Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembatalan lamaran
"Bunda, aku nggak mau lanjutkan perjodohan ini, Dira nggak mau menikah dengan lelaki itu,"
"Maksud kamu apa, Dira? Jangan bertindak gegabah dulu, nanti kita omongin lagi dirumah Bude Ana."
"Iya."
Indira mencoba untuk memberanikan diri mengatakan hal tersebut kepada Ibunya, meskipun nantinya dirinya akan mendapatkan kemarahan dari semua orang karena dirinya tidak mau menurut sama orang orang. Ana juga merasa berhak mengatur Indira, karena menganggap bahwa Indira sudah ikut dengannya sehingga ia bisa bebas mengaturnya.
Indira pun menutup sambungan telepon itu setelah mengatakan hal tersebut kepada Yanti, dirinya pun tidak mau lagi berpura pura kepada siapapun bahwa ia tidak menerima perjodohan itu. Malam itu ketika Sugik mengirimkan pesan kepadanya, ia lalu mengatakan bahwa dirinya tidak lagi ingin melanjutkan hubungan tersebut.
Sugik sendiri membutuhkan kepastian dari Indira mengapa Indira tiba tiba memutuskan hal itu, padahal Sugik sendiri mengingat bahwa ia sama sekali tidak pernah menyinggung perasaan Indira. Entah bagaimana Indira bisa memutuskan hubungan itu tiba tiba, dan bahkan sebelumnya juga tidak ada masalah sama sekali.
******
Tok... Tok... Tok...
"Dira buka pintunya, ini Bunda sama Ayah,"
Indira yang tengah tiduran didalam kamarnya sambil bermain hp pun terkejut ketika mendengar ada seseorang yang tengah mengetuk pintu rumah itu, dan dirinya pun mendengar bahwa ada yang tengah memanggil namanya diluar. Mendengar namanya disebut, Indira langsung bergegas menuju ke pintu rumah tersebut untuk melihat siapa yang datang.
Indira memang dilarang keras untuk membukakan pintu untuk siapapun yang datang, kecuali orang yang datang mengetahui namanya. Karena dikhawatirkan ada yang datang dengan niat jahat, dan mengetahui bahwa Indira memang tinggal sendirian disana dan bisa leluasa berbuat jahat.
Indira lalu membukakan pintu rumah itu setelah melihat siapa yang datang, dan ternyata adalah kedua orang tuanya yang datang berkunjung kesana. Kedua orang tuanya sangat khawatir dengan Indira, karena kemarin Indira tiba tiba memutuskan perjodohan itu dengan sepihak tanpa rundingan terlebih dahulu kepada pihak keluarganya termasuk Ayah dan Ibunya.
"Bunda," Ucap Indira.
"Ada apa? Jangan sembarangan menolak orang Dira, kamu itu tinggal sendirian, gimana kalo terjadi sesuatu denganmu nantinya? Kita nggak tau apa yang ada didalam hati orang lain, kalo sampe dia berbuat jahat padamu gimana?" Omel Yanti kepada Indira.
"Udah jangan marah marah, masuk dulu," Tegur Yono, Ayah tiri Indira.
Mereka pun masuk kedalam rumah itu karena takut jika nantinya akan dilihat banyak orang, dan para tetangga mengiranya bahwa Indira tengah dilabrak orang lain karena telah melakukan kesalahan. Indira lalu diminta untuk duduk didepan keduanya, Indira sendiri tau bahwa dia telah melakukan kesalahan karena memutuskan perjodohan itu tanpa berunding terlebih dahulu.
"Kamu putuskan gimana cowok kemarin?" Tanya Yanti.
"Ya aku bilang kalo aku tidak mau melanjutkan perjodohan ini, aku nggak suka," Jawab Indira.
"Jangan pernah kayak gitu, Dira. Gimana kalo ucapanmu menyinggung dia? Gimana kalo dia nggak terima terus macam macam sama kamu dijalan? Gimana kalo kamu kenapa kenapa nantinya?"
"Dira nggak tau, pokoknya Dira nggak mau lanjutin ini semua, Bunda. Kalo hidup Dira hancur nantinya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?"
"Iya tapi jangan bertindak gegabah seperti ini,"
Begitu banyak ucapan yang diucapkan oleh Ibunya saat ini, sehingga membuat Indira pun tidak bisa berkata kata, dan memang ini juga kesalahannya karena tidak berkomunikasi terlebih dahulu dengan pihak keluarganya. Namun apa boleh buat, semuanya juga sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali.
"Sudah, jangan marahi Dira terus seperti ini," Ucap Ayahnya sambil mengusap pelan puncak kepala Indira yang tengah menahan tangis.
Selama ini tidak ada yang pernah membela dirinya ketika dia mendapatkan amukan dari Ibunya, bahkan sama sekali tidak ada yang mempedulikan perasaannya. Baru pertama kali ini Indira bisa merasakan bahwa ada yang tengah membelanya, dan membuatnya tidak mampu menahan air matanya karena terharu mendengarnya.
"Indira memang salah, tapi jangan semuanya kamu salahkan kepadanya, kalo dia memang nggak mau dia juga berhak menolaknya. Kita pihak perempuan, dan perempuan sudah sewajarnya menerima atau menolak,"
"Tapi Yah, Bunda takut kalo terjadi sesuatu dengan Indira,"
"Jangan pernah halangi langkahnya, nyawanya saja bukan milik kita kok kita yang maksa maksa. Yang terpenting doa orang tua kepadanya, seberat apapun dunia kalo masih punya doa orang tua pasti semuanya akan terasa mudah. Indira kok di khawatirkan, seharusnya didoakan semoga hidupnya tetap bahagia."
"Bunda nggak mau kalo terjadi sesuatu dengan Dira,"
"Iya Ayah paham. Terus sekarang gimana? Semuanya juga sudah terjadi, kalo berani mendayung ke tengah lautan harus siap menghadapinya bukan malah lompat dari kapal. Yang ada malah tenggelam,"
"Yaudah ayo ke Bude dulu, kita omongin aja disana,"
"Aku nggak mau ikut, Bunda. Indira takut dimarahi," Ucap Indira.
"Indira jangan takut, kan ada Ayah disini. Indira harus bisa bertanggung jawab atas hal yang telah Indira lakukan,"
Yono pun terus membujuk Indira untuk mau diajak ke rumah Budenya untuk menyelesaikan hal ini, karena dikhawatirkan kalo masalah ini semakin besar nantinya. Sehingga harus diselesaikan sekarang juga, sebelum semuanya bertambah besar seiring berjalannya waktu.
Sesampainya disana, Yanti pun menceritakan semuanya kepada Kakaknya itu mengenai Indira yang tiba tiba membatalkan perjodohan itu dengan sepihak. Awalnya mereka sangat marah mendengarnya, dan terus menyalahkan Indira dan beranggapan bahwa memang Indira yang salah dan pemilih.
"Emang mau cari laki laki seperti apa lagi ha? Dia loh udah mapan, kerja juga lancar. Dia anak orang kaya, mau cari yang gimana lagi? Lelaki itu loh sama saja. Mau gimanapun lelaki itu kalo udah ditangan perempuan mah bakalan nurut sama perempuannya," Omel Pakdenya, yang memang menganggap Indira salah dan sok pemilih.
Karena memang Pakdenya dengan Ayah dari lelaki itu adalah teman sekelas dulunya, sehingga Pakdenya terus membela lelaki tersebut dan menganggap bahwa Indira yang salah. Mereka tidak tau dengan jelas bagaimana sikap lelaki tersebut, jika awalnya saja sudah seperti itu maka seterusnya juga akan seperti itu dan tidak bisa diubah.
Kehidupan wanita bisa dilihat bagaimana cara dirinya diperlakukan, dan nasib seorang perempuan dipertaruhkan setelah dirinya menikah. Jika diawal baru kenal saja sudah sedemikian rupanya, lantas bagaimana setelah menikah nanti? Entah sehancur apa kehidupannya nanti jika bersanding dengan lelaki seperti itu.
"Mau cari laki laki kayak apa lagi?" Tanya Pakdenya.
"Tapi dia lo pelit," Bela Indira.
"Nggak bisa bilang dia pelit, kalo sudah menikah uang dia juga bakalan lari sendiri ke dirimu. Jangan jadikan itu sebagai alasan,"
Mendengar Indira yang diomeli oleh keluarga Kakaknya itu, Yanti hanya bisa diam karena takut menyinggung mereka, apalagi mereka juga telah membantu Yanti sebelumnya. Takutnya nanti, Indira justru akan mendapatkan masalah yang besar kedepannya, dan mereka tidak mau hal itu terjadi kepada Indira.
"Gini aja, kita kumpulkan aja semuanya. Lalu kita selesaikan disini juga," Saran dari Yono.
"Baiklah," Jawab Pakdenya.
Pakdenya pun pergi entah kemana, Indira sendiri juga merasa gugup apabila dirinya tidak menemukan solusi dalam semua hal ini. Melihat itu langsung membuat Yono bergerak mendekat kearah Indira, dirinya pun memegangi tangan Indira yang sudah berkeringat dingin saat ini.
"Tenang, kita pasti menang," Ucap Yono meyakinkan Indira.
"Dira takut, Yah. Gimana ini?" Tanya Indira.
"Bilang aja apa yang ingin kamu bilang, biar nanti Ayah yang nambahin dan ada Bunda juga yang bantu kamu."
"Iya Ayah."
Tak lama kemudian datanglah dua orang lelaki menuju kearah rumah itu, satunya adalah lelaki yang dijodohkan dengan Indira dan satunya lagi adalah Pakde dari lelaki tersebut. Keduanya langsung dipersilahkan untuk masuk kedalam rumah itu, melihat kedatangan dari keduanya langsung membuat Indira merasa panik.
"Ini kenapa? Apa apa alasannya kok tiba tiba di putuskan begitu?" Tanya Pakde dari lelaki itu dengan nada yang mengintimidasi Indira.
"Pokoknya nggak mau lanjut," Jawab Indira.
"Kalo ada masalah selesaikan baik baik, kalian juga nantinya bakalan jadi keluarga, jangan asal diputuskan begitu saja."
"Saya tidak melakukan kesalahan apapun, Pakde. Tadinya juga kan emang baik baik saja, tapi kenapa tiba tiba dirinya memutuskan begitu saja, aku tanya alasannya malah dia jawab semoga mendapatkan yang lebih baik gitu," Ucap Sugik.
Indira hanya bisa diam saja tanpa tau harus berkata apa sekarang ini, ia takut jika akan salah bicara sehingga terciptanya sebuah masalah baru nantinya. Melihat Anaknya yang sudah kepepet seperti itu, Yanti dan Yono merasa sangat tidak tega dengan hal itu.
"Gini loh Pak, biar saya jelaskan kepada semuanya," Ucap Yanti yang mencoba untuk membela anaknya.
"Iya silahkan,"
"Pertama, soal perjanjian mau bertemu dengan anggota keluarga itu, bukankah itu perjanjiannya sudah sangat lama tapi kenapa di hari H nya, orang tuanya tiba tiba tidak bisa? Apakah karena setelah mengetahui bahwa kami orang miskin jadi tiba tiba tidak jadi datang ke rumahnya?" Tanya Yanti yang memulai obrolan.
"Soalnya Ibu saja ada acara pengajian waktu itu, jadi tidak ada dirumah," Jawab Sugik lirih dan berbisik kepada Pakdenya.
"Lah kan janjiannya sudah lama? Bahkan seminggu yang lalu, apa karena tau rumah kami jelek jadi bisa berbuat seenaknya. Kami juga merasa tersinggung karena itu, dari awal kan sudah diberitahu kalo habis dari rumah kami itu langsung menuju ke rumahnya, kok tiba tiba langsung pulang gitu aja? Apa setelah melihat rumah kami jadi dibatalkan begitu saja?"
"Gik, apa kamu tidak bilang sama Ibumu?" Tanya Pakdenya kepada keponakannya itu.
"Kedua, mendengar dari obrolan obrolan kalian sebelumnya, saya juga mendengar kalo Mas Sugik sama sekali tidak mengatakan soal ini kepada keluarganya, bahkan tidak jujur kepada mereka." Ucap Indira menambahi.
"Mungkin ini ada urusan mendadak jadi tidak bisa, mungkin lain waktu bisa di agendakan kembali," Ucap Lelaki itu yang terus membela keponakannya.
"Mohon maaf sebelumnya ya, Pak. Dira sudah mempersiapkan sebelumnya, dia bahkan sudah membelikan gula dan kopi untuk calon keluarga suaminya sebelumnya. Gula kopi juga sudah ditangannya, katanya malu kalo datang tidak bawa apa apa? Tapi kenyataannya apa? Justru tiba tiba nggak jadi kesana, itu juga yang membuat Indira merasa sakit hati," Ucap Yono.
Deg...
Indira tidak menyangka bahwa kedua orang tuanya akan membela dirinya seperti ini, dan bahkan kalimat kalimat itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Mendengar penjelasan itu langsung membuat semua yang ada disana diam seketika, dan sama sekali tidak ada yang menyalahkan Indira didalamnya.
Untung saja waktu itu Indira memberikan gula kopi itu kepada Sugik, sehingga itu bisa menjadi bukti yang kuat untuknya. Keluarga lelaki itu pun juga tau bahwa sebelumnya Sugik datang sambil membawa gula dan kopi, namun ia tidak menjelaskan sesuatu dan hanya berkata bahwa itu dari Indira sebelumnya.
Mereka membenarkan jika memang adanya gula dan kopi yang telah dibawa oleh Sugik sebelumnya, namun mereka tidak menyangka bahwa itu adalah persiapan yang dilakukan oleh Indira. Mereka hanya mengira bahwa itu adalah oleh oleh yang diberikan oleh Ibunya Indira untuk mereka, siapa sangka bahwa akan terjadi hal seperti ini.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.