NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Fedi yang Menjauh

Persiapan hari-H di kota roadshow AMD yang terakhir.

Aku berjalan penuh keraguan menuju kantor Sambung. Aku sengaja tak menghubungi Fedi karena rasanya percuma saja. Sejak perasaanku mengatakan bahwa ia sedang berusaha menjauhiku, aku bahkan tak berani menanyakan kabarnya hingga kini. Rasanya, menghadapi Fedi adalah pengalaman baru bagiku. Aku merasa tidak bisa menjadi diriku yang biasanya kepada pria semacam Fedi yang biasa seenaknya. Aku bahkan tidak bisa melakukan konfrontasi kepadanya walau aku punya alasan yang kuat atas sikapnya akhir-akhir ini padaku. Rasanya, aku tak berhak marah padanya hanya karena ia menyukaiku.

Aku yang biasanya selalu menyukai seseorang lebih dulu dan mengejarnya sampai lelah. Itulah sifatku, dan aku bangga akan itu.

Bersama Fedi, aku tak tahu harus bagaimana. Aku tidak punya persiapan apa-apa jika nanti aku harus bertemu dengannya. Aku menghela nafas panjang berulang kali, mencoba menguatkan mental jika kelak aku harus bertemu mata dengannya karena ia kini juga ikut andil untuk proyek AMD ini. Aku harus kuat.

“Hai, Mbak Najma. Kamu sudah sehat?” Mbak Esya menyambutku di pintu ruangan. Aku tersenyum mengangguk membalasnya.

“Oke ya, karena Mbak Najma udah nggak ikut di di tiga kota, kita benar-benar stick to the plan mengenai rundown dan event concept yang kamu buat. Jadi, improvisasi hanya dilakukan secara teknis dan gimmick saja.”

“Thanks, Mbak. Aku yang minta maaf tidak bisa ikut serta sebelumnya.”

“No, don’t be. Kami yang menyesal atas semua kejadian yang menimpa kamu, ya.”

Fedi lalu masuk ke dalam ruangan dan hanya tersenyum kepada Mbak Esya yang langsung menyuruhnya duduk. Aku hanya bisa menatapnya diam dan mengamati pergerakannya yang sama sekali tak menunjukkan bahwa ia menyadari aku ada persis di depannya. Tiba-tiba aku merasa sedih sekali.

“Mbak Najma, karena Vanya udah nggak megang, pacarmu yang nanti bantu untuk games supply ya. Laptop dan internet, serta keperluan lainnya bisa minta sama Fedi. Nanti juga dia yang akan in charge untuk activity di games booth, ya Mbak Najma.”

Aku hanya menatapnya dan mengangguk. Fedi tetap tak melihatku.

“Kok pada diem? Are you guys okay?” Mbak Esya sepertinya menyadari ada yang aneh pada kami berdua. Begitu juga Mas Isa dan Icana.

“Nggak, Mbak. Oh ya, karena ini kota terakhir, aku punya rencana buat closing statement dari pemenang. Is it okay?”

“Kayak gimana tuh?”

“It’s just like giving a will. Atau, kita sebut saja ala-ala pidato kelulusan. Gimana?”

“If it’s interesting, I think it’s okay. Nggak nambah budget, kan?”

Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Fedi, lo setuju kan?”

Fedi mengangguk dan akhirnya melakukan kontak mata padaku. Aku tidak siap dan malah menghindarinya. Bodoh.

“Mbak Ica, bisa lihat sample kaos peserta yang baru, nggak?” tanya Mbak Esya pada Icana, yang di mana hanya akan ada aku dan Fedi di dalam ruangan ini yang saling bertatapan tanpa mengeluarkan satu pun kata. Dan benar saja, Fedi langsung keluar ruangan tanpa sedikitpun memanggil namaku.

Aku akhirnya menyadari, hanya Aga dan Fedi yang senang sekali memanggilku Najma tanpa singkatan macam-macam.

Aku akhirnya menyadari, betapa aku ingin sekali mendengar Fedi memanggil namaku saat ini. Aku akan senang jika ia bahkan memanggilku berkali-kali.

Aku ingin sekali menangis di depan semua orang sekarang juga.

**

Walaupun aku sadar aku telah menjadi pecundang, aku tetap tak berkutik untuk berlari dan mengejar Fedi untuk menahannya dan meminta penjelasan segamblang mungkin.

Apa alasannya menghindariku? Apa alasannya ia bersikap dingin kepadaku? Kenapa ia berubah menjadi orang lain di hadapanku? Apa yang terjadi antara kami berdua? Kenapa ia jadi orang pendiam sedunia? Bahkan ia tak menggodaku karena absensiku yang sudah lebih dari tiga kali, aku melewatkan speaking and written test sebagai rangka kelulusan kursus bahasa Inggris yang sudah hampir tiga bulan berjalan. Aku kesal sekali dan merasa tidak berdaya karena masih belum bisa berlari cepat mencarinya ke seluruh penjuru gedung maha tinggi ini.

Tapi tidak hari ini, Najma. Aku tidak boleh membiarkan kebingungan terus membungkusku dan menjadikanku perempuan paling memalukan di dunia. Aku harus bertanya padanya.

Aku meminta izin pada Icana untuk bekerja dari luar kantor dan langsung meninggalkannya di lobi gedung. Aku segera memulai pencarianku di restoran tempat Fedi pertama kali menganggapku pacar, lalu ke tempat kopi yang membuatnya sebal gara-gara debat iced chocolate mint. Tapi Fedi tidak ada dimanapun. Aku langsung menuju foodcourt dan mencari ke tiap kedai yang ada di sana, terutama di tempat jus buah di mana aku langsung menarik tangannya keluar. Ia tidak juga ada di sana. Akhirnya, aku pun beranjak ke kantor Sambung dan langsung tergopoh-gopoh menuju lift yang agak jauh dari tempat foodcourt.

Di dalam perjalanan, aku kemudian diam terpaku. Aku melihatnya berjalan menuju posisiku sambil menatap mataku. Dari kejauhan aku tahu ia sudah melihatku. Aku diam menunggunya menghampiriku. Sesampainya didepanku, Fedi diam dan tersenyum kecil ke arahku. Aku tak membalasnya.

“Lo tuh kenapa, sih? Gue ngelakuin salah sama lo, ya?”

Fedi hanya diam dan terus menatapku. Kulihat ekspresi wajahnya seakan mengatakan ia sedang bersedih karenaku. Kenapa?

“Ngapain lari-lari di sini? Emang udah sembuh?”

“Gue nanya duluan, jawab kenapa!” seruku kesal.

“Nggak ada yang salah. Lo nggak salah apa-apa.”

“Terus kenapa lo menghindar dari gue? Semenjak gue pulang ke rumah, lo jarang jenguk gue. Bahkan telepon atau chat aja seperlunya.”

Fedi diam mendengarkanku. Ia seperti tak berencana menjawab kata-kataku.

“Katanya kita pacaran? Tapi, kenapa lo kayak gini? Kenapa lo diam aja dan membiarkan gue bertanya-tanya apa yang salah di antara kita berdua?”

Mata Fedi berkeliaran kemana-mana, seakan-akan ia ingin pergi dari tempat di mana ia berdiri sekarang.

“Fedi.”

“Najma.”

“Ada apa? Ada apa di antara kita?”

Fedi menghapus air mataku pelan. Aku tak peduli di sekitar kami penuh dengan orang yang hilir mudik sambil memandangi kegiatan kami berdua. Satu hal yang hanya kupedulikan saat ini adalah jawaban Fedi atas segala pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku selama ini.

Fedi memegang kedua bahuku dan merunduk agar wajahnya sejajar dengan wajahku, “kita ngobrol di halaman ya. Malam ini.”

Aku hanya diam dan terus menangis. Fedi langsung memegang tanganku dan mengantarku ke lobi depan, mencari taksi untukku dan membuka pintu mobil, menyuruhku masuk taksi, menutup pintu dan melambaikan tanganku sebentar, lalu meninggalkanku begitu saja.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!