Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Kehilangan kontak
Revan baru saja menurunkan Amel di rumah mereka saat suara panik dari seberang sana membuat Revan langsung waspada.
"Kenapa lo, Bel?" tanya Revan.
"Server kita diserang musuh!" teriak Abel dari seberang sana.
Revan reflek berdiri begitu mendengar penuturan Abel itu. "Ney, aku ke markas dulu, server kita diserang musuh!" teriak Revan lalu kembali menunggangi motornya dan melajukannya ke markas.
Amel hanya menatap punggung itu pergi menjauh dari hadapannya.
"Mbak Amel!" panggil Bu Gani saat Amel akan kembali masuk ke rumahnya.
Amel menghentikan langkahnya dan berbalik, dia menatap Bu Gani yang menyeberang jalan dan menghampiri Amel.
"Saya barusan beli tahu bulat, ini buat Mbak Amel!" Bu Gani menyerahkan satu plastik kecil berisi tahu bulat itu kepada Amel.
"Maaf, Bu! Saya bukannya mau menolak, tapi saya juga barusan beli pas keluar sama Mas Revan tadi, ini belum saya makan!" Amel menunjukkan plastik berisi tahu bulat miliknya.
"Oh ya sudah, Mbak Amel!" Bu Gani tersenyum kikuk saat niat baiknya untuk meminta maaf justru membentur tembok.
"Maaf ya, Bu!" Amel tersenyum dengan perasaan tak enak hati karena menolak pemberian tetangganya.
"Nggak papa, Mbak Amel! Saya permisi dulu ya!" Bu Gani berbalik sambil mulutnya komat-kamit mengomel karena Amel tak menerima pemberiannya.
Amel berbalik dan mengunci pintu gerbang lalu membuka pintu rumahnya. Dia duduk sambil menikmati tahu bulat yang sudah dingin itu sambil pikirannya tertuju ke Revan.
"Kenapa dia sepanik itu ya? Biasanya kan paling yang nyerang virus doang? Kenapa dia kalang kabut seperti itu?"
Amel mengedikkan bahu sambil membuang bungkus makanannya dan berlalu mengambil air di dalam kulkas.
***
"Parah nggak?" tanya Revan begitu dia masuk ke dalam ruangannya.
"Alot, Van! Gue cegat di sini dia nyerang yang lain!" Abel menjawab sambil matanya fokus menatap layar laptop dan melakukan blokade agar lawan tak bisa masuk ke sistem mereka.
Revan membuka laptopnya lalu bergabung dengan Abel dan Eza menangkis serangan lawan.
"Gila sih ini, dia gigih banget!" omel Eza sambil jarinya cekatan mengotak-atik keypad komputernya.
Revan terlihat fokus dan berfikir dengan keras. Sistem mereka memang terbilang canggih hingga Revan yakin musuh tak akan bisa menyerang mereka secara membabi buta seperti itu secara sendirian.
"Gue rasa dia nyerang kita secara rame-rame ini! Bel, gue handle bagian lo, kasih tahu ke klien kita, kita minta tenggang waktu sedikit lebih panjang, jelasin aja server kita lagi kedatangan tamu hacker lain!" perintah Revan sambil fokusnya sekarang terbagi menjadi dua dengan bagian Abel yang sekarang Revan atasi.
Peperangan itu semakin menggila, mereka telah menghabiskan waktu tiga hari tiga malam untuk mengatasi masalah itu.
Mereka bahkan makan seadanya dan belum ada satu pun dari ketiganya yang mandi dan berganti pakaian.
"Mampus!" teriak Eza sambil menatap layar monitornya dengan sadis, seolah-olah musuhnya itu ada di depannya.
"Kasih tahu anak-anak depan, gue perlu makan!" ucap Revan sambil menghela nafas pendek. Bersyukur banget mereka bisa mengalahkan musuh mereka dan masuk ke sistem mereka dan menghancurkan server mereka.
Abel meraih telepon internalnya dan menghubungi karyawan kesai kopi mereka untuk memesan nasi goreng dan teh hangat.
"Iya, tiga semuanya jangan pedes-pedes!" jawab Abel saat Kiki bertanya tingkat kepedesan nasi goreng yang mereka minta karena Kiki tahu Eza dan Abel itu orang-orang random yang suka makan pedes diwaktu-waktu tertentu.
Revan menghela nafas panjang lalu meraih ponselnya yang dibiarkannya kehabisan daya.
Revan mengisi daya ponsel tersebut dan ketika ponselnya menyala lagi, puluhan panggilan tak terjawab dan juga pesan yang masuk dari nomor Amel masuk secara bergantian.
Revan menghela nafas lagi merasa bersalah karena tiga hari meninggalkan rumah tanpa kabar sama sekali, padahal Revan sudah berjanji waktu itu untuk sering-sering mengirim kabar kepada Amel di mana pun Revan berada.
Revan menghubungi nomor Amel tapi di layar sana hanya ada tulisan memanggil. Sekali lagi Revan men-dial nomor Amel tapi penampakan di layar ponselnya tetap tertulis memanggil.
Revan tak.kehilangan akal, dia mengirimkan pesan kepada istrinya itu, tapi pesan itu hanya tercentang satu.
Revan mengirim pesan beberapa kali dan pesan yang terkirim itu tetap tercentang satu.
Tanpa berfikir panjang, Revan langsung menyambar jaketnya dan bergegas keluar dari ruangan.
"Van, nasi goreng lo!" teriak Kiki.
"Makan aja, Ki!"
Revan segera menaiki motornya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Tujuan utama Revan tentu rumah mereka karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Pasti di jam itu Amel sudah berada di rumah mereka. Revan sampai ke rumahnya dan rumahnya dalam keadaan gelap gulita, itu artinya Amel belum sampai ke rumah mereka.
Revan pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke tokonya Amel.
Suasana di sana masih terang benderang dan ada beberapa karyawan yang bersiap untuk menutup toko tersebut.
Sayangnya Revan tak menjumpai si City di tempat parkir toko itu, Revan tahu Amel sedang tidak ada di toko tersebut.
Revan memilih turun untuk memastikan posisi Amel ada di mana.
"Mas..." sapa Revan kepada salah satu karyawan di tempat itu.
"Eh ada Mas Revan, ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanyanya sopan.
"Amel udah pulang ya?" tanya Revan.
"Lho, Mbak Amel udah pulang dari siang, tadi bilangnya kepalanya pusing!" jawab orang itu membuat Revan semakin cemas.
"Oh ya udah, aku tadi langsung ke sini dari warung nggak nengok rumah dulu!" jawab Revan lalu segera pergi dari tempat itu.
"Toko satunya, dia pasti ada di sana!" bisik Revan lalu mengingat lokasi toko kedua yang pernah Amel sebut kala itu.
Perlahan Revan menyusuri jalanan itu untuk mencari toko kedua milik Amel. Ketemu, tapi di tempat itu pun mobil Amel tak ada.
Ingin bertanya kepada salah satu karyawan Amel tapi karyawan tersebut sudah mengunci toko, itu artinya Amel tak ada di tempat itu.
Revan memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Revan memasukkan motor ke dalam garasi lalu menyalakan satu persatu lampu yang ada di rumah itu.
Revan duduk di lantai bersandarkan badan sofa, matanya menerawang ke atas dan pikirannya melayang ke mana-mana.
Revan tahu dia salah karena terlalu fokus dengan pekerjaannya, tapi seharusnya Amel tetap bertahan di rumah itu dan tidak memutuskan pergi tanpa seijinnya.
"Kamu ke mana sih, Ney?" tanya Revan mengacak rambutnya pelan.
Revan mengambil ponselnya dan mendapati ponselnya kembali dalam keadaan mati, Revan tadi hanya mengisi daya baterainya sebentar kan, pastilah sekarang ponselnya itu mati lagi.
Revan mencari colokan lalu kembali mengisi daya ponselnya dan mencoba menghubungi Amel lagi dan lagi.