Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Opname
Banyak yang menganggap bahwa setelah berumah tangga cinta itu nomer sekian, namun yang harus diutamakan didalamnya adalah cinta. Jika wanita sangat mencintai lelakinya maka ia rela melakukan segalanya agar lelakinya bahagia, dan jika lelaki sangat mencintai wanitanya maka naluri melindungi wanitanya sangat kuat.
Namun kebanyakan dari mereka sulit untuk membedakan antara cinta dan nafsu, dan kebanyakan dari mereka menganggap bahwa nafsu adalah cinta. Sehingga mereka terus berjuang untuk saling memiliki namun setelah dimiliki hanya akan tersisa sebuah hubungan yang membosankan, dan mereka lalai dengan tanggung jawabnya.
******
Akhirnya Indira bisa istirahat juga dirumahnya setelah melewati drama yang sangat melelahkan, meskipun Pakdenya masih tidak terima dengan keputusan dari Indira dan masih menganggap bahwa Indira telah mengambil keputusan yang salah. Begitu banyak kata kata jahat yang masuk kedalam pikiran Indira, dan sikap Pakdenya sebelumnya juga telah menyakiti hati Indira.
Meskipun Ana sendiri telah setuju bahwa perjodohan itu dibatalkan, namun disisi lain yang tidak diketahui oleh Indira sendiri Ana juga merasa tidak senang. Ana yang memiliki dua muka pun hanya dapat diketahui oleh keluarga Indira saja, didepan mereka Ana seperti mendukung mereka namun dibelakang mereka justru Ana mendukung Sugik.
"Sudah jangan dipikirkan soal tadi," Ucap Yanti yang ikut mengantarkan Indira pulang kerumah dimana Indira tinggal.
"Iya Dira, semuanya juga sudah berlalu. Dan tadi waktu kita lewat didepan rumah Budenya lelaki itu kayaknya lelaki itu tengah diomeli oleh Budenya sendiri," Ucap Yono.
"Iyalah, kan dia gagal memiliki Indira, jelas langsung dimarahi oleh Budenya itu."
Jalan dari rumah Ana menuju ke rumah yang ditinggali oleh Indira melewati rumah Bude dari Sugik, sehingga ketika mereka lewat jalan itu mereka bisa mengetahui bahwa Sugik tengah dimarahi oleh keluarga itu. Entah mengapa Indira merasa sangat puas akan hal itu, wajah senyumnya sama sekali tidak luntur dari wajahnya.
"Kalo begitu Bunda sama Ayah pulang dulu ya, ini juga sudah malam," Ucap Yanti.
"Iya Bunda, hati hati dijalan," Jawab Indira.
"Habis ini langsung tidur, jangan begadang besok kerja. Langsung dikunci pintunya biar nggak lupa,"
"Siap Bunda,"
Yanti langsung berpamitan kepada Indira untuk pulang, karena jarak antara rumah keduanya sangatlah jauh apabila kemalaman dijalan juga tidak akan baik untuk Yanti. Besoknya dirinya juga harus bekerja dipagi dini hari, sehingga istirahatnya akan sangat singkat karena sebelum bekerja dirinya juga harus masak terlebih dahulu untuk keluarganya.
Indira pun menatap kepergian dari kedua orang tuanya hingga bayangan keduanya tidak lagi terlihat olehnya, setelahnya dirinya langsung menutup pintu rumah tersebut dan menguncinya dengan sangat rapat. Karena dirinya tinggal sendirian sehingga ia harus memastikan bahwa pintu rumahnya sudah tertutup sempurna, dan tidak boleh ada yang terbuka termasuk juga jendela rumah itu.
******
*Bunda Dira sakit* Sebuah pesan yang dikirimkan Indira kepada Ibunya.
Suatu malam, Indira terbangun dari tidurnya kepalanya sangat pusing dan badannya sangat panas, ditambah lagi dirinya terus muntah muntah dengan perut yang teramat sangat sakit. Tepat jam menunjukkan pukul 12 malam, Indira langsung menghubungi Ibunya untuk meminta pertolongan, karena tidak ada lagi yang bisa Indira mintai bantuan kecuali kedua orang tuanya itu.
Tubuh Indira terasa sangat lemah saat ini, bahkan hanya untuk berdiri saja dirinya tidak mampu, entah kenapa dia tiba tiba merasa sakit seperti ini. Setelah mengirimkan pesan itu kepada Ibunya Indira mencoba untuk tidur kembali, namun ia tak kunjung bisa tidur karena ia terus merasa sangat mual sehingga seluruh isi dalam perutnya langsung ia keluarkan dengan untahan.
1 jam kemudian...
Tok... Tok... Tok...
Ada seseorang yang tengah mengetuk jendela rumahnya, dan hal itu langsung membuat Indira terdiam seketika. Siapa yang datang kerumah itu malam malam begini, apalagi langsung mengetuk jendela kamar Indira langsung, dan siapa yang akan bertamu dimalam hari seperti ini.
"Dira buka pintunya,"
"Dira ini Ayah sama Bunda, buka pintunya dulu,"
"Iya!" Jawab Indira setelah mendengar suara dari Ibu dan Ayahnya diluar sana.
Indira langsung bangkit dari tidurnya untuk membukakan pintu rumah itu, karena mereka tidak akan bisa masuk sebelum pintu itu dibuka oleh Indira. Setelah pintu terbuka, udara dingin pun langsung menyerang kearah Indira tanpa bisa dilawan oleh Indira, rasanya diluar sana benar benar dingin dengan angin berhembus lirih.
"Badanmu panas banget, Dira." Ucap Yanti dan langsung menyentuh kening Indira.
Indira hanya tersenyum tipis ketika Ibunya terlihat panik dengan kondisinya, Indira tidak ingin Ibunya semakin khawatir kepadanya nanti. Oleh karenanya, Indira berpura pura seolah olah dirinya tidak kenapa kenapa, dan ia baik baik saja meskipun badannya kini terasa sangat panas.
"Yah, gimana kalo kita bawa untuk priksa sekarang?" Tanya Yanti kepada suaminya.
"Ayo, IGD masih buka kok jam segini,"
"Yaudah, siap siap dulu Dira,"
Indira pun diminta oleh Ibunya untuk bersiap siap sebelum dibawa ke IGD, sebenarnya Indira ingin menolaknya namun ia tidak bisa jika nantinya Yanti justru mengajaknya untuk berdebat. Akhirnya Indira hanya bisa pasrah dan pergi menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian, dan sebelum berangkat Indira muntah muntah terlebih dahulu dan semakin membuat Ibunya khawatir kepadanya.
"Kamu salah makan apa, Dira?"
"Nggak makan apa apa yang mencurigakan Bunda, hanya makan makanan biasanya saja," Jawab Indira.
"Kok bisa seperti ini, apa kamu telat makan?"
"Nggak juga,"
Indira sama sekali tidak berhenti untuk muntah, dikit dikit dirinya kembali merasa mual, entah apa yang salah pada makanannya sebelumnya dan menurutnya ia makan makanan seperti biasanya yakni masakannya sendiri. Badan Indira semakin lama semakin lemas, karena dirinya sendiri juga belum kemasukan makanan sedikitpun dan jika masuk dikit saja maka akan ia keluarkan kembali.
Lama kelamaan yang ia muntahkan bukan lagi makanan atau minuman, melainkan cairan lambung yang berwarna kuning ataupun darah yang merah pekat. Hal itu semakin membuatnya Ibunya khawatir, apalagi Indira sampai muntah darah seperti itu, dan langsung membawanya menuju kearah rumah sakit terdekat.
Akhirnya Indira segera dibawa menuju kearah rumah sakit terdekat yang ada disana, ia langsung ditangani oleh dokter ketika baru datang. Setelah terbaring diatas bangkar rumah sakit, Indira kembali merasa mual dan Yanti langsung menyiapkan kantong kresek untuk Indira, dan ternyata Indira kembali muntah darah.
"Kondisinya sudah parah, kami sarankan untuk dirawat inap saja disini," Ucap seorang Dokter.
"Baik Dok, lakukan apa yang terbaik untuk Indira," Jawab Yanti.
"Baiklah, Bapak dan Ibunya tolong lengkapi data datanya dulu, biar mempercepat kita untuk menanganinya,"
"Iya Dok,"
Yanti dan suaminya langsung bergegas menuju kearah dimana Dokter itu menunjukkan, sementara Dokter itu menyiapkan peralatan untuk rawat inap termasuk infus dan beberapa obat yang akan disuntikkan untuk Indira. Setelah semua peralatan telah selesai disiapkan, Dokter itu langsung memasangkan selang infus ditangan kiri Indira, dan terlihat ditangan itu juga telah penuh bekas infusan.
Sudah sering Indira diinfus dirumah sakit itu, karena jika sekali dirinya sakit maka akhirnya dirinya akan dirawat inap disebuah rumah sakit. Oleh karenanya Indira sendiri juga tidak takut untuk disuntik, walaupun bukan hanya sekali saja disuntiknya namun berulang ulang kali ditangan kanan dan kirinya.
Setelah melengkapi data data untuk rawat inap, keduanya langsung kembali menuju kearah dimana Indira berada, dan langsung mendapati bahwa selang infus telah terpasang ditangan kiri Indira. Keduanya melihat Indira yang tengah memejamkan kedua matanya karena sangat mengantuk, sementara ada Dokter disebelahnya sambil mengatur laju cairan infus itu berjalan.
"Kita atur kamar dulu ya, Bu. Habis ini langsung dipindah ke ruang rawat biar bisa istirahat dengan nyaman,"
"Baik Dok."
Akhirnya Indira pun bisa dipindahkan diruang rawat untuk beristirahat, Indira sudah sering merasakan hal seperti ini sehingga dirinya sudah tidak terkejut lagi. Ia pun mengirimkan pesan kepada atasannya untuk izin tidak masuk kerja karena tengah opname, atasannya sendiri pun langsung terkejut karena sebelumnya Indira baik baik saja ketika tengah bekerja.
******
*Nia, kamu sibuk nggak?" Tanya Indira kepada Nia melalui sebuah pesan.
*Nggak kok, ada apa Dira? Apa butuh sesuatu?* Tanya balik Nia mengirimkan pesan.
*Kamu bisa datang kemari nggak? Infus ku hampir habis, tapi orang tuaku belum datang juga,*
*Iya habis ini aku berangkat kesana, tunggu sebentar ya,*
*Iya makasih ya, Nia.*
*Halah kayak sama siapa aja kamu Dira,*
Seperti biasanya, Indira sering ditinggali oleh kedua orang tuanya untuk pergi bekerja, kedua orang tuanya harus bolak balik ke rumah mereka untuk bekerja. Setiap jam 5 pagi Ibunya akan pergi berangkat kerja dari rumah sakit dan digantikan oleh Ayahnya yang berjaga, namun setiap pukul 3 sore Ayahnya akan pergi meninggalkan dirinya untuk menjemput Ibunya dan disaat itu Indira akan sendirian.
Biasanya Ayahnya pergi jam 3 sore untuk menjemput Ibunya dan akan kembali ke rumah sakit pukul 5 sore, sehingga saat ini Indira tengah sendirian dirumah sakit itu. Indira meminta bantuan kepada Nia untuk digantikan infusnya, karena Indira sendiri takut apabila infus itu habis nantinya dan akan beresiko besar untuk Indira dan bisa bisa mengalami kematian.
Ini adalah hari ketiga Indira dirawat dirumah sakit itu, dan harus diwajibkan rawat inap selama seminggu. Sehingga untuk keluar dari rumah sakit bisa dibilang masih lama, namun Indira terus kepikiran dengan tempat kerjanya yang sudah ia tinggal sangat lama itu.
Tak lama kemudian akhirnya Nia pun datang sesuai dengan perintahnya, Nia langsung bergegas menuju ke UGD untuk meminta diganti infusnya karena sebentar lagi habis. Pihak rumah sakit itu langsung bergegas menuju ke ruang rawat Indira dan menggantikan infusan tersebut dengan sesegera mungkin.
"Maaf ya merepotkan terus," Ucap Indira karena merasa tidak enak dengan Nia.
"Nggak papa, lagian rumahku juga dekat kok dari rumah sakit jadi bisa bolak balik kemari,"
"Terima kasih ya Nia,"
"Iya sama sama."
"Oh iya ada kabar terbaru apa ditempat kerja?"
"Oh banyakkkkkk...."
Indira sendiri juga tidak tau lagi harus meminta bantuan kepada siapa selain Nia, karena dirinya hanya punya Nia untuk bisa diandalkan dan Nia sendiri juga punya Indira yang bisa diandalkan. Keduanya saling bergantung satu sama lainnya, dan kalau ada apa apa keduanya memang akan selalu ada untuk satu sama lainnya.
"Kamu nggak tau Dira, kita semua kewalahan tau. Biasanya kalo ada kamu tuh ada yang bantu, tapi kamu nggak masuk jadi nggak ada yang mau bantu," Keluh Nia.
"Benarkah?"
"Iya tau, biasanya pulangnya nggak sampek jam 2 sore. Lah ini malah jam 3 atau jam 4 baru pulang,"
"Kasihannya,"
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.