Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROTOKOL LONDON
Udara London di bulan November terasa seperti pisau cukur yang dingin, menyayat setiap inci kulit yang terpapar. Maximilian Alfarezel berdiri di tepi Sungai Thames, menatap siluet Menara Westminster yang diselimuti kabut tipis. Bagi kebanyakan orang, pemandangan ini adalah simbol kemegahan sejarah dunia. Namun bagi Max, setiap batu bata di kota ini terasa seperti saksi bisu atas konspirasi yang telah membelenggu keluarganya selama tiga generasi.
Di tangannya, ia memegang selembar tiket tua—bukan tiket pesawat atau kereta, melainkan sebuah medali perak berbentuk burung phoenix yang sayapnya melingkari sebuah kunci. Ini adalah peninggalan terakhir dari brankas rahasia Darmawan Aksara yang berhasil diamankan sebelum pria itu dijebloskan ke penjara tanpa nama di Indonesia. Medali ini bukan sekadar pajangan; di dalamnya tertanam cip pasif yang hanya akan aktif jika berada dalam radius seratus meter dari markas besar The Alfarezel Trust.
"Kau yakin ingin melakukan ini sendiri, Max?" suara Vivien terdengar melalui perangkat komunikasi sub-dermal di telinga kanannya. Vivien berada di sebuah apartemen aman di kawasan Kensington, mengawasi setiap pergerakan digital di seluruh sektor London melalui bantuan Gideon yang terhubung via satelit pribadi.
"Aku harus masuk ke sana sebagai seorang Alfarezel, Viv," jawab Maximilian rendah. "Jika aku membawa tim taktis, mereka akan segera mengaktifkan protokol penghancuran data. Aku harus menggunakan namaku sebagai umpan."
"Bara sudah berada di posisi cadangan. Jika dalam sepuluh menit kau tidak memberikan sinyal hijau, kami akan masuk dengan cara kasar," sahut Vivien. Nada suaranya penuh kekhawatiran yang terkendali.
Maximilian melangkah menuju sebuah gedung tua bergaya Georgia di sudut St. James’s Square. Tidak ada papan nama perusahaan, tidak ada penjaga berseragam. Hanya sebuah pintu kayu ek hitam yang kokoh dengan pengetuk pintu berbentuk kepala singa dari kuningan. Max mendekatkan medali perak itu ke arah mata singa tersebut.
Terdengar suara klik mekanis yang halus. Pintu itu terbuka perlahan.
Interior gedung itu sangat kontras dengan eksteriornya yang klasik. Begitu pintu tertutup, Maximilian disambut oleh lorong minimalis dengan dinding marmer putih yang memancarkan cahaya lembut. Di ujung lorong, seorang pria tua dengan setelan jas tweed yang sempurna sedang berdiri, tangannya terlipat rapi di belakang punggung.
"Selamat datang di rumah, Tuan Maximilian," ucap pria itu dengan aksen Inggris yang kental. "Saya adalah Sebastian. Pelayan keluarga Anda, dan pengawas aset The Alfarezel Trust selama empat puluh tahun terakhir."
Maximilian tidak membalas sapaan itu dengan ramah. Ia berjalan mendekat, matanya menyisir setiap sudut ruangan mencari ancaman tersembunyi. "Aku tidak ke sini untuk reuni keluarga, Sebastian. Aku ke sini untuk bertemu dengan orang yang mengendalikan Obsidian dari sini. Di mana kakekku?"
Sebastian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Tuan Besar sudah lama menunggu momen ini. Namun, sejarah tidak bisa dibaca dalam satu halaman saja. Silakan ikuti saya."
Mereka menaiki sebuah lift kristal yang bergerak turun ke kedalaman tanah London. Di bawah sana, Maximilian menemukan sebuah ruang arsip yang jauh lebih megah daripada 'The Archive' di Jakarta. Ribuan silinder logam tersusun rapi, masing-masing berisi gulungan mikrograf dan data yang mencatat setiap peristiwa besar dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Di tengah ruangan itu, duduk seorang pria yang tampak sangat ringkih namun memiliki aura otoritas yang melumpuhkan. Ia mengenakan selimut wol di atas lututnya, wajahnya dipenuhi garis-garis keriput yang menceritakan ribuan rahasia. Itulah Benedict Alfarezel, kakek Maximilian yang selama ini dianggap telah meninggal dalam kecelakaan pesawat di tahun 1980-an.
"Maximilian," suara Benedict parau namun stabil. "Kau terlihat persis seperti Arthur saat ia pertama kali menyadari bahwa dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara."
"Kau memalsukan kematianmu," desis Maximilian, tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Kau membiarkan ayahku menderita, kau membiarkan Phoenix menghancurkan ribuan nyawa hanya untuk eksperimen sosialmu?"
Benedict tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Eksperimen? Tidak, cucuku. Ini adalah pemeliharaan. Manusia adalah makhluk yang cenderung merusak diri sendiri jika tidak diberikan batasan. The Alfarezel Trust didirikan bukan untuk mencari kekayaan, tapi untuk memastikan peradaban ini tidak terjatuh ke dalam jurang kekacauan total. Phoenix adalah instrumen kasar, sebuah pedang tumpul yang aku berikan kepada Elena agar ia merasa berkuasa, sementara aku mengamati hasilnya dari sini."
"Kau menggunakan keluargamu sendiri sebagai bidak!" potong Maximilian.
"Dan lihatlah hasilnya!" Benedict menunjuk ke arah Maximilian. "Kau adalah hasil terbaik dari sistem ini. Tekanan, pengkhianatan, dan pertempuran telah menempamu menjadi seorang Alfarezel yang sempurna. Kau adalah satu-satunya orang yang mampu menyatukan kepingan-kepingan Obsidian tanpa hancur di bawah beban moralitas yang sempit."
Vivien mendengar semuanya melalui transmisi. "Max, jangan dengarkan dia. Dia sedang mencoba memanipulasi kesadaranmu. Dia adalah pusat dari segala racun ini."
Maximilian menarik napas panjang. "Aku tidak ke sini untuk menjadi pewarismu, Benedict. Aku ke sini untuk menghancurkan sumber frekuensi yang kau gunakan untuk mengendalikan protokol London. Aku tahu kau sedang bersiap untuk mengaktifkan sinkronisasi massal melalui jaringan underground London."
Wajah Benedict sedikit berubah. "Kau sudah tahu terlalu banyak. Dan itu sangat disayangkan. Sebastian?"
Dalam hitungan detik, dinding di sekitar ruangan itu bergeser. Empat unit Sentinel model terbaru—yang jauh lebih ramping dan lebih cepat daripada yang ada di Jakarta—muncul dari balik panel dinding. Mata mereka bersinar merah, terkunci pada tanda panas tubuh Maximilian.
"Max, keluar dari sana! Sekarang!" teriak Bara melalui interkom.
Bara dan timnya mulai melakukan penyerangan di permukaan gedung, namun pertahanan The Alfarezel Trust terlalu kuat. Ledakan terdengar di atas, namun ruangan bawah tanah ini tetap stabil.
Maximilian tidak panik. Ia tahu bahwa peluru tidak akan berguna di sini. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil yang telah dimodifikasi oleh Leo. Perangkat itu bukan pengacau sinyal biasa, melainkan sebuah 'parasit frekuensi' yang dirancang untuk membajak sistem saraf pusat Sentinel jika diletakkan di dekat pemancar utama ruangan.
"Kau pikir mesin-mesin ini melindungimu?" Maximilian menatap kakeknya sambil menghindari terkaman pertama Sentinel. "Mereka bukan pelindungmu, Benedict. Mereka adalah saksi bisu atas ketakutanmu."
Max melakukan gerakan akrobatik, meluncur di bawah kaki salah satu Sentinel, lalu menempelkan perangkat parasit itu ke tiang transmisi pusat yang berdiri di tengah ruangan.
"Gideon! Sekarang!" teriak Maximilian.
Dari ribuan kilometer jauhnya, Leo yang berada di Jakarta bersama Gideon mulai mengunggah urutan kode pembatalan yang telah ia sempurnakan dari data Core Ledger. Namun, serangan balik dari sistem Benedict sangat dahsyat.
"Max, aku sedang mencoba memotong firewall mereka, tapi sistem ini menggunakan algoritma manusia hidup!" suara Leo terdengar panik. "Aku butuh akses biometrik dari Benedict sendiri untuk menghentikan Sentinel itu!"
Maximilian menoleh ke arah Benedict. Sang kakek hanya tersenyum dingin. "Aku lebih baik mati bersama rahasia ini daripada melihat kalian menghancurkan tatanan yang kubangun selama puluhan tahun."
Maximilian tidak punya pilihan. Ia harus menghadapi kakeknya secara langsung. Namun, Sentinel-sentinel itu terus menyerang dengan kecepatan yang mustahil. Satu cakar logam Sentinel menyambar lengan Maximilian, merobek jas mahalnya dan meninggalkan luka dalam yang mengeluarkan darah segar.
Tiba-tiba, suara dentuman besar terdengar dari langit-langit. Bara terjun melalui poros lift yang telah ia ledakkan, menggunakan tali rappelling. Ia mendarat dengan senapan mesin yang memuntahkan peluru khusus bermuatan ion.
"Ambil kakekmu, Max! Biar aku yang mengurus mainan logam ini!" teriak Bara.
Maximilian berlari ke arah kursi Benedict. Sebastian mencoba menghalangi, namun Maximilian memberikan pukulan pendek ke arah ulu hati yang membuat pelayan tua itu tersungkur. Max mencengkeram kerah baju Benedict dan menyeretnya ke arah pemindai biometrik di konsol pusat.
"Hentikan mereka, Benedict! Atau aku akan memastikan namamu dihapus dari sejarah sebelum kau benar-benar mati!" ancam Maximilian.
Benedict menatap cucunya dengan tatapan yang aneh—sebuah campuran antara rasa benci dan kekaguman. "Kau memang seorang Alfarezel yang sejati. Baiklah, mari kita lihat apakah dunia siap untuk apa yang kau tawarkan."
Dengan tangan gemetar, Benedict menempelkan telapak tangannya ke pemindai. Sistem mengeluarkan suara dengungan rendah.
"Otorisasi Diterima. Protokol London: Dibatalkan."
Sentinel-sentinel itu tiba-tiba berhenti di tempat. Cahaya merah di mata mereka meredup, lalu mereka ambruk ke lantai seperti tumpukan besi tua tak bernyawa. Seluruh layar di ruangan itu mulai menghapus data secara otomatis—sebuah perintah penghancuran diri yang telah diprogram jika sistem utama jatuh ke tangan musuh.
"Kau menang untuk hari ini, Maximilian," bisik Benedict, napasnya semakin pendek. "Tapi Obsidian Circle bukanlah satu orang. Kami adalah ideologi yang telah menyebar ke sumsum tulang pemerintahan dunia. Kau baru saja memotong satu tangan, tapi tubuhnya masih bernapas."
Maximilian melepaskan cengkeramannya. "Aku tidak peduli seberapa besar tubuh itu, Benedict. Aku akan memotongnya satu per satu sampai tidak ada yang tersisa."
Tiba-tiba, Benedict terbatuk keras, memuntahkan darah. Ia merogoh sesuatu dari balik selimutnya—bukan senjata, melainkan sebuah jam saku kuno. Ia memberikannya kepada Maximilian. "Bawa ini. Ini adalah peta menuju 'The Origin'. Tempat di mana semua ini dimulai, jauh sebelum aku lahir. Jika kau ingin benar-benar bebas, kau harus pergi ke sana."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Benedict Alfarezel memejamkan mata untuk selamanya. Di saat yang sama, sirene kepolisian London mulai terdengar di permukaan.
"Kita harus pergi, Max!" Bara menarik bahu Maximilian. "Gedung ini akan terbakar dalam hitungan menit karena protokol penghancuran diri."
Mereka berlari menuju lift cadangan sementara api mulai menjalar dari ruang server yang meledak. Saat mereka mencapai permukaan, gedung tua di St. James’s Square itu sudah dilalap api besar. Maximilian berdiri di trotoar, menatap api yang melahap sisa-sisa sejarah keluarganya.
Vivien muncul dari kerumunan, berlari dan memeluk Maximilian dengan sangat erat. "Kau selamat... syukurlah kau selamat."
Maximilian hanya diam, membalas pelukan istrinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam jam saku pemberian Benedict. Ia merasa lelah, sangat lelah, namun ia tahu bahwa ini bukanlah akhir. Ia baru saja membunuh naga terakhir dari generasi lama, namun ia menyadari bahwa naga itu telah meninggalkan telur-telur yang tersembunyi di seluruh dunia.
Dua minggu setelah kejadian di London, Maximilian, Vivien, dan Alaric berada di sebuah vila tersembunyi di pesisir Amalfi, Italia. Mereka membutuhkan waktu untuk bernapas, untuk menjauh dari kebisingan teknologi dan intrik politik.
Bara dan Leo tetap berada di Jakarta untuk memantau situasi. Berita tentang kebakaran di London hanya dilaporkan sebagai kecelakaan infrastruktur gas tua. Tidak ada nama Alfarezel yang muncul di media. Obsidian Circle tampaknya sedang mundur ke dalam kegelapan untuk memulihkan diri.
Suatu sore, Maximilian duduk di balkon yang menghadap ke Laut Mediterania. Ia membuka jam saku pemberian Benedict. Di balik penutupnya, terdapat koordinat yang tidak menunjuk ke daratan, melainkan ke sebuah titik di tengah Samudra Antartika. Di sana tertulis satu kata dalam bahasa Latin: "Primordium".
Vivien datang membawa dua gelas jus jeruk segar, ia duduk di samping suaminya dan melihat koordinat itu. "Kau tidak akan pergi ke sana sekarang, kan?"
Maximilian menutup jam saku itu dengan suara klik yang mantap. "Tidak sekarang, Viv. Untuk saat ini, aku ingin menjadi seorang ayah dan seorang suami. Aku ingin Alaric tumbuh tanpa harus tahu apa yang ada di balik jam saku ini."
"Tapi kau tahu mereka akan mencarimu lagi," sahut Vivien lembut.
"Biarkan mereka mencari," Maximilian tersenyum tipis. "Kali ini, aku yang memegang kuncinya. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, baik dari masa lalu maupun masa depan, mendikte bagaimana kita harus hidup."
Maximilian merangkul Vivien, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia benar-benar merasa bebas. Ia tahu bahwa peperangan besar mungkin masih menantinya di cakrawala es Antartika, namun untuk saat ini, cahaya matahari Italia dan kehadiran keluarganya adalah satu-satunya kebenaran yang ia butuhkan.
Di kedalaman benua Antartika, di bawah lapisan es setebal dua kilometer, sebuah fasilitas raksasa yang ditenagai oleh reaktor nuklir tersembunyi masih berdengung dengan kehidupan. Ribuan kapsul kriogenik berjejer di dalam aula besar.
Sebuah monitor utama menyala, menampilkan profil wajah Maximilian Alfarezel. Sebuah suara sintetis bergema di ruangan yang dingin itu.
"Subjek Maximilian telah mengamankan Kunci Primordium. Memulai fase bangun untuk para Rasul. Waktu keberangkatan: Musim Dingin 2027."
Salah satu kapsul kriogenik mulai mengeluarkan uap es. Sebuah tangan manusia—dengan tato burung phoenix di pergelangan tangannya—mulai bergerak menyentuh kaca kapsul dari dalam.
Pertempuran sesungguhnya antara manusia dan "manusia yang ingin menjadi tuhan" baru saja akan dimulai.