NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1 - CH 3 : RASA YANG TAK BISA DILIHAT

Mobil tua itu merayap pelan menyusuri gang sempit yang hanya pas untuk satu badan mobil. Kiri kanan bukan lagi rumah tembok, tapi deretan seng berkarat dan triplek bekas.

"Mang, ini beneran jalannya? Spion kiri gue udah nyerempet jemuran warga nih," keluh Bara, meski suaranya terdengar ragu, bukan marah.

"Bener, Den. Sesuai titik," jawab Mang Ojak pelan. Dia mematikan radio dangdutnya. Rasanya nggak sopan nyetel lagu 'Kereta Malam' di tempat yang justru dihantui suara kereta sungguhan setiap jam.

JESS... GUJES... GUJES...

Benar saja. Tanah bergetar.

Sebuah rangkaian KRL melintas hanya berjarak lima meter dari jalan setapak itu. Suaranya memekakkan telinga, membuat debu beterbangan dan kaca mobil bergetar hebat seolah mau copot.

Lintang di kursi tengah menutup kuping rapat-rapat. Dia sudah nggak nge-vlog lagi. HP-nya ditaruh di pangkuan. Pemandangan di luar terlalu... nyata buat dijadikan konten estetik.

Mobil berhenti di depan sebuah gubuk panggung yang posisinya paling mepet dengan rel. Lampunya remang-remang, cuma bohlam kuning 5 watt yang berayun ditiup angin debu kereta.

"Alamat terakhir. Rumah Pak Jamil," kata Mang Ojak.

Bara menarik napas panjang, mengambil kotak donat terakhir di pangkuannya. Kotak ini terasa lebih berat dari sebelumnya.

"Ayo," ajak Bara singkat.

Mereka turun. Sreeekk. Suara pintu geser terdengar nyaring, tapi kalah sama sisa gema suara kereta.

Di teras gubuk, seorang bapak paruh baya dengan pakaian lusuh seperti bekas seragam kuli bangunan yang belum dicuci sedang duduk melamun. Wajahnya keras, tipikal wajah orang yang sudah kenyang makan asam garam jalanan, tapi matanya lelah. Di dalam gubuk itu terdengar suara tawa riang anak kecil yang sedang bermain dengan ibunya.

"Permisi... Pak Jamil?" panggil Bara.

Bapak itu tersentak kaget. Dia buru-buru berdiri, sedikit panik melihat tiga orang asing di depan rumahnya.

"I-iya, Mas? Ada apa ya? Saya... saya belum bayar iuran sampah? Atau..." Pak Jamil tampak ketakutan. Mungkin mengira Bara penagih utang.

"Bukan, Pak. Tenang," Bara buru-buru memotong, nadanya melembut. "Kami cuma mau nganter titipan. Makanan."

"Titipan? Saya nggak pesen apa-apa, Mas. Buat makan besok aja saya masih bingung," tolak Pak Jamil jujur.

"Dari Hamba Allah, Pak. Sudah dibayar lunas. untuk keluarga bapak," Lintang ikut bicara, mencoba tersenyum ramah meski matanya basah melihat kondisi rumah itu.

Pak Jamil terdiam. Dia menatap kotak kardus putih di tangan Bara.

Tiba-tiba, dari balik pintu yang kusam, terdengar suara kecil. Suara anak laki-laki.

"Bapak? Siapa itu, Pak? Kok wangi banget?"

Seorang anak kecil, mungkin usianya 5 tahun, keluar meraba-raba dinding. Matanya terbuka, tapi tatapannya kosong. Memperlihatkan sepasang mata putih bersih sebersih susu. Dia berjalan pelan, kakinya telanjang menginjak lantai papan yang berjarak-jarak.

"Dani..." Pak Jamil langsung sigap menuntun anaknya. "Ini... ada Om sama Kakak baik. Mereka bawa makanan."

"Makanan apa?" tanya Dani antusias. Hidungnya kembang kempis. "Baunya manis... kayak... kayak bau roti yang bapak bilang waktu itu ya?"

Bara merasakan tenggorokannya tercekat.

Dia maju selangkah, berjongkok di depan anak itu. Dia membuka tutup kotak donatnya. Aroma vanila dan gula halus langsung merebak, melawan bau oli dan besi berkarat dari arah rel kereta.

"Ini donat, Dek," kata Bara. Suaranya serak. "Namanya Donat Kampung Spesial."

"Donat?" Dani meraba udara. "Bentuknya bulat yang tengahnya bolong itu ya, Om?"

"Iya. Mau coba?"

Dani mengangguk semangat. Bara mengambil satu donat yang masih hangat, lalu dengan hati-hati meletakkannya di tangan kecil anak itu.

Dani tidak langsung memakannya.

Dia mendekatkan donat itu ke hidungnya, menghirup dalam-dalam aromanya sambil memejamkan mata. Senyum lebar perlahan merekah di wajahnya. Senyum paling tulus yang pernah Bara lihat seumur hidupnya.

"Wangi banget, Pak..." bisik Dani. "Baunya kayak... roti yang waktu itu loh, pak."

Lalu dia menggigitnya.

Kunyahan pertama. Gula halus menempel di bibirnya. Tekstur donat yang empuk bertemu lidah.

Bara menahan napas. Sebagai koki, dia biasa menunggu kritik pedas. Kurang manis. Kurang garing. Terlalu berminyak. Tapi kali ini, dia menunggu vonis yang berbeda.

"Enak..." Dani bergumam, matanya yang buta menitikkan air mata. "Empuk banget... Rasanya kayak dipeluk Ibu."

DEG.

Pertahanan Bara runtuh.

Tembok "Si Pelit", "Si Perhitungan", "Si Hati Batu" yang dia bangun bertahun-tahun hancur lebur cuma gara-gara satu kalimat anak kecil buta di pinggir rel kereta.

Pak Jamil di belakangnya sudah menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat.

"Maaf, Mas..." Pak Jamil bicara terbata-bata sambil menyeka air matanya. "Hari ini ulang tahun Dani. Dari kemarin dia minta kue, tapi saya... saya cuma kuli angkut, lagi sepi orderan. Saya cuma bisa doa sama Gusti Allah biar Dani nggak sedih hari ini."

Bara menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai panas. Dia benci situasi ini. Dia benci merasa lemah. Tapi sialan, rasanya sesak sekali.

Tiba-tiba, tangan kecil Dani meraba-raba ke depan, mencari sosok Bara.

Bara membiarkan wajahnya disentuh oleh tangan mungil yang lengket kena gula itu.

"Makasih ya, Om," kata Dani pelan. Jarinya meraba pipi Bara yang kasar dan belum cukuran. "Om pasti orang baik. Tangannya kasar... kayak tangan Bapak. Tangan pahlawan."

Bara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa amis darah, menahan supaya air matanya nggak tumpah di depan anak kecil itu.

"Sama-sama, Jagoan," jawab Bara, suaranya bergetar hebat. "Selamat ulang tahun ya."

Di belakang, Lintang sudah sesenggukan di pelukan Mang Ojak. Bahkan Mang Ojak yang biasanya cengengesan kini sibuk pura-pura kelilipan debu kereta.

Bara berdiri cepat-cepat. Dia menyerahkan sisa kotak itu ke tangan Pak Jamil.

"Habisin ya, Pak. Kalau kurang... kalau kurang, bilang saya," kata Bara cepat, tanpa menatap Pak Jamil. Dia takut kalau menatap mata bapak itu, dia bakal nangis meraung-raung di situ.

"Terima kasih banyak, Mas... Semoga rezekinya lancar, Mas orang baik..." doa Pak Jamil tulus.

"Amin. Mari Pak, Dek," pamit Bara kaku.

Dia berbalik, berjalan cepat menuju mobilnya. Langkahnya lebar-lebar, seolah lari dari kenyataan. Dia masuk ke kursi depan, membanting pintu sedikit terlalu keras.

BLAM.

Hening.

Lintang dan Mang Ojak masuk menyusul. Nggak ada yang berani ngomong. Nggak ada vlog. Nggak ada radio dangdut. Nggak ada keluhan soal jalan rusak.

Mang Ojak menyalakan mesin. Mobil tua itu bergetar, lalu melaju meninggalkan gubuk reot itu.

Di dalam mobil, Bara menyandarkan kepalanya ke jendela kaca yang dingin. Dia menatap bayangan dirinya di kaca.

"Lima ratus perak..." gumam Bara pelan, nyaris tak terdengar.

"Hah? Apa Mas?" tanya Lintang pelan dari belakang.

"Pagi tadi gue ributin telor naik lima ratus perak," suara Bara terdengar parau. Dia tertawa kecil, tawa yang sinis pada dirinya sendiri. "Gue pelit banget ya, Tang?"

Lintang tidak menjawab. Dia hanya menatap punggung bosnya dengan tatapan sendu.

Malam itu, di dalam mobil tua yang bau bensin, Bara belajar satu hal yang nggak pernah diajarkan di sekolah kuliner manapun:

Bahwa rasa paling enak di dunia bukan berasal dari bahan mahal atau teknik rumit. Tapi dari rasa syukur orang yang kelaparan.

Dan rasa itu... nggak bisa dinilai pake kalkulator.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!