terluka atau marah, tapi melihat Lyra yang bodo amat begini justru membuatnya merasa kecil.
Di Kantin: Pertemuan dengan Iva
Siangnya, Lyra duduk santai di kantin bareng Iva. Dia asyik cerita soal kejadian polisi Magnus kemarin sore dengan gaya asbun-nya.
"Gila, Va! Gue liat polisi-polisi itu keren banget. Pemimpinnya, si Magnus itu, auranya dapet banget. Nggak kayak bos kita di sini, bisanya cuma marah-marah nggak jelas," ceplos Lyra sambil menyeruput es kopinya.
Iva tertawa sampai tersedak. "Heh! Pelanin suara kamu, nanti kalau Pharma denger gimana?"
"Biarin aja. Kuping-kuping dia ini," sahut Lyra santai. "Gue udah nggak minat dengerin ocehan dia. Gue ke sini buat dapet sertifikat spesialis, bukan buat jadi asisten yang bisa dia bentak-bentak. Begitu dapet apa yang gue mau, gue balik ke Indo. Beres."
Leon yang lewat di belakang mereka langsung menepuk tangan. "Gitu dong! Itu baru Lyra yang gue kenal. Jangan mau dikandangin sama singa sirkus kayak Pharma."
Persiapan Terakhir
Saat sore tiba, suasana Delphi makin sibuk. Veronica terlihat mondar-mandir dengan asisten yang membawakannya kopi, sementara Pharma terlihat terus-menerus melirik ke arah ruangan Lyra.
Pharma mengirimkan sebuah kotak besar berisi perhiasan mewah lewat kurir ke meja Lyra dengan catatan: Pakai ini. Ini perintah.
Lyra membuka kotaknya, melihat berlian yang berkilau, lalu menutupnya kembali dengan bunyi klik yang keras. Dia memanggil Raydil yang kebetulan lewat.
"Ray, nih ambil. Kasih ke bagian administrasi atau jual aja buat dana bantuan pasien anak. Gue nggak butuh barang beginian buat kelihatan keren," kata Lyra enteng.
"Tapi Dok... ini kan dari Dokter Pharma?" Raydil melongo.
"Tadi lo denger kan gue bilang apa? Bodo amat," Lyra mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan pergi dengan langkah santai, meninggalkan Pharma yang mengawasi dari kejauhan dengan perasaan hancur yang mulai menjalar.Drama di koridor Delphi makin memanas sore itu. Pharma dan Veronica berdiri bersisian satu terlihat angkuh dengan setelan mahalnya, satu lagi terlihat sangat "gatal" sambil terus membetulkan posisi jam tangan Pharma. Mereka seperti pasangan penguasa rumah sakit yang sedang memberikan titah pada bawahannya.
Saat Lyra sedang asyik membereskan tasnya di nurse station, Pharma menghampirinya dengan langkah yang sengaja dibuat berat.
"Lyra," panggil Pharma dengan nada memerintah. "Nanti jam 7 malam, kamu harus sudah siap. Mobil jemputan khusus dari rumah sakit akan datang. Kamu, saya, dan Veronica akan berangkat dalam satu mobil yang sama."
Veronica menimpali dengan senyum penuh kemenangan, tangannya sengaja mengelus lengan Pharma di depan mata Lyra. "Iya, Lyra. Lagipula kamu kan asisten Pharma, jadi sudah seharusnya kamu ikut di mobil kami. Biar kalau ada pertanyaan mendadak soal laporan Lord Sterling, kamu bisa langsung jawab di jalan. Efisien, kan?"
Lyra menghentikan gerakannya, lalu menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan "bodo amat" andalannya. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap Pharma dan Veronica seolah mereka adalah pasien yang salah minum obat.
"Satu mobil?" Lyra terkekeh pendek, suaranya terdengar sangat asbun. "Wah, makasih ya tawarannya. Tapi kayaknya mobilnya bakal kepenuhan deh. Satu orang ego gede, satu orang gatel banget... mana muat gue masuk di situ?"
Wajah Veronica mendadak merah padam. "Kamu ! Berani-beraninya bicara begitu?!"
Pharma menggeram, ia melangkah maju dan merendahkan suaranya agar tidak didengar staf lain, tapi nadanya sangat tajam. "Jangan membantah, Lyra. Ini perintah atasan. Saya tidak mau kamu terlambat atau malah nyasar pakai transportasi umum. Kamu harus ada di bawah pengawasan saya."
Lyra cuma mengorek kupingnya pelan, tidak merasa terintimidasi sedikit pun. "Duh, Sir... gue ke London buat ngejar ilmu, bukan buat jadi ban serep di mobil kalian. Gue udah bilang kan, gue bukan siapa-siapa di sini. Jadi, gue berangkat sendiri. Titik."
"Lyra, saya tidak suka pengulangan!" bentak Pharma, tangannya sudah gatal ingin mencengkeram lengan Lyra lagi, tapi ia sadar mereka masih di tempat umum. "Kamu tetap satu mobil dengan kami!"
"Dih, maksa," sahut Lyra santai sambil menyampirkan tasnya di bahu. "Gue denger-denger udara London lagi bagus buat naik taksi atau mungkin nebeng Leon. Jadi, silakan aja lo berduaan sama Dokter 'Paling Setara' lo ini di mobil. Gue mau cabut duluan, mau dandan yang cakep buat diri gue sendiri, bukan buat lo."
Tanpa menunggu balasan, Lyra berjalan melewati mereka begitu saja. Ia bahkan sempat menyenggol bahu Veronica "tanpa sengaja" sampai wanita itu limbung sedikit.
"Eh, sori ya Dok, jalannya sempit soalnya situ berdiri kegedean gaya sih," ceplos Lyra sambil terus jalan tanpa menoleh lagi.
Pharma berdiri mematung di tengah koridor, tangannya mengepal kuat. Ia merasa benar-benar kehilangan kontrol. Biasanya, ancamannya akan membuat Lyra tunduk atau setidaknya menangis cemburu. Tapi Lyra yang sekarang Lyra yang asbun dan bodo amat ternyata jauh lebih sulit dihadapi.
Veronica yang kesal langsung merengek, "Pharma! Lihat asisten kamu itu! Dia benar-benar tidak tahu sopan santun! Kenapa kamu masih mempertahankan dia sih?"
Pharma tidak menjawab. Matanya terus menatap punggung Lyra yang menjauh. Ada rasa panik yang mulai muncul di hatinya; ia sadar bahwa Lyra benar-benar sudah tidak peduli padanya.